Sabtu, 31 Desember 2016

Liburan: Wisata Museum (Bag 1)

Di penghujung tahun 2016, saya kembali mendapatkan kesempatan liburan panjang yang dimulai tertanggal 23 Desember 2016 sampai 02 Januari 2017. Hanya berdiam diri di rumah tentu bukan sebuah pilihan yang menyenangkan, bukan? Jadi saya pun mulai menyusun agenda liburan. Yeiy!!

Hari pertama libur, saya memutuskan untuk memutuskan mengunjungi daerah wisata Kota Tua. Tujuannya tentu saja museum. Kebetulan ada beberapa museum yang sejak lama memang ingin saya datangi.


Museum Seni Rupa dan Keramik

Bertempat di Jalan Pos Kota No. 2, dahulu gedung ini digunakan sebagai Dewan Kehakiman Hindia Belanda dengan nama Palais Van Justitie. Dengan tiket masuk seharga Rp 5.000 saya dipersilahkan berkeliling area ini.

Museum ini mengoleksi macam-macam jenis gerabah sejak Kerajaan Majapahit dan lukisan dari beberapa maestro besar seperti Affandi dan Antonio Blanco.

Ada perasaan unik yang menyusup pelan saat saya menengok beberapa koleksi lukisan secara lebih detail. Semacam rasa 'penuh' yang menggairahkan. Entahlah.

Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan. Maafkan jika hasil gambar kurang baik, soalnya saya memang amatiran soal dunia fotografi haha











Kondisi museum cukup baik meski tidak dalam kondisi maksimal. Terdapat proyek renovasi di beberapa tempat walaupun tidak berdampak apa-apa selain ditutupnya beberapa lokasi museum.


Museum Bank Indonesia

Perjalanan kemudian saya lanjutkan karena rasa penasaran saya tentang sejarah hadirnya uang. Langkah kaki saya dituntun mengunjungi sebuah gedung yang bertempat di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 yang dahulu digunakan sebagai Bank Sentral Hindia Belanda ini.

Memasuki gedung, kita disambut oleh 12 ruang kecil bersekat berukuran 1m x 1m yang dahulu diperuntukkan sebagai ruang kasir saat melakukan transaksi keuangan. Transaksi keuangan dilakukan berlapis untuk menghindari kecurangan yang mungkin dapat dilakukan oleh kasir.

Semakin dalam, kita di ajak menyusuri jejak awal perdagangan di Indonesia serta negara-negara yang berhubungan dengannya. Perjalanan pelaut-pelaut hebat demi menemukan negara penghasil rempah yang sudah terkenal di berbagai penjuru dunia hingga peperangan yang kemudian muncul karenanya.

Mata saya kemudian sempat mengerut heran saat menemukan ruang mata uang. Bayangkan, pada jaman dahulu secarik kain tenun selebar dua tangan orang dewasa pernah menjadi salah satu alat tukar di Indonesia! Bukan sembarang kain memang, namun hanya kain yang ditenun oleh seorang putri raja. Nilai dari secarik kain tenun tersebut setara dengan harga sebutir telur ayam. Luar biasa bukan sejarah kita?

Tidak seperti sekarang, para masa kerajaan mata uang di Indonesia berbeda pada tiap daerah. Di Aceh misalnya, karakter mata uang dipengaruhi oleh budaya Arab. Sedangkan di pulau Jawa, karakter mata uang dipengaruhi oleh budaya Belanda.

Ada juga mata uang yang ternyata terbuat emas murni 24 karat berdiameter sekitar 6-8mm. Sayang saya tidak menemukan penjelasan mengenai besaran nilainya.

Oiya, saya tidak sempat mengambil foto dikarenakan kamera ponsel saya tidak dapat menghasilkan gambar dengan kualitas maksimal di ruangan yang minim cahaya.

Satu-satunya foto yang saya ambil di museum hanya gambar ini..



Ketauan matre ya? Hahah

Perjalanan liburan saya belum usai. Sampai berjumpa di bagian selanjutnya ^_*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar