Minggu, 03 Agustus 2014

Mesin Jahit: Kado Ulang Tahun

Yeay! Happy Ied Mubarak, kawana dan kawani ^_*

Ceritanya punya mainan baru nih! Heheh.. Sebelumnya barakallah fii umrik untuk saya sendiri. Semoga di usia yang semakin dewasa (tua) perlindungan serta kasih sayang Allah senantiasa tercurah. Aamiin Allahumma Aamiin..

Selama ini sih (di keluarga) gak pernah menganggap spesial hari lahir. Jadi judul di atas ya di pas-pas-in ajah hehehe

Pas lagi libur lebaran kemarin, tiba-tiba terlintas pengen punya mesin jahit. Sempet ada yang tanya "buat apa", setahu saya sih mesin jahit ya buat menjahit. Kecuali di tahun 2014 mesin jahit bertambah fungsi untuk masak \^o^/

Jadilah saya meluncur ke Ace Hardware (Margonda-Depok) dan mencari mesin jahit. Lalu.. Tadaaaaaa.. Tengok penampakannya..



Lucu ya? Lucu..

Mesin jahit mini ini bermerk Kris dan memiliki 7 pola jahit; 1 pola jelujur dan 6 pola zigzag. Memiliki 2 tipe kecepatan; sedang dan cepat. Dapat hidup dengan 2 cara; dengan 4 buah batrai A2 atau dengan adaptor (sudah termasuk dalam paket pembelian). Dan memiliki 3 jenis kerapatan jahit. InsyaAllah dengan mesin jahit ini, walau mini membawa manfaat yang agak besar. Hitung-hitung persiapan menjahit baju (calon) suami yang robek, ya? Iya. Hehehe

Sejauh ini, Kris sudah memperbaiki 3 buah baju. Alhamdulillah lancar. Oiya ada sedikit tips nih yang mungkin membantu..

Terjadi benang kusut di belakang jahitan jika alur benang sesuai dengan petunjuk (dari no 1-5). Jadi saya melakukan eksperimen dengan melewati lubang no 5 dan langsung memasukkan benang ke lubang jarum (dari lubang no 4). Hasilnya: SEMPURNA!

Mari belajar ^^

Sabtu, 02 Agustus 2014

Kisah Laki-Laki Pengecut

Ini masih bulan Juni namun beberapa waktu belakangan hujan sering turun sejak pagi. Pun seperti hari ini, mendung menyebar di sepanjang mata memandang. Angin dingin dan basah mendesau membelah udara.

Aku merapatkan jaket yang membelit tubuhku. Ku lirik jam tanganku, sudah lima belas menit lewat sejak aku datang ke kafe ini. Menunggu seseorang. Di hapadanku, dua cangkir cappucino panas masih terus mengepulkan uapnya.

Tring!

Suara bel di atas pintu kafe membuatku mendongak. Mencari tahu siapa yang datang. Seorang laki-laki berkemeja putih panjang berjalan memasuki ruangan. Aku menarik napas.

"Hai.." sapanya. Aku tersenyum seraya mengangguk.

"Sudah lama menunggu?" tanyanya lagi. Aku menggeleng seraya menyorongkan salah satu gelas cappucino mendekat padanya.

Tuhan, sungguh aku sangat merindukan wajah ini. Tatapannya yang seakan berlari walau saat aku berada tepat di hadapannya. Atau senyumnya yang mengembang di setiap akhir kalimat yang diucapkan. Tuhan, sudah lama sekali sejak terakhir kulihat wajah ini..

"Apa kau sadar bahwa belakangan ini langit selalu saja mendung dan hujan hampir setiap hari turun? Cuaca terasa sangat buruk." dia menggeleng seraya menyeruput minumannya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya.

"Oiya, ada yang ingin kusampaikan.. " laki-laki di hadapanku mencari sesuatu di tasnya.

".. Ini.." katanya saat menyorongkan sebuah kertas berwarna ungu muda. Aku tersenyum kecut.

"Selamat.." kataku.

"Bukan itu yang ingin kudengar darimu.."

Aku menatapnya. Berusaha mencerna kalimatnya.

"Mengapa kau tak melarangku? Tidakkah kau berniat mengatakan sesuatu saat mendengar bahwa aku akan menikah dengan orang lain?" cecarnya.

Aku hanya diam dan menatap jauh ke dalam matanya yang berlari liar. Merasa menemukan kegelisahan tak berkesudah disana.

"Mengapa kau diam, Dis? Kau tidak tuli, jadi jawablah aku!"

"Pengecut.."

Matanya melebar saat mendengar ucapanku barusan. Wajahnya menegang. Aku menyeruput minumanku dengan santai.

"Mengapa harus aku yang memulai? Bukankah kau yang tak mau jujur terhadap perasaanmu? Lalu mengapa kau menyalahkanku atas keputusan yang kau ambil sendiri? Kau benar-benar pengecut!" jawabku.

"Gadis.."

"Kau terlalu gengsi untuk bertanya sehingga menyibukan hatimu dengan prasangka. Seharusnya kau datang dan mengatakan apa yang kau harapkan. Dasar laki-laki pengecut!" aku bangkit dari duduk dan bersiap melangkah meninggalkan kafe ketika sebuah tangan menahan langkahku.

"Tidakkah kau sadar apa yang telah kau katakan, Dis? Tidakkah masih ada cinta di hatimu, untukku?"

"Itu semua sudah tidak penting lagi sekarang. Ini keputusan besar yang kau ambil sendiri, sayang aku bukan lagi bagian dari keputusan itu. Selamat menempuh hidupmu yang baru." kusentakkan tanganku dan mulai berjalan.

Langit masih saja menyirami bumi dengan bulir airnya. Aku berlari mencari perlindungan dari siraman air hujan. Aku melirik jam tanganku dan memutuskan untuk tetap berlari ke depan.