Minggu, 22 November 2015

Matinya Sang Raja

"Tuan Putri.."

"Tuc.."

"A.. A.. Apa yang anda lakukan?" Pemuda bernama Tuc berjalan pelan mendekati Sang Putri.

"Aku akan pergi, Tuc." Sang Putri kembali menata barang-barangnya ke dalam koper.

"Tapi.. Kemana?" Tuc kembali bertanya.

"Aku akan pergi ke istana Rouph." jawab Sang Putri seraya tetap menata barang-barangnya.

"Maksud anda, istana paman anda? Tapi itu jauh sekali, Tuan Putri." sela Tuc.

"Tapi aku tetap harus pergi, Tuc." ujar Sang Putri.

"Kumohon berhentilah berkemas, Tuan Putri." ujar Tuc.

"Semua sudah selesai, Tuc. Sudah selesai." Tuan Putri terduduk lemas di tepi tempat tidur.

"Kumohon bertahanlah, Tuan Putri. Jangan biarkan para pemberontak itu menguasai kerajaan." ujar Tuc kemudian.

"Tuan Putri..."

Sebuah suara berat seorang laki-laki menggema di kamar Sang Putri, mengagetkan mereka berdua. Beberapa laki-laki tertubuh tegap telah berada disana.

"Jendral.."

"Meski Paduka Raja telah tewas, tapi Anda masih memiliki kesetiaan kami, Tuan Putri. Aku mohon bertahanlah." ujar seorang laki-laki bertubuh paling tegap.

"Tapi aku tidak mungkin melawan rakyat ku sendiri, Jendral." ujar Sang Putri sedih.

"Mereka bukan rakyat anda, Tuan Putri. Mereka pemberontak." ujar Sang Jendral.

"Tetap saja, Jendral. Melawan artinya melukai mereka. Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Mereka masih tetap rakyat ku. Biarlah aku yang pergi. Biarkan mereka menguasai kerajaan." Sang Putri menatap wajah Sang Jendral dengan mantab.

"Para pemberontak itu serupa benalu yang menggerogoti batang pohon raksasa. Mereka akan ikut mati begitu batang pohon itu tumbang. Anda tidak seharusnya membiarkan benalu itu hidup dan menang." ujar Sang Jendral.

"Anda memiliki kesetiaan kami, Tuan Putri." para jendral yang lain ikut bersuara.

"Jendral.."

"Tuan Putri.. " Tuc menatap wajah Sang Putri.

"Mari kita lawan mereka."

Segerombolan pasukan tikus berlari dan menyusup ke dalam hutan. Hilang dalam kegelapan malam. Menyerbu sarang-sarang kecil tak jauh dari pohon tempat mereka tinggal.