Minggu, 27 Desember 2015

Tuhan, Anak Kami Lapar

Terik siang ini bagai memeluk erat tubuhku yang kurus. Kulit jari-jari yang keriput dengan kuku yang menghitam entah sejak kapan.

Kuhitung lagi lembar rupiah yang kudapat sejak pagi. Kertas-kertas kusut dengan nominal yang tak seberapa tertera di kertas-kertas kecil itu. Aku menghela.

"Apa yang kau jual?" seorang pria muda berpakaian necis berdiri sisi jalan depan lapakku yang becek. Aku tersenyum.

"Ini.. Pernak-pernik.."

"Aku tidak bertanya tentang apa ini.." dia menunjuk barang daganganku, "Aku bertanya tentang apa yang kau jual!?" tanyanya lagi dengan suara keras.

Aku tergagap.

"Tidakkah kau malu? Menggadaikan agama demi beberapa lembar rupiah? Tidak ada kah barang lain yang mampu kau jual?" tanyanya lagi.

Aku menatapnya.

"Segera lah bertaubat. Semoga Tuhan masih bersedia mengampunimu." ujarnya.

Dia baru berjalan sekitar dua langkah ketika tiba-tiba saja lidahku menyemburkan kegundahanku.

"Anakku lapar. Aku tidak bisa hanya memberinya kitab suci. Dia masih butuh nasi."

"Sudah seminggu dia sakit. Aku bahkan tidak bisa memberinya obat. Apakah Tuhan akan marah dengan hal itu? Apakah Tuhan akan marah karena kami terlahir dalam kemiskinan? Apakah Tuhan semudah itu melimpahkan kami dengan dosa? Lalu dimana sifat kasih sayang Tuhan?" aku menangis.

"Tidakkah kau yakin akan pertolongan Tuhan?"

"Tuhan pasti akan lebih mencintai mereka yang terus berjuang disertai doa dibandingkan dengan orang yang hanya diam dan menunggu tanpa berusaha?"

Gerimis kembali turun bersama senja dengan mega yang memerah.

Kamis, 24 Desember 2015

Kau, Ibu

Kau adalah gemericik doa yang mengalirkan harapan
Embun di pucuk daun yang mengandung kebahagiaan
Desau kasih sayang yang menebarkan kehangatan

Kau lah teras rumah yang basah oleh siraman hujan
Yang senantiasa menyediakan sepasang lengan yang selalu siap menghilangkan penat setelah lelah seharian berjalan

Kau lah harumnya tanah selepas awan menepati rindu pada sang bumi
Dimana langkah kaki kecilku selalu merasa aman sejauh apapun aku bermain dan berlari

Kau lah langit biru dengan lengkung senyum sang pelangi
Dimana aku merasa bahwa akan selalu ada sepenggal asa yang tersisa

Kau adalah wujud doa yang dikabulkan oleh Tuhan
Restu mu melebihi nilai harta terpendam
Senyum mu serupa surga yang tergambarkan
Jujur saja aku penasaran, bagaimana mungkin seorang malaikat diam-diam menyusup tanpa diketahui Tuhan?

Assalamualaikum, Pak

Rasanya itu baru kemarin
Aku melihat wajah penuh senyum bercaping bambu berdiri di bawah siraman hujan menungguku
Tak peduli basah tak peduli dingin meski hanya berbalut kaos tipis dan celana pendek warna kelabu

Rasanya itu baru kemarin
Kita berjalan menyusuri sebuah jalan sempit dimalam nan larut
Hanya demi menghalau risau di hatiku yang penuh takut

Rasanya itu baru kemarin
Aku menyambut tegapnya langkah dengan mata berbinar
Dimana aku menghabiskan akhir minggu bahagia yang selalu membuat hati bergetar

Rasanya itu baru kemarin
Mendengar lirih suara saat kau panggil namaku
Dan hanya bulir air mata yang jatuh sebagai saksi saat itu

Rasanya itu baru kemarin
Wajah yang teduh kini telah menjadi beku
Sedang kini masih kurasa genggam tanganmu

Rasanya itu baru kemarin
Saat aku mengucap sapa
"Assalamualaikum, Pak.."