Minggu, 26 April 2015

Tentang Aku yang MerinduMu

Diantara temaram dan suara nafas yang tertahan, aku merenung dalam kesendirian
Kepalaku penuh dengan pertanyaan tentang arah dan tujuan
Kemana langkah ini akan kubawa berjalan?
Sedang aku masih tersesat di tanah lapang tanpa tuan

Diantara suara binatang malam dan arus sungai di belakang rumah
Tercekik rutinitas hidup yang membuatku jengah
Dan desakan beban yang berkumpul di dalam dada
Buatku ingin melarikan kaki sejauh angkasa dapat bernama

Tuhan, aku putuskan untuk menyerah
Aku sudah renta dan teramat lelah
Pelarianku atasMu telah nyata berakhir sia-sia
Kini ku tahu siapa yang paling berkuasa

Tuhan, aku butuh pelukan
Aku masih terseret dalam ombak kelelahan
Sisa percarian jejak akan jalan menuju kedamaian
Sudah benarkah jalanku menuju sesembahan?

Ah Tuhan, ini kerinduan
Andai saja hatiku dapat menggemakan jeritan
Kisah tentang runtuhnya sebuah kesombongan
Menyisakan puing-puing bernada penyesalan

Kini malam telah berlari terlalu jauh
Menyisakan aku yang masih merindu akan diriMu

Sabtu, 25 April 2015

Karena Allah

Kamu datang kepada hati yang kosong karena Allah
Mana ku tau kamu akan mengetuk pintu hati itu dan menyapa ke kediamanku?
Kamu pergi pun karena Allah
Mana ku tau kamu bawa sebelah hatiku untuk kamu simpan di dalam hatimu?

Jika takdir Allah membawa kamu kembali kepadaku
Itu juga karena Allah yang menuntunmu untuk mengetuk kembali pintu hatiku yang tertutup

Pintu yang tak pernah aku kunci Karena Allah jua yang selalu membuatku tak menguncinya
Selalu ada doa yang terucap yang keluar dan masuk melalui pintu hati itu
Untuk mu..

Pergilah ke langit untuk meraih bintang yang paling terang
Pergilah ke gunung untuk mendaki puncak yang tertinggi
Akan aku hantar kamu setiap saat dalam doaku
Dan turunlah kembali dengan hatimu yang merendah serendah dasar samudera

Karena Allah aku ada disana menantikanmu kembali
Karena Allah ku lepaskan kamu untuk pergi
Tapi kamu tinggalkan sebelah hatimu untuk selalu ku jaga dalam diam
Karena Allah kamu akan kembali
Bersama hatiku yang selalu kamu bawa di dalam ruang hatimu
Karena Allah
ku menantimu

Belahan Hatiku..



~ Sebuah karya Achmad Jupri

Kamis, 23 April 2015

Siapalah Aku?

Siapa lah aku?
Rangkaian kalimatku tak pernah menjadi sajak
Ujung penaku menari dengan terdesak
Dan warna tinta yang muncul sering tersendat

Siapa lah aku?
Insan faqir tak berilmu
Kalimatku sering menuai jemu
Bahkan tuk sekedar merayu, aku tak mampu

Siapa lah aku?
Sering kata ku menuai luka
Kadang tawaku gores kecewa
Bahkan diamku menyulut amarah

Siapa lah aku?
Insan kerdil dengan lumuran dosa
Yang meratap menghamba di tiap ujung senja
Dan hanya berharap DIA bersedia kembali menerima

Mengapa bunga?

Mengapa di sebut bunga?
Apakah karena berwarna mempesona?
Ataukah karena harumnya indah?
Atau karena ia menjadi lambang rasa?

Mengapa disebut bunga meski ia berhias duri dan membuat luka?
Mengapa disebut bunga meski ia menjerat lalu membunuh sebuah nyawa?
Jadi, mengapa disebut bunga?

Ahh bunga..
Kau yang terjebak di dalam vas-vas mewah
Berkilah bahwa kau penghias sudut-sudut tak terjamah
Meski usia mu tak lebih dari dua kali senja

Ahh bunga..
Takdir mu oleh Tuhan adalah kalah oleh manusia
Dan ya lagi-lagi kau tumbuh di atas tanah
Kembali menjadi mangsa bagi kami para pecinta

Bunga...

Sabtu, 18 April 2015

Pak, Apa Kabar?

"Nak.. jika suatu saat aku pergi, ingatlah bahwa Dia akan selalu ada bersamamu."


Aku duduk dengan gelisah di kursi kerjaku. Kulirik lagi jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Hatiku benar-benar tak karuan. Hari sudah beranjak sore dan aku masih terjebak disini.

Ini hari besar dan seharusnya aku meminta ijin pada atasanku. Seharusnya. Tapi aku hanyalah pegawai biasa jadi disini lah aku. Memeluk kegelisahanku sendiri. Oh Tuhan..

Tiba-tiba pintu ruanganku terkuak. Seorang pria tinggi dan berkulit hitam masuk ke dalam ruangan dan duduk. Aku memalingkan wajahku, kembali mematut pandanganku pada monitor di meja kerja.

"Bukankah seharusnya kau bersiap-siap untuk pulang?" ujarnya tiba-tiba. Aku menoleh padanya.

"Ini hari yang besar kan?" ujarnya lagi. Aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.." pria dihadapanku meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku, "Pulanglah, temui dia.."

Mataku membelalak tak percaya mendengar kalimat itu dari pria di hadapanku. Tapi melihatnya tersenyum membuatku yakin bahwa kami memiliki pikiran yang sama. Jadi aku segera melompat dari kursi.

"Pak, sungguh aku akan mencintaimu karena hal ini.. Terima kasih.. Terima kasih.." ujarku seraya menyambar tas ransel yang tersampir di dinding.

Aku hampir berlari karena bahagia. Aku harus bergerak cepat. Dia tidak boleh menunggu terlalu lama.

***** ***** ***** *****

Aku baru saja sampai. Ku larikan pandanganku berkeliling tempat ini. Dia belum datang. Biarlah, ku tunggu saja dia disini seperti biasa.

Hari telah beranjak sore namun belum kulihat tanda-tanda kehadirannya. Berkali-kali ku tengok pintu masuk, tapi dia belum juga muncul. Jujur saja aku khawatir. Ini memang tak seperti biasanya tapi aku yakin dia akan datang.

Aku kembali berdoa untuk menenangkan hatiku yang gelisah. Bertahan untuk tetap berada disini rasanya sungguh meresahkan. Aku hanya sedang mencoba untuk mempercayai sebuah harapan. Dan semoga keyakinanku ini benar.

Ku amati lagi penampilanku untuk yang terakhir kali. Aku hanya ingin memastikan kesempurnaan penampilan ku dihadapannya. Ahh, aku sungguh tidak sabar.

***** ***** ***** *****

Aku melompat dari bus yang aku tumpangi lalu berlari secepat yang aku bisa. Senja telah melambai di ujung mega. Ya Tuhan, kumohon tolong beri aku waktu sebentar lagi..

Dia disana!

Seruku di dalam hati saat melihatnya disana. Dia selalu ada disana kapan pun aku datang berkunjung.

"Nak, kau datang.."

"Maaf Pak, aku terlambat." ujarku diantara napas yang terengah-engah.

Aku tersenyum memandangnya. Rindu yang selama ini kupendam tumpah bersama air mata yang tanpa terasa telah menganaksungai di wajahku.

"Pak.." suara ku tercekat di kerongkongan.

Aku tersungkur dan menangis. Sendi-sendi tulangku terasa lemas. Dadaku sesak. Rasanya hampir seperti ingin meledak. Oh Tuhan..

"Tolong jangan menangis, Nak.."

"Ya, Tuhan.. Tolong ampuni dia. Sayangi lah sebagaimana dia menyayangiku sewaktu ku kecil.."

Aku terisak di dalam doa. Sibuk menghamba, memohon ampunan padaNya.

Detik waktu terasa berlalu begitu cepat. Aku merasakan udara di sekitarku seketika saja turun beberapa derajat. Aku mendongak. Langitku hampir gelap. Senjaku tengah pelan merayap.

Aku menghela napas. Seakan melepaskan beban terakhir yang kubawa sejak tadi pagi.

"Pergilah, Nak. Kumohon jangan kau lupakan aku. Dan datanglah lagi saat kau sempat."

Berat rasanya untukku melangkah meninggalkan dia sendirian disana. Aku berjanji dalam hati untuk kembali mengunjunginya di lain hari.

"Pak, aku pulang. Assalamualaikum. "

Tempat ini tetap saja sepi seperti biasanya. Rintihan awan dalam wujud buliran hujan menyapa wajahku yang tak terlindungi. Ku percepat langkahku meninggalkan area pemakaman.

Jumat, 10 April 2015

Dalam Perenungan

Dalam irisan tart berwarna pekat
Bernama Devil's Food Cake serupa laknat
Adalah kopi negeri Indian sebagai sejawat
Di sebuah cafe dengan lagu yang terus menghentak

Aku terdampar melepas penat
Langitku mendung berwarna gelap
Laju roda-roda yang hanya dapat kulihat
Dan rentetan kejadian yang tak pernah tersekat

Sendiri dalam balut keheningan
Tenang tanpa bisik ketergesaan
Meliburkan diri dari segala kepentingan
Dalam kepasrahan aku menghadap Tuhan..

Sabtu, 04 April 2015

Karena Aku lah Jalan Itu

Dan cahaya keruh lampu bis kota
Disitulah jantung kami berpadu
Harum nafas rindunya menghinggapi indra penciumanku

Aku lirik kasih sayangnya dengan perasaan yang amat dalam
Aku ingin menyatu
Aku ingin menyatu
Membedakan ini cinta bukan nafsu

Ketika engkau melambung ke angkasa
Ataupun terpuruk ke dalam jurang
Ingin kujabat tanganmu dan berkata
"Ingatlah kepadaku.. karena aku lah jalan itu.."


Sebuah karya dari Nanang Haryadi

Jumat, 03 April 2015

Sebuah Jawaban (edisi 2)

Ting.. Ting.. Ting..

"Masih aja suka mainin sendok ke gelas.." laki-laki muda di depan ku berkomentar.

"Jadi, apakah sekarang hal ini mengganggu Anda, Tuan?" tanyaku menggodanya.

"Hemh.. " dia melempar pandangannya ke arah jalanan.

Lalu lintas sore ini tak begitu padat. Aku masih bisa melihat jalan yang kosong selama beberapa detik sebelum sebuah kendaraan kembali melintas. Hal yang sangat jarang terjadi.

"Jadi kapan kamu akan menikah?" tanyanya kemudian.

"Segera setelah kamu datang ke rumah untuk melamarku." jawabku seraya tersenyum.

"Jangan bercanda terus." katanya malas.

"Aku serius. Apa wajahku terlihat bercanda?" jawabku.

"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padamu." ujarnya.

"Itu bagus. Calon suamiku haruslah lebih mencintai Tuhannya dibanding mencintai aku." jawabku lagi.

"Hemh.. Tolong mengerti lah. Mengapa kamu masih saja memaksakan dirimu padaku? Carilah laki-laki lain yang lebih baik dari aku." laki-laki di depanku terlihat gusar.

"Benar kamu sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padaku?" tanyaku akhirnya. Dia mengangguk.

"Lalu mengapa kamu masih terus menghubungiku? Mengapa kamu masih ingin aku mengirim pesan suara padamu? Mengapa kamu menanyakan alasan saat aku tidak mengabarimu? Mengapa kamu menanyakan alasan saat aku tidak menegurmu padahal aku melihatmu? Dan mengapa kamu masih memberi perhatian padaku?" tanyaku menuntut. Dia terdiam.

"Itukah yang kamu maksud dengan memaksakan diriku padamu?" tanyaku lagi. Aku menghela napas.

"Sebenarnya apa masalahmu? Mengapa kamu masih menyembunyikannya dariku?" Aku menyesap minumanku, memberi kesempatan untuknya berpikir.

"Kamu tidak akan bahagia jika tetap memilih bersamaku." dia menundukkan kepalanya.

"Siapa kamu yang berhak menentukan kebahagiaanku?"

"Kamu tahu benar keadaanku. Kita ini berbeda." jawabnya.

"Apa yang membuat kita berbeda? Bukankah di mata Tuhan kita semua sama?" ujarku. Dia hanya menggeleng.

"Tolong dengarkan, kita lah yang menjalani hubungan ini, lalu mengapa kita sibuk memikirkan pendapat orang lain?" Laki-laki di hadapanku menatap mataku tajam.

"Tapi.."

"Aku tahu apa yang sebenarnya kamu khawatirkan. Dan sungguh aku tak perduli dengan semua itu. Aku tidak butuh resepsi mewah di gedung mahal yang menghabiskan biaya berjuta -juta. Aku hanya butuh dua hal. Restu orang tua dan kesediaanmu untuk bersama-sama berjuang menuju ridha Tuhan." jelasku panjang lebar.

"Kita akan menemui banyak kesulitan.. " ujarnya.

"Aku percaya pada Tuhan. Dia pasti akan selalu menunjukkan jalanNya pada mereka yang berjuang. Dia tidak mungkin meninggalkan kita sendirian." jawabku.

"Kamu yakin akan tetap bersamaku meski ada laki-laki lain yang lebih baik datang melamarmu?" tanyanya lagi.

"Tolong berhentilah bertanya. Lihat saja mataku dan semua jawaban yang kamu butuhkan ada disana." jawabku tegas.


Cinta, akan datang pada siapa pun yang bersedia untuk memperjuangkannya. Bukan dengan menghalalkan segala cara, namun perjuangan yang disertai iringan doa kepada Tuhan. Maka kebahagiaan sudah pasti terhampar di depan mata.

Lepaskan ego, tinggalkan emosi. Jadilah pribadi yang jujur dan terbuka. Karena bersama Tuhan, kebahagiaan pasti akan selalu ada..

Kamis, 02 April 2015

Tjokroaminoto: Bikin Koperasi!

Ini ceritanya baru sebulan jadi anggota koperasi trus kemarin lusa di ajak nonton premiere "Tjokroaminoto: Guru Bangsa" ehh ada kata-kata ajaib.

Koperasi.

Secara garis besar, manfaat koperasi yang masih saya inget saat belajar di bangku sekolah dasar adalah "meningkatkan kesejahteraan para anggota koperasi pada khususnya dan masyarakat di sekitar pada umumnya."

Berbekal pengalaman itu, saat seorang teman mengajak saya untuk menjadi anggota koperasi, reaksi saya jelas positif. Gak perlu waktu lama bagi saya untuk berpikir. Lalu tiba-tiba saja saya sudah menjadi seorang anggota koperasi! #lebay

Oke. Ini memang agak gak nyambung sama judulnya. Tapi percaya deh, saya gak bisa nemu judul lain yang lebih cocok di banding ini hahhaha

Koperasi kan ribet. Mending nabung di bank.

Awalnya saya pun sempat berpikir demikian. Tapi kemudian saat saya berpikir ulang, saya menemukan sebuah kenyataan bahwa: koperasi gak punya ATM! Ini menjadikan uang yang saya simpan di koperasi "tidak terlihat". Sehingga uang tersebut dapat diselamatkan dari nafsu belanja saya hohoho

Seorang rekan kerja kemudian berpesan agar menganggap uang simpanan di koperasi sebagai uang hilang namun dapat di andalkan. Iya, jadi saat kamu butuh uang, kamu bisa mendapatkan pinjaman di koperasi tanpa syarat yang njelimet. Wuiiihh.. Pas banget kan sama saya yang beberapa bulan lagi akan butuh uang untuk nikah #ngayal hahaha

Pak Tjokro aja dari jaman penjajahan Belanda minta para petani dan pedagang untuk mendirikan koperasi, masa saya yang tinggal dekat dengan koperasi ndak juga sadar untuk menjadi anggota koperasi?

Akhir kata dari saya "Pak Tjokro, saya sudah menjadi anggota koperasi lho!"

Rabu, 01 April 2015

Kesempatan Kedua

Aku buta dikelilingi cahaya putih dan menyilaukan. Hembusan angin dingin terus menerus menyentuh kulitku. Rumput segar terasa basah di bawah kakiku yang telanjang. Bau harum dan lembut segera memenuhi hidungku.

"Dimana aku?"

Pandanganku menajam ketika cahaya putih itu perlahan mulai memudar. Disana, mataku menangkap bayangan serupa tebing dengan air terjun yang mengalir di salah satu sisinya. Pepohonan tinggi menyembunyikan hampir seluruh keberadaannya. Mataku menyipit memastikan bahwa apa yang kulihat adalah benar.

Jubahku yang panjang dan berwarna putih menari-nari bersama angin. Kakiku tersembunyi di bawah hamparan rumput hijau setinggi lutut.

"Dimana aku?"

Kakiku segera mengambil alih tubuhku. Aku tidak tahu arah mana yang harus kutuju, namun entah mengapa air terjun di depan sana seperti memanggil jiwaku.

Ujung rumput terasa lembut saat tersentuh jari-jariku ketika aku melangkah. Telingaku dipenuhi suara air terjun dan kicauan burung-burung. Lalu langkah kakiku tiba-tiba saja terhenti..

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" sebuah suara terdengar menggema di telingaku.

Pandanganku tertumpu pada sebuah cahaya yang mengambang tak jauh dari tempatku berdiri.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya suara itu lagi.

"Aku.."

"Kau tidak seharusnya berada disini?"

"Aku.. tersesat.." jawabku jujur.

"Jika begitu, aku akan menuntunmu untuk kembali."

"Tempat apa ini? Dimana aku?" tanyaku bingung.

"Ini adalah tempat terakhir yang di janjikan oleh Tuhanmu." jawabnya.

Seketika saja mataku membelalak mendengar penjelasannya.

"Tempat terakhir? Dimana Dia? Bisakah kau antarkan aku padaNya? Bisakah?" pintaku penuh harap.

"Tidak!"

"Mengapa?"

"Karena Dia belum memanggilmu."

"Tak bisakah aku tetap berada disini?" tanyaku lagi.

"Tidak!"

"Mengapa?" aku menuntut.

"Hanya mereka yang telah memenuhi takdirnya yang diperbolehkan untuk kembali."

Aku menatap cahaya putih dengan perasaan aneh yang bergolak di dalam hatiku. Tanpa sadar, tanganku terulur seraya menggapainya.

"Kau tak akan bisa menyentuhku, wahai manusia.."

Aku tersentak saat mendengar kalimat itu. Dia menyebutku manusia? Lalu apakah dia..?

"Kau masih memiliki takdir yang harus kau selesaikan.. "

Seketika saja pandanganku berubah. Sebuah layar raksasa seakan muncul di hadapanku dan menampilkan wajah mereka yang sangat kusayang. Wajah-wajah yang kini terlihat sangat sedih.

"Kembalilah.. keluargamu telah menunggu.."

Aku terdiam memandang cahaya putih itu hendak mengucapkan sesuatu namun lidahku terasa kaku. Tak ada satu suara pun yang dapat kuhasilkan.

Sekonyong-konyong aku merasakan suatu kekuatan tak terlihat membuatku melayang dan menghempaskan tubuhku ku dalam lorong berwarna pelangi. Tubuhku terasa ringan. Aku terbang.


Aku membuka mataku. Rasa kantuk yang teramat sangat membuat penglihatanku kabur. Sebuah cahaya putih redup menyapa mataku yang hampir tertutup lagi.

"Dia sudah siuman!" kudengar suara seorang pria berteriak, membuatku kembali terjaga.

"Sayang, kau sudah bangun.." suara yang sama kini menyapa telingaku lembut.

Seorang perempuan berpakaian putih masuki ruangan lalu mendekat ke arahku. Ia mendekatkan cahaya pada pupil mataku yang terus bergerak-gerak.

Aku sudah kembali.

Sebuah dengungan terdengar tak jauh dari tempatku. Entah apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Lalu ketika sebuah sentuhan lembut membelai keningku, entah bagaimana aku bisa merasakan kedamaian dan kenyamanan karenanya.

"Kau pingsan selama seminggu setelah melahirkan anak kita sayang. Berjanjilah untuk tetap menemaniku membangun kebahagian kita. Tolong berjanjilah untuk tetap kuat bersamaku." sebuah kecupan mendarat di keningku dan membuat hatiku berdenyut-denyut.

"Tuhan, terima kasih.."

Sebulir air mata meluncur turun dari hatiku yang teramat bersyukur. Untuk kesempatan kedua yang diberikan Tuhan bersama mereka yang kucinta.