Jumat, 30 Mei 2014

Lana: Sang Striker

"Gooooool...."

"Ya ampun.. Lana mainnya keren banget!" ujar seorang anak perempuan usia belasan.

"Pokoknya cinta banget sama Lana!" ujar anak perempuan di sebelahnya.

Lana, bintang sepak bola setingkat RT itu berlari mundur seraya melambai pada beberapa anak perempuan yang menonton di pinggir lapangan. Beberapa di antaranya melompat-lompat kegirangan.

- - - - - * * * * * - - - - -

"Katanya besok ada mau ngajak tanding bola, Bang?" tanya Uwi, adik perempuan Lana, saat kami melintasi kebun salak selepas permainan.

"RT sebelah. Katanya sih mereka punya jagoan baru." jawab Lana.

"Jagoan baru? Siapa ya kira-kira? Mereka kan udah lama kalah tanding mulu sama kita." sahutku.

"Gak tau deh. Yang jelas kita tetap harus waspada untuk pertandingan besok." jawab Lana.

"Betul! Eh, pada ngaji gak?" tanyaku.

"Ngajilah. Mau disabet Kong Duloh?" jawab Lana. Aku dan Uwi saling pandang sambil nyengir.

- - - - - * * * * * - - - - -

Lana berlari ke tengah lapangan setelah menenggak habis air mineral botol yang tadi disodorkan Uwi. Rambutnya yang basah menjuntai menutupi seluruh dahinya yang bersih. Sorak sorai teriakan anak-anak perempuan ddi pinggir lapangan menggema di sekitar kebon durian.

Lana bersiap menendang bola ke gawang setelah operan dari Dani. Napasnya turun naik secara teratur, tatapan matanya fokus. Lalu tiba-tiba semua seakan bergerak secara lambat.

Beberapa anak laki-laki usia belasan berjalan dari arah kebun bambu, batas wilayah dari RT sebelah, ke arah lapangan tempat kami bermain. Semua wajah yang telah kami kenal lama, mereka yang selalu bermain kasar dan curang. Pakaian mereka memang selalu lebih bagus dari kami. Tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda dengan mereka.

"Lan, sesuai janji. Kita tanding hari ini." ujar Eko, ketua sepak bola RT sebelah.

"Siap." ujar Lana.

"Dan ini, kenalin jagoan baru kita. Teguh."

Seorang anak laki-laki dengan rambut gondrong, berbaju merah, bercelana cokelat susu, memakai tiga buah karet gelang di tangan kanan dan tanpa mengenakan sandal menjabat tangan Lana. Kami semua terdiam. Siapa dia?

Teguh berjalan menjauh. Lana menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar formasi berubah. Pertandingan baru akan dimulai ketika Teguh mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan meminum isinya. Minyak kayu putih.

Pertandingan berlangsung seru walau nyamuk kebon sebesar buah buni mengincar kaki-kaki kecil kami. Aku dan Uwi bersandar pada akar pohon rambutan dengan batang sebesar badan orang dewasa. Beberapa anak perempuan mengambil tempat duduk di seberang kami. Bersandar pada bale-bale di bawah pohon mangga.

Teguh benar-benar menguasai permainan, sedang Lana yang yang sudah menguras tenaganya di permainan sebelumnya nampak kelelahan. Lalu di lima menit berikutnya, semua kekhawatiran kami terjawab.

"Heh! Pada gak ngaji, Luh?" kami semua menoleh pada sumber suara.

Seorang pria tua dengan pakaian ala bangsawan Betawi mengacungkan tongkat berukir burung rajawali berwarna cokelat ke arah kami. Kong Duloh! Keramaian seketika bubar.

- - - - - * * * * * - - - - -

Beberapa hari setelah pertandingan bola antar RT, kami menyadari satu hal: tidak ada lagi anak-anak perempuan yang mengelu-elukan nama Lana. Tidak ada lagi lirikan sembunyi-sembunyi ke arah anak laki-laki bertubuh kurus dan berkulit bersih itu. Kami kalah dan dia seperti terlupakan..

Lana nampak murung. Tidak ada lagi kebanggaan yang terpancar di wajahnya atau dari cara dia berjalan. Hingga suatu hari aku melihatnya duduk termenung di salah satu tiang mushala tempat kami mengaji.

"Kenapa Lan?" tanyaku.

"Ini gak bisa dibiarin, Ndah. Harus ada yang bertindak." ujar Lana tak jelas.

"Maksudnya?"

"Teguh. Kita harus datengin Teguh." jawab Lana dengan mata berapi-api.

"Teguh? Si anak minyak kayu putih? Mau ngapain?" tanyaku ragu.

"Ah, dasar cewek. Banyak tanya." ujar Lana sambil meninggalkanku.

"Dasar cowok, suka gak jelas." jawabku kesal.

- - - - - * * * * * - - - - -

Teguh melemparkan batu-batu kecil pada pohon kecapi kecil, dikelilingi beberapa anak laki-laki dan perempuan. Merasa seperti idola di kampung yang baru dia tempati. Lana, aku dan Uwi berjalan mendekati kerumunan itu.

"Teguh.." panggil Lana.

Teguh menghentikan lemparannya dan menoleh pada kami. Wajahnya terasa ramah.

"Bagaimana jika kita bergabung?" tawar Lana.

Aku dan Uwi saling pandang. Kaget. Aku merasakan anak-anak lain juga merasakan hal yang sama.

"Oke.." Teguh menjabat tangan Lana seraya tersenyum.

Minggu, 18 Mei 2014

Saat Aku Kembali

Kujejak lagi tanah basah ini. Dihadapanku terhampar rerumputan berwarna hijau segar dan warna warni bunga. Segera kupenuhi paru-paruku dengan udara beraroma manisnya rumput yang baru dipotong. Kicau burung pada ranting-ranting pohon memenuhi telingaku bagai nyanyian yang mendamaikan hati. Semilir angin lembut nan sejuk meniupkan helai rambutku yang tergerai hingga punggung. Gaunku bersuara kebat lembut dan membuatku hanyut.

Kurentangkan kedua tanganku. Kupejamkan mata dan membiarkan tubuhku dihujani sinar matahari yang terasa bagai pelukan hangat seorang ibu. Ahh.. Aku merindui hari-hari seperti ini.

"Ayo.." suara lembut di telingaku membuyarkan lamunan dan kehanyutanku.

Saat aku menoleh, sebuah cahaya menyilaukan menerpa wajahku, membuat pandanganku menjadi bias. Mataku menyipit dan tanpa sadar kuangkat tanganku untuk menutupi setengah wajah namun tetap tak membantu.

"Ikuti aku.." cahaya itu menjauh.

"Mau kemana kita?" tanyaku seraya berlari mengikuti kemana cahaya pergi.

"Kemana lagi? Tentu saja menuju tempatNYA" jawab suara itu.

"DIA? Seperti apa DIA? Ceritakan padaku." pintaku disela-sela langkah yang terburu.

"Tidakkah kau juga mengenalNYA seperti aku mengenalNYA?"

"Tidak.. Tidak.. Kau telah lama tinggal bersamaNYA. Sedang aku? Aku pernah melangkah terlalu jauh dan meninggalkanNYA." ujarku ragu.

"Lalu apakah kau melupakanNYA?" tanyanya lagi.

Langkahku terhenti. Jemariku menyentuh ujung rerumputan hijau. Aku menundukkan kepala. Sesuatu yang aneh menjalari seluruh tubuhku, "MelupakanNYA? Bagaimana mungkin?"

"Bagaimana perasaanmu saat jauh dariNYA?" tanya cahaya itu.

"Entahlah. Seperti ada sesuatu yang hilang.. Aku merasa hampa.." mataku masih tertumpu pada rerumputan hijau. Ingatanku pergi menjauh.

"Lalu apa yang kau lakukan?" tanyanya lagi.

"Aku kembali.." aku mendongak, menatap cahaya itu.

"Lalu apa yang kau temukan setelah itu?"

"Aku merasa hidup. Tenang dan damai. Aku seperti menemukan kembali diriku yang sesungguhnya." ujarku seraya tersenyum.

"Begitukah? Itu yang kau rasakan?"

"Entahlah.." aku menggeleng, ".. Tapi seingatku rasanya hampir seperti itu." aku menatap cahaya itu.

"Seperti dulu kau pernah tinggal bersamaNYA, seperti itulah DIA yang kini kukenal. Tak pernah berubah. Penuh kasih dan sayang, lembut dan menentramkan. Disanalah kita kembali. KepadaNYA lah kita sekarang menuju."

Aku bergeming, "Apa DIA akan menerimaku lagi setelah semua kesalahan yang pernah kulakukan? Apakah..?"

"Jika kau meragukan kasih sayang dan ampunanNYA padamu, lalu kemanakah kau akan melarikan diri? Kemana kah kau akan pergi?"

Aku menatap cahaya itu. Meresapi kata-katanya. Merasa seperti diperas dan kehabisan napas.

"DIA tidak akan membawamu ke tempat ini jika tak menginginkanmu kembali. Ayo Nak, DIA sudah menunggumu."

Aku menarik napas lagi. Cahaya bergerak pelan dan seperti terhipnotis kaki ku pun ikut melangkah.


NB: Saya adalah manusia penuh salah dan lemah, kurang ilmu dan pemahaman. Cerita di atas hanya ilustrasi.

Review: House of Night



Sekolah penyempurnaan vampir? Tentang apa lagi ini?

House of Night bercerita tentang awal bagaimana seseorang bisa menjadi vampir dan sekolah untuk mempersiapkan seorang calon vampir hingga menjadi vampir dewasa. Tidak seperti yang selama ini terpatri dalam otak kita bahwa menjadi vampir disebabkan karena gigitan (serum vampir pada gigi) vampir, mereka yang kelak akan menjadi vampir hanyalah mereka yang terpilih untuk menjadi vampir. Mereka akan mendapat sebuah tanda gurat di dahinya seperti bentuk bulan sabit yang akan menjadi sempurna seiring kesiapannya menjadi vampir dewasa.

Adalah Zoey, gadis enam belas tahun, baru saja memutuskan kembali ke loker untuk mengambil buku geometri ketika seorang -entah harus menyebutnya apa- zombie, berbicara padanya dalam bahasa kuno. Tadinya dia tidak menyadarinya hingga dia merasakan ada sesuatu yang menggelitik dahinya. Dia mendapat Tanda.

Mereka yang mendapat Tanda seharusnya segera diantar ke House of Night, sekolah khusus vampir, karena jika tidak maka mereka akan mati karena sakit. Tapi bukannya diantar ke House of Night, orang tua Zoey malah memanggil pendeta dan memulai doa berantai. Zoey mengambil keputusan, dia kabur.

Pelarian Zoey adalah ke rumah sang nenek yang dia percaya akan selalu membantunya. Saat tiba di rumah sang nenek, Zoey menemukan secarik kertas yang bertuliskan bahwa nenek sedang berada di ladang bunga lavender. Dalam perjalanan mencari sang nenek, Zoey mengalami kecelakaan yang membawanya pada peristiwa yang menjadikannya istimewa dan luar biasa. Saat tersadar, Zoey telah berada di sekolah barunya. House of Night.

Seperti novel-novel bertema sama, sang tokoh utama tentu saja istimewa, dibicarakan (dan hampir dibenci) semua orang, ada seseorang yang akan menjadi musuh utama namun juga memiliki beberapa teman setia yang lucu, pintar dan menyenangkan. Jangan khawatir, kita akan menjumpainya disini. Tapi yang bikin iri adalah mata pelajaran di sekolah vampir ini keren banget!

Zoey memang berbeda, dia sangat istimewa. Dan Tandanya adalah sebuah tanda yang mengisyaratkannya dengan jelas. Jadi gak usah heran kalo ada cowok vampir paling cakep dan populer tiba-tiba suka sama dia dan ngajak dia kencan atau Zoey yang bisa memegang kendali dan menghentikan sebuah kekacauan atau bencana besar. Itu juga akan kita temui disini. Sayang, cerita House of Night bersambung di novel berikutnya.

Oiya, walau di dalam novel terdapat beberapa ritual yang melantunkan mantra (yang katanya) dalam bahasa kuno, kalimat mantra tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia terdengar cukup indah dan bijaksana. Menjadi salah satu poin yang saya suka.

Secara keseluruhan novel ini cukup menyenangkan dan karena saya sedang berbaik hati, tiga bintang boleh lah disematkan padanya ^_*

Jumat, 16 Mei 2014

Perempuan Muda di Warung Kopi

Malam telah turun sempurna. Udara cukup sejuk untuk tetap berada di luar rumah. Seorang perempuan muda duduk menyandar pada salah satu tiang warung kopi di depan gang. Kepulan asap rokok diantara jemari kecil dan lentik meliuk-liuk bagai tarian sedih dari hatinya yang gelisah.

Matanya berkali-kali melirik layar ponsel berharga dua ratus ribuan hasil mengumpulkan uang semalaman. Seorang teman menyarankannya membeli ponsel di sebuah pasar malam. Perempuan muda itu menarik napas dalam-dalam. Tak ada pesan. Rahangnya menegang, tangannya meremas ponsel di tangannya yang kecil. Apa gunanya benda ini sekarang?

Pemilik warung kopi memandang penuh iba pada perempuan muda di depannya. Sejak sore dia sudah ada disana. Setiap hari, setiap sore, perempuan muda itu duduk di tempat yang sama, bersandar pada tiang yang sama. Sesekali memandangi layar ponselnya. Menunggu pesan, entah dari siapa.

Masih lekat di benak sang pemilik warung, dua tahun yang lalu perempuan muda itu masih berlari sambil tertawa-tawa mengitari desa mengenakan celana pendek bergambar tikus. Rambut hitamnya yang panjang, tebal dan berkilau indah melayang-layang bagai selendang seorang bidadari. Kala itu usianya baru enam belas tahun, namun keelokkan wajahnya adalah gambaran sempurna seorang gadis desa. Keceriannya adalah madu dari setiap permainan dan ketidakhadirannya adalah peredup semangat di semua pembicaraan.

Siapa yang tak kenal perempuan muda itu? Dialah satu-satunya dambaan para pria desa yang setiap minggu kembali pulang dari bekerja. Dan saat seorang pria mendatangi orang tua perempuan muda dan meminangnya, reduplah harapan para pria desa lainnya. Perempuan muda itu mendatangi takdirnya. Menikah.

Entah apa yang terjadi pada perempuan muda itu hingga setahun lalu dia kembali ke desa. Sendirian. Berkelebat ingatan tentang pesta pernikahan mewah yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Dimana setiap orang ikut berbahagia untuknya. Lalu hari dimana setiap orang melambaikan tangannya mengantar kepindahan perempuan muda ke kota bersama suami barunya. Semua kenangan itu berlomba-lomba memenuhi ingatan sang pemilik warung.

"Non!" sebuah suara berat menyerukan nama perempuan muda di warung kopi.

Seorang pria gendut dengan kumis hitam lebat berusia lebih dari empat puluh tahun melambaikan tangannya pada perempuan muda. Seorang laki-laki, entah siapa, berdiri tak jauh darinya. Perempuan muda itu tersenyum seraya membalas lambaian. Jarinya dengan sigap melempar batang rokok yang masih setengah lalu meneguk habis minumannya. Setengah berlari dia menuju laki-laki gendut dan seorang teman yang berdiri tak jauh darinya. Malam ini dia tidak sendiri.

Curhat: My Lovely Boss

Matahari siang ini bersinar cukup terik dan berlari di bawahnya dengan membawa sebuah buku bukanlah sebuah pilihan yang cukup tepat. Rasa sesak segera saja menyelimuti udara di sekitarku. Seorang rekan kerja melirik ke arahku yang masih terengah-engah setelah berada cukup dekat dengannya seraya tersenyum.


Tiba-tiba saja tubuhku serasa disiram air es dari kepala saat kami memasuki ruang meeting yang memilliki suhu hampir nol derajat. Aku memilih duduk di kursi paling pojok belakang. Segera memenuhi paru-paruku dengan udara segar di ruang meeting. Tak lama kemudian, jajaran petinggi perusahaan memasuki ruangan dan sebuah opera pun dimulai.

- - - - - * * * * * - - - - -

Aku duduk melotot bergantian pada kartu stok dan monitor komputer di sebuah sore yang sedikit mendung. Aku menoleh ke arah pintu saat seseorang mendorong daun pintu ke arah dalam. Pak Andi, Ka.Dept. Maintenance duduk di salah satu kursi tak jauh dariku.

"Pak, disini banyak nyamuk ya? Pada gatel nih. Bisa DBD dah eike lama-lama disini." ujarku menyambutnya.

"Ah! Kamu doang tau Ndah yang complain. Yang lain terima-terima aja." jawabnya sambil nyengir.

"Lah ini pada tangan sama kaki saya pada gatel." aku menunjukkan jariku yang berwarna agak merah.

"Oh iya, you, nanti akan jadi anak buah I. Disini."

Aku menatap Pak Andi lurus-lurus. Seakan tak bisa mencerna kalimatnya. Lalu pandanganku mengitari setiap sudut ruang maintenance.

"Disini? Ihh kan ruangannya jelek banget.." aku langsung menutup mulutku saat menyadari apa yang baru saja aku gumamkan.

"Astaghfirullah.."

"Complain mulu dah ni anak. Ya nanti dibagusin lah. Dibesarin juga. Ntar kita minta ACnya dua." Pak Andi nyengir.

"Mati." aku menepuk dahiku sendiri.

- - - - - * * * * * - - - - -

Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga lewat. Hujan baru saja mengguyur tanah Bogor walau mendung sudah menggelayut sejak siang. Aku duduk di dekat pintu sambil menulis pada kartu stok, mencari udara segar.

"Ndah, selamat ya. Bos kamu banyak temuan nya tuh." ujar temanku tiba-tiba. Nyengir.

"Hah?" aku bengong tak mengerti.

"Tadi dia abis di audit. Mungkin sebentar lagi dia kesini." jawabnya lalu pergi sambil tetap tertawa. Aku kembali menekuri kartu stok.

"Ndah.."

Aku menoleh. Pak Andi menatapku serius.

"Besok kamu pulang (ke rumah orang tua) gak?" tanyanya.

"Gak, Pak. Gak punya ongkir." jawabku asal.

"Saya minta tolong ya kamu bikin realisasi maintenance. Semua datanya ada di Network. Di lemari ada kertas satu rim, kamu ambil aja." ujarnya.

"Dari bulan apa sih, Pak?" tanyaku ragu.

"Januari."

"Mati." kutepuk dahiku lagi. Pak Andi tertawa lalu meluncur pergi.

- - - - - * * * * * - - - - -

Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat beberapa menit. Aku masih santai berkutat di depan mesin fotokopi.

"Hai, Ndah. Kamu lagi ngapain?" tanya Ka Ermi.

"Inilah, Ka." jawabku sambil mengibaskan kertas-kertas.

"Eh, bos kamu tuh parah. MQOnya gak ada yang dikerjain dari bulan Januari. Aku sih kasih dia waktu untuk nyelese-in semuanya sampe minggu depan. Trus dia janji hari rabu semuanya beres." jelas Ka Ermi.

"Hemh, pantes dia santai aja bisa janji ke Ka Ermi semuanya beres minggu depan. Lah yang ngerjain semuanya saya."

Dan kami pun tertawa.

Senin, 12 Mei 2014

Ngentit Goceng Masuk Neraka

Aku berlari menjauhi hujan. Kakiku berkecipak pada genangan air saat langkahku semakin dekat menuju kantor. Kaca mataku berpola titik titik air.

"Hujaaan.." kataku seraya menyerahkan dokumen di meja rekan kerja lalu duduk di sampingnya.

"Kenapa sih, Ndah, muka mu koq dari tadi merengut aja?" tanya Bu Vanda, atasanku, heran.

"Ibuuu.. Aku sedang galau." kupasang wajah se-mengiba mungkin.

"Lho kenapa?" tanyanya lagi.

"Gara-gara orang sebelah kontrakan gak mau gantian bayar listrik, Bu. Saya kan udah bayar untuk bulan ini, tapi dia bilang saya belum bayar ke orang kontrakan yang lain. Mana iurannya dilebihin goceng lagi, Bu. Kalo mau ngentit mah jangan nanggung ya, Bu? Dosanya sama, masuk neraka juga. Goceng doang, sampe mana sih? Bakso yang gak enak aja harganya delapan ribu." ujarku panjang lebar.

"Hahaha.. Kacau kamu, Ndah. Goceng doang. Dosanya sama, masuk neraka juga. Bener.. Bener.." balas Bu Vanda.

"Deket rumah saya sih sembilan ribu, enak." jawab Pak Ading asal.

"Ya saya sih gak majalah ya, Bu soal gocengnya. Tapi ini, udah ngentit, fitnah pula." ujarku lagi.

"Hahaha.. Gak majalah. Haduh Endah.. Endah.. Kamu ini lucu amat sih..." Bu Vanda menarik napas, "Fitnah kan lebih kejam dibanding pembunuhan ya, Ndah?"

"Lebih kejam juga di banding fitnes, Bu." jawabku sambil menyambar mangkuk manisan mangga.

Mendengar jawabanku Bu Vanda malah ketawa tanpa suara sambil memukulkan tangannya pada buku di meja. Kepalanya menempel di meja dengan posisi miring.

"Ihh Ibu, saya kan lagi curhat malah diketawain." ujarku di sela-sela suapan manisan mangga.

"Haduuhh ini anak makan apa sih, bisa aneh begini.." Bu Vanda geleng-geleng kepala. Aku nyengir.

"Bu Tina, ko sakit cacar cepet banget sembuhnya? Cuma tiga hari gak ada bekasnya?" tanyaku pada rekan kerja.

"Aku minum mapo, Ndah. Jadi cepet kering." jawabnya.

"Ohh, mapo. Kalo saya dulu dikasih air teh basi biar cepet kering cacarnya." kataku.

"Owalah.. Dikasih teh basi toh. Pantes kamu jadi basi gini, Ndah.." ujar Bu Vanda diiringi tawa.

Manisan mangga di mangkuk masih banyak dan saya bersedia memakannya pelan-pelan hingga habis sementara langit masih saja hujan.

Minggu, 11 Mei 2014

Tuhan, Aku (Kembali) Datang

"Lancang!"

Sebuah suara penuh amarah menggema di telingaku. Dadaku berdebar hebat. Air mataku mulai jatuh. Sungguh merasa terguncang.

"Sadarkah atas kesalahan yang telah kau perbuat, wahai manusia?" tanya suara itu lagi.

"Kau berlindung di balik fitrah! Kau mencari pembenaran diri atas kesalahan yang telah kau lakukan! Masih berani kau menemuiKU?"

Aku tersungkur. Menangis tersedu-sedu. Hatiku dipenuhi rasa takut. Aku telah salah. Aku berdosa. Aku lemah!

"Ampuni aku, TUHAN.." jeritku mengiba di sela-sela tangis yang tak henti.

"Sungguh tiada tempat ku kembali selain ENGKAU. Aku memang berdosa, TUHAN. Tapi kumohon ampuni aku. Sungguh tak kan sanggup kutanggung siksaMU." kubenamkan wajahku diantara sujud pada bumi.

"Katakan, apa yang kau inginkan dariKU?" suara itu kembali melembut.

Diantara rasa takut dan isak yang tersisa, aku kembali menatapNYA. Cahaya yang sama yang selama ini kukenal. Lembut dan penuh pesona. Tak terurai oleh kata. Air mataku kembali jatuh, tak sanggup berkata-kata.

"Katakanlah sebagaimana kau biasa meminta padaKU."

"Ambil hatiku, TUHAN. Aku terlalu lemah dan belum sanggup menjaganya. Banyak luka dan kesakitan yang telah kutorehkan padanya. Aku takut dia akan terluka lebih parah."

"Dengarlah, wahai hambaKU. Dia tidak akan kemana-mana. Kau akan tetap hidup bersamanya. Bersama hatimu."

"Tapi, TUHAN.."

"Akan ada kebahagiaan yang menunggumu setelah ini, bersabarlah.."

"Tidak, TUHAN. Sungguh aku tak sanggup lagi jika harus.."

"Kau akan sanggup. Selama kau tetap bersamaKU." DIA tersenyum.

Aku bersujud.

- - - - * * * * - - - -

Aku tersentak dari tidurku. Napasku memburu. Keringat mengucur deras di pelipisku yang berdenyut-denyut. Ku pejamkan mataku dan mulai mengatur napas.

"Tuhan, aku datang.."

Menu Anak Kost: Sarden

Bukan anak kost namanya klo gak merana (halahh..). Gak lengkap rasanya jadi anak kost kalo semua hal serba tinggal beli. Sekali-kali mau coba jadi anak kost yang sesungguhnya *benerin sarung*



Pasang setrika pada posisi terbalik. Set setrika pada panas maksimal. Gelas difungsikan sebagai penahan kardus agar posisinya tidak bergeser. Walau matengnya agak lama tapi teteup poko'e maknyusss!!

Selamat mencoba *_^

Kamu, Apa Kabar?

"Ceu! Gue mau nikah!" ujar suara di ujung telepon. Aku tersenyum.

Ini baru pukul delapan pagi dan Rani, sahabatku, membicarakan pernikahan dengan begitu bersemangat. Mau tak mau aku tersenyum lebar dan seketika melupakan kesakitanhatiku. Ya Tuhan, terima kasih telah memberi sahabatku hidup yang sempurna. Ucapku dalam hati.

Rani tak henti berceloteh. Dan aku masih tetap bertahan menimpali setiap ucapannya. Entah bagaimana kebahagian seakan merambat dan menjalari setiap inchi tubuhku seperti gelitik lembut barisan semut hitam kecil.

Saat Rani memutuskan sambungan telepon, aku kembali dalam kegelapan duniaku. Dunia sepi yang kuciptakan sendiri. Kupejamkan mata dan mulai mengatur napas. Kepalaku berdenyut-denyut, seakan ada yang menekankan jarinya tepat di dahiku.

Kamu, apa kabar?
Maaf karena aku masih saja memikirkanmu
Walau tak pernah lagi ku berani menyapa kamu
Sampai hari ini aku masih saja mengkhawatirkan kesehatanmu
Apakah kau makan tepat waktu?
Apakah waktu tidurmu cukup?
Apakah hujan semalam sempat menyapamu saat berjalan pulang?
Apakah..
Ah aku tahu itu bukan lagi tugasku
Jadi, maaf
Kamu yang namanya tak boleh lagi kusebut, semoga kamu baik-baik saja
Dengan siapa pun yang menemanimu saat ini"


Kubuka mata dan bangkit dari duduk lalu berjalan ke arah pintu. Udara pagi pasti akan sangat menyenangkan saat ini. Karena bagaimana pun hidupku harus terus berjalan..

Menu Anak Kost: Roti Bakar dan Secangkir Energen



Semua dimasak dengan menggunakan rice cooker. Tanpa bantuan kompor. Dan hasilnya: GAK MENGECEWAKAN.

Yap. Udah sekitar seminggu lebih jadi anak kost edisi 2, saya yang terbiasa menggunakan kompor untuk memasak kini harus berteman dengan rice cooker untuk segala urusan.

Urutan memasak: air untuk melarutkan sebungkus energen. Setelah mendidih, tuang air pada gelas dan panci ternyata langsung kering. Lanjutkan dengan memasukkan lembaran roti.

Selamat mencoba ^_*

Sabtu, 10 Mei 2014

Review: Dark Lover by J.R. Ward





Niatnya pergi ke mall untuk cari peralatan makan tapi nyangkutnya di rak buku dan bertemulah dengan novel ini. Sebuah novel lainnya tentang dunia vampir. Tema yang terdengar tidak asing, ya? Berterima kasihlah pada serial Twillight yang menyapa kita dengan lembut dan manis karena Dark Lover menjadi sangat berbeda dengan cerita vampir yang selama ini terpatri dalam ingatan setiap kawana dan kawani.

Pertarungan abadi antara vampir dan pemburunya menciptakan sebuah dunia dengan tujuh kubu: Scribe Virgin, Black Dagger Brotherhood, vampir sipil, Omega, Lessening Society, Lesser dan (tentu saja) manusia. Apa bisa terbaca polanya?

Wrath, Sang Raja Buta dan sekaligus Pemimpin Black Dagger Brotherhood, memutuskan untuk tidak meneruskan takhta karena rasa bersalahnya pada kegagalan menyelamatkan keluarganya. Jumlah vampir sipil turun drastis karena perburuan para Lesser di bawah kepemimpinan Omega. Dan Scirbe Virgin sebagai pemimpin tertinggi para vampir tidak dapat melakukan apapun karena tidak ada yang mendatanginya. Tidak ada raja yang berdoa dan memohon padanya.

Masalah bermula dengan kekhawatiran sang ayah vampir terhadap masa transisi anak perempuan setengah manusia menjadi vampir seutuhnya. Sang ayah, Darius, yang juga salah seorang prajurit Black Dagger Brotherhood, takut putrinya mengalami kegagalan masa transisi dan mati. Hanya Wrath, Sang Raja yang memiliki darah murni yang dapat menyelamatkannya. Namun sayang, saat semuanya seakan kembali seperti biasa, Darius mati.

Karena merasa berhutang, Wrath kemudian memutuskan untuk menemui perempuan setengan vampir putri Darius, Beth. Dan entah bagaimana Beth membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Entah apa, hanya terasa berbeda.

Tidak ada adegan vampir meminum darah manusia hingga mati dan meninggalkan dua luka menganga pada leher, mereka hanya meminum darah dari vampir pasangannya. Keterkejutan akan kulit vampir yang sedingin es kutub selatan juga tidak ada di buku ini saat Beth dan Wrath bersentuhan. Dan vampir juga tidak kebal senjata. Seperti halnya manusia, di buku ini mereka juga bisa terluka.

Lika liku perjalanan cinta dan pengabdian Sang Raja membuat buku ini sama sekali tidak membosankan. Walau ada beberapa bagian yang saya anggap berlebihan tapi ya sudahlah.

Akhir kata dari saya: Wrath layak naik tahkta. Selamat!

Masa Lalu Yang Menyakitkan: Sinusitis

Sekitar dua malam yang lalu, sebuah sms dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel saya. Sms itu menjelaskan bahwa si pemilik nomor, yang kemudian saya ketahui bernama Arya, baru saja membaca postingan saya di salah satu pertanyaan terbuka yahoo tentang sinusitis.

Sebagai salah satu "mantan" sinusitis saya tahu bagaimana hari-hari yang dijalani dengan penuh penderitaan. Perubahan suhu sekitar, bau menyengat dan tiba-tiba, rasa pedas, debu atau bahkan sentuhan ringan yang tidak sengaja di area hidung bisa menjadi penderitaan sepanjang waktu. Bau amis yang mengganggu, tidur mendengkur, iritasi mata dan rasa sakit pada tulang pipi adalah teman sejati para penderita sinusitis. Sungguh kami telah kehilangan separuh kenikmatan hidup.

Berbagai obat berharga ratusan ribu dan ramuan tradisional dengan segala rasa yang tidak mengenakan perut dan mulut pun telah saya coba. Jangan tanya hasilnya, semua NIHIL. Saya pun sempat ditawarkan terapi-terapi aneh dengan asap, tusukan di dahi yang belum sempat saya jalani karena tempat pengobatan yang terlalu jauh.

Jujur aja saya sempat pasrah dengan penyakit saya yang tidak kunjung mengalami kemajuan ke arah kesembuhan. Tapi syukurlah doa saya di dengar Allah.

Dikatakan kemudian, Mas Arya yang saat ini sedang menjalani pendidikan di Bandung berusaha mencari obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya sebelum beliau kembali bertugas di Ternate. Jadi inget temen kerja dulu yang juga dari Ternate. Hai "Bu Besar" Vini Laila Timura, kapan nih ditraktir di Kedai Chaki #lho..

Beberapa waktu yang lalu, beberapa orang lain juga pernah menghubungi saya terkait pengalaman penyakit sinusitis mereka. Bahagia rasanya bisa berbagi pengalaman dengan sesama penderita sinusitis. Semoga kesembuhan segera mendatangi mereka dimana pun mereka berada, seperti saya saat ini. Aamiin..

Menu Anak Kost: Pasta Level 10

Huwaaaa!! Puedese poooolllll !!

Gak bisa mikir, langsung cek penampakannya nih