Minggu, 27 Desember 2015

Tuhan, Anak Kami Lapar

Terik siang ini bagai memeluk erat tubuhku yang kurus. Kulit jari-jari yang keriput dengan kuku yang menghitam entah sejak kapan.

Kuhitung lagi lembar rupiah yang kudapat sejak pagi. Kertas-kertas kusut dengan nominal yang tak seberapa tertera di kertas-kertas kecil itu. Aku menghela.

"Apa yang kau jual?" seorang pria muda berpakaian necis berdiri sisi jalan depan lapakku yang becek. Aku tersenyum.

"Ini.. Pernak-pernik.."

"Aku tidak bertanya tentang apa ini.." dia menunjuk barang daganganku, "Aku bertanya tentang apa yang kau jual!?" tanyanya lagi dengan suara keras.

Aku tergagap.

"Tidakkah kau malu? Menggadaikan agama demi beberapa lembar rupiah? Tidak ada kah barang lain yang mampu kau jual?" tanyanya lagi.

Aku menatapnya.

"Segera lah bertaubat. Semoga Tuhan masih bersedia mengampunimu." ujarnya.

Dia baru berjalan sekitar dua langkah ketika tiba-tiba saja lidahku menyemburkan kegundahanku.

"Anakku lapar. Aku tidak bisa hanya memberinya kitab suci. Dia masih butuh nasi."

"Sudah seminggu dia sakit. Aku bahkan tidak bisa memberinya obat. Apakah Tuhan akan marah dengan hal itu? Apakah Tuhan akan marah karena kami terlahir dalam kemiskinan? Apakah Tuhan semudah itu melimpahkan kami dengan dosa? Lalu dimana sifat kasih sayang Tuhan?" aku menangis.

"Tidakkah kau yakin akan pertolongan Tuhan?"

"Tuhan pasti akan lebih mencintai mereka yang terus berjuang disertai doa dibandingkan dengan orang yang hanya diam dan menunggu tanpa berusaha?"

Gerimis kembali turun bersama senja dengan mega yang memerah.

Kamis, 24 Desember 2015

Kau, Ibu

Kau adalah gemericik doa yang mengalirkan harapan
Embun di pucuk daun yang mengandung kebahagiaan
Desau kasih sayang yang menebarkan kehangatan

Kau lah teras rumah yang basah oleh siraman hujan
Yang senantiasa menyediakan sepasang lengan yang selalu siap menghilangkan penat setelah lelah seharian berjalan

Kau lah harumnya tanah selepas awan menepati rindu pada sang bumi
Dimana langkah kaki kecilku selalu merasa aman sejauh apapun aku bermain dan berlari

Kau lah langit biru dengan lengkung senyum sang pelangi
Dimana aku merasa bahwa akan selalu ada sepenggal asa yang tersisa

Kau adalah wujud doa yang dikabulkan oleh Tuhan
Restu mu melebihi nilai harta terpendam
Senyum mu serupa surga yang tergambarkan
Jujur saja aku penasaran, bagaimana mungkin seorang malaikat diam-diam menyusup tanpa diketahui Tuhan?

Assalamualaikum, Pak

Rasanya itu baru kemarin
Aku melihat wajah penuh senyum bercaping bambu berdiri di bawah siraman hujan menungguku
Tak peduli basah tak peduli dingin meski hanya berbalut kaos tipis dan celana pendek warna kelabu

Rasanya itu baru kemarin
Kita berjalan menyusuri sebuah jalan sempit dimalam nan larut
Hanya demi menghalau risau di hatiku yang penuh takut

Rasanya itu baru kemarin
Aku menyambut tegapnya langkah dengan mata berbinar
Dimana aku menghabiskan akhir minggu bahagia yang selalu membuat hati bergetar

Rasanya itu baru kemarin
Mendengar lirih suara saat kau panggil namaku
Dan hanya bulir air mata yang jatuh sebagai saksi saat itu

Rasanya itu baru kemarin
Wajah yang teduh kini telah menjadi beku
Sedang kini masih kurasa genggam tanganmu

Rasanya itu baru kemarin
Saat aku mengucap sapa
"Assalamualaikum, Pak.."

Minggu, 22 November 2015

Matinya Sang Raja

"Tuan Putri.."

"Tuc.."

"A.. A.. Apa yang anda lakukan?" Pemuda bernama Tuc berjalan pelan mendekati Sang Putri.

"Aku akan pergi, Tuc." Sang Putri kembali menata barang-barangnya ke dalam koper.

"Tapi.. Kemana?" Tuc kembali bertanya.

"Aku akan pergi ke istana Rouph." jawab Sang Putri seraya tetap menata barang-barangnya.

"Maksud anda, istana paman anda? Tapi itu jauh sekali, Tuan Putri." sela Tuc.

"Tapi aku tetap harus pergi, Tuc." ujar Sang Putri.

"Kumohon berhentilah berkemas, Tuan Putri." ujar Tuc.

"Semua sudah selesai, Tuc. Sudah selesai." Tuan Putri terduduk lemas di tepi tempat tidur.

"Kumohon bertahanlah, Tuan Putri. Jangan biarkan para pemberontak itu menguasai kerajaan." ujar Tuc kemudian.

"Tuan Putri..."

Sebuah suara berat seorang laki-laki menggema di kamar Sang Putri, mengagetkan mereka berdua. Beberapa laki-laki tertubuh tegap telah berada disana.

"Jendral.."

"Meski Paduka Raja telah tewas, tapi Anda masih memiliki kesetiaan kami, Tuan Putri. Aku mohon bertahanlah." ujar seorang laki-laki bertubuh paling tegap.

"Tapi aku tidak mungkin melawan rakyat ku sendiri, Jendral." ujar Sang Putri sedih.

"Mereka bukan rakyat anda, Tuan Putri. Mereka pemberontak." ujar Sang Jendral.

"Tetap saja, Jendral. Melawan artinya melukai mereka. Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Mereka masih tetap rakyat ku. Biarlah aku yang pergi. Biarkan mereka menguasai kerajaan." Sang Putri menatap wajah Sang Jendral dengan mantab.

"Para pemberontak itu serupa benalu yang menggerogoti batang pohon raksasa. Mereka akan ikut mati begitu batang pohon itu tumbang. Anda tidak seharusnya membiarkan benalu itu hidup dan menang." ujar Sang Jendral.

"Anda memiliki kesetiaan kami, Tuan Putri." para jendral yang lain ikut bersuara.

"Jendral.."

"Tuan Putri.. " Tuc menatap wajah Sang Putri.

"Mari kita lawan mereka."

Segerombolan pasukan tikus berlari dan menyusup ke dalam hutan. Hilang dalam kegelapan malam. Menyerbu sarang-sarang kecil tak jauh dari pohon tempat mereka tinggal.

Minggu, 06 September 2015

Tutorial: Puff Bros

Ini judulnya The Power of kepepet. Mau kondangan dan bros yang cukup spesial ketinggalan di kosan. Putar otak dan tengok youtube. Langsung 'tak contek hehhehe..

Yuk cekidot

Alat dan Bahan:
- Kain satin kuning dan biru (ukuran bebas)
- Benang, jarum, gunting
- Dacron
- Baling bling
- Lem tembak
- Bros mangkok

Cara membuat:
1. Siapkan bahan
2. Jahit jelujur sekeliling kain satin biru.
3. Isi dengan dacron.
4. Serut. Lalu jahit kencang.
5. Jahit tembus.
6. Lakukan beberapa kali. Rapikan.
7. Jahit jelujur sekeliling kain satin kuning.
8. Isi dengan dacron.
9. Serut. Lalu jahit kencang.
10. Jahit tembus. Rapikan.
11. Tumpuk bantalan satin biru dan kuning. Jahit.
12. Lem bros mangkok di bagian belakang. Lem bling bling.



Selamat mencoba *_^

Rabu, 02 September 2015

Dialog Hati: Kesabaran

Aku menatap langit yang mulai gelap. Cahaya mentari perlahan meredup, seakan merestui sang bulan yang sebentar lagi hendak menyapa bumi. Angin laut yang ribut, membuat gaun ku melayang dan sibuk bersuara kebut.

Aku masih menatap langit yang mulai gelap. Ombak pecah di kakiku yang telanjang. Saat ini kurasakan kasarnya butiran pasir serupa permadani paling lembut dan nyaman. Entah telah berapa lama aku berdiri disini.

"Apa yang sebenarnya sedang kau risaukan hingga begitu lama kau menatap langit?" sebuah suara menyapaku lembut.

Seorang kakek berwajah ramah tengah berdiri tenang di sisi ku. Rambutnya yang telah memutih dan tersisir rapi, seakan berkilau diterpa sisa-sisa cahaya mentari.

"Entah.." ujarku tak jelas.

"Sebegitu besarkah masalah mu hingga kau begitu lama mengadu? " tanyanya lagi.

Aku terdiam.

"Kau seakan menjadi tidak peduli dengan apa yang ada disekitarmu. Kau terlalu fokus melihat masalahmu, seakan tiada yang lebih penting dari itu."

"Salahkah aku?" aku menatapnya tiba-tiba. Dia tersenyum.

"Siapa yang berhak menentukan antara benar dan salah? Mengapa hal itu terdengar sangat penting?"

Lagi-lagi aku terdiam.

"Dengar, Nak. Tuhan tidak serta merta memberi semua yang kau inginkan. Semua hal yang benar di matamu, belum lah cukup untuk menjadikan hal tersebut harus terjadi."

"Aku hanya ingin semua berjalan dengan baik. Tak bisa kah aku mendapatkan bantuan?"

"Kau terdengar sangat takut."

Dahiku mengernyit. Mengapa kakek tua ini berkata seperti itu? Sebenarnya, apa maksud perkataannya? Ahh.. Aku benar-benar bingung.

"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"

"Percayalah padaNya. Saat kau merasa kecewa dan ditinggalkan, itu adalah tanda bahwa DIA sedang merindukan tangisan mu, rayuanmu, doa mu."

"Aku tidak sedang kecewa.." elakku.

"Ya, katakanlah apapun yang ingin kau katakan, Nak. Bukankah hanya kau yang dapat memastikan isi hatimu?" katanya lagi.

Malam telah turun sempurna. Langit kelabu membawa udara dingin yang menyentak. Air laut naik hingga menyentuh lututku. Aku berada diantara tepian kepasarahan.

"Saat ini, Tuhan sedang mengajarkan mu sesuatu.."

"Apa?" tanyaku penasaran.

"Kesabaran.."

Senin, 17 Agustus 2015

Makan: Bakso Rudal



Klo pengen makan bakso, langsung deh terlintas Bakso Rudal Tanjung Barat (samping gang Unindra).

Buat saya rasanya udah paling endesssssss guligulindessss. Soal harga juga cukup bersahabat. Cuma Rp 12.000 - Rp 15.000.

Cuma satu kekurangan dari tempat makan ini. Ga ada minuman yang khas untuk menemani makan siang hari ini.

Makan: Soto Babat Dawet Ayu



Selamat pagi dari Sukoharjo.. Semangat menuju upacara Kemerdekaan Republik Indonesia.. MERDEKAAAAA!!!

Dalam rangka perjalanan tugas ke Tulung Agung, Jawa Timur, saya dan team sempat mencicipi kuliner atas rekomendasi salah seorang team.

Saat melintasi daerah Sukoharjo, Solo Baru, kami dibawa untuk mencicipi soto dengan rasa yg nikmat dan harga yang sangat bersahabat. Seporsi hanya Rp 8.000 saja.. WOW kan??






Soto babat paling pas jika disandingkan dengan tempe goreng kering dan gurih.. Pokok'e endesssssss

Minggu, 19 Juli 2015

Rindu Aku Rindu

Kala mataku terpejam, senyum itu masih terbayang
Tatapan mata nan sendu, penuh sayang
Uluran tangan nan lembut, penuh kehangatan
Dan kata-kata terakhir, meski diiringi keterbataan
Duhai ayah.. Duhai ibu..
Sungguh rindu aku rindu
Berada dalam dekapmu
Sungguh rindu aku rindu...

Jumat, 22 Mei 2015

Kopra



1957.

Andai pagi ini ayam jantan tetangga sebelah masih terlelap dalam tidurnya dan matahari tak bersinar terlalu cepat, mungkin aku masih bisa menyelipkan tangan kecilku di bakul nasi. Tak apa bahkan jika yang kutemui hanya kerak dari sisa makan semalam.

Andai kemarin senja datang lebih cepat bersama bulan dan kegelapan malam saat perutku belum terlalu keras berteriak dan memanggil siapa saja yang berjarak satu meter dari tubuhku, mungkin aku masih bisa menyelinap dan mencicipi apa yang seharusnya mereka sisakan untukku, Dan  jika itu terjadi, mungkin saat ini aku masih bisa merayap dan menemukan sebuah jalan terang.

Tapi sekali-kali tidak. Yang mereka sisakan untukku hanya udara!

Tini, gadis kecil berusia delapan tahun, bertubuh kecil dengan kulit yang menghitam  akibat sering berjalan dibawah matahari siang, hanya bisa pasrah dan menunggu mati. Kelopak matanya terpejam, namun tulang rahangnya menegang. Menahan suara agar tetap tercekat di panggal tenggorokannya. Seorang perempuan tua berusia lebih dari empat puluh tahun, asik melayangkan pukulan ke tubuh gadis kecil itu.

Dapur sesak dan gelap berlantai tanah  itu penuh dengan suara pukulan gagang sapu ke tubuh kecil tak bergerak di antara meja dan tungku masak. Beberapa pasang mata ukuran kecil mengintip di balik gorden pintu dapur. Menyaksikan sebuah adegan yang bagai tak akan berkesudah.

“Mati! Mati!” jerit seorang laki-laki tua bersuara berat saat memasuki ruangan.

"Apa yang kau lakukan? Tahu kah bahwa kau bisa saja membunuhnya?" teriak laki-laki tua itu seraya menarik tubuh kecil Tini ke pelukannya.

"Dia pantas mendapatkan hal itu. Dia mencuri kopra ku! Kopra ku!" sembur perempuan tua.

"Kopra.. Kopra.. Kopra.. Hanya itu kah yang ada di pikiran mu? Kau hampir saja merenggut sebuah nyawa hanya demi kopramu  yang tak berharga!"

"Aku tidak sudi membesarkan seorang pencuri!" teriak perempuan tua itu lagi.

"Bagaimana dia tidak menjadi seorang pencuri jika kau tidak pernah mengajarkannya tentang makna berbagi?" geram laki-laki tua itu

Dengan Tini berada dalam pelukannya, laki-laki tua pergi meninggalkan dapur kecil dan pengap berisi adegan pahit. Matanya panas, tubuhnya bergetar. Andai saja beberapa menit tetap berjalan tanpa kehadirannya, mungkin yang akan ia tenemui hanyalah jasad seorang gadis kecil berkulit gelap.



Laki-laki tua duduk di sebauh kursi goyang, memperhatikan Tini, gadis kecil berkulit gelap yang tenah memakan makanannya. Gerakan tangannya teratur tanpa sedikit pun terburu. Sesekali tanagn kecilnya meraih gelas yang terletak tak jauh di tempatnya duduk.

“Nduk..” panggilnya tiba-tiba. Tini mendongak.

“Tinggal disini sama si mbah mau?” Tanyanya kemudian.

Lama, Tini terdiam menatap laki-laki tua di kursi goyang. Lalu dia menggeleng.

“Tini mau pulang, Mbah..” ujarnya lalu melanjutkan makan.

Terik mentari siang seakan hendak membakar segala yang ada dalam jangkauannya. Laki-laki tua di kursi goyang hanya menatap nanar pada gadis kecil berkulit gelap. Diam-diam berdoa pada Tuhan agar dia masih sanggup melindungi gadis itu.



2015.

Langit sepertinya tak merasakan duka. Warna birunya yang cerah dengan lukisan awan yang berarak pelan, terlihat di sejauh mata memandang. Semilir angin menghembuskan kesejukan diantara gemerisik daun di dahan pohon-pohon nan rindang. Burung-burung gereja berkicau riang seraya menari kesana kemari.

Seorang perempuan tua msih berdiri di tempatanya. Sendirian. Air mata menganak sungai di pipinya yang tirus dan keriput. Bibirnya tak henti bergerak-gerak lemah. Entah apa yang tengah memenuhi pikirannya. Tak peduli pada gaunnya yang terus saja bersuara ribut.

Di hadapannya, sebuah kuburan dengan tanah yang masih merah dan bunga yang masih segar.

“Mbok, maafkan Tini. Maafkan karena Tini pernah mencuri kopra. Mencuri kopra. Kopra...” ujarnya di sela isak tangisnya.

Kamis, 14 Mei 2015

Kamu: Sang Cinta Sejati

Semalam aku hampir saja tak bisa tidur. Karena sepertinya ingatanku tentangmu mulai mengabur. Merajut kembali kisah tentang mu membuatku terpaksa harus bekerja lembur.

Untunglah pagi segera datang. Menyelamatkan nyawaku yang hampir meregang. Menahan rindu setiap kali malam mulai menjelang.

Sungguh ku tak sabar untuk segera bertemu denganmu. Berdua saja menguntai harapan yang tak pernah jemu. Menunaikan sesuatu yang kusebut: rindu kamu.

Aku tak sabar untuk menikmati senyummu yang mengembang. Meski kadang aku melihatnya dibalik tabir yang menghalang, namun selalu saja berhasil membuat sukma ku seakan melayang.

Kehadiranmu seumpama harum secangkir kopi di pagi hari. Dimana ribuan kata menjadi tak berarti. Namun lembut dan hangatnya menyentuhku hingga ke dasar hati.

Indahmu seumpama pelangi dari bias embun yang diterpa mentari. Keistimewaan yang hanya bisa dinikmati dipagi hari. Mana mungkin kulewatkan begitu saja mukjizat ini?

Sopan santun dan perangaimu adalah kesempurnaan Sang Pencitpa. Lalu apa lagi yang dapat kulakukan selain: jatuh cinta? Berkali kali tanpa hingga. Sampai nanti tubuh ini renta.

Ah, apa lagi yang bisa kuceritakan tentang dirimu? Bahkan dunia ini saja berubah menjadi semu. Hanya untuk melukiskan satu kata saja: kamu.

Maafkan aku yang tak pandai melukiskan dirimu, kasih. Namun membayangkan kehilanganmu membuat hatiku perih. Rasanya mungkin lebih dari berkali-kali mati.

Pintaku selalu padaNya, agar aku dapat mencintaimu sampai nanti. Hingga tiada lagi yang tersisa dari ku di muka bumi. Duhai kamu, Sang Cinta Sejati..

Selasa, 05 Mei 2015

Dua Sisi Cinta?

Cinta kadang seperti api yang hangat, namun jika tak kuat menanggungnya kita bisa terbakar habis karenanya.

Cinta seperti air yang menyejukkan, namun jika tak kuat menanggungnya kita mungkin mati tenggelam karenanya.

Cinta kadang seperti angin yang menyegarkan, namun jika tak kuat menanggungnya kita mungkin dibuat porak-poranda olehnya.

Cinta mungkin seperti bumi yang selalu menopang hidup kita,
namun jika tak kuat menanggungnya kita bisa terkubur di dalamnya.

Cinta memberi kita kekuatan disatu sisi dan memberi kita kelemahan disisi lainnya.

Cinta bisa membuat kita MENAATI semua aturan dan bisa membuat kita MELANGAR semua aturan. Dengan cinta sebuah kepalsuan dibilang benar dan yang benar dibilang kepalsuan.....

Begitu seterus-nya selalu berada dalam dua sisi yang beriringan...

Minggu, 26 April 2015

Tentang Aku yang MerinduMu

Diantara temaram dan suara nafas yang tertahan, aku merenung dalam kesendirian
Kepalaku penuh dengan pertanyaan tentang arah dan tujuan
Kemana langkah ini akan kubawa berjalan?
Sedang aku masih tersesat di tanah lapang tanpa tuan

Diantara suara binatang malam dan arus sungai di belakang rumah
Tercekik rutinitas hidup yang membuatku jengah
Dan desakan beban yang berkumpul di dalam dada
Buatku ingin melarikan kaki sejauh angkasa dapat bernama

Tuhan, aku putuskan untuk menyerah
Aku sudah renta dan teramat lelah
Pelarianku atasMu telah nyata berakhir sia-sia
Kini ku tahu siapa yang paling berkuasa

Tuhan, aku butuh pelukan
Aku masih terseret dalam ombak kelelahan
Sisa percarian jejak akan jalan menuju kedamaian
Sudah benarkah jalanku menuju sesembahan?

Ah Tuhan, ini kerinduan
Andai saja hatiku dapat menggemakan jeritan
Kisah tentang runtuhnya sebuah kesombongan
Menyisakan puing-puing bernada penyesalan

Kini malam telah berlari terlalu jauh
Menyisakan aku yang masih merindu akan diriMu

Sabtu, 25 April 2015

Karena Allah

Kamu datang kepada hati yang kosong karena Allah
Mana ku tau kamu akan mengetuk pintu hati itu dan menyapa ke kediamanku?
Kamu pergi pun karena Allah
Mana ku tau kamu bawa sebelah hatiku untuk kamu simpan di dalam hatimu?

Jika takdir Allah membawa kamu kembali kepadaku
Itu juga karena Allah yang menuntunmu untuk mengetuk kembali pintu hatiku yang tertutup

Pintu yang tak pernah aku kunci Karena Allah jua yang selalu membuatku tak menguncinya
Selalu ada doa yang terucap yang keluar dan masuk melalui pintu hati itu
Untuk mu..

Pergilah ke langit untuk meraih bintang yang paling terang
Pergilah ke gunung untuk mendaki puncak yang tertinggi
Akan aku hantar kamu setiap saat dalam doaku
Dan turunlah kembali dengan hatimu yang merendah serendah dasar samudera

Karena Allah aku ada disana menantikanmu kembali
Karena Allah ku lepaskan kamu untuk pergi
Tapi kamu tinggalkan sebelah hatimu untuk selalu ku jaga dalam diam
Karena Allah kamu akan kembali
Bersama hatiku yang selalu kamu bawa di dalam ruang hatimu
Karena Allah
ku menantimu

Belahan Hatiku..



~ Sebuah karya Achmad Jupri

Kamis, 23 April 2015

Siapalah Aku?

Siapa lah aku?
Rangkaian kalimatku tak pernah menjadi sajak
Ujung penaku menari dengan terdesak
Dan warna tinta yang muncul sering tersendat

Siapa lah aku?
Insan faqir tak berilmu
Kalimatku sering menuai jemu
Bahkan tuk sekedar merayu, aku tak mampu

Siapa lah aku?
Sering kata ku menuai luka
Kadang tawaku gores kecewa
Bahkan diamku menyulut amarah

Siapa lah aku?
Insan kerdil dengan lumuran dosa
Yang meratap menghamba di tiap ujung senja
Dan hanya berharap DIA bersedia kembali menerima

Mengapa bunga?

Mengapa di sebut bunga?
Apakah karena berwarna mempesona?
Ataukah karena harumnya indah?
Atau karena ia menjadi lambang rasa?

Mengapa disebut bunga meski ia berhias duri dan membuat luka?
Mengapa disebut bunga meski ia menjerat lalu membunuh sebuah nyawa?
Jadi, mengapa disebut bunga?

Ahh bunga..
Kau yang terjebak di dalam vas-vas mewah
Berkilah bahwa kau penghias sudut-sudut tak terjamah
Meski usia mu tak lebih dari dua kali senja

Ahh bunga..
Takdir mu oleh Tuhan adalah kalah oleh manusia
Dan ya lagi-lagi kau tumbuh di atas tanah
Kembali menjadi mangsa bagi kami para pecinta

Bunga...

Sabtu, 18 April 2015

Pak, Apa Kabar?

"Nak.. jika suatu saat aku pergi, ingatlah bahwa Dia akan selalu ada bersamamu."


Aku duduk dengan gelisah di kursi kerjaku. Kulirik lagi jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Hatiku benar-benar tak karuan. Hari sudah beranjak sore dan aku masih terjebak disini.

Ini hari besar dan seharusnya aku meminta ijin pada atasanku. Seharusnya. Tapi aku hanyalah pegawai biasa jadi disini lah aku. Memeluk kegelisahanku sendiri. Oh Tuhan..

Tiba-tiba pintu ruanganku terkuak. Seorang pria tinggi dan berkulit hitam masuk ke dalam ruangan dan duduk. Aku memalingkan wajahku, kembali mematut pandanganku pada monitor di meja kerja.

"Bukankah seharusnya kau bersiap-siap untuk pulang?" ujarnya tiba-tiba. Aku menoleh padanya.

"Ini hari yang besar kan?" ujarnya lagi. Aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti.

"Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.." pria dihadapanku meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku, "Pulanglah, temui dia.."

Mataku membelalak tak percaya mendengar kalimat itu dari pria di hadapanku. Tapi melihatnya tersenyum membuatku yakin bahwa kami memiliki pikiran yang sama. Jadi aku segera melompat dari kursi.

"Pak, sungguh aku akan mencintaimu karena hal ini.. Terima kasih.. Terima kasih.." ujarku seraya menyambar tas ransel yang tersampir di dinding.

Aku hampir berlari karena bahagia. Aku harus bergerak cepat. Dia tidak boleh menunggu terlalu lama.

***** ***** ***** *****

Aku baru saja sampai. Ku larikan pandanganku berkeliling tempat ini. Dia belum datang. Biarlah, ku tunggu saja dia disini seperti biasa.

Hari telah beranjak sore namun belum kulihat tanda-tanda kehadirannya. Berkali-kali ku tengok pintu masuk, tapi dia belum juga muncul. Jujur saja aku khawatir. Ini memang tak seperti biasanya tapi aku yakin dia akan datang.

Aku kembali berdoa untuk menenangkan hatiku yang gelisah. Bertahan untuk tetap berada disini rasanya sungguh meresahkan. Aku hanya sedang mencoba untuk mempercayai sebuah harapan. Dan semoga keyakinanku ini benar.

Ku amati lagi penampilanku untuk yang terakhir kali. Aku hanya ingin memastikan kesempurnaan penampilan ku dihadapannya. Ahh, aku sungguh tidak sabar.

***** ***** ***** *****

Aku melompat dari bus yang aku tumpangi lalu berlari secepat yang aku bisa. Senja telah melambai di ujung mega. Ya Tuhan, kumohon tolong beri aku waktu sebentar lagi..

Dia disana!

Seruku di dalam hati saat melihatnya disana. Dia selalu ada disana kapan pun aku datang berkunjung.

"Nak, kau datang.."

"Maaf Pak, aku terlambat." ujarku diantara napas yang terengah-engah.

Aku tersenyum memandangnya. Rindu yang selama ini kupendam tumpah bersama air mata yang tanpa terasa telah menganaksungai di wajahku.

"Pak.." suara ku tercekat di kerongkongan.

Aku tersungkur dan menangis. Sendi-sendi tulangku terasa lemas. Dadaku sesak. Rasanya hampir seperti ingin meledak. Oh Tuhan..

"Tolong jangan menangis, Nak.."

"Ya, Tuhan.. Tolong ampuni dia. Sayangi lah sebagaimana dia menyayangiku sewaktu ku kecil.."

Aku terisak di dalam doa. Sibuk menghamba, memohon ampunan padaNya.

Detik waktu terasa berlalu begitu cepat. Aku merasakan udara di sekitarku seketika saja turun beberapa derajat. Aku mendongak. Langitku hampir gelap. Senjaku tengah pelan merayap.

Aku menghela napas. Seakan melepaskan beban terakhir yang kubawa sejak tadi pagi.

"Pergilah, Nak. Kumohon jangan kau lupakan aku. Dan datanglah lagi saat kau sempat."

Berat rasanya untukku melangkah meninggalkan dia sendirian disana. Aku berjanji dalam hati untuk kembali mengunjunginya di lain hari.

"Pak, aku pulang. Assalamualaikum. "

Tempat ini tetap saja sepi seperti biasanya. Rintihan awan dalam wujud buliran hujan menyapa wajahku yang tak terlindungi. Ku percepat langkahku meninggalkan area pemakaman.

Jumat, 10 April 2015

Dalam Perenungan

Dalam irisan tart berwarna pekat
Bernama Devil's Food Cake serupa laknat
Adalah kopi negeri Indian sebagai sejawat
Di sebuah cafe dengan lagu yang terus menghentak

Aku terdampar melepas penat
Langitku mendung berwarna gelap
Laju roda-roda yang hanya dapat kulihat
Dan rentetan kejadian yang tak pernah tersekat

Sendiri dalam balut keheningan
Tenang tanpa bisik ketergesaan
Meliburkan diri dari segala kepentingan
Dalam kepasrahan aku menghadap Tuhan..

Sabtu, 04 April 2015

Karena Aku lah Jalan Itu

Dan cahaya keruh lampu bis kota
Disitulah jantung kami berpadu
Harum nafas rindunya menghinggapi indra penciumanku

Aku lirik kasih sayangnya dengan perasaan yang amat dalam
Aku ingin menyatu
Aku ingin menyatu
Membedakan ini cinta bukan nafsu

Ketika engkau melambung ke angkasa
Ataupun terpuruk ke dalam jurang
Ingin kujabat tanganmu dan berkata
"Ingatlah kepadaku.. karena aku lah jalan itu.."


Sebuah karya dari Nanang Haryadi

Jumat, 03 April 2015

Sebuah Jawaban (edisi 2)

Ting.. Ting.. Ting..

"Masih aja suka mainin sendok ke gelas.." laki-laki muda di depan ku berkomentar.

"Jadi, apakah sekarang hal ini mengganggu Anda, Tuan?" tanyaku menggodanya.

"Hemh.. " dia melempar pandangannya ke arah jalanan.

Lalu lintas sore ini tak begitu padat. Aku masih bisa melihat jalan yang kosong selama beberapa detik sebelum sebuah kendaraan kembali melintas. Hal yang sangat jarang terjadi.

"Jadi kapan kamu akan menikah?" tanyanya kemudian.

"Segera setelah kamu datang ke rumah untuk melamarku." jawabku seraya tersenyum.

"Jangan bercanda terus." katanya malas.

"Aku serius. Apa wajahku terlihat bercanda?" jawabku.

"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padamu." ujarnya.

"Itu bagus. Calon suamiku haruslah lebih mencintai Tuhannya dibanding mencintai aku." jawabku lagi.

"Hemh.. Tolong mengerti lah. Mengapa kamu masih saja memaksakan dirimu padaku? Carilah laki-laki lain yang lebih baik dari aku." laki-laki di depanku terlihat gusar.

"Benar kamu sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padaku?" tanyaku akhirnya. Dia mengangguk.

"Lalu mengapa kamu masih terus menghubungiku? Mengapa kamu masih ingin aku mengirim pesan suara padamu? Mengapa kamu menanyakan alasan saat aku tidak mengabarimu? Mengapa kamu menanyakan alasan saat aku tidak menegurmu padahal aku melihatmu? Dan mengapa kamu masih memberi perhatian padaku?" tanyaku menuntut. Dia terdiam.

"Itukah yang kamu maksud dengan memaksakan diriku padamu?" tanyaku lagi. Aku menghela napas.

"Sebenarnya apa masalahmu? Mengapa kamu masih menyembunyikannya dariku?" Aku menyesap minumanku, memberi kesempatan untuknya berpikir.

"Kamu tidak akan bahagia jika tetap memilih bersamaku." dia menundukkan kepalanya.

"Siapa kamu yang berhak menentukan kebahagiaanku?"

"Kamu tahu benar keadaanku. Kita ini berbeda." jawabnya.

"Apa yang membuat kita berbeda? Bukankah di mata Tuhan kita semua sama?" ujarku. Dia hanya menggeleng.

"Tolong dengarkan, kita lah yang menjalani hubungan ini, lalu mengapa kita sibuk memikirkan pendapat orang lain?" Laki-laki di hadapanku menatap mataku tajam.

"Tapi.."

"Aku tahu apa yang sebenarnya kamu khawatirkan. Dan sungguh aku tak perduli dengan semua itu. Aku tidak butuh resepsi mewah di gedung mahal yang menghabiskan biaya berjuta -juta. Aku hanya butuh dua hal. Restu orang tua dan kesediaanmu untuk bersama-sama berjuang menuju ridha Tuhan." jelasku panjang lebar.

"Kita akan menemui banyak kesulitan.. " ujarnya.

"Aku percaya pada Tuhan. Dia pasti akan selalu menunjukkan jalanNya pada mereka yang berjuang. Dia tidak mungkin meninggalkan kita sendirian." jawabku.

"Kamu yakin akan tetap bersamaku meski ada laki-laki lain yang lebih baik datang melamarmu?" tanyanya lagi.

"Tolong berhentilah bertanya. Lihat saja mataku dan semua jawaban yang kamu butuhkan ada disana." jawabku tegas.


Cinta, akan datang pada siapa pun yang bersedia untuk memperjuangkannya. Bukan dengan menghalalkan segala cara, namun perjuangan yang disertai iringan doa kepada Tuhan. Maka kebahagiaan sudah pasti terhampar di depan mata.

Lepaskan ego, tinggalkan emosi. Jadilah pribadi yang jujur dan terbuka. Karena bersama Tuhan, kebahagiaan pasti akan selalu ada..

Kamis, 02 April 2015

Tjokroaminoto: Bikin Koperasi!

Ini ceritanya baru sebulan jadi anggota koperasi trus kemarin lusa di ajak nonton premiere "Tjokroaminoto: Guru Bangsa" ehh ada kata-kata ajaib.

Koperasi.

Secara garis besar, manfaat koperasi yang masih saya inget saat belajar di bangku sekolah dasar adalah "meningkatkan kesejahteraan para anggota koperasi pada khususnya dan masyarakat di sekitar pada umumnya."

Berbekal pengalaman itu, saat seorang teman mengajak saya untuk menjadi anggota koperasi, reaksi saya jelas positif. Gak perlu waktu lama bagi saya untuk berpikir. Lalu tiba-tiba saja saya sudah menjadi seorang anggota koperasi! #lebay

Oke. Ini memang agak gak nyambung sama judulnya. Tapi percaya deh, saya gak bisa nemu judul lain yang lebih cocok di banding ini hahhaha

Koperasi kan ribet. Mending nabung di bank.

Awalnya saya pun sempat berpikir demikian. Tapi kemudian saat saya berpikir ulang, saya menemukan sebuah kenyataan bahwa: koperasi gak punya ATM! Ini menjadikan uang yang saya simpan di koperasi "tidak terlihat". Sehingga uang tersebut dapat diselamatkan dari nafsu belanja saya hohoho

Seorang rekan kerja kemudian berpesan agar menganggap uang simpanan di koperasi sebagai uang hilang namun dapat di andalkan. Iya, jadi saat kamu butuh uang, kamu bisa mendapatkan pinjaman di koperasi tanpa syarat yang njelimet. Wuiiihh.. Pas banget kan sama saya yang beberapa bulan lagi akan butuh uang untuk nikah #ngayal hahaha

Pak Tjokro aja dari jaman penjajahan Belanda minta para petani dan pedagang untuk mendirikan koperasi, masa saya yang tinggal dekat dengan koperasi ndak juga sadar untuk menjadi anggota koperasi?

Akhir kata dari saya "Pak Tjokro, saya sudah menjadi anggota koperasi lho!"

Rabu, 01 April 2015

Kesempatan Kedua

Aku buta dikelilingi cahaya putih dan menyilaukan. Hembusan angin dingin terus menerus menyentuh kulitku. Rumput segar terasa basah di bawah kakiku yang telanjang. Bau harum dan lembut segera memenuhi hidungku.

"Dimana aku?"

Pandanganku menajam ketika cahaya putih itu perlahan mulai memudar. Disana, mataku menangkap bayangan serupa tebing dengan air terjun yang mengalir di salah satu sisinya. Pepohonan tinggi menyembunyikan hampir seluruh keberadaannya. Mataku menyipit memastikan bahwa apa yang kulihat adalah benar.

Jubahku yang panjang dan berwarna putih menari-nari bersama angin. Kakiku tersembunyi di bawah hamparan rumput hijau setinggi lutut.

"Dimana aku?"

Kakiku segera mengambil alih tubuhku. Aku tidak tahu arah mana yang harus kutuju, namun entah mengapa air terjun di depan sana seperti memanggil jiwaku.

Ujung rumput terasa lembut saat tersentuh jari-jariku ketika aku melangkah. Telingaku dipenuhi suara air terjun dan kicauan burung-burung. Lalu langkah kakiku tiba-tiba saja terhenti..

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" sebuah suara terdengar menggema di telingaku.

Pandanganku tertumpu pada sebuah cahaya yang mengambang tak jauh dari tempatku berdiri.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya suara itu lagi.

"Aku.."

"Kau tidak seharusnya berada disini?"

"Aku.. tersesat.." jawabku jujur.

"Jika begitu, aku akan menuntunmu untuk kembali."

"Tempat apa ini? Dimana aku?" tanyaku bingung.

"Ini adalah tempat terakhir yang di janjikan oleh Tuhanmu." jawabnya.

Seketika saja mataku membelalak mendengar penjelasannya.

"Tempat terakhir? Dimana Dia? Bisakah kau antarkan aku padaNya? Bisakah?" pintaku penuh harap.

"Tidak!"

"Mengapa?"

"Karena Dia belum memanggilmu."

"Tak bisakah aku tetap berada disini?" tanyaku lagi.

"Tidak!"

"Mengapa?" aku menuntut.

"Hanya mereka yang telah memenuhi takdirnya yang diperbolehkan untuk kembali."

Aku menatap cahaya putih dengan perasaan aneh yang bergolak di dalam hatiku. Tanpa sadar, tanganku terulur seraya menggapainya.

"Kau tak akan bisa menyentuhku, wahai manusia.."

Aku tersentak saat mendengar kalimat itu. Dia menyebutku manusia? Lalu apakah dia..?

"Kau masih memiliki takdir yang harus kau selesaikan.. "

Seketika saja pandanganku berubah. Sebuah layar raksasa seakan muncul di hadapanku dan menampilkan wajah mereka yang sangat kusayang. Wajah-wajah yang kini terlihat sangat sedih.

"Kembalilah.. keluargamu telah menunggu.."

Aku terdiam memandang cahaya putih itu hendak mengucapkan sesuatu namun lidahku terasa kaku. Tak ada satu suara pun yang dapat kuhasilkan.

Sekonyong-konyong aku merasakan suatu kekuatan tak terlihat membuatku melayang dan menghempaskan tubuhku ku dalam lorong berwarna pelangi. Tubuhku terasa ringan. Aku terbang.


Aku membuka mataku. Rasa kantuk yang teramat sangat membuat penglihatanku kabur. Sebuah cahaya putih redup menyapa mataku yang hampir tertutup lagi.

"Dia sudah siuman!" kudengar suara seorang pria berteriak, membuatku kembali terjaga.

"Sayang, kau sudah bangun.." suara yang sama kini menyapa telingaku lembut.

Seorang perempuan berpakaian putih masuki ruangan lalu mendekat ke arahku. Ia mendekatkan cahaya pada pupil mataku yang terus bergerak-gerak.

Aku sudah kembali.

Sebuah dengungan terdengar tak jauh dari tempatku. Entah apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Lalu ketika sebuah sentuhan lembut membelai keningku, entah bagaimana aku bisa merasakan kedamaian dan kenyamanan karenanya.

"Kau pingsan selama seminggu setelah melahirkan anak kita sayang. Berjanjilah untuk tetap menemaniku membangun kebahagian kita. Tolong berjanjilah untuk tetap kuat bersamaku." sebuah kecupan mendarat di keningku dan membuat hatiku berdenyut-denyut.

"Tuhan, terima kasih.."

Sebulir air mata meluncur turun dari hatiku yang teramat bersyukur. Untuk kesempatan kedua yang diberikan Tuhan bersama mereka yang kucinta.

Senin, 30 Maret 2015

Jene: Kesambet Taubat

Udara siang ini cukup bersahabat. Angin sepoi sepoi tak jarang numpang lewat. Menghamburkan rambut agak sedikit gondrong yang basah oleh keringat.

Seorang pria muda berkemeja biru dengan lengan panjang yang digulung setengah, duduk menghadap ke arah kipas angin di atas meja. Dari tempatnya, langit terlihat agak sedikit pucat.

Wajah pria itu tak begitu tampan. Bahunya tak begitu bidang. Hanya tinggi badannya yang mencapai 185cm lah yang bisa membuatnya terlihat mempesona. Kadang kala.

"Jen.. " suara seorang pria terdengar menggema di ruang kecil itu.

Jene, pria kurus dan gondrong menoleh ke arah datangnya suara. Beni, seorang pria kurus lainnya berjalan mendekat ke arahnya.

"Assalamualaikum, Ben.." sapa Jene ketika Beni mendekat. Wajah Beni tampak agak sedikit kaget mendengar salam dari Jene.

"Waalaikumsalam.. Beuh adem banget kuping gue denger salam dari lo, Jen. Berasa kaya masuk ke mushala.." ujar Beni nyengir seraya duduk. Jene hanya tersenyum.

"Ada apa, Ben?"

"Ngapain lo disini? Dicariin tuh di bawah."

"Gue lagi merenung aja."

"Tentang?"

"Tentang umur gue yang udah lewat."

"Emang kenapa sama umur lo?"

"Gue lagi inget-inget kemana aja jatah umur itu gue abisin. Banyak benernya, atau malah banyak ngelindurnya." jelas Jene.

"Lo salah makan ya Jen?"

"Kayaknya sih gak.. Tapi klo perut gue mules, berarti gue emang salah makan hehe"

"Omongan lo serius banget, bro. Kayak lagi di UGD. Kita ini masih muda kali, Jen. Santai dikit napa.." ujar Beni tak sabar.

"Siapa yang berani jamin umur gue cukup sampe besok? Bayi yang baru lahir aja bisa meninggal, apalagi gue yang udah punya dosa sampe berkarat. Bisa aja Tuhan gedek sama gue yang seneng maksiat mulu trus nyabut nyawa gue."

"Serem dah omongan lo, Jen. Kayak orang kesambet. Kayaknya lo salah gaul nih."

"Kiamat emang udah deket, Ben. Mendekat pada Tuhan menjadi hal yang aneh dan menakutkan karena dunia dan isinya sudah terlalu menggiurkan."

"Jen, lo bikin gue takut."

"Emang udah seharusnya kita takut. Perhitungan Tuhan itu detail, Ben.."

Dalam diam, Beni meluncur pergi. Dengan hati yang cemas karena kalimat yang terlontar dari rekan kerjanya di ruang kantin.

Jene pasti gak tidur sampe ngelindur. Ujar Beni dalam hati.

Minggu, 22 Maret 2015

Sebuah Jawaban

Sungguh kalimat itu terasa salah
Celotehku tentang kata berima cinta
Sebagai wujud rindu pada sang Hamba
Membuatku kacau dan hampir gila

Aku hampir saja lupa memuji Sang Maha
Dia pemilik segala rasa
Dan saat mimpi kembali nyata
Yang kutemui hanya lah hampa

Wahai sang pemilik waktu
Perkenankan lah kami tuk kembali bertemu
Tentang ikrar yang pernah terucap dulu
Semoga selamanya bersama menjadi satu


Hujan baru saja turun. Langit senja di pinggir kota membuatku menepikan langkah pada tempat minum kopi. Suasana tempat ini masih saja ramai seperti dulu.

Aku mengambil kursi di tengah ruangan. Menyesap minumanku dengan perasaan nyaman.

"Hai.."

Deg!

Dia lagi.

Tapi kenapa?

"Boleh aku duduk?" tanya laki-laki di depanku.

Mengapa kaki ku tiba-tiba saja terasa kaku?

"Terima kasih.. " ujarnya seraya duduk.

"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.

"Seperti yang kau lihat sekarang." jawabku tak jelas.

"Kau menghilang.."

Diam.

"Tiga bulan sejak terakhir kita bertemu bukan?" ujarnya lagi.

Sungguh aku tidak sanggup tetap berada di tempat ini. Aku bangkit dan bersiap pergi.

"Tolong beri aku alasan." matanya menatap ku dengan sedih.

Diam.

"Aku hanya lelah" jawabku pada akhirnya.

"Tapi kenapa?"

"Kau tau alasannya. Kau selalu tau.."

Hanya ketika sang pujangga terluka, maka diam menjadi satu-satunya jawaban yang ia punya..

Sabtu, 28 Februari 2015

Ini Sabtu dan Saya Masuk Kerja

Gak.. Gak.. Ceritanya gak berhenti disitu aja koq.

Jadi ceritanya bagian manufacture punya proyek mempercepat jadwal ekspor. Jadilah orang-orang yang terlibat dalam proses produksi (termasuk saya) dijadwalkan untuk masuk pada hari sabtu.

Sebagai anak kost yang emang jarang pulang, saya gak masalah dengan peraturan tersebut. Karena sebagai kompensasi peraturan tersebut, maka pada akhir maret sampai awal april kami akan libur panjaaaaaaaaaaaannnggg....

Emang sih libur panjang tapi galau juga klo gak ada yang bisa di ajak ngeluyur di tanggal segitu hiks...

Rata-rata mereka gak bisa ambil cuti. Yaiyalah akhir dan awal bulan gitu. Pada sibuk bikin laporan.

Jadi di kantor cuma berdua sama bagian QC. Dan ya seperti hari-hari sebelumnya juga, tiap kali kami ngobrol saya gak pernah berhenti ketawa. Sumpah gaya berceritanya lucu banget!

Sabtu jadi gak ngebosenin broooo...

Minggu, 15 Februari 2015

DIY: Bros Kain Perca

Wiken ini kembali gak pulang, lho (bodo). Jadi dari pada bengong sendiri di kost-an, buka-buka kotak persediaan jahit. Ada paket hadiah perlengkapan membuat bros yang masih nganggur dari mba Dian Almada. Sayang juga sih itu paket kalo cuma nyempil di pojok kotak. Jadilah singsingkan lengan baju dan mulai mempersiapkan bahan.

Alat dan bahan:
1. Kain perca ukuran seperti di bawah (bisa disesuaikan)
2. Benang dan jarum
3. Kain flanel
4. Kancing bungkus dan peniti
5. Lem tembak

Cara membuat:
1. Siapkan bahan-bahan seperti di atas.
2. Lipat kain menjadi setengah lebar ukuran.
3. Jahit jelujur.
4. Serut benang hingga membuat kain tertarik. Rapikan.
5. Jahit serutan kain pada kain flanel. Mulai dari sisi terluar ke sisi terdalam, dengan posisi melingkar.
6. Sembunyikan ujung kain perca ke dalam lingkaran.
7. Periksa semua jahitan. Pastikan tidak ada bagian kain yang belum terjahit.
8. Jahit kancing bungkus dibagian tengah.
9. Pasang peniti dengan bantuan lem tembak.



Tampil cantik kurang dari 30 menit? Bisa! ^_*

Minggu, 08 Februari 2015

Menu Anak Kost: Ayam Saos Teriyaki

Selamat hari minggu kawana dan kawani \o/

Wiken dan gak pulang, alhasil harus kembali memutar otak biar bisa tetep makan enak dengan modal dan tenaga yang minim #modusmales hahaha

Yah namanya juga anak kost cyin. Kudu ngirit maksimal. Bagi saya ngekost gak sekedar hidup pisah dari keluarga. Namun juga sebagai kesempatan bagi saya menata hidup menjadi lebih baik. Itung-itung belajar ngurus rumah setelah nikah lah hohoho

Mulai dari urusan cuci-cuci, masak dan bersih-bersih, semua dilakukan sendiri. Kalo males, ya langsung keliatan berantakan tuh kamar kost. Tempat melepas lelah malah jadi kaya sarang sampah. Ieww.. banget kan?

Duh jadi kebanyakan cing-cong. Lanjutlah bahas menu makanan wiken ini: Ayam Saos Teriyaki.

Bahan:
- 1/4 kg Ayam Rp 9.000
- 1 bungkus tempe Rp 2.000
- 1 bungkus cabe rawit merah Rp 2.000
- 1 bungkus saos Teriyaki Rp 2.000
- Minyak, saos sambal, garam dan penyedap rasa (stok bulanan)

Cara membuat:
1. Bersihkan ayam lalu potong kecil. Lumuri dengan garam. Goreng hingga kecokelatan. Sisihkan.
2. Potong-potong tempe. Goreng. Sisihkan.
3. Berdoa lah agar masakan kalian enak.
4. Panaskan minyak goreng. Tumis cabai rawit merah hingga harum. Masukkan 1 bungkus saos Teriyaki, 1 sendok makan saos sambal, sedikit air, garam dan penyedap rasa.
5. Masukkan ayam dan tempe goreng. Masak hingga air menyusut. Angkat.

Taraaaaaa!!!

Jadi deh Ayam Saos Teriyaki ala chef irit hahahah



Maaf ya kalo gambarnya gelap mirip kayak ayam kecap. Cahaya berkurang karena langit bogor lagi mendung banget #alasan

Dengan modal gak lebih dari Rp 15.000 kawana dan kawani udah bisa makan enak seharian lho. Yang penting jangan lupa masak nasi ya cyin.

Salam #AnakKostKreatif

Kamis, 22 Januari 2015

Menu Ala Anak Kost: Biskuit Goreng

Ceritanya mau coba sarapan dengan sesuatu yang berbeda. Berbekal saran dari salah satu rekan kerja, saya pun mencoba menu baru. Biskuit Goreng.

Bahan-bahan yang diperlukan:


1. Susu cair tawar secukupnya
2. 1 butir telur ayam
3. Biskuit sesuai selera
4. Garam dan penyedap rasa

Cara membuat:
1. Aduk telur ayam, susu cair dan penyedap rasa
2. Hancurkan biskuit dan rendam ke dalam adonan susu
3. Goreng hingga matang kecokelatan. Sajikan bersama saos sambal.



Salam #AnakakostKreatif

Selamat mencoba *_^

Rabu, 21 Januari 2015

Belajar Sabar Dari Menjahit

Lagi punya hobi baru: menjahit. Terdengar seperti ibu-ibu yak? Heheheh

Tingkat kemahiran saya dalam menjahit masih berada di level terbawah koq. Jadi jangan berharap akan melihat hasil karya saya yang menakjubkan hohoho

Menurut saya dengan belajar menjahit, secara tidak langsung kita juga belajar tentang ketelitian, keuletan dan yang jelas juga belajar kesabaran. Kan gak mungkin menjahit dengan terburu-buru. Hasilnya pasti berantakan. Setuju?

Penasaran gak dengan hasil karya saya? Penasaran dong #maksa hahah. Nih penampakannya

























Sabtu, 17 Januari 2015

Sang Pemancing Dan Kisah Tentang Ibu Jarinya

Sabtu pagi dalam perjalanan menuju haribaan kasih sayang yang sejak semalam kurindukan. Berharap terselamatkan dari dekap hampa berkepanjangan #mendadaksajak

Lebay! Hahahha

Seorang diri melakukan perjalanan menuju Tangerang membuat saya dapat berkhayal bebas selama kurang lebih tiga jam. Dan seringkali pikiran saya tertumpu pada nasihat atau cerita yang rajin dikisahkan oleh ibu. Dan kali ini saya ingin berbagi salah satu kisahnya.



Suatu hari berkumpullah beberapa pemancing di tepi sungai. Sambil bersenda gurau, mereka menyiapkan peralatan memancing dan satu per satu dari mereka mulai melemparkan umpan ke dalam sungai.

Hari beranjak sore, keramba (wadah penyimpan ikan dari bambu) pun telah penuh. Satu persatu pemancing memutuskan untuk pulang hingga hanya tersisa seorang pemancing.

Saat dia hendak mengambil alat pancingnya, seekor ular berbisa, entah dari mana, telah menancapkan taringnya di ibu jari sang pemancing. Dengan sigap sang pemancing melepaskan gigitan ular itu dari ibu jarinya. Lalu dengan dada yang masih berdegup, sang pemancing mengambil pisau dalam wadah pancingnya dan memotong ibu jarinya.

Jeritannya di senja itu menggema hingga ke penjuru desa. Dengan mata berurai, sang pemancing menyelipkan potongan ibu jarinya di dahan pohon di dekatnya lalu beranjak pulang.

Hari berlalu dan terus berlalu. Tak terasa tahun telah berganti sejak kejadian itu. Sang pemancing telah sembuh dari lukanya dan tetap bisa menyalurkan hobi memancingnya. Hingga suatu hari sang pemancing kembali ke tempat itu. Tepi sungai dimana dia pernah terpaksa kehilangan bagian tubuhnya.

Dia terkejut ketika mendapati ibu jarinya masih dalam keadaan yang sama. Masih seperti ibu jari miliknya dulu. Dengan wajah sumringah sang pemancing meraih potongan ibu jari lalu menempelkannya kembali di tempat dulu ia pernah berada.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu, tubuh sang pemancing terserang demam. Istri sang pemancing yang dikuasai takut membawa sang pemancing kepada tabib desa.

"Kapan terakhir kali dia pergi memancing?" tanya tabib setelah selesai memeriksa keadaan sang pemancing.

"Sudah lebih dari beberapa hari." jawab istri sang pemancing.

"Apakah dia menceritakan suatu peristiwa padamu?" tanya tabib lagi.

"Tidak satu pun. Apa yang terjadi pada suamiku?" tanya istri sang pemancing cemas.

"Bisa ular telah menyebar ke seluruh tubuh suamimu. Aku tidak tahu apakah obat yang kuberikan akan mampu menyelamatkannya atau tidak."


Bagai tersapu badai air laut lalu membawanya ke kedalamannya yang mematikan, istri sang pemancing terpaku diam di tempatnya. Air mata tak henti membasahi wajahnya. Memandang lemah pada gundukan tanah merah yang masih basah. Dibawah sana, tubuh sang pemancing telah terbaring untuk selamanya.

* * *

Pintarlah mengambil pelajaran dari masa lalu. Keputusan untuk kembali adalah mutlak pilihanmu, tapi pastikan bahwa tidak akan lagi ada hati yang patah atau terluka ;-)

Rabu, 07 Januari 2015

Malu Pada Semut Merah VS Malu Sama Kucing

Waktu berjalan. Zaman berubah. Nyari jodoh tetep aja susah #ehh #abaikan

Gak nyangka udah cukup lama saya hidup di dunia. Lebih dari seperempat abad! Yang pasti sih belum tweenty nine my age ya hehehe

Saya tuh suka (main) sama anak kecil. Apalagi anak balita. Kalo lagi sok-sok bijak, secara gak sengaja saya kadang membandingkan masa kecil saya dulu dan masa anak-anak sekarang.

Jaman saya, yang namanya main berarti main keluar rumah. Entah main sepeda, perang-perangan di kebon duren, kebon rambutan atau kebon-kebon yang lain. Pokoknya "kotor itu baik"-lah. Pernah juga jalan-jalan gak jelas tanpa arah dan tujuan. Buat kalian yang suka lewat jalan baru TB. Simatupang, saya sering main bola disana sebelum jalan tol itu dibuka hahaha

Saya mengilhami main sebagai kegiatan keluar rumah. Intinya ya ngumpul sama temen-temen. Bersosialisasi. Bukan memandang geram pada layar monitor karena skor flappy bird yang gak nambah-nambah jadi 3 hohoho

Sayang, kondisi saat ini merubah mindset main menjadi terlalu sempit. Identitas main saat ini berkutat pada game, baik di komputer, iPad, tablet dan ponsel.

Jujur saja, saya rindu mendengar teriakan anak-anak yang berlari di sepanjang gang saat bermain. Rindu mendengar celoteh mereka saat bercerita tentang kejadian-kejadian di sekolah, bukan cerita cowo atau cewe yang mereka taksir. Bukan pula cerita tentang sinetron romantisnya mereka yang berpakaian seragam sekolah dan menghisap darah.

Saya bahkan rindu mendengar senandung sahur yang bersahutan kala Ramadhan. Rindu. Rindu sekali..

Duh, gak mau nangis ah. Malu sama kucing :P