Minggu, 07 Agustus 2016

Mencintaimu, Keliru

Kau melambai. Tersenyum diantara rasa lelah dan harum keringat orang-orang senja yang berlalu lalang. Aku berlari ke arahmu.

"Maaf aku terlambat." sapaku.

"Sudahlah, lupakan itu. Ayo kita pergi." jawabmu seraya tersenyum.

Aku tak sengaja melirik jam tanganku ketika menyalakan kendaraan. Belum pukul tujuh. Batinku.

"Mau kemana kita?" Kau bertanya.

"Mencari sepotong bahagia diantara lelahnya ibukota selepas senja." jawabku sok puitis.

"Gegap gempita sinar rembulan mendayu syahdu di atas singgasana rindu. Memaksa kakiku menari menjejak langkahmu." jawabmu.

Aku menengok. Kita saling melempar senyum.

Jalanan ibukota bersenandung tentang kerinduan akan titik-titik embun pagi. Langit malam bercerita tentang awan kelam yang meredup cahaya bintang.

Aku menyesap kopi hitam pahit setelah kita sampai di sebuah kedai di pinggiran ibukota. Aku tersenyum saat memperhatikanmu yang asik mengaduk-aduk gelas milkshake vanilla yang kedua.

"Apalagi setelah ini?" tanyamu.

"Bagaimana dengan pasar malam?" jawabku.

Meski sejenak, aku melihat matamu seketika berbinar.

Aku berjalan di belakangmu. Sibuk tertawa melihat langkah-langkah riangmu berlari ke kanan dan kiri. Kau terlihat seperti kaki kecil yang tiba-tiba lepas dari pintu rumah yang terkunci.

"Ayo kita naik itu." ujarmu ketika aku berdiri dua langkah dari tempatmu.

Aku menengok ke ujung jemarimu yang terulur. Kincir angin! Dan lagi, aku tertawa.

"Terima kasih untuk malam yang sangat menyenangkan." ujarmu ketika kita berada di tempat parkir.

"Semoga kau bahagia selalu." jawabku.

Pandanganku tertumpu pada jarum panjang di jam dinding loket pasar malam. Pukul sembilan kurang. Sudah waktunya.

"Ayo, kuantar kau pulang." kataku.

"Tidak perlu, aku bisa naik kendaraan umum dari sini." jawabmu.

"Cepat naik atau aku tidak akan menemuimu lagi." ancamku.

"Coba saja." jawabmu seraya tersenyum.

Ponselku berdering. Sebuah pemberitahuan berupa amplop muncul di layar ponselku.

"Dimana?" bunyi pesan itu.

"Masih di jalan." aku mengetik lalu memasukkan ponsel ke saku celana.

"Siapa?" kau bertanya.

Aku menatapnya. Seakan menunggu agar waktu berhenti berjalan. Aku menghela napas.

"Istriku.." jawabku.