Senin, 30 Maret 2015

Jene: Kesambet Taubat

Udara siang ini cukup bersahabat. Angin sepoi sepoi tak jarang numpang lewat. Menghamburkan rambut agak sedikit gondrong yang basah oleh keringat.

Seorang pria muda berkemeja biru dengan lengan panjang yang digulung setengah, duduk menghadap ke arah kipas angin di atas meja. Dari tempatnya, langit terlihat agak sedikit pucat.

Wajah pria itu tak begitu tampan. Bahunya tak begitu bidang. Hanya tinggi badannya yang mencapai 185cm lah yang bisa membuatnya terlihat mempesona. Kadang kala.

"Jen.. " suara seorang pria terdengar menggema di ruang kecil itu.

Jene, pria kurus dan gondrong menoleh ke arah datangnya suara. Beni, seorang pria kurus lainnya berjalan mendekat ke arahnya.

"Assalamualaikum, Ben.." sapa Jene ketika Beni mendekat. Wajah Beni tampak agak sedikit kaget mendengar salam dari Jene.

"Waalaikumsalam.. Beuh adem banget kuping gue denger salam dari lo, Jen. Berasa kaya masuk ke mushala.." ujar Beni nyengir seraya duduk. Jene hanya tersenyum.

"Ada apa, Ben?"

"Ngapain lo disini? Dicariin tuh di bawah."

"Gue lagi merenung aja."

"Tentang?"

"Tentang umur gue yang udah lewat."

"Emang kenapa sama umur lo?"

"Gue lagi inget-inget kemana aja jatah umur itu gue abisin. Banyak benernya, atau malah banyak ngelindurnya." jelas Jene.

"Lo salah makan ya Jen?"

"Kayaknya sih gak.. Tapi klo perut gue mules, berarti gue emang salah makan hehe"

"Omongan lo serius banget, bro. Kayak lagi di UGD. Kita ini masih muda kali, Jen. Santai dikit napa.." ujar Beni tak sabar.

"Siapa yang berani jamin umur gue cukup sampe besok? Bayi yang baru lahir aja bisa meninggal, apalagi gue yang udah punya dosa sampe berkarat. Bisa aja Tuhan gedek sama gue yang seneng maksiat mulu trus nyabut nyawa gue."

"Serem dah omongan lo, Jen. Kayak orang kesambet. Kayaknya lo salah gaul nih."

"Kiamat emang udah deket, Ben. Mendekat pada Tuhan menjadi hal yang aneh dan menakutkan karena dunia dan isinya sudah terlalu menggiurkan."

"Jen, lo bikin gue takut."

"Emang udah seharusnya kita takut. Perhitungan Tuhan itu detail, Ben.."

Dalam diam, Beni meluncur pergi. Dengan hati yang cemas karena kalimat yang terlontar dari rekan kerjanya di ruang kantin.

Jene pasti gak tidur sampe ngelindur. Ujar Beni dalam hati.

Minggu, 22 Maret 2015

Sebuah Jawaban

Sungguh kalimat itu terasa salah
Celotehku tentang kata berima cinta
Sebagai wujud rindu pada sang Hamba
Membuatku kacau dan hampir gila

Aku hampir saja lupa memuji Sang Maha
Dia pemilik segala rasa
Dan saat mimpi kembali nyata
Yang kutemui hanya lah hampa

Wahai sang pemilik waktu
Perkenankan lah kami tuk kembali bertemu
Tentang ikrar yang pernah terucap dulu
Semoga selamanya bersama menjadi satu


Hujan baru saja turun. Langit senja di pinggir kota membuatku menepikan langkah pada tempat minum kopi. Suasana tempat ini masih saja ramai seperti dulu.

Aku mengambil kursi di tengah ruangan. Menyesap minumanku dengan perasaan nyaman.

"Hai.."

Deg!

Dia lagi.

Tapi kenapa?

"Boleh aku duduk?" tanya laki-laki di depanku.

Mengapa kaki ku tiba-tiba saja terasa kaku?

"Terima kasih.. " ujarnya seraya duduk.

"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.

"Seperti yang kau lihat sekarang." jawabku tak jelas.

"Kau menghilang.."

Diam.

"Tiga bulan sejak terakhir kita bertemu bukan?" ujarnya lagi.

Sungguh aku tidak sanggup tetap berada di tempat ini. Aku bangkit dan bersiap pergi.

"Tolong beri aku alasan." matanya menatap ku dengan sedih.

Diam.

"Aku hanya lelah" jawabku pada akhirnya.

"Tapi kenapa?"

"Kau tau alasannya. Kau selalu tau.."

Hanya ketika sang pujangga terluka, maka diam menjadi satu-satunya jawaban yang ia punya..