Rabu, 11 Mei 2016

Pengantin Tikus

Pukul tujuh lewat.

Aku tersenyum pada perempuan yang telah menghabiskan hampir seluruh umurnya bersamaku. Aku tak peduli berapa pun usianya kini atau berapa banyak jumlah kerutan di wajahnya, karena di mataku dia tetap perempuan yang paling cantik.

Murni berada pada usia pertengahan lima puluh. Wajahnya bulat, badannya sedang dan wajahnya selalu ramah. Tak heran jika setiap hari ada saja tamu yang mendatangi rumah kami, sekedar untuk ngobrol dengan perempuanku.

Banyak yang bilang aku beruntung memiliki Murni. Seperti namanya, hatinya selalu terasa sangat tulus selama mendampingiku dalam menjalani tugas sebagai Kepala Desa. Andai mereka tahu bahwa aku menghabiskan hampir seluruh waktuku untuk bersyukur karena telah memilikinya.

"Apa ndak sebaiknya kita mengetuk pintu, Pak?" tanya Murni seraya menyorongkan sepiring pisang dan ubi goreng buatannya.

Aku menyesap kopi.

"Namanya juga pengantin baru, Bu. Wajar jika mereka bangun agak siang." ujarku santai.

"Tapi ini kan sudah siang, Pak. Ibu bahkan ndak mendengar pintu mereka dibuka subuh tadi." suara Murni terdengar gelisah.

Demi menenangkan perempuanku, aku bangkit dari kursi dan menuju kamar putri kami, Ayu.

"Nduk.. Bangun. Buka pintunya. Kita sarapan dulu." panggilku seraya mengetuk pintu.

Sepi.

Tok.. Tok..

"Nduk, sudah siang.. Ayo bangun. Nduk.." panggilku lebih keras.

Lagi. Tak ada jawaban.

"Lebih keras, Pak." saran Murni padaku. Wajahnya gelisah.

Aku baru akan memanggil putri kami ketika Murni tiba-tiba menyela.

"Ayu.. Bangun, Nduk. Kalian sudah sholat, kan? Nduk.. Bangun.. Sudah siang.." wajah Murni makin gelisah.

"Wis, Pak. Coba dibuka aja." ujar Murni.

"Tapi, Bu.."

"Ibu ndak tenang, Pak. Ibu takut."

Entah mengapa melihat wajah Murni yang gelisah membuat gemuruh rasa takut juga menggapai tubuhku. Ini mungkin agak kurang sopan, namun akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka gagang pintu kamar Ayu.

Tidak dikunci. Aku membathin.

Perlahan aku membuka pintu. Berharap bunyi deritnya membuat putri kami dan suaminya tersadar, sehingga aku tidak perlu melanjutkan membuka pintu kamar mereka. Namun, sepertinya harapanku berlari terlalu jauh dan meninggalkanku pada kenyataan yang tidak aku duga.

"Ayuuuuuuuuuuuuu...."

Istriku melolong dalam kesunyian pagi di depan pintu kamar putri kami yang terbuka setengah. Tanganku meremas gagang pintu sementara gigiku terus berbunyi gemeletuk. Dadaku membara.

Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?

Ribuan pertanyaan berkelebat secepat kilat dalam kepalaku yang terasa berdenyut-denyut. Dan tanpa aku sadari, Murni telah kehilangan kesadaran dan tanpa persiapan, menahan berat tubuhnya membuatku limbung.

"Tuhaaaaaaaaaaaannnnn.."

===== * * * * * ===== * * * * * =====

Nasywah Ayu, putriku, berperawakan kurus dan tinggi. Kulitnya bersih, berwajah daun sirih, bertulang pipi halus dan memiliki rambut panjang dengan warna sepekat malam.

Ayu tak pernah bertingkah nakal. Dia lebih sering menghabiskan waktunya dengan mengekor kemana pun istriku pergi. Di sela waktunya yang lain, Ayu suka bermain di lapangan seperti anak kecil lainnya. Menjadi anak Kepala Desa tak membuatnya membedakan teman dalam bermain.

Kenangan-kenangan mengenai perkembangan Ayu melesat bagai sebuah film di ruang kepalaku yang sempit. Masih jelas bagiku bagaimana Ayu tersenyum, tertawa dan berlari-lari, seakan itu terjadi di hadapanku saat ini.

Tenda dengan paduan warna merah muda dan biru laut yang masih terpasang, deretan kursi-kursi berwarna merah dan saung-saung kecil di halaman depan sisa semalam menjadi bukti puncak kebahagiaan keluarga kecil kami. Apalagi yang lebih membahagiakan sepasang orang tua seperti kami selain kebahagiaan saat putri kecilnya menemukan pria yang akan menjaganya? Memastikan agar semuanya berjalan baik-baik saja?

Beberapa bulan lalu, datang sebuah keluarga dengan dua orang laki-laki muda sebagai putra mereka. Dengan wajah yang cukup tampan, tubuh yang liat, keramahan dan sopan santun pada sesama membuat belasan gadis muda jatuh cinta pada dua pemuda itu. Beruntung bagi Ayu, salah satunya dengan usia yang lebih tua memilih Ayu sebagai pendampingnya. Usia Ayu baru dua puluh tiga dan dia telah siap untuk memasuki sebuah fase dengan peran baru dan penting dalam hidupnya. Menjadi seorang istri.

Sebagai orang tua apalagi tugas kami selain merestui keinginan mereka?

Meski desa kami tengah mengalami kesulitan akibat gagal panen, nyatanya warga desa tak segan membantu pesta pernikahan putri kami. Berkarung-karung beras, sayur mayur dan bumbu dapur pemberian warga memenuhi ruang belakang rumah kami. Pernikahan Ayu disiapkan bagai pesta untuk semua warga desa.

Orang tua mana yang tak bangga melihat putri kesayangannya berdampingan dengan seorang pemuda yang menjadi idola gadis-gadis desa? Orang tua mana yang tak bahagia jika melihat putri kecilnya tertawa bersama orang terkasihnya? Orang tua mana yang tak terharu ketika pemuda yang datang padanya berjanji akan menjadikan putri kesayangannya sebagai ratu dalam hidupnya?

Gelaran pesta pernikahan Ayu disambut meriah oleh semua warga desa. Makanan dihidangkan melimpah, tari Rama Shinta dan musik gamelan dipilih sebagai hiburan sepanjang siang. Lalu seorang dalang memainkan lakon wayang pilihan dipenghujung malam. Kami berdoa agar pernikahan putri kami semoga dapat membuat warga desa lupa akan kesulitan yang tengah kami hadapi bersama.

Pukul sebelas lebih, kami menutup gelaran pernikahan. Aku membiarkan tenda dan kursi-kursi tetap pada tempatnya. Kami semua sama-sama lelah dan butuh istirahat. Lalu saat pagi datang, kebahagiaan itu pun hilang.

Warga desa memenuhi sebagian besar ruang dan halaman rumahku. Satu per satu menghambur ke dalam rumah ketika mendengar jeritan Murni tadi. Beberapa orang laki-laki membantuku membawa Murni ke tempat tidur sementara aku berjalan bagai manekin beku yang bergerak dengan bantuan tali temali di tangan seorang dalang. Berjalan mengikutinya dari belakang.

Ibu-ibu sibuk berlalu lalang entah membawa apa. Aku hampir tidak peduli lagi. Kebingungan melandaku dan telah merampas logika yang seharusnya aku miliki.

"Oh, Ayu.. Malang nian nasibmu, nak.."

===== * * * * * ===== * * * * * =====

Desas desus tentang penyebab kematian Ayu telah menyebar ke seluruh pelosok Desa, namun tak ada satu pun yang dapat menjelaskan dengan pasti bagaimana itu bisa terjadi. Dan Murni masih menangis hingga kini meski kejadian itu telah lewat dua bulan yang lalu.

Tok tok!

"Assalamualaikum.." suara sapa seorang laki-laki terdengar di depan rumah.

Dengan malas, aku bangkit dari kursi di depan tivi. Seorang pemuda dengan wajah teduh berdiri di depanku. Damar, teman kecil Ayu.

"Oalah, nak Damar. Monggo.. Monggo.." Aku menyilakan Damar untuk masuk.

Laki-laki muda itu tersenyum seraya memasuki ruangan.

"Apa kabar, Pak?"

"Alhamdulillah, Bapak sama ibu masih sehat. Kamu sendiri apa kabar? Sehat toh?"

"Iya, Pak." Damar tersenyum.

Jeda.

"Mm.. Ayu.. Dimana, Pak?"

Pertanyaan Damar bagai palu godam yang menghantam dadaku. Rasanya sakit sekali. Bayangan saat aku menemukan Ayu kembali memenuhi kepalaku.

*
Aku berlari di sepanjang jalan berbatu menuju persawahan, setelah seorang warga kembali melaporkan mengenai perusakan area persawahan oleh hama tikus.

Dadaku seakan remuk saat kulihat batang-batang padi telah rebah. Hilang semua rasa sesak di dada akibat kurangnya asupan oksigen ke paru-paru. Ini wargaku. Tanggung jawabku.

Bangkai-bangkai tikus sawah bertumpuk di beberapa tanah pematang sawah bagai onggokan kulit berbulu. Aku bergidik membayangkan bagaimana warga desa memburu mereka.

"Habis semua, Pak. Lihat? Memakan mereka sepertinya sepadan untuk pembalasan." ujar salah seorang warga seraya menunjuk ke salah tumpukan bangkai tikus sawah.

"Sawah kami gagal panen karena hama tikus. Kami akan kelaparan jika tidak makan." timpal salah seorang warga.
*

"Pak? Pak Kades? Kenapa diam, Pak? Bagaimana kabar Ayu?" suara Damar meyakinkanku.

"Ayu.. Ayu sudah.. Ayu"

"Ayu kenapa, Pak?" Damar terdengar mulai tidak sabar.

"Ayu sudah meninggal."

"Meninggal? Tapi bagaimana?"

Kerongkonganku terasa kering. Kata-kataku seakan tersangkut.

"Jawab, Pak. Bagaimana Ayu bisa meninggal?"

"Nak Damar.." Aku menarik nafas dalam-dalam.

"Sehari setelah pernikahan Ayu.."
"Iya, Pak?" wajah Damar terlihat cemas.

"Kami menemukan Ayu..."

"Ayu?"

"Kami menemukan Ayu.."

Lalu aku melihat bayangan saat kami menemukan Ayu di kamarnya yang beraroma lavender. Di atas tempat tidur berkelambu, kami menemukanya. Menemukan tulang belulang Ayu.

"Ayu kenapa, Pak."

Desas desus mengenai penyebab kematian Ayu kembali terdengar di kepalaku. Dan dadaku kembali sakit.

"Ayu dimakan tikus."