Senin, 25 April 2016

Maafkan Aku, Cinta..

Kota ini masih sama. Jalan bergelombang, air yang menggenang, taman yang tidak terawat, pagar yang karatan dan trotoar yang gundul.

Aku telah pergi sejak lima belas tahun yang lalu. Saat aku memutuskan untuk meninggalkan mereka. Meninggalkan dia dan bayi kami.

Hati ini begitu rumit. Tidak ada satu pun rumus yang dapat menjelaskan bagaimana hati ini bisa merubah pemikiran, keyakinan dan pemahaman yang selama ini aku pegang.

Aku mencintainya tentu saja. Namun saat masa lalu kembali menyapa, hatiku terusik. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali pada "masa lalu". Sendirian.

Ada perasaan bahagia yang tidak bisa dijelaskan. Namun sebuah puzzle dalam hatiku seakan-akan hilang dan meninggalkan ruang.

Kini aku disini. Menunggu mereka.

Meskipun pengadilan memutuskan bahwa aku berhak bertemu anak kami. Namun pria kecilku mengabaikan keputusan itu. Terakhir kali kami bertemu di kotaku, dia hanya duduk diam dalam jarak lebih dari 5meter. Namun bagaimana pun, aku tetap saja mencintainya.

"Kalian sudah datang.." ujarku gugup ketika entah darimana mereka sudah berdiri di depan mejaku.

Dia, mantan istriku, tersenyum.

"Ayo beri salam." ujarnya lembut pada pria kecilku.

Ada perasaan perih saat buah hatiku menggeleng lalu pergi duduk di meja lain. Aku hanya tersenyum kecut.

"Tetaplah disini. Ada yang ingin kubicarakan." ujarku.

"Ada apa?" tersirat keraguan di wajahnya karena meninggalkan pria kecilnya duduk sendiri dalam jarak dua meja dari kami.

"Kembalilah. Tinggallah bersamaku. Aku janji, kita pasti bahagia."

Dia menatapku heran.

"Untuk apa kau mengatakan hal yang mustahil?" tanyanya.

"Tidak, tidak. Aku ingin kita kembali berkumpul seperti dulu. Aku, kau, kita." jawabku bersemangat.

"Siapa yang kau sebut "kita"?" tanyanya.

"Kembali seperti dulu?"

Ada jeda yang seakan menguras seluruh oksigen dalam dadaku.

"Keputusanmu untuk pergi saat itu membuatku berpikir bahwa memang tidak pernah ada kata "kita" dalam hidupmu. Hanya ada kata "kau" untuk dirimu sendiri."

Tubuhku merosot di sandaran kursi saat mendengar penuturannya. Dia benar. Aku pernah meninggalkannya. Meninggalkan mereka.

"Aku minta maaf."

"Aku sudah memaafkanmu. Memaafkan kalian."

Dia menghela nafas.

"Waktumu habis. Aku harus menemani priaku. Pulanglah. Minta maaf pada istrimu."

Dia bangkit dari kursi. Aku hanya terduduk disini dan melihat mereka berjalan menjauh.

"Oh Tuhan, maafkan aku karena masih menyayanginya.."

Sabtu, 16 April 2016

Jika Aku, Kau

Aku berhias dalam balut wajah religius
Jubahku gemerisik disapa angin yang berhembus
Aku berada di jalan paling lurus
Menghadap Tuhan dengan hati paling tulus

Ku meraung dan memanggil nama Tuhan dengan suara nan lantang
Setiap malam tanpa lalai aku datang
Aku lah manusia paling istiqamah
Menuai hari dengan perbanyak ibadah

Kupandang mereka dengan tatapan pilu
Tak ada manusia sebaik aku tentu
Aku.. Hanya aku..
Tak ada manusia sesempurna aku

Aku duduk di atas singgasana kemuliaan
Kuhina mereka yang sedang berproses dalam kebaikan

Kepada sahabat aku berbuat makar
Kepada keluarga aku berlaku kasar
Saat berbeda pendapat kuanggap mereka sesat
Saat berbeda pemikiran kuanggap mereka salah jalan

Tuhan...
Masih manusiakah aku?

Minggu, 03 April 2016

Tuhan, Izinkan Aku Bertaubat

Bagaimana bisa aku mengaku cinta?
Sedang hatiku sering kali mendua
Lidahku berkelit dan mengaku rindu
Padahal itu hanya bibir yang dipenuhi nafsu

Syair-syair yang menasbihkan namaMu
Hanya tipu daya yang membelenggu
Hanya ingin agar orang lain tahu
Bahwa kita dekat seperti jemari yang menyatu

Maksiat yang kubuat tersembunyi akibat kicauan indah di media sosial tentang ibadat
Menipu teman, sahabat, handai taulan dan kerabat, di dalam jubah aku asik menebar ghibah
Kuhitung amal dengan nilai dan jumlah pahala
Seakan Tuhan adalah pedagang penjaja surga

Selamat malam, Tuhan
Engkau yang begitu baik dan tak pernah mengabaikan harapan

Izinkan aku bertaubat sekali lagi..