Senin, 06 Februari 2017

Menggugat Sang Raja

Langit sedang gaduh. Para penghuni ribut dan saling tuduh. Lirikan curiga pekat memenuhi udara. Catatan takdir Tuhan bocor kemana-mana. Entah siapa awalnya dan bagaimana akhirnya catatan itu akhirnya terbaca oleh para penghuni langit.

Mereka berjumlah ribuan. Berjalan dalam kelompok-kelompok besar menuju ke satu arah. Rumah Sang Maha. Pembicaraan mereka penuh kata dalam nada lebih tinggi dari biasa. Wajah mereka merah, tidak terima dengan apa yang telah mereka baca. Pikir mereka Tuhan pasti sudah melakukan kesalahan.

Sepuluh orang prajurit dengan baju berwarna perak maju menghadang kerumunan di depan Gerbang Utama. Seorang dari mereka mengambil dua langkah lebih maju.

“Berhenti!” gertak seorang penjaga.

"Biarkan kami lewat. Kami harus menemui Raja.” ujar sebuah suara dari tengah kerumunan.

“Dia sedang sibuk. Pergilah. Akan ada saat dimana kalian akan menemuiNya.” jawab sang penjaga.

"Tidak! Kami harus menemuiNya sekarang. Bagaimana bisa Dia membiarkan kami terlahir menjadi binatang melata di bumiNya nanti? Lebih baik kami tetap tinggal disini.” sebuah suara dari sisi kiri kerumunan menjawab kalimat sang penjaga.

“Biarkan kami lewat. Kami perlu mendengar penjelasan tentang takdir yang Dia buat. Ini hidup kami!” ujar suara lainnya.

“Dia Raja kalian! Dia berhak melakukan segalanya.” hardik sang penjaga lagi.

“Gugat.. Gugat.. Gugat..”

Entah dari mana asalnya, kemuruman itu kini berseru dalam sebuah irama.

Para penjaga menahan sekuat tenaga agar Gerbang Utama tidak terbuka. Kerumunan datang semakin banyak. Jumlah mereka jelas tidak seimbang. Para penjaga saling pandang. Mereka benar-benar butuh bantuan sekarang.

***

Ratusan malaikat melesat terbang. Rentang sayap mereka membelah udara, menyenandungkan nada serupa siulan. Kepala-kepala dalam kerumunan menengadah. Mata mereka membelalak melihat ratusan malaikat terbang menukik ke arah mereka. Kerumunan itu membelah diri. Lari.

Ratusan suara sapuan udara saat para malaikat menjejak membuat kerumunan berjengit. Sebagian mereka saling peluk dan merapatkan diri. Sedang sebagian lainnya melindungi telinga mereka dari hantaman udara yang membuat telinga sakit dan berdenging.

Seorang malaikat paling tinggi maju menghadapi kerumunan. Sayapnya berkilau serupa warna pelangi saat tersentuh cahaya matahari. Kulitnya kemerahan dengan raut wajah tenang dan sorot mata yang teduh. Menatap setiap wajah dalam kerumunan.

"Siapa yang bertanggung jawab?” suaranya membelah udara.

Jeda.

“Sang Raja tidak pernah salah. Tidak pantas kalian berbantah!” suaranya menggema menghentikan kasak kusuk di ujung sana.

Kata-kata bungkam di ujung lidah. Gerakan mata berdiam diri dan memilih sembunyi. Sang malaikat maju selangkah lagi. Mengedarkan pandangan ke setiap sisi.

Sebuah gerakan kecil muncul di tengah kerumunan. Sang malaikat menundukkan pandangannya. Seorang anak kecil dengan jubah berwarna kuning emas keluar dengan langkah pelan. Matanya memandang sang malaikat dengan tatapan yang dalam. Sang malaikat tersenyum kepada anak kecil itu.

“Ada yang ingin kau katakan, Nak?” ujar Sang Malaikat seraya membungkukkan badan.

Kerumunan menjatuhkan pandang ke arah depan. Menunggu dalam balut penasaran.

"Aku akan menjadi manusia yang paling hebat sekaligus dibenci di muka bumi. Aku akan mati bersama ribuan prajurit setia saat berlari mengejar musuh. Kami terjebak dalam sapuan ombak di Laut Merah. Kisahku akan dikenang oleh anak cucu manusia. Mengapa Sang Raja memilihku? Mengapa?”


-Bogor, 5 Februari 2017