Kamis, 27 Oktober 2016

Puisi Aku


Aku tengah membaca puisi
Tentang ombak yang bergulir di bawah kaki
Tentang gunung yang tak lagi terlihat tinggi
Tentang angin yang melabuhkan sampan ke tepi

Aku tengah membaca puisi
Di bawah langit dengan kelip bintang yang menari
Tentang jejak yang pernah tertinggal di hati
Tentang masa depan kini kita jalani

Aku tengah membaca puisi
Tentang Tuhan yang menciptakan dunia berotasi
Tentang semesta yang tiada bertepi
Kemarilah dan kita dengarkan lagi

Aku tengah membaca puisi..


---
Mendung, Oktober 2016

Selasa, 18 Oktober 2016

Sinopsis: Suara Wahid




Wahid, anak laki-laki kurus (10) terlahir dengan suara yang istimewa. Cadel. Lahir dalam keluarga besar yang religius. Ayahnya, Abdul, adalah guru mengaji kampung yang terkenal keras dan tegas. Sedang ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Wahid adalah sulung dari enam bersaudara.

       Wahid tidak pernah peduli meski sering diolok-olok oleh teman-teman karena suaranya. Satu-satunya yang membuat gelisah adalah ayahnya sendiri. Wahid selalu merasa tidak nyaman jika berdekatan dengan ayahnya. Kegagalannya dalam melafal salah satu huruf hijaiyah membuat hubungannya dengan sang ayah merenggang. Meski sudah sering berlatih, Wahid belum juga berhasil melafal huruf ‘Ra’. Lidahnya selalu kalah dan hanya sanggup mengeluarkan bunyi ‘Wlo’ yang terdengar canggung. Dia kecewa karena ayahnya tidak pernah bisa menerima kondisinya.

            Abdul (35) selalu saja gelisah tiap kali memikirkan Wahid. Sikapnya yang keras bukan berarti tidak sayang kepada anak, namun reputasinya dipertaruhkan sebagai seorang guru mengaji yang selalu menuntut kesempurnaan bacaan kitab suci kepada murid-muridnya. Pak Abdul sempat beberapa kali lepas kendali saat mengajar Wahid yang disebutnya 'bebal'.

            Siti (32) tidak pernah lelah memberi pengertian kepada suaminya agar melembutkan suaranya saat mengajar Wahid. Meski sibuk mengurus kelima anaknya yang lain, Siti selalu berusaha menyempatkan diri menemani Wahid saat belajar. Dia hanya ingin memastikan agar Wahid tidak menjadi sasaran kekesalan Abdul.

            Kekecewaan Wahid makin bertambah saat ayahnya melayangkan pukulan dengan kopiah kepadanya karena kembali gagal melafal huruf ‘Ra’. Wahid berhasil meghindar kala itu namun dia tidak memperhitungkan saat ayahnya bangkit berdiri dan melayangkan sajadah ke arahnya. Tangan kecil Wahid berhasil menangkap sajadah itu pada kesempatan yang kedua, namun saat itu hatinya terluka sangat dalam. Wahid tidak peduli lagi. Dia kabur.

            Abdul sangat merasa bersalah setelah kejadian itu. Dia berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lain mencari Wahid. Sedangkan Siti terus menerus menangis hingga membuat tubuhnya sakit. Azzam (9) yang juga bersuara cadel namun tidak pernah menemui kesulitan dalam melafal huruf ‘Ra’ juga merasa bersalah atas perginya Wahid. Diam-diam sepulang sekolah dia mengajak dua orang temannya untuk mencari Wahid.

            Saat kepergiannya dari rumah, Wahid tidak memikirkan apapun selain mencari seseorang yang bisa mengajarinya melafal huruf ‘Ra’. Dia berpindah dari satu mushala ke mushala yang lain, dari masjid yang satu ke masjid yang lain, dari satu kampung ke kampung yang lain. Agar tidak dikenali, Wahid mengganti namanya menjadi ‘Musa’, nama yang diambil dari kata musafir. Meski kecewa dengan perlakuan ayahnya, Wahid tetap ingin memberinya senyum kebanggaan.

            Disetiap masjid dan mushala yang dia datangi, Wahid tidak pernah malas membantu marbot untuk menjaga kebersihan masjid. Dia menyikat lantai dengan penuh semangat, menyapu daun-daun kering di halaman sampai melafal shalawat dan ayat-ayat suci Al Quran, menjemur karpet-karpet dan bahkan mencuci mukena. Wahid melakukan apapun untuk mengalihkan kesedihannya yang belum mampu melafal ‘Ra’ dengan benar.

            Ahmad (60) sangat heran saat pertama kali bertemu dengan Wahid. Di matanya Wahid terlihat sangat bersih, wajahnya lebih mirip orang arab dengan mata berwarna cokelat terang, kulit putih dan rahang yang kuat. Ahmad mulai mendekati Wahid dan bertanya tentang tujuannya menyinggahi mushala dan masjid-masjid. Mendengar cerita Wahid, Ahmad tergerak untuk membantunya. Ahmad meminta bantuan kepada Samir (50) dan Ilham (54) yang merupakan guru mengaji di kampung sebelah untuk ikut mengajar Wahid.

            Delapan bulan sudah berlalu setelah Wahid pergi dari rumah dan Abdul masih terus mencarinya. Namun tidak ada satu pun petunjuk tentang keberadaan Wahid. Sedangkan Azzam sudah berhenti mencari Wahid karena Abdul melarangnya keluar rumah selepas sekolah.

            Di suatu kampung Abdul beristirahat di sebuah masjid setelah seharian mencari Wahid. Waktu dzuhur sudah lewat sekitar setengah jam yang lalu. Abdul bergegas masuk ke bilik wudhu dan sholat. Karena kelelahan, Abdul terlelap saat dia tengah berdoa.

            Abdul terbangun saat sayup-sayup terdengar suara seorang anak laki-laki mengaji dengan begitu merdu. Mendengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran itu, Abdul justru menangis karena mengingat Wahid. Dia menyesal karena telah berlaku degan begitu keras kepad putra sulungnya itu. Dalam hati dia berjanji akan menahan emosinya kepada Wahid. Dia berjanji akan menerima Wahid dengan apa adanya.

            Abdul mendekati anak laki-laki yang tidak dikenalinya sebagai wahid dan duduk sekitar dua hasta di belakangnya. Celananya basah oleh air mata. Dadanya terasa sakit karena sesak menahan kesedihan. Hingga tanpa sadar Abdul mulai terisak.

            Wahid berhenti mengaji karena mendengar suara seseorang yang sedang menangis. Dia kaget saat menengok ke belakang dan mendapati bahwa yang duduk di belakangnya dan sedang menangis adalah Abdul yang merupakan ayahnya. Wahid berseru memanggil Abdul seraya memeluknya. Abdul kaget mengetahui bahwa anak laki-laki yang memiliki suara merdu itu adalah putranya yang kabur dari rumah.

            Abdul memeluk Wahid dengan erat seraya berjanji tidak akan berlaku kasar lagi kepadanya. Wahid meminta maaf kepada ayahnya karena telah menyusahkan dan bersikap kurang sopan karena pergi tanpa pamit. Wahid menceritakan kepada Abdul tentang orang-orang yang telah membantunya untuk melafalkan ‘Ra’ dengan benar dan jelas.

            Wahid mengenalkan Abdul kepada Ahmad, Ilham dan Samir sekaligus berpamitan untuk pulang. Abdul berterima kasih kepada guru-guru yang telah membantu putranya belajar. Abdul dan Wahid pulang. Keluarga Abdul akhirnya dapat utuh kembali. Tamat.

Minggu, 16 Oktober 2016

Kelas Menulis Sinopsis dan Naskah Film



Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bogor menggelar kelas Menulis Sinopsis dan Naskah Film di Common Class Room IPB Dramaga Bogor pada Minggu (16/10/16). Kelas dibuka dengan tilawah oleh Nur Hilal, salah satu anggota Pramuda angkatan sembilan, lalu dilanjutkan dengan diskusi tugas menulis cerpen yang diberikan dua minggu sebelumnya.

Kelas dimulai pukul 08.40 menit WIB. Novita Sari sebagai pembawa acara membagi kelas menjadi tiga kelompok diskusi beranggota empat orang pramuda dan seorang anggota FLP senior sebagai moderator. Kelompok terakhir terbentuk dari beberapa anggota pramuda yang datang kemudian.

Poin pertama yang menjadi fokus utama diskusi adalah relevansi tugas menulis disetiap sesi dengan kehidupan sehari-hari. Rima, salah satu anggota pramuda mengatakan bahwa tugas menulis membuat keinginannya untuk membaca semakin meningkat, memotivasinya untuk belajar dan melatih tanggung jawab dan disiplin untuk mengumpulkan tugas tepat waktu.

Pada poin kedua, anggota pramuda diminta untuk menjelaskan kendala yang ditemui saat mengerjakan tugas berikut solusi untuk mengatasinya. Pada salah satu kelompok diskusi yang dimoderatori oleh Usup Supriadi merumuskan beberapa kendala saat menulis, diantaranya; menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan emosi, mencari ide untuk suatu cerita yang baru, kebuntuan dalam menuangkan ide dan kekhawatiran terhadap konsistensi karakter tokoh dalam cerita. Rima, salah seorang anggota kelompok diskusi menyarankan untuk membaca buku kumpulan cerpen sebagai salah satu solusinya.

Poin ketiga yang dibahas dalam diskusi adalah bagaimana cara dalam menemukan ide untuk menulis. Dari hasil diskusi, notulen merumuskan berita yang didengar, hasil merenung, curahan hati seorang teman, hasil pengamatan anatomi dan pengalaman pribadi sebagai jawaban. Diakhir diskusi, Usup menyempatkan untuk memberi saran untuk masing-masing tugas cerpen anggota diskusi yang telah dibuat.

Kelas menulis kemudian dilanjutkan oleh Sudiyanto, seorang pengurus FLP Jakarta Raya yang juga seorang penulis skenario film dan Film TeleVisi (FTV). Sudiyanto membagi FTV menjadi tiga kelas; Bioskop Indonesia (BI), TeleVisi Movie (TVM) yang menyajikan drama keluarga dan Screenplay yang menyajikan kehidupan sehari-hari.

 Sebelum menjadi skenario, seorang penulis harus mempunyai ide cerita (premis) yang kemudian dituangkan menjadi sinopsis. Proses selanjutnya adalah mengembangkan sinopsis dan menyisipkan masalah (treatment). Pada proses ini penulis dapat memilih salah satu dari dua alur penceritaan, yaitu maju atau maju-mundur. Ada beberapa poin yang ditekankan oleh Sudiyanto dalam membangun cerita. Misalnya, tokoh utama hanya boleh satu, harus mengalami perubahan kondisi atau karakter (harus logis) dan mengandung unsur dramatis atau ketegangan. Proses selanjutnya adalah resolusi atau penyelesaian konflik. Disini tokoh utama akan digambarkan bagaimana caranya menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi.


“Film harus mampu menarik perhatian penonton. Tidak bosenin.” ujar Sudiyanto.

            Sudiyanto kemudian menjelaskan beberapa hal penting terkait menulis sinopsis. Misalnya, ide harus sederhana, membuat sesuatu yang mudah diingat, menjelaskan persoalan secara dekat, cerita harus selesai dan jelas poin-poin yang akan diangkat. Kemudian Sudiyanto memberi waktu selama sepuluh menit untuk menulis sinopsis. Ada tiga sinopsis yang kemudian dibahas oleh Sudiyanto sebagai contoh.

            “Penulis harus mendalami persoalan yang akan diangkat. Harus detail.” ujar Sudiyanto sebelum mengakhiri sesi pertemuan.

Kamis, 06 Oktober 2016

Palipap dan Sang Penabur Serbuk Sari



Mendung telah lama menggantung di Bukit Desa. Sinar matahari terasa canggung saat menyapa. Udara lembab karena hujan hampir selalu turun dalam rentang dua senja. Tanah basah dengan genang air di sepanjang jalan.

“Palipap!” sebuah nama menggema di seantero bukit. Meninggalkan pantulan bunyi yang semakin lama semakin menghilang.

“Palipap!” gema suara itu lagi.

Seorang pria tinggi besar dengan perut gendut jatuh tersandung berkali-kali, berusaha keluar dan mencari tahu asal suara yang memanggil namanya. Palipap jatuh terjerembab untuk yang kesekian kalinya saat akhirnya berhasil menuju pintu. Kehabisan napas.

Pria itu berdiri dengan susah payah. Bajunya kotor. Tangannya yang besar berusaha membersihkan tanah yang menempel. Matanya memicing. Menangkap siluet berwarna ungu yang semakin lama terlihat semakin jelas. Matanya melotot ketika siluet itu akhirnya berubah menjadi sosok seseorang.

“Palip..!”

Bruk!

“Ya ampun, Tuc. Ternyata kau!” ujar Palipap saat dia berhasil menangkap seorang anak kecil bertubuh kurus berwajah pucat. Tuc tenggelam dalam pelukan di tubuh Palipap.

“Maafkan aku, Palipap. Apa kau sibuk?” tanya Tuc ketika dia berhasil keluar dari pelukan Palipap.

“Apakah ada sesuatu yang penting hingga membuatmu harus bergegas seperti tadi?” Palipap kembali bertanya.

“Benar! Putri Shya memanggilmu!” seru Tuc dengan suara keras hingga membuat Palipap menutup telinganya.

“Ya ampun, Tuc. Kecilkan suaramu. Mengapa Putri Shya memangilku? Apakah ada sesuatu yang penting?” tanya Palipap heran.

“Rhu dan Qyo. Mereka bertengkar tentang siapa yang akan menjadi seorang Penabur Serbuk Sari.” jelas Tuc.

“Apa? Mereka..”

“Sudahlah, Palipap. Kita harus bergegas. Kau tidak mau membuat Putri Shya kecewa karena terlalu lama menunggumu kan?” ujar Tuc memotong.

“Baiklah. Ayo kita berangkat.”

Tuc mengangguk. Bersamanya Palipap melesat. Mereka terbang.

Selamat datang di dunia peri. Dunia yang selama ini dianggap tidak pernah ada. Sebuah dunia yang tersembunyi dan penuh misteri. Bahkan bagi mereka yang percaya, mereka tidak akan pernah menemukan bukti yang menyatakan bahwa kami benar-benar nyata. Bagaimana kami lahir adalah rahasia Tuhan dan seberapa lama kami hidup adalah rahasia yang lain lagi.

Peri bisa hidup dimana saja. Di atas gunung, di dalam kelopak bunga-bunga di taman, di ranting-ranting kecil sebuah pohon besar atau dimana saja. Dan sebagaimana manusia, kami pun hidup rukun dalam kelompok-kelompok kecil. Oiya, jika kalian bertanya mengapa kami tidak telihat, itu karena peri mengenakan pakaian yang sangat berkilau.

Palipap dan Tuc berhenti di sebuah pohon besar dengan akar-akar yang menyembul dari tanah bagai ular besar yang meliuk-liuk. Pohon tua berusia lebih dari tujuh ratus abad. Istana Putri Shya. Dua orang pengawal dengan tombak hitam mengkilat tersenyum saat mereka tiba di pintu gerbang.

“Selamat datang, Palipap. Masuklah, Putri Shya telah menunggumu.” ujar salah satu pengawal.

Palipap memasuki aula istana Putri Shya yang luas dan megah. Lampion bunga terompet menggantung di sepanjang mata memandang. Seorang perempuan muda dan cantik duduk menunggu di atas singgasana dengan cahaya yang berpendar-pendar. Di belakang, Tuc berjalan mengikutinya dengan mulut terbuka.

“Selamat datang, Palipap. Senang kau bisa memenuhi undanganku.” Putri Shya menyambut kedatangan tamunya.

“Suatu kehormatan dapat memenuhi undangan Tuan Putri.” jawab Palipap.

Dua orang peri berdiri di salah satu sisi singgasana. Mereka adalah Rhu dan Qyo, peri yang bertengkar karena memperebutkan predikat sebagai Sang Penabur Serbuk Sari. Putri Shya baru saja naik tahta dan sebelum ini Sang Penabur Serbuk Sari adalah mereka yang dipilih oleh raja. dan sebagai penasihat istana, pendapat Palipap selalu ditunggu-tunggu.

“Ehem..” suara Qyo menghentikan percakapan dua orang paling berpengaruh dalam kerajaan. Qyo adalah peri tua, sering berkata kasar dan keras kepala. Jenggot putihnya menggelayut di atas perutnya yang sedikit gembul.

“Apa sudah selesai bincang-bincangnya? Bisa kita mulai acara utamanya sekarang?” tanya Qyo sarkastik.

“Baiklah. Pagi ini Qyo dan Rhu menemuiku dan bertanya tentang ‘Siapa yang paling berhak untuk menjadi seorang Penabur Serbuk Sari?’. Apa kau memiliki pendapat mengenai hal ini, Palipap?” tanya Putri Shya.

Palipap tersenyum bijak. Semua yang berada di ruangan semakin penasaran.

“Mudah saja, Putri Shya. Tentu saja Qyo adalah peri yang paling berhak melakukannya. Bukankan begitu, Kawan?” Palipap tersenyum ke arah Qyo. Wajah Qyo memerah karena bangga.

“Kau benar, Sobat. Terima kasih telah berkata jujur.” ujar Qyo penuh kemenangan. Putri Shya gelisah di atas singgasananya, wajahnya terlihat bingung.

“Hemh.. Palipap, apakah kau punya penjelasan mengenai pendapatmu?” tanya Putri Shya.

“Maafkan saya, Putri Shya. Qyo adalah peri yang berpengalaman. Dia mengetahui seluk beluk bukit lebih dari siapapun. Bahkan dibanding denganku. Dia akan menjadi Penabur Serbuk Sari yang hebat.” jelas Palipap. Putri Shya tersenyum.

“Baiklah, Qyo. Sesuai dengan pendapat Palipap, dengan ini kuserahkan tugas menaburkan serbuksari kepadamu. Semoga kau dapat menjalankan tugas ini dengan baik.”

“Terima kasih Putri Shya, akan kujalankan tugas ini dengan baik dan dengan sepenuh hatiku.” Qyo mohon ijin undur diri lalu melesat pergi.

Di salah satu sudut, Rhu, peri muda itu memandang Palipap dan Putri Shya dengan wajah kecewa. Dia pergi diam-diam dalam kesunyian yang janggal. Palipap bergegas mengejarnya.

 - - - - -

“Rhu!” seru Palipap.

Peri muda itu duduk di sebuah batu di pinggiran sungai. Udara terasa dingin menggigit tapi Rhu tidak menghiraukannya. Sebulir mutiara bening menyembul di sudut matanya. Dadanya terasa sesak.

“Apa kau kecewa dengan keputusanku, Rhu?” Palipap meremas bahu peri muda itu.

Rhu mendengus.

“Aku tahu kau bisa melakukannya. Menjadi Penabur Serbuk Sari. Aku tahu kau menginginkannya lebih dari apapun. Tapi aku tidak memberikan jawaban yang kau inginkan, bukan? Apa kau tahu apa alasanku?” suara gemerisik dedaun disapa angin seakan merentang jarak antara Palipap dan Rhu.

“Qyo, peri tua itu..”

“Aku ingin menjadi sepertimu, Palipap...” Rhu berkata lirih, “Aku ingin menjadi Penabur Serbuk Sari seperti dirimu. Aku..” Rhu tidak melanjutkan kalimatnya.

“Mengapa, Rhu? Mengapa kau ingin menjadi seperti diriku?” Rhu bergeming.

Palipap melingarkan lengannya yang besar di bahu peri muda itu. Mencoba merasakan kesedihannya. Peri muda yang menjadikan dirinya sebagai panutan.

“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lahir untuk menjalani kehidupan orang lain, Rhu. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan berhasil hanya dengan meniru orang lain.” Rhu menatap pria besar di sampingnya dengan pandangan heran.

“Semangat. Kau harus memiliki semangat yang keluar dari dalam hatimu, Rhu. Semangat untuk melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang besar. Kau tidak akan berhasil jika hanya meniru seseorang.” Palipap berkata bijak.

“Palipap...” wajah Rhu basah oleh air mata.

“Qyo, peri tua itu akan kelelahan sebentar lagi. Tapi dia tidak akan marah. Dia telah melakukan tugasnya dengan baik dan akan segera menyerahkan tugas itu kepadamu. Tidak akan ada yang kecewa dengan keputusan seperti itu bukan?” Palipap mengerling jenaka.

Dan akhirnya Rhu tersenyum haru. Palipap, peri bijak itu..

Minggu, 02 Oktober 2016

FLP Menulis Cerpen dan Novel

Minggu (1/9/16) adalah kelas keempat dari rangkaian pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bogor. Common Class Room S2 Agribisnis Fakultas Pertanian IPB Dramaga, Bogor, kembali menjadi tempat berkumpul pramuda-pramuda FLP.

Kelas dibuka dengan tilawah oleh Amrul, salah seorang peserta pramuda. Sayang, narasumber utama menginformasikan bahwa kedatangannya akan sedikit terlambat karena terjebak macet. Syaiful Hadi, ketua FLP cabang Bogor, mengambil alih tempat.

"Cerpen bisa diibaratkan seperti lari jarak pendek. Tidak perlu energi yang tinggi." jelas Syaiful Hadi saat membuka kelas. Dilanjutkan oleh Syaiful bahwa novel memiliki banyak masalah seperti hidup yang sebenarnya, sedangkan cerpen memiliki ide yang lebih sederhana.

Pukul sebelas kurang, narasumber utama akhirnya tiba. Dengan tema "Menulis Menebar Misi", Sri Widiyastuti, penulis buku cerita anak yang juga merupakan pengurus FLP Pusat didapuk menjadi narasumber siang itu.



"Mentor menulis saya dulu mengatakan bahwa ada lima kunci utama untuk berhasil dalam dunia literasi. Menulis, menulis, menulis, menulis dan menulis." selorohnya saat membuka kelas.

Tuti, begitu beliau biasa disapa, kemudian menceritakan pengalamannya saat memasuki dunia tulis menulis. Kesempatannya saat tinggal di Malaysia justru membuka jalannya untuk bertemu teman-teman dengan minat yang sama hingga bisa lebih menekuni dunia ini. Beberapa buku hasil karyanya juga sempat beliau tampilkan melalui layar proyektor di depan kelas.

Cerpen merupakan akronim dari cerita pendek. Meski merupakan hasil karya fiksi, cerpen harus tetap berpegang pada logika yang benar. Tidak boleh cacat. Penulis juga harus dekat dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Ciri-ciri cerpen di antaranya adalah:
1. Memiliki 3.000 - 10.000 (3 - 10 halaman A4);
2. Berisi satu tema dan satu konflik;
3. Bercerita tentang sepenggal kisah kehidupan tokoh;
4. Memiliki alur yang maju; dan
5. Selesai dalam sekali baca.

Cerpen juga harus memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi; tema, setting, alur, amanat, sudut pandang, gaya bahasa, tokoh dan penokohan. Sedang unsur ekstrinsik meliputi; latar belakang penulis, nilai-nilai dalam cerita dan situasi sosial ketika cerita itu diciptakan.

Tuti menutup kelas dengan tanda tangan pada salah satu buku karyanya; Misteri Chiroptera. (Endah)