Minggu, 22 Juni 2014

Galau Jam 7 Pagi

Duh! Saat perut lapar namun tukang nasi uduk langganan gak jualan adalah galau tingkat kelurahan bagi anak kost macam saya.

Sedang saya yang menganut paham "Pantang Gak Sarapan" merasa harus mencari ide lain untuk mengganjal perut yang udah keroncongan sejak semalam. Lebay! Sambil berjalan ke depan tanpa kejelasan gak sengaja ketemu tukang sayur. Tring!

Dengan PeDe langsung pilih-pilih bahan makanan yang bisa sekalian untuk sarapan. Kebetulan masih ada telor di kamar kost. Jadi setengah kilo kentang ( 6 ribu), 4 tomat ukuran mini (2 ribu), sebonggol jangung (3 ribu) dan minyak goreng ukuran 215ml ( 2 ribu) jadi pilihan saya. Total belanja saya sebenarnya 13 ribu, tapi kemudian di diskon seribu sama kang sayur. Saya bilang gak jadi beli kentang karena uangnya kurang. Eh kang sayur bilang bayar 12 ribu aja. Thank's a lot, kang!

Pulang ke kost dengan perasaan gembira luar biasa. Langsung cuci kentang trus di rebus (sekitar 15 menit). Setelah itu masak telur orak arik dengan irisan tomat. Oiya, semua proses memasak saya lakukan dengan ricecooker, ya. Cek penampakannya nih:



Nikmati dengan tambahan saos cabai (punya saya Delmonte extra hot). Minumnya kapal api grande. Cuci mulutnya pisang sunpride. Mantab gan!

Selamat sarapan! Salam #AnakKostKreatif ^_*

Minggu, 08 Juni 2014

Dosti: Sebuah Kenangan di Sekolah

Awalnya sih gak ada ide mau nulis apa walau pengen posting sesuatu di blog. Lalu pagi ini sambil sarapan roti bakar dan segelas susu, saya mampir pada beranda facebook yang sudah cukup lama terlupakan. Dan ide itu pun datang..

Namanya Dosti, salah satu teman SLTP saya. Mengingat namanya yang agak tidak umum, seingat saya dia keturunan Bugis *mikir*. Kulitnya putih hampir bening hingga urat berwarna hijau terlihat jelas di kulitnya, rambutnya lurus dan berwarna cokelat terang, matanya sendu dan berwarna cokelat gelap. Namun sebagai seorang laki-laki, Dosti bertubuh amat sangat mungil. Lebih kecil dari seorang anak perempuan di usia belasan.

Mengingat tubuhnya yang mungil, Dosti gak pernah menang kalo berantem fisik bahkan mulut dengan sesama teman. Jika sudah terpojok, biasanya dia akan lari dan naik ke atas bangku. Berusaha mencari jalan untuk melarikan diri lebih jauh. Lalu saat semuanya seakan belum terlalu lucu untuk di tonton, Anton, teman lain yang bertubuh tinggi dan besar akan datang "menyelamatkan" Dosti dari kejahatan. Anton akan menggendong Dosti keliling kelas!

Seingat saya sih Dosti akan teriak-teriak waktu digendong karena kejaran teman-teman lain. Nah jika sudah berlari cukup jauh, biasanya Anton akan putar arah kembali ke kelas dan mendudukan Dosti di atas meja. Lalu saat Dosti belum sempat turun dari meja, teman-teman lain akan datang mengerubungi dan menggelitiknya. Pokoknya kocak! Haha..

Gak berhenti tersenyum saya saat menulis kisah ini..

Zaman telah berganti dan waktu tidak pernah berhenti. Kini Dosti sudah benar-benar berubah. Pak ustadz Dosti kini berkulit agak gelap dan bertubuh cukup tinggi. Dalam kesehariannya Dosti sering melontarkan kalimat-kalimat yang terkesan nyeleneh namun sesungguhnya mengandung makna yang lebih dalam. Sindirannya pun cukup halus namun mengena dihati. Dan sampai saat ini, Dosti masih menjadi salah satu sahabat terbaik saya di FB.

Dosti, terima kasih atas salah satu kenangan paling lucu dalam hidup saya. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya ^_*

Dosti: Sebuah Kenangan di Sekolah

Awalnya sih gak ada ide mau nulis apa walau pengen posting sesuatu di blog. Lalu pagi ini sambil sarapan roti bakar dan segelas susu, saya mampir pada beranda facebook yang sudah cukup lama terlupakan. Dan ide itu pun datang..

Namanya Dosti, salah satu teman SLTP saya. Mengingat namanya yang agak tidak umum, seingat saya dia keturunan Bugis *mikir*. Kulitnya putih hampir bening hingga urat berwarna hijau terlihat jelas di kulitnya, rambutnya lurus dan berwarna cokelat terang, matanya sendu dan berwarna cokelat gelap. Namun sebagai seorang laki-laki, Dosti bertubuh amat sangat mungil. Lebih kecil dari seorang anak perempuan di usia belasan.

Mengingat tubuhnya yang mungil, Dosti gak pernah menang kalo berantem fisik bahkan mulut dengan sesama teman. Jika sudah terpojok, biasanya dia akan lari dan naik ke atas bangku. Berusaha mencari jalan untuk melarikan diri lebih jauh. Lalu saat semuanya seakan belum terlalu lucu untuk di tonton, Anton, teman lain yang bertubuh tinggi dan besar akan datang "menyelamatkan" Dosti dari kejahatan. Anton akan menggendong Dosti keliling kelas!

Seingat saya sih Dosti akan teriak-teriak waktu digendong karena kejaran teman-teman lain. Nah jika sudah berlari cukup jauh, biasanya Anton akan putar arah kembali ke kelas dan mendudukan Dosti di atas meja. Lalu saat Dosti belum sempat turun dari meja, teman-teman lain akan datang mengerubungi dan menggelitiknya. Pokoknya kocak! Haha..

Gak berhenti tersenyum saya saat menulis kisah ini..

Zaman telah berganti dan waktu tidak pernah berhenti. Kini Dosti sudah benar-benar berubah. Pak ustadz Dosti kini berkulit agak gelap dan bertubuh cukup tinggi. Dalam kesehariannya Dosti sering melontarkan kalimat-kalimat yang terkesan nyeleneh namun sesungguhnya mengandung makna yang lebih dalam. Sindirannya pun cukup halus namun mengena dihati. Dan sampai saat ini, Dosti masih menjadi salah satu sahabat terbaik saya di FB.

Dosti, terima kasih atas salah satu kenangan paling lucu dalam hidup saya. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya ^_*

Kamis, 05 Juni 2014

Curhat: Saya dan Mereka

Duh, banyak banget yang mau di ceritain tapi semuanya gak terlalu penting buat di ceritain hahaha

Udah sebulan sejak re-struktur posisi terjadi di kantor dan saya yang kemudian punya atasan dan anak buah baru dimana semuanya adalah laki-laki. Saya dengan pembawaan yang kelewat ceria, alhamdulillah bisa membawa diri dan membaur dengan mereka. Gak jarang saya diajak ngerumpi sol sepatu sama as roll *abaikan*.

Atasan saya yang lama bilang saya jadi idola bagi bagian produksi (masa?). Mungkin karena beberapa kali beliau mendapati orang bagian produksi yang melambai atau menyapa saya sambil tersenyum. Bahkan ada juga yang hanya menyapa saya setiap kali mereka masuk ke ruangan (ahayy.. Asik asik joss!)

Bapake (sebutan untuk atasan saya yang baru) bilang saya terlalu banyak tertawa. Bukankah hidup kita sudah cukup berat, tidak ada salahnya mensyukuri apa yang kita miliki saat ini dengan membuat hidup menjadi tampak lebih mudah untuk dijalani, kan? Jawaban saya kala itu. Tapi terlepas dari pendapatnya terhadap saya yang terlalu banyak tertawa, hubungan kami bisa di bilang cukup dekat secara profesional. Kami selalu berusaha mencari jalan terbaik untuk setiap hal yang kami anggap tidak sesuai. Pun keresahan saya pada salah satu anak buah Bapake yang saya anggap terlalu bossy pada orang-orang bagian produksi tapi tidak pernah punya keberanian untuk membuat keputusan.

Dan puncak dari terbangunnya chemistry (cieeelaahh..) di antara kami adalah kemarin tanpa sadar kami memakai baju dengan warna yang senada: biru tua. Kami hampir saja melakukan wefie sebagai bukti andai aja Bapake gak pasang muka bingung karena gak ngerti arti wefie xixixixi

Sebagaimana Bapake pernah mengatakan cinta pada saya karena instruksi kerjanya dapat dimengerti dan diselesaikan dengan baik, saya pun menyayanginya seperti kakak saya sendiri (yah walau beliau mungkin gak sudi punya adik kaya saya hahaha).

Ada sih yang rada ganggu dimana saya mulai digosipin dengan salah satu operator bagian produksi (duh!). Adalah menjadi tugas saya untuk selalu memastikan kebenaran laporan yang ada di meja setiap pagi, dan saat ada sesuatu yang kurang jelas maka saya pasti akan mengkonfirmasi pada petugas operator yang membuat laporan produksi. So, bagaimana saya harus menjaga jarak? Hari ini, untuk meredakan gosip yang beredar, saya meminta agar Bapake yang mengkonfirmasi laporan produksi. Semoga sih untuk seterusnya Bapake mau membantu saya (ngarep hahaha).

Segitu dulu ah cerita saya hari ini ^_*