Sabtu, 12 November 2016

Resensi : Author Anonymous (2014)



          Diceritakan sebuah kelompok penulis dengan motto ‘semua untuk satu’ yang ingin mencapai kesuksesan bersama seperti salah seorang anggota grup, Hannah (Kaley Cuoco) melalui film dokumenter. Disutradarai oleh Ellie Kanner dan skenario oleh David Congalton membawa film ini ke dalam genre komedi.

Dikisahkan Alan Mooney (Dylan Walsh) demi impian sang istri, Colette Mooney (Teri Polo) yang terobsesi untuk menjadi penulis, mengajak Hannah, William Bruce (Jonathan Bennet) , Henry Obert (Chris Klein) dan John K. Butzin (Dennis Farina) untuk membentuk kelompok penulis. Dua tiga kali dalam seminggu, mereka bertemu untuk mendiskusikan hasil tulisan mereka.

Seiring berjalannya waktu dan munculnya konflik diantara mereka membuat situasi menjadi tegang yang pada akhirnya membuat Alan memutuskan untuk membubarkan kelompok mereka. Dimulai dengan terciumnya hubungan spesial antara Colette dan William oleh Alan, gesekan antara Henry dan Hannah meski pada awalnya Henry sempat memendam perasaan pada Hannah serta kekerasan kepala John yang tidak mau mendengar saran orang lain. Pada akhirnya takdir telah menentukan untuk memilih mereka.

Salah satu film komedi yang penuh dengan kalimat dan emosi dalam menyampaikan cerita. Alur bergerak cepat, kalimat-kalimat dilontarkan seperti peluru senapan mesin. Sedetik saja menguap, anda akan kehilangan sepuluh kalimat.

Saat Aku Memilih Diam

Diam adalah DOA yang kuucap TANPA kata-kata..

Kelas FLP Bogor : Menulis Resensi Film


              Minggu (5/11) menjadi pertemuan terakhir dari rangkaian Kelas Pramuda Forum Lingkar Pena (FLP) angkatan sembilan dan bertempat di Common Class S2 Agribisnis ITB Dramaga, Bogor.
           
             Kelas dibuka sekitar pukul sembilan dengan diskusi yang dipimpin oleh Novita Sari dengan pokok bahasan mengenai genre penulisan yang akan ditekuni oleh anggota pramuda selanjutnya. Beberapa anggota pramuda mengakui kesulitan berada di genre cerpen-novel dan lebih memilih jalur esai dan artikel, hal ini seperti diungkap oleh Arinda.

            “Saya lebih memilih artikel tapi ingin mencoba menulis cerpen juga.” ungkap Hernoer pada salah satu kesempatan tanya jawab.

             Sekitar pukul sepuluh, nara sumber yang akan mengisi kelas review film akhirnya tiba. Sekar adalah anggota FLP cabang Bogor angkatan tiga, dan saat ini menekuni profesi sebagai ghost writer.

            Sekar mengambil film Authors Anonymous (2014) sebagai bahan pertemuan pagi itu. Menurutnya, Authors Anonymous adalah film yang memiliki cerita yang paling dekat dengan kehidupan seorang penulis. Dimana ada penulis tua dengan sifat keras kepala, penulis yang selalu beruntung, penulis yang memiliki banyak ide namun tidak pernah berhasil menyelesaikan sebuah karya atau penulis yang hanya bisa mengkritik orang lain tanpa ada karya nyata yang dihasilkan.

            “Review film yang penting jangan spoiler. Inti ceritanya saja.” ujar Sekar pada salah satu sesi tanya jawab. Menurutnya, banyak orang yang salah dalam menulis resensi sebuah film dimana mereka menuturkan jalan cerita film dari awal hingga akhir.

            Di akhir pertemuan, Sekar menugaskan peserta untuk menulis resensi film Author Anonymous. (Endah)

Jumat, 04 November 2016

Kelas Forum Lingkar Pena Bogor: Media Online


               Minggu (30/10) Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bogor menggelar kelas Pramuda angkatan sembilan dengan tema Media Online. Bertempat di salah satu Common Class Room S2 Agribisnis IPB Dramaga, Bogor. Kelas diisi langsung oleh Syaiful Hadi yang juga merupakan Ketua FLP cabang Bogor mulai pukul 08.30-12.00 WIB.

             Di awal pertemuan Syaiful menjelaskan bahwa ada tiga tipe naskah yang akan diterima oleh penerbit. Naskah bagus dari orang ternama, naskah biasa dari orang ternama dan naskah yang sangat bagus dari orang biasa. Namun jika ada kondisi dimana naskah yang sangat bagus dari orang biasa dan naskah biasa dari orang ternama, kemungkinan besar penerbit akan memilih naskah biasa dari orang ternama. Hal ini dikarenakan penerbit butuh kepastian bahwa buku yang mereka terbitkan akan laris di pasaran.

            Dijelaskan lebih lanjut oleh Syaiful, seorang penulis dapat memanfaatkan media online sebagai sarana mempromosikan diri. Salah satu caranya adalah dengan mendokumentasikan kegiatan apapun yang dilakukan. Syaiful juga merekomendasikan kompasiana sebagai wadah latihan bagi penulis pemula karena dianggap cukup efektif sebagai media promosi. Yang perlu diingat oleh penulis adalah kompasiana tidak memperbolehkan artikel yang diambil dari media lain, sehingga penulis harus mencantumkan sumber tulisan apabila artikel yang sama juga dipublikasikan di media lain.

Selain itu seorang penulis juga harus konsisten dalam memilih nama di laman media sosialnya. Ada baiknya, seorang penulis mempunyai fan page sebagai sarana untuk memperkenalkan diri. Ini dikarenakan fan page tidak memiliki batasan dalam jumlah pertemanan.

            Empat puluh menit terakhir, Syaiful memberi tugas kepada peserta pramuda untuk membuat akun kompasiana dan quote melalui canva.com meski yang tidak dapat diselesaikan dengan baik karena terkendala oleh sinyal jaringan yang bermasalah. (Endah)