Kamis, 22 Januari 2015

Menu Ala Anak Kost: Biskuit Goreng

Ceritanya mau coba sarapan dengan sesuatu yang berbeda. Berbekal saran dari salah satu rekan kerja, saya pun mencoba menu baru. Biskuit Goreng.

Bahan-bahan yang diperlukan:


1. Susu cair tawar secukupnya
2. 1 butir telur ayam
3. Biskuit sesuai selera
4. Garam dan penyedap rasa

Cara membuat:
1. Aduk telur ayam, susu cair dan penyedap rasa
2. Hancurkan biskuit dan rendam ke dalam adonan susu
3. Goreng hingga matang kecokelatan. Sajikan bersama saos sambal.



Salam #AnakakostKreatif

Selamat mencoba *_^

Rabu, 21 Januari 2015

Belajar Sabar Dari Menjahit

Lagi punya hobi baru: menjahit. Terdengar seperti ibu-ibu yak? Heheheh

Tingkat kemahiran saya dalam menjahit masih berada di level terbawah koq. Jadi jangan berharap akan melihat hasil karya saya yang menakjubkan hohoho

Menurut saya dengan belajar menjahit, secara tidak langsung kita juga belajar tentang ketelitian, keuletan dan yang jelas juga belajar kesabaran. Kan gak mungkin menjahit dengan terburu-buru. Hasilnya pasti berantakan. Setuju?

Penasaran gak dengan hasil karya saya? Penasaran dong #maksa hahah. Nih penampakannya

























Sabtu, 17 Januari 2015

Sang Pemancing Dan Kisah Tentang Ibu Jarinya

Sabtu pagi dalam perjalanan menuju haribaan kasih sayang yang sejak semalam kurindukan. Berharap terselamatkan dari dekap hampa berkepanjangan #mendadaksajak

Lebay! Hahahha

Seorang diri melakukan perjalanan menuju Tangerang membuat saya dapat berkhayal bebas selama kurang lebih tiga jam. Dan seringkali pikiran saya tertumpu pada nasihat atau cerita yang rajin dikisahkan oleh ibu. Dan kali ini saya ingin berbagi salah satu kisahnya.



Suatu hari berkumpullah beberapa pemancing di tepi sungai. Sambil bersenda gurau, mereka menyiapkan peralatan memancing dan satu per satu dari mereka mulai melemparkan umpan ke dalam sungai.

Hari beranjak sore, keramba (wadah penyimpan ikan dari bambu) pun telah penuh. Satu persatu pemancing memutuskan untuk pulang hingga hanya tersisa seorang pemancing.

Saat dia hendak mengambil alat pancingnya, seekor ular berbisa, entah dari mana, telah menancapkan taringnya di ibu jari sang pemancing. Dengan sigap sang pemancing melepaskan gigitan ular itu dari ibu jarinya. Lalu dengan dada yang masih berdegup, sang pemancing mengambil pisau dalam wadah pancingnya dan memotong ibu jarinya.

Jeritannya di senja itu menggema hingga ke penjuru desa. Dengan mata berurai, sang pemancing menyelipkan potongan ibu jarinya di dahan pohon di dekatnya lalu beranjak pulang.

Hari berlalu dan terus berlalu. Tak terasa tahun telah berganti sejak kejadian itu. Sang pemancing telah sembuh dari lukanya dan tetap bisa menyalurkan hobi memancingnya. Hingga suatu hari sang pemancing kembali ke tempat itu. Tepi sungai dimana dia pernah terpaksa kehilangan bagian tubuhnya.

Dia terkejut ketika mendapati ibu jarinya masih dalam keadaan yang sama. Masih seperti ibu jari miliknya dulu. Dengan wajah sumringah sang pemancing meraih potongan ibu jari lalu menempelkannya kembali di tempat dulu ia pernah berada.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu, tubuh sang pemancing terserang demam. Istri sang pemancing yang dikuasai takut membawa sang pemancing kepada tabib desa.

"Kapan terakhir kali dia pergi memancing?" tanya tabib setelah selesai memeriksa keadaan sang pemancing.

"Sudah lebih dari beberapa hari." jawab istri sang pemancing.

"Apakah dia menceritakan suatu peristiwa padamu?" tanya tabib lagi.

"Tidak satu pun. Apa yang terjadi pada suamiku?" tanya istri sang pemancing cemas.

"Bisa ular telah menyebar ke seluruh tubuh suamimu. Aku tidak tahu apakah obat yang kuberikan akan mampu menyelamatkannya atau tidak."


Bagai tersapu badai air laut lalu membawanya ke kedalamannya yang mematikan, istri sang pemancing terpaku diam di tempatnya. Air mata tak henti membasahi wajahnya. Memandang lemah pada gundukan tanah merah yang masih basah. Dibawah sana, tubuh sang pemancing telah terbaring untuk selamanya.

* * *

Pintarlah mengambil pelajaran dari masa lalu. Keputusan untuk kembali adalah mutlak pilihanmu, tapi pastikan bahwa tidak akan lagi ada hati yang patah atau terluka ;-)

Rabu, 07 Januari 2015

Malu Pada Semut Merah VS Malu Sama Kucing

Waktu berjalan. Zaman berubah. Nyari jodoh tetep aja susah #ehh #abaikan

Gak nyangka udah cukup lama saya hidup di dunia. Lebih dari seperempat abad! Yang pasti sih belum tweenty nine my age ya hehehe

Saya tuh suka (main) sama anak kecil. Apalagi anak balita. Kalo lagi sok-sok bijak, secara gak sengaja saya kadang membandingkan masa kecil saya dulu dan masa anak-anak sekarang.

Jaman saya, yang namanya main berarti main keluar rumah. Entah main sepeda, perang-perangan di kebon duren, kebon rambutan atau kebon-kebon yang lain. Pokoknya "kotor itu baik"-lah. Pernah juga jalan-jalan gak jelas tanpa arah dan tujuan. Buat kalian yang suka lewat jalan baru TB. Simatupang, saya sering main bola disana sebelum jalan tol itu dibuka hahaha

Saya mengilhami main sebagai kegiatan keluar rumah. Intinya ya ngumpul sama temen-temen. Bersosialisasi. Bukan memandang geram pada layar monitor karena skor flappy bird yang gak nambah-nambah jadi 3 hohoho

Sayang, kondisi saat ini merubah mindset main menjadi terlalu sempit. Identitas main saat ini berkutat pada game, baik di komputer, iPad, tablet dan ponsel.

Jujur saja, saya rindu mendengar teriakan anak-anak yang berlari di sepanjang gang saat bermain. Rindu mendengar celoteh mereka saat bercerita tentang kejadian-kejadian di sekolah, bukan cerita cowo atau cewe yang mereka taksir. Bukan pula cerita tentang sinetron romantisnya mereka yang berpakaian seragam sekolah dan menghisap darah.

Saya bahkan rindu mendengar senandung sahur yang bersahutan kala Ramadhan. Rindu. Rindu sekali..

Duh, gak mau nangis ah. Malu sama kucing :P