Kamis, 17 Juli 2014

Saat Cinta Memilih Diam

Aku menoleh pada langit yang hampir gelap sempurna. Jarum di jam dinding menunjukkan pukul lima lewat lima puluh menit. Di ruangan ini hanya tinggal aku seorang diri, menulis pada setumpukan berkas yang sudah harus diserahkan esok pagi. Ah, ku angkat kedua tanganku tinggi-tinggi dan menghela napas.

"Kamu belum pulang?" sapa suara seorang laki-laki.

Aku menoleh.

"Belum, Pak. Sebentar lagi." jawabku layaknya berdoa.

Laki-laki itu duduk sambil memainkan ponselnya, tak jauh dari tempatku. Pak Arka berusia sekitar empat puluh tahun dengan dada yang tegap dan tinggi lebih dari 180cm. Kulitnya berwarna gelap dan selalu tampil dengan potongan rambut ala Sahrukh Khan yang membuat garis wajahnya memancarkan aura tersendiri yang menarik hati.

"Apa yang sedang kamu tulis itu?" tanya Pak Arka.

"Berkas SPKL, Pak. Harus diserahkan besok pagi." jawabku seraya meletakkan tangan di tumpukkan SPKL yang telah selesai.

"Kamu seperti tidak pernah kehabisan semangat ya, Dis. Seharian bolak-balik area produksi dan jam segini masih setia menyalin SPKL. Semoga besok kamu gak sakit." ujar Pak Arka. Tersenyum.

"Andai Bapak bersedia menggantikan tugas saya menyalin SPKL, saya dengan senang hati bersedia pulang sekarang juga." godaku seraya memiringkan tubuhku ke arah Pak Arka. Lalu kami berdua tertawa.

Saat aku menghirup napas, seketika saja paru-paruku dipenuhi oleh harum tubuh Pak Arka yang selalu membuatku serasa ingin memeluknya. Ya Tuhan, sepertinya aku harus menampar diriku sendiri.

"Masa kecil kamu mungkin sangat bahagia ya, Dis? Kamu terlihat seperti tidak memiliki beban hidup. Selalu penuh semangat. Sering tertawa dan menyapa dengan suara riang. Kamu itu, unik." ujar Pak Arka. Aku tersenyum.

"Saya bukan makhluk sempurna, Pak. Sama seperti yang lain, saya pun memiliki masalah saya sendiri. Mungkin bedanya, karena saya memilih untuk berusaha untuk lebih banyak bersabar dan bersyukur. Hidup sudah cukup sulit, Pak. Namun dengan tersenyum dan tertawa, setidaknya kita bisa menciptakan hidup sederhana yang akan tampak sedikit lebih mudah untuk dijalani." jawabku sambil terus menulis.

"Dimana kamu menghabiskan masa kecilmu?"

"Disebuah kampung kecil di daerah pinggiran Jakarta. Dengan surau di perbatasan kampung dan sungai kecil penuh ikan yang mengalir tak jauh dari tanah pekuburan." aku menyeringai pada Pak Arka. Dia tertawa.

"Bagaimana masa kecilmu?"

Aku menatapnya selama beberapa detik. Mencari maksud yang terkandung dalam pertanyaannya. Namun wajahnya yang masih menyisakan senyum membuatku harus buru-buru memalingkan pandangan kembali ke tumpukan berkas di mejaku.

"Bagaimana masa kecilmu?" tanyanya lagi.

"Sebagai seorang anak kecil, masa lalu saya cukup sulit.." aku berhenti menulis. Meletakkan penaku dan menyandarkan punggung yang seketika saja terasa lelah.

Sejurus, aku menatap Pak Arka dan mendapatinya tengah memandangku penuh tanya. Aku tersenyum kecut. Menyadari betapa menyedihkannya diriku dulu. Aku menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengingat lagi bagaimana dulu aku pernah begitu lemah.

"Sejak usia dua tahun, saya di asuh oleh orang tua angkat. Siapa pun yang melihat kami akan mengatakan betapa beruntungnya saya berada dalam asuhan mereka. Ayah angkat saya adalah pria yang tegas, namun sangat lembut dan penuh kasih. Beliau sangat memperhatikan kebutuhan saya dan selalu memenuhi permintaan saya. Semuanya berjalan seakan sempurna. Namun mereka tidak pernah menyadari satu hal.." aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

"Entah apa yang sebenarnya terjadi, namun setiap kali ayah saya tak berada di rumah, ibu angkat saya akan berubah sikap. Dia seringkali marah dengan alasan tak jelas, memaki dan menyumpahi saya dengan ucapan yang tak pantas di dengar oleh seorang anak. Tuduhan-tuduhannya seringkali membuat saya terpojok dan kehilangan kepercayaan diri. Saya mengalami penyiksaan fisik dan mental di setiap hari yang saya lalui, dan pada akhirnya mental saya hancur dan mulai mempercayai semua ucapannya."

"Apa yang dia katakan padamu saat itu?" tanya Pak Arka.

"Bahwa saya hanyalah makhluk bodoh dan buruk rupa, yang tak pantas berteman dengan siapapun dan tak pantas untuk hidup. Tubuh saya berbau busuk dan semua ucapan saya adalah bohong. Semua orang membenci keberadaan saya." aku menunduk dan menangis tersedu-sedu.

"Apa yang telah ia lakukan padamu, Dis?" suara Pak Arka bergetar.

Aku menggeleng. Hampir tak sanggup berkata-kata.

"Saya tidak sanggup untuk menceritakannya, Pak. Bahkan orang tua kandung saya pun tidak tahu akan hal ini. Saya takut mereka sedih, Pak." ujarku di sela-sela tangis.

"Gadis.."

"Saya malu, Pak.." aku menyerah dan membiarkan wajahku basah oleh air mata yang kusimpan selama bertahun-tahun. Tuhan, apa aku sudah kalah?


- - - - - * * * * * - - - - - * * * * *

"Kamu, gadis yang ada di hadapanku yang kini sedang menangis tersedu-sedu. Tak seperti biasanya, hari ini aku melihatmu begitu lemah dan rapuh. Rasa iba menyusup dan meremas-remas jantungku. Gadis, hampir saja aku menarikmu dalam pelukku, agar dapat kuhapus air matamu dan menenangkan badai di hatimu. Hampir saja kutangkupkan kedua tanganku pada wajahmu agar dapat kuenyahkan segala sedih dan kesakitan yang masih menjeratmu hingga kini. Hampir saja kukecup keningmu agar berhenti isak tangismu yang membuat tubuhku seakan disayat ribuan sembilu.Hampir saja, Dis. Hampir saja. Sampai kemudian kulihat kilau cincin di jari manis tangan kananku. Gadis, maafkan lah aku yang memilih untuk tetap diam sedang mataku memandangmu menangis sendirian.."

Jumat, 04 Juli 2014

Curhat: Saya dan Mereka bag 2

Yap banyak banget peristiwa yang terlewat selama beberapa hari gak ngeblog. Yang pertama dan paling utama adalah Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa, kawana dan kawani. Mohon maaf lahir bathin..

Setelah kesabaran saya dalam menghadapi tetangga kost yang cukup mengganggu, akhirnya saya mendapat tempat kost baru dengan suasana yang lebih nyaman. Alhamdulillah.. Proses pindah kost berjalan sangat lancar. Saya dapat kabar di hari kamis dari salah satu karyawan bagian produksi (Pak Manan) bahwa di tempat kostnya ada kamar yang kosong. Hari Sabtu, saya di bantu Pak Manan, akhirnya pindah. Cukup 2 kali angkut barang, lalu selesai. Kamar kost baru saya terletak di lantai dua dengan pemandangan sunset. Romantis, ya? Hehe.. Terima kasih yang teramat banyak pada Pak Manan.

Waktu ngobrol-ngobrol sama Bapake saat jam istirahat, saya iseng-iseng minta dibuatkan kompor dari kaleng bekas minuman. Awalnya sih dia seperti enggan meng-iya-kan tapi ternyata tetap di kerjain juga hahah. Nih penampakannya



Ini adalah penampakan percobaan dengan alkohol 70%



PRnya sekarang cuma beli wajan sama sutil aja. Atau ada yang mau nyumbang? Hehehe

Oiya, ricecooker sempat rusak selama seminggu. Sekarang udah "sehat" lagi berkat team maintenance. Cukup beli fuse 5A seharga lima ribu rupiah. Terima kasih pada Pak Nurdin atas kerjasamanya hehe

Lalu selanjutnya, terimakasih pada Mas Bagus yang sudah bersedia menyisihkan uangnya untuk mengirimkan oleh-oleh kaos dari Belanda untuk saya. Kejutan siang yang sungguh menyenangkan. Alhamdulillah.

Lanjut, terimakasih pada Ibu Vanda yang telah bersedia mensupport catering untuk anak kost malang ini *nunjuk diri sendiri* hahaha

Lalu yang terakhir, ijinkan saya meminta maaf pada mas-mas tetangga kost yang dulu karena pindah tanpa pamit. Semoga kalian betah ya..