Jumat, 23 Juni 2017

Yang Mana?

Beberapa waktu yang lalu seorang teman pernah bertanya, "Ndah, lo kan berjilbab koq benci sama ulama sih dan malah belain si owe-owe itu?"

Di lain kesempatan ada lagi yang berkata, "Saya ini cinta ulama, Ndah. Tiap ada berita soal ulama langsung saya share. Inget lho, di akhirat kita akan bersama dengan yang kita cintai."

Lalu ada juga komentar lain yang datang, "Dasar kafir, kerudung kedok, setan!"

Hahaha. Lucu!

Miris sebenarnya mengingat komentar dan pendapat tersebut justru datang dari teman-teman yang berpenampilan islami, sering posting status religius di medsos dan dengan bangga menginfokan bahwa dirinya tergabung di salah satu ormas besar islam. Dengan kata lain, mereka adalah orang-orang yang se-aqidah dengan saya, menyembah Tuhan dan mengakui nabi yang sama.

Baiklah cukup cap-cip-cup-nya ya. Ini penjelasan menurut pemahaman saya:

Bagaimana orang tua bisa mengajarkan saya beribadah: membaca Alquran, wudhu, salat, berinteraksi dengan sesama jika kami (saya) membenci ulama? Dulu sekali, saya pernah mengalami (saya menyebutnya) kebingungan agama. Ketakutan atas jalan hidup yang saya pilih. Saya mendatangi banyak majelis dan banyak ulama, lalu mendirikan salat istikharah guna menentukan arah yang harus saya pilih. Dari sana, saya memilih Gus Dur, Kyai Quraish, Gus Mus, Gus Nadir, Kyai Imron, Kyai Luqman, Mbah Moen, dan ulama yang kebanyakan dari NU. Jadi, apakah saya membenci ulama? Ah, yang benar saja!

Don't judge a book by it's cover. Jika seorang ulama merasa berhak mengatakan apapun seperti ujaran kebencian, kalimat hinaan atau yang bernada merendahkan golongan lain, tentu saja ini bukan termasuk pada salah satu syarat sebagai ulama yang akan saya ikuti. Bagaimana bisa seorang ulama yang seharusnya mengajarkan dan mengajak pada kebaikan dan mendekatkan diri pada Tuhan justru mengajarkan dan mengajak kita untuk berbuat hal yang tidak baik? Apakah dia benar-benar seorang ulama? Atau jangan-jangan dia ubaru? ehh

Menurut saya pula, seseorang sepatutnya dinilai berdasarkan kinerja, prestasi, kualitas diri, bukan sekedar embel-embel gelar. Akan jahat sekali rasanya jika misalnya saya yang seorang guru memberi nilai 100 pada seorang anak dari pegawai pemerintah padahal dia hanya bisa mengerjakan setengah dari soal ujian, sementara seorang anak petani yang buta huruf saya beri nilai 70 padahal dia berhasil mengerjakan semua soal dengan benar. Ini artinya saya menilai mereka bukan dari kualitas pribadi tapi dari gelar: anak pegawai pemerintah dan anak petani buta huruf.

Dapet berita? Periksa ulang sebelum menyebarkannya. Jangan jadi sapi yang hanya mengikuti arus. Malu sama ponsel yang udah smartphone sementara logika berpikirmu masih somecome (kadang datang, kadang hilang hahaha).

Saya pake jilbab karena menurut perintah Tuhan. Ente mau protes? Ngomong sama Tuhan dulu gih.

Sekian.

Kamis, 22 Juni 2017

Transportasi Alternatif: OJOL?

Seluruh Indonesia sepertinya tahu kalau jalanan Jakarta hampir setiap saat mengalami kemacetan. Kelapangan jalan merupakan hal yang istimewa disini.

Beruntung ada alternatif transportasi yang bisa kita pilih untuk dapat sampai ke tempat tujuan dengan lebih cepat: ojek online. Di awal kehadirannya ojek online (ojol) menjadi primadona penumpang sekaligus musuh bersama angkutan yang sudah lebih dulu ada. Banyaknya aksi aniaya yang dilakukan oleh ojek pangkalan, sopir taksi, sopir angkot, dan sopir bus terhadap para pengendara ojol ternyata tidak membuat pengendara ojol mundur.

Pembelaan dan simpati terhadap ojol justru muncul dari penumpang. Menurut mereka perpindahan minat penumpang ke ojol semata-mata karena terburunya mereka oleh kejaran waktu. Sudah mafhum bahwa sopir angkot dan bus sering kali ngetem berpuluh-puluh menit tanpa batas sampai angkutan mereka penuh tanpa peduli nasib penumpang lain yang sudah menunggu lama yang kadang bikin mereka telat masuk kerja. Duh!

Saya sendiri memilih Grab dan Gojek sebagai transportasi andalan kalau dikejar waktu. Lho, ga pake Uber? Ga lagi karena sistem denda yang diterapkan oleh pihak Uber. Ga peduli kalau pengendara mereka yang melakukan pembatalan dan atau datang terlalu lama tanpa kejelasan sampai akhirnya dibatalkan oleh penumpang.

Soal harga, tarif Grab memang lebih beberapa ribu rupiah dari Gojek. Saya ambil contoh untuk rute perjalanan rumah ke kantor.

Tarif Gojek


Tarif Grab


Kalau kamu pilih yang mana?

Rabu, 21 Juni 2017

Akulaku: Limit Pengganti Kartu Kredit

Kamu mau beli ini itu dengan cara kredit (dicicil)? Kendaraan bermotor, alat elektronik, smartphone sampai kebutuhan rumah tangga, BISA!

Pernah denger aplikasi AKULAKU?


Yap! Aplikasi ini memungkinkan kamu membeli barang yang kamu inginkan dengan cara kredit tanpa harus memiliki kartu kredit. Koq bisa? Yuk, pelajari lebih dekat.

1. Download aplikasinya.

2. Pilih bahasa yang akan digunakan.


3. Klik 'Next'. Ikuti langkah sampai bertemu halaman pengajuan kredit. Klik 'Ajukan Sekarang'.




4. Lengkapi data diri kamu. Siapkan foto KTP, foto diri dengan memegang KTP, foto banner atau papan nama kantormu. Semakin lengkap data yang kamu berikan, makin tinggi Limit yang akan kamu dapatkan.


5. Proses pengajuan kredit memakan waktu hingga 3 x 24jam (hari kerja). Jangan kaget kalau nanti kamu dikonfirmasi melalui telpon dari pihak AKULAKU ya, tapi kebetulan saya ga hehhe

7. Kamu bisa berbelanja dengan nilai maksimal Limit kamu deh. Selesai!
(Limit sudah terpakai untuk pembelian kamera Kogan)




Hal-hal yang perlu kamu perhatikan saat berbelanja dengan aplikasi AKULAKU

1. Jangan memesan barang saat proses pengajuan kamu belum selesai! Tunggu pemberitahuan atau cek limit kamu untuk memastikan hal ini.

2. Proses pengajuan kredit minimal 7-14 hari kerja (Sabtu - Minggu dan hari libur tidak dihitung)

3. Kamu harus sadar kalau aplikasi ini memerlukan waktu lebih lama dalam proses pengajuan kredit, mengingat kamu ga perlu repot-repot datang untuk mengisi formulir dan atau surat-surat pengajuan lain. Jadi bersabarlah.

4. Bayar tagihan tepat waktu. Ini akan berpengaruh pada Limit dan kredibilitas kamu lho. Kamu juga akan dikenakan denda sebesar 10% dari nilai tagihan tiap bulan kamu telat membayar.

5. Bersabarlah.


Saya baru mencoba membeli satu kamera via aplikasi ini. Pesan hari Sabtu, 10 Juni 2017, pesanan datang Rabu, 21 Juni 2017 (8 hari kerja).


Hasil fotonya 👇


Oiya, mau dapat voucher 100.000? Masukkan kode referral saya nih.



Penasaran mau coba aplikasi ini? Jangan lupa share pengalaman kamu ya ^_*

Minggu, 04 Juni 2017

Karena Cinta (Tak Harus) Selalu 'I Love You'




Langit masih cukup gelap saat jam weker di atas kepalaku berteriak nyaring. Menghentikan alur cerita di dalam mimpi. Kusibak selimut dan menyambar handuk di atas bangku. Mandi.

Tubuhku masih menggigil diserang udara dingin saat keluar dari kamar mandi. Seragam sekolahku sudah tersusun di atas tempat tidur saat aku selesai menunaikan sholat subuh. Harum aroma pelembut pakaian riang menyapa hidungku.

Sepiring nasi goreng dengan telur dadar dan segelas susu melambai padaku dari meja makan. Seakan memintaku menyegerakan menyantap mereka. Kupejamkan mata tiap kali suapan memasuki ruang mulutku. Ya Tuhan, ini sungguh nikmat sekali!

Lepas siang, jalanan terasa panas dan menyiksa. Keringat mengucur membasahi seragam putihku, debu jalan meninggalkan garis-garis samar berwarna cokelat. Kaos kakiku terasa lengket dan menyebalkan.

Kekesalanku luntur kala melihat nasi yang masih mengepul, kerupuk emping dan ayam balado di atas meja makan. Perutku kenyang saat berhasil melahap sepiring nasi hingga tandas. Lagi, kenikmatan ini singgah kembali dilidahku.

Aih Bu, aku memang orang kaku yang seringkali canggung menerjemahkan rasa. Aku lah orang yang tak pandai merajut kata untuk sebuah luapan akan rasa. Aku lah orang yang sering kali terjebak di antara kebisuan pada deret panjang rencana dengan ribuan kalimat. Ya Bu, aku lah orang itu.

Maafkanlah aku yang hanya bisa membisu saat memelukmu sebagai ucapkan terima kasih untuk tiap kenikmatan piring nasi itu, untuk tiap harumnya seragam sekolah itu, untuk setiap kesatnya kaos kaki itu, untuk setiap lembutnya seprai tempat tidur itu, untuk tiap buku-buku bersampul itu, untuk tiap baju yang tersusun di lemari itu, untuk tiap doa yang kau ajarkan untukku, untuk tiap nasihat yang kau sematkan dihidupku, untuk tiap tawa yang kita urai bersama, untuk tiap maaf yang terentang di sepanjang perjalanan, untuk tiap asa yang terucap di akhir sujud panjang kala malam dan untuk tiap kehadiranmu dalam hidupku. Terima kasih untuk tiap kasih yang tersemai sempurna di hatiku.

Bu, maafkanlah aku yang tidak pernah sanggup berkata:

I Love You...

Kamis, 20 April 2017

Dari Seberang Jalan

Setelah sekian lama, aku melihatnya lagi. Duduk di tempat yang sama setiap kali. Menunggu bus yang akan membawanya pergi berlari tiap matahari hampir membenamkan diri.

Gadis berkerudung merah di seberang jalan. Diam-diam mempesona tanpa menarik banyak perhatian. Aihh, bagaimana orang-orang bisa melewatkan salah satu keindahan sang makhluk Tuhan? Mungkin ketergesaan telah menimbun rasa keingintahuan mereka untuk sejenak berhenti dan memperhatikan.

Oh, tidak!

Aku baru menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda pada gadis berkerudung merah. Wajahnya seakan kehilangan senyum ceria yang sebelumnya senantiasa hadir dan rekah. Aduhai gadis berkerudung merah, apakah yang tengah membuatmu seakan tengah merana?

Duduk diam di salah satu sudut bangku tepi jalan, abai pada kehadiran orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Sedang aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Di tempatku berdiri, seberang jalan. Lalu ingatanku berlari beberapa waktu belakang saat mataku pertama kali menangkap sosokmu dalam sebuah pandang.

*

Langit telah lama mendung meski siaran prakira cuaca tidak juga membawa kabar tentang bila titik hujan datang. Alih-alih menunggu, orang-orang memilih membawa payung dan jas hujan. Para penjaja musiman menjamur di sepanjang mata memandang.

Seorang gadis muda berkerudung merah dengan ransel berwarna gelap dan terlihat berat, menyeret langkahnya ke salah satu bangku di tepi jalan. Menunggu dengan tatap penuh kekhawatiran antara jam pada pergelangan tangannya dan kedatangan bus dari ujung jalan.
Sudah lima belas menit lewat dan dia masih menunggu.

Kekhawatirannya belum juga selesai dijawab waktu. Gadis berkerudung merah memejamkan mata selemparan dadu hingga mataku melihat seorang pemuda keluar dari mobil berwarna kelabu. Dari seberang jalan kulihat gadis berkerudung merah berlalu.

*

Ratusan hari kunikmati sore dari seberang jalan menunggu gadis berkerudung merah. Ratusan kali kulihat dia berlalu bersama seorang pemuda yang membawa roda empat dengan gagah. Dan ratusan malamku dipenuhi oleh bayangan akan senyumnya yang tengah rekah.

Aku tak pernah peduli dengan kenyataan telah menjadi makhluk terbodoh di muka bumi yang hanya mampu memupuk asa di dalam sunyi. Aku tak peduli dengan malam yang setiap kali menjadi lebih sepi hanya untuk bisa menikmati senyum gadis berkerudung merah sekali lagi. Aku akan senantiasa setia menunggu disini.

Sepuluh menit berlalu, gadis berkerudung merah menundukkan wajah. Lalu kulihat, air mata telah membuat ujung kerudungnya basah. Gadis berkerudung merah tengah merasa hatinya yang berdarah. Dari seberang jalan, gejolak di dadaku telah memenuhi setiap aliran darah.

*

Matahari berlari lebih cepat, menyisakan langit kelabu gelap. Udara terasa berat dan pengap. Kelopak bunga jatuh sembarang di tepi jalan beraspal pekat. Di ujung lidah, ribuan kata diam tersendat.
Kulihat wajahnya memerah untuk kali pertama. Pemuda yang membawa roda empat dengan gagah membuat gadis berkerudung merah merasa terluka. Mereka diam disana beberapa lama sampai kulihat pemuda itu memilih pergi dari hadapan gadis pemilik senyum serekah bunga.

Gadis berkerudung merah terduduk di salah satu bangku tepi jalan lagi. Membiarkan waktu membawa malam jauh melarut pergi. Saat itu aku sadar bahwa hari-hari gadis berkerudung merah tak akan terasa sama lagi.

*

Aku tidak tahan lagi untuk tetap menahan diri dan memperhatikannya dari seberang sini. Inginnya aku berlari menuju dia yang tengah dirundung sepi dan membagi dukanya yang menggores-gores hati.

Bus yang biasa ditumpanginya terlihat datang. Gadis berkerudung merah berdiri dari bangku di tepi jalan. Kakinya melangkah pelan.

"Tidaaaaaaaaaaaaakkk!"

Jeritanku hanyut terbawa angin. Tak ada seorang pun terpilih mendengar jerit di tengah hening.

Brak!

Orang-orang lari dan berkerumun di tepi jalan. Memandang seorang gadis dengan mata terpejam. Merah membasah, gadis berkerudung merah memilih pulang.

- Aku, sang penerang jalan.

WRITING IS HEALING (Bag 1)

Ada beberapa poin yang menjadi titik berat tiap kali mentoring, yaitu:

1. EBI, DIKSI
Penggunaan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) dihukumi wajib. Ga ada toleransi. Kenapa? Typo (kesalahan) pada tulisan yang dilakukan secara sengaja dan berulang akan membuat pembaca kelelahan, yang kemudian malah menjauhkannya dari poin-poin yang ingin disampaikan oleh penulis. Hal ini berkaitan pula dengan pemilihan diksi. Peletakan diksi yang tidak sesuai bisa membuat inti tulisan tidak tersampaikan.

2. Ide cerita
Orisinalitas cerita menjadi tuntutan tak terelakan bagi setiap penulis. Sering kali kita mendapati kisah bertema senja, kopi, hujan, dan kafe. Sayangnya, 80% ide penulis datang dari pengalaman diri sehingga tema-tema tersebut hampir tidak bisa dipungkiri. Berita terbaiknya adalah bahwa setiap penulis memiliki gaya penyampaian yang berbeda. Kembali pada poin pertama, pemilihan diksi bisa menjadi sebuah senjata.

3. Logika
Se-fantasi apapun sebuah cerita, logika tetap harus ada. Kenapa? Tentu saja karena ini berkaitan dengan inti yang ingin disampaikan oleh penulis. Ya, misalnya Anda menulis tentang dunia peri, tentu mereka minimal harus bisa terbang, bukan ngesot.

4. Tanda baca
Intinya hanya ada dua: latihan dan lanjutkan!

(bersambung)

Senin, 06 Februari 2017

Menggugat Sang Raja

Langit sedang gaduh. Para penghuni ribut dan saling tuduh. Lirikan curiga pekat memenuhi udara. Catatan takdir Tuhan bocor kemana-mana. Entah siapa awalnya dan bagaimana akhirnya catatan itu akhirnya terbaca oleh para penghuni langit.

Mereka berjumlah ribuan. Berjalan dalam kelompok-kelompok besar menuju ke satu arah. Rumah Sang Maha. Pembicaraan mereka penuh kata dalam nada lebih tinggi dari biasa. Wajah mereka merah, tidak terima dengan apa yang telah mereka baca. Pikir mereka Tuhan pasti sudah melakukan kesalahan.

Sepuluh orang prajurit dengan baju berwarna perak maju menghadang kerumunan di depan Gerbang Utama. Seorang dari mereka mengambil dua langkah lebih maju.

“Berhenti!” gertak seorang penjaga.

"Biarkan kami lewat. Kami harus menemui Raja.” ujar sebuah suara dari tengah kerumunan.

“Dia sedang sibuk. Pergilah. Akan ada saat dimana kalian akan menemuiNya.” jawab sang penjaga.

"Tidak! Kami harus menemuiNya sekarang. Bagaimana bisa Dia membiarkan kami terlahir menjadi binatang melata di bumiNya nanti? Lebih baik kami tetap tinggal disini.” sebuah suara dari sisi kiri kerumunan menjawab kalimat sang penjaga.

“Biarkan kami lewat. Kami perlu mendengar penjelasan tentang takdir yang Dia buat. Ini hidup kami!” ujar suara lainnya.

“Dia Raja kalian! Dia berhak melakukan segalanya.” hardik sang penjaga lagi.

“Gugat.. Gugat.. Gugat..”

Entah dari mana asalnya, kemuruman itu kini berseru dalam sebuah irama.

Para penjaga menahan sekuat tenaga agar Gerbang Utama tidak terbuka. Kerumunan datang semakin banyak. Jumlah mereka jelas tidak seimbang. Para penjaga saling pandang. Mereka benar-benar butuh bantuan sekarang.

***

Ratusan malaikat melesat terbang. Rentang sayap mereka membelah udara, menyenandungkan nada serupa siulan. Kepala-kepala dalam kerumunan menengadah. Mata mereka membelalak melihat ratusan malaikat terbang menukik ke arah mereka. Kerumunan itu membelah diri. Lari.

Ratusan suara sapuan udara saat para malaikat menjejak membuat kerumunan berjengit. Sebagian mereka saling peluk dan merapatkan diri. Sedang sebagian lainnya melindungi telinga mereka dari hantaman udara yang membuat telinga sakit dan berdenging.

Seorang malaikat paling tinggi maju menghadapi kerumunan. Sayapnya berkilau serupa warna pelangi saat tersentuh cahaya matahari. Kulitnya kemerahan dengan raut wajah tenang dan sorot mata yang teduh. Menatap setiap wajah dalam kerumunan.

"Siapa yang bertanggung jawab?” suaranya membelah udara.

Jeda.

“Sang Raja tidak pernah salah. Tidak pantas kalian berbantah!” suaranya menggema menghentikan kasak kusuk di ujung sana.

Kata-kata bungkam di ujung lidah. Gerakan mata berdiam diri dan memilih sembunyi. Sang malaikat maju selangkah lagi. Mengedarkan pandangan ke setiap sisi.

Sebuah gerakan kecil muncul di tengah kerumunan. Sang malaikat menundukkan pandangannya. Seorang anak kecil dengan jubah berwarna kuning emas keluar dengan langkah pelan. Matanya memandang sang malaikat dengan tatapan yang dalam. Sang malaikat tersenyum kepada anak kecil itu.

“Ada yang ingin kau katakan, Nak?” ujar Sang Malaikat seraya membungkukkan badan.

Kerumunan menjatuhkan pandang ke arah depan. Menunggu dalam balut penasaran.

"Aku akan menjadi manusia yang paling hebat sekaligus dibenci di muka bumi. Aku akan mati bersama ribuan prajurit setia saat berlari mengejar musuh. Kami terjebak dalam sapuan ombak di Laut Merah. Kisahku akan dikenang oleh anak cucu manusia. Mengapa Sang Raja memilihku? Mengapa?”


-Bogor, 5 Februari 2017

Senin, 02 Januari 2017

Wisata Museum (Bag 2)

Perjalanan liburan saya di Kota Tua Jakarta berlanjut pada hari berikutnya, Sabtu, 24 Desember 2016. Tujuan selanjutnya adalah Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) dan Museum Wayang.

Awalnya ada beberapa anggota FLP Bogor yang berniat ikut pada perjalanan saya kali ini. Namun karena ada agenda dadakan yang tidak bisa ditinggalkan, niat mereka pun akhirnya dibatalkan. Kecuali Mba Rima, salah satu anggota Pramuda FLP Bogor angkatan sembilan. Saya juga mengajak kakak perempuan dan Affan, putranya yang masih berusia empat tahun.

Saya tiba di Stasiun Jakarta Kota pukul 10.30. Cukup telat dari rencana semula karena pergantian rel saat memasuki Stasiun Jakarta Kota. Affan sudah memperlihatkan wajah bosan saat saya sampai hahha

Karena sebelumnya saya telah mendapat informasi bahwa Rima juga akan telat, jadi saya memutuskan untuk langsung menuju museum.

Museum Sejarah Jakarta kami pilih sebagai penjelajahan pertama. Dahulu gedung ini digunakan sebagai Balai Kota masa kolonial dengan nama Stadhuis. Dengan tiket Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.000 untuk anak/pelajar, kami pun masuk. Museum Sejarah Jakarta menyimpan berbagai koleksi alat komunikasi, alat hitung, furnitur, perlengkapan sehari-hari sejak jaman pra sejarah sampai kemerdekaan Indonesia dengan jumlah mencapai 23.500 buah.









Di belakang museum terdapat ruangan bekas penjara dan sumur yang sudah tidak digunakan lagi.

Kami hampir selesai menyusuri setiap sudut museum ketika sebuah pesan dari Mba Rima yang mengabarkan kedatangannya tiba. Jadi kami pun keluar dari museum untuk menemuinya dan melanjutkan perjalanan. Mba Rima mengajak serta keponakannya, Najwa, yang baru berusia enam tahun.

Karena Affan terus merengek untuk naik delman, jadi kami pun memutuskan untuk naik delman sebelum melanjutkan perjalanan. Lalu masalah baru pun muncul. Najwa ga mau naik delman hahha

Awalnya Mba Rima mengatakan akan menunggu saya berkeliling naik delman disalah satu sudut teras museum. Tapi karena kakak saya tidak mau meninggalkan Mba Rima dan Najwa, akhirnya kami semia pun memutuskan untuk membujuk Najwa. Setelah dijanjikan akan dibelikan boneka, Najwa akhirnya mau diajak naik delman. Pyuhh..

Dengan tarif Rp 50.000 kami sudah dapat menikmati sensasi eksotis naik delman dengan rute memutari komplek Kota Tua Jakarta. Bunyi suara sepatu kuda, sejuknya angin sepoi dan nyanyian Naik Kuda dari Affan yang gak merdu membawa perasaan bahagia yang sulit untuk diungkapkan.

Selesai berkeliling dengan delman dan membeli mainan, perjalanan dilanjutkan menuju Museum Wayang. Tiket masuk museum ini juga terbilang murah meski saya lupa berapa pastinya.

Sebelumnya Museum Wayang digunakan sebagai Gereja Belanda dengan nama De Hollandsche Kerk. Museum ini memiliki berbagai koleksi wayang lokal dan mancanegara. Yang menarik, museum ini juga menyimpan batu nisan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen.

Museum ini juga menyajikan cerita epik pewayangan Ramayana, wayang cerita anak Si Unyil sampai cara pembuatan wayang kulit yang ternyata luar biasa rumit.

Di museum ini kita bisa melihat bahwa hasil pahatan, motif ukiran dan warna pada wayang kulit dan topeng masing-masing daerah dan negara ternyata sangat berbeda.











Di salah satu sudut Kota Tua, terdapat semacam lokasi bagi para seniman karakter seperti None Belanda, tentara dan meriam, bajak laut, W.R. Supratman, Pangeran Belanda, Wali Songo terbang dan lain-lain. Kita bisa mengambil pose foto yang unik bersama mereka.





Perjalanan kami ditutup dengan menyantap semangkuk bakso seharga Rp 20.000 yang ga sempet saya foto. Dan perjalanan liburan saya masih berlanjut *_^