Minggu, 10 Juli 2016

Malamku, Malammu, Merindu

Diantara jejak yang ditinggalkan oleh rindu, mata kami kembali beradu. Sepasang senyum melambai dari tempat kami berdiri, seakan mengumandangkan lagi kebersamaan yang telah lama tiada. Kami mengambil beberapa langkah kecil seraya mendekat, namun hati kami telah saling menggamit satu dengan yang lain.

"Berapa lama kita tidak bertemu?" tanyanya setelah aku duduk disisinya.

"Entahlah, aku tidak pernah menghitungnya. Apakah itu penting?" tanyaku.

Dia tersenyum.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya seraya menunjukkan wajah berpikir.

"Jangan memaksaku untuk memberi ide. Kenapa tidak kau saja?" kepalaku miring ke arahnya.

"Aku rasa perutku cukup lapar. Kita makan?" dia meminta persetujuanku.

"Ide yang bagus. Sangat brilliant!" jawabku berlebihan.

Sepasang tawa kembali menari di atas kepala kami.

Setelah perdebatan yang alot dan membuat kami lemas karena terlalu sering tertawa, kami akhirnya memutuskan untuk memesan dua porsi bakmi di salah satu tempat makan yang cukup sering menjadi perbincangan diantara teman-teman kantor.

"Apa yang kau lakukan sekarang?" tanyanya di sela suapan.

"Bekerja." jawabku.

"Selain itu?" tanyanya lagi.

"Mencari jodoh." jawabku enteng.

Diam.

Aku mendongak. Mencoba membaca wajahnya yang seakan terbenam di dalam mangkuk bakmi.

Dering ponselku memecah kesunyian diantara kami.

"Assalamualaikum.." sapaku pada suara di seberang telepon.

Aku melirik jam di tangan kiriku.

"Ya bu, aku mampir dulu untuk makan malam. Sebentar lagi selesai. Mungkin dua puluh menit lagi aku sudah pulang." jelasku. Teleponku mati.

"Ibumu?" tanyanya.

"Ya. Ibu memang selalu menelepon setiap hari." ujarku.

Dia melambai pada salah seorang karyawan kedai dan membayar pesanan kami.

"Cepat habiskan makananmu. Aku akan mengantarmu pulang." ujarnya.

"Aku tidak mau merepotkan." Aku menyambar gelas es teh dan menyeruput habis isinya.

"Tidak merepotkan koq." ujarnya lagi setelah kami berada di pinggir jalan.

"Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih makan malamnya!" Aku melambai padanya dan segera melaju.

"Hati-hati! Lain kali kita makan lagi!" teriaknya seraya melambai ke arahku.

Bulan bersinar penuh di atas langit malam yang kelabu. Aku tersenyum. Bahagiaku cukup sampai disini dulu.

https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=1350373431657980&id=100000560094260&ref=bookmarks