Rabu, 19 November 2014

Masak Ala Anak Kost: Jagung Kukus

Tanggung bulan dan isi duit tinggal beberapa lembar dua ribuan? Jelas ini masalah.

Sebagai tanggung jawab anak kost, kita dituntut untuk selalu kreatif. Karena gak mungkin selamanya menggantungkan hidup sama "asupan" dari ortu atau sodara. Yup, cara alternatif supaya isi dompet tetep selamat sampe waktu gajian tiba koq. SIASATI MENU!

Menu yang biasa saya siasati biasanya adalah menu sarapan. Nih penampakannya >>



Biaya:
1 bonggol jagung @ Rp 1.500
1 butir telur @ Rp 1.500
1 sachet kopi @ Rp 1.000

Cukup empat ribu udah bisa sarapan, cuy!

Ini kreasi ku, mana kreasi mu?

Salam #AnakKostKreatif

Selasa, 23 September 2014

Tips Mencuci Kain Flanel



Kamu punya barang-barang dari kain flanel (gantungan kunci, boneka, tempat pensil dll) tapi tidak tahu cara mecucinya? Simak tips berikut ini:

1. Siapkan air detergent secukupnya.
2. Rendam kain flanel selama 10-15 menit.
3. Goyang-goyangkan dan usap kain flanel dengan jari untuk menghilangkan noda. Mengucek kain akan membuat kain melar dan merusak teksturnya.
4. Peras dengan cara ditekan dengan handuk (jangan dipelintir).
5. Angin-anginkan di tempat yang tidak terkena matahari langsung.
6. Apabila kain terlihat kusut, setrika lah dengan melapisinya terlebih dahulu dengan kain tipis.

Selamat mencoba ^_*

Minggu, 03 Agustus 2014

Mesin Jahit: Kado Ulang Tahun

Yeay! Happy Ied Mubarak, kawana dan kawani ^_*

Ceritanya punya mainan baru nih! Heheh.. Sebelumnya barakallah fii umrik untuk saya sendiri. Semoga di usia yang semakin dewasa (tua) perlindungan serta kasih sayang Allah senantiasa tercurah. Aamiin Allahumma Aamiin..

Selama ini sih (di keluarga) gak pernah menganggap spesial hari lahir. Jadi judul di atas ya di pas-pas-in ajah hehehe

Pas lagi libur lebaran kemarin, tiba-tiba terlintas pengen punya mesin jahit. Sempet ada yang tanya "buat apa", setahu saya sih mesin jahit ya buat menjahit. Kecuali di tahun 2014 mesin jahit bertambah fungsi untuk masak \^o^/

Jadilah saya meluncur ke Ace Hardware (Margonda-Depok) dan mencari mesin jahit. Lalu.. Tadaaaaaa.. Tengok penampakannya..



Lucu ya? Lucu..

Mesin jahit mini ini bermerk Kris dan memiliki 7 pola jahit; 1 pola jelujur dan 6 pola zigzag. Memiliki 2 tipe kecepatan; sedang dan cepat. Dapat hidup dengan 2 cara; dengan 4 buah batrai A2 atau dengan adaptor (sudah termasuk dalam paket pembelian). Dan memiliki 3 jenis kerapatan jahit. InsyaAllah dengan mesin jahit ini, walau mini membawa manfaat yang agak besar. Hitung-hitung persiapan menjahit baju (calon) suami yang robek, ya? Iya. Hehehe

Sejauh ini, Kris sudah memperbaiki 3 buah baju. Alhamdulillah lancar. Oiya ada sedikit tips nih yang mungkin membantu..

Terjadi benang kusut di belakang jahitan jika alur benang sesuai dengan petunjuk (dari no 1-5). Jadi saya melakukan eksperimen dengan melewati lubang no 5 dan langsung memasukkan benang ke lubang jarum (dari lubang no 4). Hasilnya: SEMPURNA!

Mari belajar ^^

Sabtu, 02 Agustus 2014

Kisah Laki-Laki Pengecut

Ini masih bulan Juni namun beberapa waktu belakangan hujan sering turun sejak pagi. Pun seperti hari ini, mendung menyebar di sepanjang mata memandang. Angin dingin dan basah mendesau membelah udara.

Aku merapatkan jaket yang membelit tubuhku. Ku lirik jam tanganku, sudah lima belas menit lewat sejak aku datang ke kafe ini. Menunggu seseorang. Di hapadanku, dua cangkir cappucino panas masih terus mengepulkan uapnya.

Tring!

Suara bel di atas pintu kafe membuatku mendongak. Mencari tahu siapa yang datang. Seorang laki-laki berkemeja putih panjang berjalan memasuki ruangan. Aku menarik napas.

"Hai.." sapanya. Aku tersenyum seraya mengangguk.

"Sudah lama menunggu?" tanyanya lagi. Aku menggeleng seraya menyorongkan salah satu gelas cappucino mendekat padanya.

Tuhan, sungguh aku sangat merindukan wajah ini. Tatapannya yang seakan berlari walau saat aku berada tepat di hadapannya. Atau senyumnya yang mengembang di setiap akhir kalimat yang diucapkan. Tuhan, sudah lama sekali sejak terakhir kulihat wajah ini..

"Apa kau sadar bahwa belakangan ini langit selalu saja mendung dan hujan hampir setiap hari turun? Cuaca terasa sangat buruk." dia menggeleng seraya menyeruput minumannya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya.

"Oiya, ada yang ingin kusampaikan.. " laki-laki di hadapanku mencari sesuatu di tasnya.

".. Ini.." katanya saat menyorongkan sebuah kertas berwarna ungu muda. Aku tersenyum kecut.

"Selamat.." kataku.

"Bukan itu yang ingin kudengar darimu.."

Aku menatapnya. Berusaha mencerna kalimatnya.

"Mengapa kau tak melarangku? Tidakkah kau berniat mengatakan sesuatu saat mendengar bahwa aku akan menikah dengan orang lain?" cecarnya.

Aku hanya diam dan menatap jauh ke dalam matanya yang berlari liar. Merasa menemukan kegelisahan tak berkesudah disana.

"Mengapa kau diam, Dis? Kau tidak tuli, jadi jawablah aku!"

"Pengecut.."

Matanya melebar saat mendengar ucapanku barusan. Wajahnya menegang. Aku menyeruput minumanku dengan santai.

"Mengapa harus aku yang memulai? Bukankah kau yang tak mau jujur terhadap perasaanmu? Lalu mengapa kau menyalahkanku atas keputusan yang kau ambil sendiri? Kau benar-benar pengecut!" jawabku.

"Gadis.."

"Kau terlalu gengsi untuk bertanya sehingga menyibukan hatimu dengan prasangka. Seharusnya kau datang dan mengatakan apa yang kau harapkan. Dasar laki-laki pengecut!" aku bangkit dari duduk dan bersiap melangkah meninggalkan kafe ketika sebuah tangan menahan langkahku.

"Tidakkah kau sadar apa yang telah kau katakan, Dis? Tidakkah masih ada cinta di hatimu, untukku?"

"Itu semua sudah tidak penting lagi sekarang. Ini keputusan besar yang kau ambil sendiri, sayang aku bukan lagi bagian dari keputusan itu. Selamat menempuh hidupmu yang baru." kusentakkan tanganku dan mulai berjalan.

Langit masih saja menyirami bumi dengan bulir airnya. Aku berlari mencari perlindungan dari siraman air hujan. Aku melirik jam tanganku dan memutuskan untuk tetap berlari ke depan.

Kamis, 17 Juli 2014

Saat Cinta Memilih Diam

Aku menoleh pada langit yang hampir gelap sempurna. Jarum di jam dinding menunjukkan pukul lima lewat lima puluh menit. Di ruangan ini hanya tinggal aku seorang diri, menulis pada setumpukan berkas yang sudah harus diserahkan esok pagi. Ah, ku angkat kedua tanganku tinggi-tinggi dan menghela napas.

"Kamu belum pulang?" sapa suara seorang laki-laki.

Aku menoleh.

"Belum, Pak. Sebentar lagi." jawabku layaknya berdoa.

Laki-laki itu duduk sambil memainkan ponselnya, tak jauh dari tempatku. Pak Arka berusia sekitar empat puluh tahun dengan dada yang tegap dan tinggi lebih dari 180cm. Kulitnya berwarna gelap dan selalu tampil dengan potongan rambut ala Sahrukh Khan yang membuat garis wajahnya memancarkan aura tersendiri yang menarik hati.

"Apa yang sedang kamu tulis itu?" tanya Pak Arka.

"Berkas SPKL, Pak. Harus diserahkan besok pagi." jawabku seraya meletakkan tangan di tumpukkan SPKL yang telah selesai.

"Kamu seperti tidak pernah kehabisan semangat ya, Dis. Seharian bolak-balik area produksi dan jam segini masih setia menyalin SPKL. Semoga besok kamu gak sakit." ujar Pak Arka. Tersenyum.

"Andai Bapak bersedia menggantikan tugas saya menyalin SPKL, saya dengan senang hati bersedia pulang sekarang juga." godaku seraya memiringkan tubuhku ke arah Pak Arka. Lalu kami berdua tertawa.

Saat aku menghirup napas, seketika saja paru-paruku dipenuhi oleh harum tubuh Pak Arka yang selalu membuatku serasa ingin memeluknya. Ya Tuhan, sepertinya aku harus menampar diriku sendiri.

"Masa kecil kamu mungkin sangat bahagia ya, Dis? Kamu terlihat seperti tidak memiliki beban hidup. Selalu penuh semangat. Sering tertawa dan menyapa dengan suara riang. Kamu itu, unik." ujar Pak Arka. Aku tersenyum.

"Saya bukan makhluk sempurna, Pak. Sama seperti yang lain, saya pun memiliki masalah saya sendiri. Mungkin bedanya, karena saya memilih untuk berusaha untuk lebih banyak bersabar dan bersyukur. Hidup sudah cukup sulit, Pak. Namun dengan tersenyum dan tertawa, setidaknya kita bisa menciptakan hidup sederhana yang akan tampak sedikit lebih mudah untuk dijalani." jawabku sambil terus menulis.

"Dimana kamu menghabiskan masa kecilmu?"

"Disebuah kampung kecil di daerah pinggiran Jakarta. Dengan surau di perbatasan kampung dan sungai kecil penuh ikan yang mengalir tak jauh dari tanah pekuburan." aku menyeringai pada Pak Arka. Dia tertawa.

"Bagaimana masa kecilmu?"

Aku menatapnya selama beberapa detik. Mencari maksud yang terkandung dalam pertanyaannya. Namun wajahnya yang masih menyisakan senyum membuatku harus buru-buru memalingkan pandangan kembali ke tumpukan berkas di mejaku.

"Bagaimana masa kecilmu?" tanyanya lagi.

"Sebagai seorang anak kecil, masa lalu saya cukup sulit.." aku berhenti menulis. Meletakkan penaku dan menyandarkan punggung yang seketika saja terasa lelah.

Sejurus, aku menatap Pak Arka dan mendapatinya tengah memandangku penuh tanya. Aku tersenyum kecut. Menyadari betapa menyedihkannya diriku dulu. Aku menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengingat lagi bagaimana dulu aku pernah begitu lemah.

"Sejak usia dua tahun, saya di asuh oleh orang tua angkat. Siapa pun yang melihat kami akan mengatakan betapa beruntungnya saya berada dalam asuhan mereka. Ayah angkat saya adalah pria yang tegas, namun sangat lembut dan penuh kasih. Beliau sangat memperhatikan kebutuhan saya dan selalu memenuhi permintaan saya. Semuanya berjalan seakan sempurna. Namun mereka tidak pernah menyadari satu hal.." aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.

"Entah apa yang sebenarnya terjadi, namun setiap kali ayah saya tak berada di rumah, ibu angkat saya akan berubah sikap. Dia seringkali marah dengan alasan tak jelas, memaki dan menyumpahi saya dengan ucapan yang tak pantas di dengar oleh seorang anak. Tuduhan-tuduhannya seringkali membuat saya terpojok dan kehilangan kepercayaan diri. Saya mengalami penyiksaan fisik dan mental di setiap hari yang saya lalui, dan pada akhirnya mental saya hancur dan mulai mempercayai semua ucapannya."

"Apa yang dia katakan padamu saat itu?" tanya Pak Arka.

"Bahwa saya hanyalah makhluk bodoh dan buruk rupa, yang tak pantas berteman dengan siapapun dan tak pantas untuk hidup. Tubuh saya berbau busuk dan semua ucapan saya adalah bohong. Semua orang membenci keberadaan saya." aku menunduk dan menangis tersedu-sedu.

"Apa yang telah ia lakukan padamu, Dis?" suara Pak Arka bergetar.

Aku menggeleng. Hampir tak sanggup berkata-kata.

"Saya tidak sanggup untuk menceritakannya, Pak. Bahkan orang tua kandung saya pun tidak tahu akan hal ini. Saya takut mereka sedih, Pak." ujarku di sela-sela tangis.

"Gadis.."

"Saya malu, Pak.." aku menyerah dan membiarkan wajahku basah oleh air mata yang kusimpan selama bertahun-tahun. Tuhan, apa aku sudah kalah?


- - - - - * * * * * - - - - - * * * * *

"Kamu, gadis yang ada di hadapanku yang kini sedang menangis tersedu-sedu. Tak seperti biasanya, hari ini aku melihatmu begitu lemah dan rapuh. Rasa iba menyusup dan meremas-remas jantungku. Gadis, hampir saja aku menarikmu dalam pelukku, agar dapat kuhapus air matamu dan menenangkan badai di hatimu. Hampir saja kutangkupkan kedua tanganku pada wajahmu agar dapat kuenyahkan segala sedih dan kesakitan yang masih menjeratmu hingga kini. Hampir saja kukecup keningmu agar berhenti isak tangismu yang membuat tubuhku seakan disayat ribuan sembilu.Hampir saja, Dis. Hampir saja. Sampai kemudian kulihat kilau cincin di jari manis tangan kananku. Gadis, maafkan lah aku yang memilih untuk tetap diam sedang mataku memandangmu menangis sendirian.."

Jumat, 04 Juli 2014

Curhat: Saya dan Mereka bag 2

Yap banyak banget peristiwa yang terlewat selama beberapa hari gak ngeblog. Yang pertama dan paling utama adalah Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa, kawana dan kawani. Mohon maaf lahir bathin..

Setelah kesabaran saya dalam menghadapi tetangga kost yang cukup mengganggu, akhirnya saya mendapat tempat kost baru dengan suasana yang lebih nyaman. Alhamdulillah.. Proses pindah kost berjalan sangat lancar. Saya dapat kabar di hari kamis dari salah satu karyawan bagian produksi (Pak Manan) bahwa di tempat kostnya ada kamar yang kosong. Hari Sabtu, saya di bantu Pak Manan, akhirnya pindah. Cukup 2 kali angkut barang, lalu selesai. Kamar kost baru saya terletak di lantai dua dengan pemandangan sunset. Romantis, ya? Hehe.. Terima kasih yang teramat banyak pada Pak Manan.

Waktu ngobrol-ngobrol sama Bapake saat jam istirahat, saya iseng-iseng minta dibuatkan kompor dari kaleng bekas minuman. Awalnya sih dia seperti enggan meng-iya-kan tapi ternyata tetap di kerjain juga hahah. Nih penampakannya



Ini adalah penampakan percobaan dengan alkohol 70%



PRnya sekarang cuma beli wajan sama sutil aja. Atau ada yang mau nyumbang? Hehehe

Oiya, ricecooker sempat rusak selama seminggu. Sekarang udah "sehat" lagi berkat team maintenance. Cukup beli fuse 5A seharga lima ribu rupiah. Terima kasih pada Pak Nurdin atas kerjasamanya hehe

Lalu selanjutnya, terimakasih pada Mas Bagus yang sudah bersedia menyisihkan uangnya untuk mengirimkan oleh-oleh kaos dari Belanda untuk saya. Kejutan siang yang sungguh menyenangkan. Alhamdulillah.

Lanjut, terimakasih pada Ibu Vanda yang telah bersedia mensupport catering untuk anak kost malang ini *nunjuk diri sendiri* hahaha

Lalu yang terakhir, ijinkan saya meminta maaf pada mas-mas tetangga kost yang dulu karena pindah tanpa pamit. Semoga kalian betah ya..

Minggu, 22 Juni 2014

Galau Jam 7 Pagi

Duh! Saat perut lapar namun tukang nasi uduk langganan gak jualan adalah galau tingkat kelurahan bagi anak kost macam saya.

Sedang saya yang menganut paham "Pantang Gak Sarapan" merasa harus mencari ide lain untuk mengganjal perut yang udah keroncongan sejak semalam. Lebay! Sambil berjalan ke depan tanpa kejelasan gak sengaja ketemu tukang sayur. Tring!

Dengan PeDe langsung pilih-pilih bahan makanan yang bisa sekalian untuk sarapan. Kebetulan masih ada telor di kamar kost. Jadi setengah kilo kentang ( 6 ribu), 4 tomat ukuran mini (2 ribu), sebonggol jangung (3 ribu) dan minyak goreng ukuran 215ml ( 2 ribu) jadi pilihan saya. Total belanja saya sebenarnya 13 ribu, tapi kemudian di diskon seribu sama kang sayur. Saya bilang gak jadi beli kentang karena uangnya kurang. Eh kang sayur bilang bayar 12 ribu aja. Thank's a lot, kang!

Pulang ke kost dengan perasaan gembira luar biasa. Langsung cuci kentang trus di rebus (sekitar 15 menit). Setelah itu masak telur orak arik dengan irisan tomat. Oiya, semua proses memasak saya lakukan dengan ricecooker, ya. Cek penampakannya nih:



Nikmati dengan tambahan saos cabai (punya saya Delmonte extra hot). Minumnya kapal api grande. Cuci mulutnya pisang sunpride. Mantab gan!

Selamat sarapan! Salam #AnakKostKreatif ^_*

Minggu, 08 Juni 2014

Dosti: Sebuah Kenangan di Sekolah

Awalnya sih gak ada ide mau nulis apa walau pengen posting sesuatu di blog. Lalu pagi ini sambil sarapan roti bakar dan segelas susu, saya mampir pada beranda facebook yang sudah cukup lama terlupakan. Dan ide itu pun datang..

Namanya Dosti, salah satu teman SLTP saya. Mengingat namanya yang agak tidak umum, seingat saya dia keturunan Bugis *mikir*. Kulitnya putih hampir bening hingga urat berwarna hijau terlihat jelas di kulitnya, rambutnya lurus dan berwarna cokelat terang, matanya sendu dan berwarna cokelat gelap. Namun sebagai seorang laki-laki, Dosti bertubuh amat sangat mungil. Lebih kecil dari seorang anak perempuan di usia belasan.

Mengingat tubuhnya yang mungil, Dosti gak pernah menang kalo berantem fisik bahkan mulut dengan sesama teman. Jika sudah terpojok, biasanya dia akan lari dan naik ke atas bangku. Berusaha mencari jalan untuk melarikan diri lebih jauh. Lalu saat semuanya seakan belum terlalu lucu untuk di tonton, Anton, teman lain yang bertubuh tinggi dan besar akan datang "menyelamatkan" Dosti dari kejahatan. Anton akan menggendong Dosti keliling kelas!

Seingat saya sih Dosti akan teriak-teriak waktu digendong karena kejaran teman-teman lain. Nah jika sudah berlari cukup jauh, biasanya Anton akan putar arah kembali ke kelas dan mendudukan Dosti di atas meja. Lalu saat Dosti belum sempat turun dari meja, teman-teman lain akan datang mengerubungi dan menggelitiknya. Pokoknya kocak! Haha..

Gak berhenti tersenyum saya saat menulis kisah ini..

Zaman telah berganti dan waktu tidak pernah berhenti. Kini Dosti sudah benar-benar berubah. Pak ustadz Dosti kini berkulit agak gelap dan bertubuh cukup tinggi. Dalam kesehariannya Dosti sering melontarkan kalimat-kalimat yang terkesan nyeleneh namun sesungguhnya mengandung makna yang lebih dalam. Sindirannya pun cukup halus namun mengena dihati. Dan sampai saat ini, Dosti masih menjadi salah satu sahabat terbaik saya di FB.

Dosti, terima kasih atas salah satu kenangan paling lucu dalam hidup saya. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya ^_*

Dosti: Sebuah Kenangan di Sekolah

Awalnya sih gak ada ide mau nulis apa walau pengen posting sesuatu di blog. Lalu pagi ini sambil sarapan roti bakar dan segelas susu, saya mampir pada beranda facebook yang sudah cukup lama terlupakan. Dan ide itu pun datang..

Namanya Dosti, salah satu teman SLTP saya. Mengingat namanya yang agak tidak umum, seingat saya dia keturunan Bugis *mikir*. Kulitnya putih hampir bening hingga urat berwarna hijau terlihat jelas di kulitnya, rambutnya lurus dan berwarna cokelat terang, matanya sendu dan berwarna cokelat gelap. Namun sebagai seorang laki-laki, Dosti bertubuh amat sangat mungil. Lebih kecil dari seorang anak perempuan di usia belasan.

Mengingat tubuhnya yang mungil, Dosti gak pernah menang kalo berantem fisik bahkan mulut dengan sesama teman. Jika sudah terpojok, biasanya dia akan lari dan naik ke atas bangku. Berusaha mencari jalan untuk melarikan diri lebih jauh. Lalu saat semuanya seakan belum terlalu lucu untuk di tonton, Anton, teman lain yang bertubuh tinggi dan besar akan datang "menyelamatkan" Dosti dari kejahatan. Anton akan menggendong Dosti keliling kelas!

Seingat saya sih Dosti akan teriak-teriak waktu digendong karena kejaran teman-teman lain. Nah jika sudah berlari cukup jauh, biasanya Anton akan putar arah kembali ke kelas dan mendudukan Dosti di atas meja. Lalu saat Dosti belum sempat turun dari meja, teman-teman lain akan datang mengerubungi dan menggelitiknya. Pokoknya kocak! Haha..

Gak berhenti tersenyum saya saat menulis kisah ini..

Zaman telah berganti dan waktu tidak pernah berhenti. Kini Dosti sudah benar-benar berubah. Pak ustadz Dosti kini berkulit agak gelap dan bertubuh cukup tinggi. Dalam kesehariannya Dosti sering melontarkan kalimat-kalimat yang terkesan nyeleneh namun sesungguhnya mengandung makna yang lebih dalam. Sindirannya pun cukup halus namun mengena dihati. Dan sampai saat ini, Dosti masih menjadi salah satu sahabat terbaik saya di FB.

Dosti, terima kasih atas salah satu kenangan paling lucu dalam hidup saya. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya ^_*

Kamis, 05 Juni 2014

Curhat: Saya dan Mereka

Duh, banyak banget yang mau di ceritain tapi semuanya gak terlalu penting buat di ceritain hahaha

Udah sebulan sejak re-struktur posisi terjadi di kantor dan saya yang kemudian punya atasan dan anak buah baru dimana semuanya adalah laki-laki. Saya dengan pembawaan yang kelewat ceria, alhamdulillah bisa membawa diri dan membaur dengan mereka. Gak jarang saya diajak ngerumpi sol sepatu sama as roll *abaikan*.

Atasan saya yang lama bilang saya jadi idola bagi bagian produksi (masa?). Mungkin karena beberapa kali beliau mendapati orang bagian produksi yang melambai atau menyapa saya sambil tersenyum. Bahkan ada juga yang hanya menyapa saya setiap kali mereka masuk ke ruangan (ahayy.. Asik asik joss!)

Bapake (sebutan untuk atasan saya yang baru) bilang saya terlalu banyak tertawa. Bukankah hidup kita sudah cukup berat, tidak ada salahnya mensyukuri apa yang kita miliki saat ini dengan membuat hidup menjadi tampak lebih mudah untuk dijalani, kan? Jawaban saya kala itu. Tapi terlepas dari pendapatnya terhadap saya yang terlalu banyak tertawa, hubungan kami bisa di bilang cukup dekat secara profesional. Kami selalu berusaha mencari jalan terbaik untuk setiap hal yang kami anggap tidak sesuai. Pun keresahan saya pada salah satu anak buah Bapake yang saya anggap terlalu bossy pada orang-orang bagian produksi tapi tidak pernah punya keberanian untuk membuat keputusan.

Dan puncak dari terbangunnya chemistry (cieeelaahh..) di antara kami adalah kemarin tanpa sadar kami memakai baju dengan warna yang senada: biru tua. Kami hampir saja melakukan wefie sebagai bukti andai aja Bapake gak pasang muka bingung karena gak ngerti arti wefie xixixixi

Sebagaimana Bapake pernah mengatakan cinta pada saya karena instruksi kerjanya dapat dimengerti dan diselesaikan dengan baik, saya pun menyayanginya seperti kakak saya sendiri (yah walau beliau mungkin gak sudi punya adik kaya saya hahaha).

Ada sih yang rada ganggu dimana saya mulai digosipin dengan salah satu operator bagian produksi (duh!). Adalah menjadi tugas saya untuk selalu memastikan kebenaran laporan yang ada di meja setiap pagi, dan saat ada sesuatu yang kurang jelas maka saya pasti akan mengkonfirmasi pada petugas operator yang membuat laporan produksi. So, bagaimana saya harus menjaga jarak? Hari ini, untuk meredakan gosip yang beredar, saya meminta agar Bapake yang mengkonfirmasi laporan produksi. Semoga sih untuk seterusnya Bapake mau membantu saya (ngarep hahaha).

Segitu dulu ah cerita saya hari ini ^_*

Jumat, 30 Mei 2014

Lana: Sang Striker

"Gooooool...."

"Ya ampun.. Lana mainnya keren banget!" ujar seorang anak perempuan usia belasan.

"Pokoknya cinta banget sama Lana!" ujar anak perempuan di sebelahnya.

Lana, bintang sepak bola setingkat RT itu berlari mundur seraya melambai pada beberapa anak perempuan yang menonton di pinggir lapangan. Beberapa di antaranya melompat-lompat kegirangan.

- - - - - * * * * * - - - - -

"Katanya besok ada mau ngajak tanding bola, Bang?" tanya Uwi, adik perempuan Lana, saat kami melintasi kebun salak selepas permainan.

"RT sebelah. Katanya sih mereka punya jagoan baru." jawab Lana.

"Jagoan baru? Siapa ya kira-kira? Mereka kan udah lama kalah tanding mulu sama kita." sahutku.

"Gak tau deh. Yang jelas kita tetap harus waspada untuk pertandingan besok." jawab Lana.

"Betul! Eh, pada ngaji gak?" tanyaku.

"Ngajilah. Mau disabet Kong Duloh?" jawab Lana. Aku dan Uwi saling pandang sambil nyengir.

- - - - - * * * * * - - - - -

Lana berlari ke tengah lapangan setelah menenggak habis air mineral botol yang tadi disodorkan Uwi. Rambutnya yang basah menjuntai menutupi seluruh dahinya yang bersih. Sorak sorai teriakan anak-anak perempuan ddi pinggir lapangan menggema di sekitar kebon durian.

Lana bersiap menendang bola ke gawang setelah operan dari Dani. Napasnya turun naik secara teratur, tatapan matanya fokus. Lalu tiba-tiba semua seakan bergerak secara lambat.

Beberapa anak laki-laki usia belasan berjalan dari arah kebun bambu, batas wilayah dari RT sebelah, ke arah lapangan tempat kami bermain. Semua wajah yang telah kami kenal lama, mereka yang selalu bermain kasar dan curang. Pakaian mereka memang selalu lebih bagus dari kami. Tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda dengan mereka.

"Lan, sesuai janji. Kita tanding hari ini." ujar Eko, ketua sepak bola RT sebelah.

"Siap." ujar Lana.

"Dan ini, kenalin jagoan baru kita. Teguh."

Seorang anak laki-laki dengan rambut gondrong, berbaju merah, bercelana cokelat susu, memakai tiga buah karet gelang di tangan kanan dan tanpa mengenakan sandal menjabat tangan Lana. Kami semua terdiam. Siapa dia?

Teguh berjalan menjauh. Lana menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar formasi berubah. Pertandingan baru akan dimulai ketika Teguh mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan meminum isinya. Minyak kayu putih.

Pertandingan berlangsung seru walau nyamuk kebon sebesar buah buni mengincar kaki-kaki kecil kami. Aku dan Uwi bersandar pada akar pohon rambutan dengan batang sebesar badan orang dewasa. Beberapa anak perempuan mengambil tempat duduk di seberang kami. Bersandar pada bale-bale di bawah pohon mangga.

Teguh benar-benar menguasai permainan, sedang Lana yang yang sudah menguras tenaganya di permainan sebelumnya nampak kelelahan. Lalu di lima menit berikutnya, semua kekhawatiran kami terjawab.

"Heh! Pada gak ngaji, Luh?" kami semua menoleh pada sumber suara.

Seorang pria tua dengan pakaian ala bangsawan Betawi mengacungkan tongkat berukir burung rajawali berwarna cokelat ke arah kami. Kong Duloh! Keramaian seketika bubar.

- - - - - * * * * * - - - - -

Beberapa hari setelah pertandingan bola antar RT, kami menyadari satu hal: tidak ada lagi anak-anak perempuan yang mengelu-elukan nama Lana. Tidak ada lagi lirikan sembunyi-sembunyi ke arah anak laki-laki bertubuh kurus dan berkulit bersih itu. Kami kalah dan dia seperti terlupakan..

Lana nampak murung. Tidak ada lagi kebanggaan yang terpancar di wajahnya atau dari cara dia berjalan. Hingga suatu hari aku melihatnya duduk termenung di salah satu tiang mushala tempat kami mengaji.

"Kenapa Lan?" tanyaku.

"Ini gak bisa dibiarin, Ndah. Harus ada yang bertindak." ujar Lana tak jelas.

"Maksudnya?"

"Teguh. Kita harus datengin Teguh." jawab Lana dengan mata berapi-api.

"Teguh? Si anak minyak kayu putih? Mau ngapain?" tanyaku ragu.

"Ah, dasar cewek. Banyak tanya." ujar Lana sambil meninggalkanku.

"Dasar cowok, suka gak jelas." jawabku kesal.

- - - - - * * * * * - - - - -

Teguh melemparkan batu-batu kecil pada pohon kecapi kecil, dikelilingi beberapa anak laki-laki dan perempuan. Merasa seperti idola di kampung yang baru dia tempati. Lana, aku dan Uwi berjalan mendekati kerumunan itu.

"Teguh.." panggil Lana.

Teguh menghentikan lemparannya dan menoleh pada kami. Wajahnya terasa ramah.

"Bagaimana jika kita bergabung?" tawar Lana.

Aku dan Uwi saling pandang. Kaget. Aku merasakan anak-anak lain juga merasakan hal yang sama.

"Oke.." Teguh menjabat tangan Lana seraya tersenyum.

Minggu, 18 Mei 2014

Saat Aku Kembali

Kujejak lagi tanah basah ini. Dihadapanku terhampar rerumputan berwarna hijau segar dan warna warni bunga. Segera kupenuhi paru-paruku dengan udara beraroma manisnya rumput yang baru dipotong. Kicau burung pada ranting-ranting pohon memenuhi telingaku bagai nyanyian yang mendamaikan hati. Semilir angin lembut nan sejuk meniupkan helai rambutku yang tergerai hingga punggung. Gaunku bersuara kebat lembut dan membuatku hanyut.

Kurentangkan kedua tanganku. Kupejamkan mata dan membiarkan tubuhku dihujani sinar matahari yang terasa bagai pelukan hangat seorang ibu. Ahh.. Aku merindui hari-hari seperti ini.

"Ayo.." suara lembut di telingaku membuyarkan lamunan dan kehanyutanku.

Saat aku menoleh, sebuah cahaya menyilaukan menerpa wajahku, membuat pandanganku menjadi bias. Mataku menyipit dan tanpa sadar kuangkat tanganku untuk menutupi setengah wajah namun tetap tak membantu.

"Ikuti aku.." cahaya itu menjauh.

"Mau kemana kita?" tanyaku seraya berlari mengikuti kemana cahaya pergi.

"Kemana lagi? Tentu saja menuju tempatNYA" jawab suara itu.

"DIA? Seperti apa DIA? Ceritakan padaku." pintaku disela-sela langkah yang terburu.

"Tidakkah kau juga mengenalNYA seperti aku mengenalNYA?"

"Tidak.. Tidak.. Kau telah lama tinggal bersamaNYA. Sedang aku? Aku pernah melangkah terlalu jauh dan meninggalkanNYA." ujarku ragu.

"Lalu apakah kau melupakanNYA?" tanyanya lagi.

Langkahku terhenti. Jemariku menyentuh ujung rerumputan hijau. Aku menundukkan kepala. Sesuatu yang aneh menjalari seluruh tubuhku, "MelupakanNYA? Bagaimana mungkin?"

"Bagaimana perasaanmu saat jauh dariNYA?" tanya cahaya itu.

"Entahlah. Seperti ada sesuatu yang hilang.. Aku merasa hampa.." mataku masih tertumpu pada rerumputan hijau. Ingatanku pergi menjauh.

"Lalu apa yang kau lakukan?" tanyanya lagi.

"Aku kembali.." aku mendongak, menatap cahaya itu.

"Lalu apa yang kau temukan setelah itu?"

"Aku merasa hidup. Tenang dan damai. Aku seperti menemukan kembali diriku yang sesungguhnya." ujarku seraya tersenyum.

"Begitukah? Itu yang kau rasakan?"

"Entahlah.." aku menggeleng, ".. Tapi seingatku rasanya hampir seperti itu." aku menatap cahaya itu.

"Seperti dulu kau pernah tinggal bersamaNYA, seperti itulah DIA yang kini kukenal. Tak pernah berubah. Penuh kasih dan sayang, lembut dan menentramkan. Disanalah kita kembali. KepadaNYA lah kita sekarang menuju."

Aku bergeming, "Apa DIA akan menerimaku lagi setelah semua kesalahan yang pernah kulakukan? Apakah..?"

"Jika kau meragukan kasih sayang dan ampunanNYA padamu, lalu kemanakah kau akan melarikan diri? Kemana kah kau akan pergi?"

Aku menatap cahaya itu. Meresapi kata-katanya. Merasa seperti diperas dan kehabisan napas.

"DIA tidak akan membawamu ke tempat ini jika tak menginginkanmu kembali. Ayo Nak, DIA sudah menunggumu."

Aku menarik napas lagi. Cahaya bergerak pelan dan seperti terhipnotis kaki ku pun ikut melangkah.


NB: Saya adalah manusia penuh salah dan lemah, kurang ilmu dan pemahaman. Cerita di atas hanya ilustrasi.

Review: House of Night



Sekolah penyempurnaan vampir? Tentang apa lagi ini?

House of Night bercerita tentang awal bagaimana seseorang bisa menjadi vampir dan sekolah untuk mempersiapkan seorang calon vampir hingga menjadi vampir dewasa. Tidak seperti yang selama ini terpatri dalam otak kita bahwa menjadi vampir disebabkan karena gigitan (serum vampir pada gigi) vampir, mereka yang kelak akan menjadi vampir hanyalah mereka yang terpilih untuk menjadi vampir. Mereka akan mendapat sebuah tanda gurat di dahinya seperti bentuk bulan sabit yang akan menjadi sempurna seiring kesiapannya menjadi vampir dewasa.

Adalah Zoey, gadis enam belas tahun, baru saja memutuskan kembali ke loker untuk mengambil buku geometri ketika seorang -entah harus menyebutnya apa- zombie, berbicara padanya dalam bahasa kuno. Tadinya dia tidak menyadarinya hingga dia merasakan ada sesuatu yang menggelitik dahinya. Dia mendapat Tanda.

Mereka yang mendapat Tanda seharusnya segera diantar ke House of Night, sekolah khusus vampir, karena jika tidak maka mereka akan mati karena sakit. Tapi bukannya diantar ke House of Night, orang tua Zoey malah memanggil pendeta dan memulai doa berantai. Zoey mengambil keputusan, dia kabur.

Pelarian Zoey adalah ke rumah sang nenek yang dia percaya akan selalu membantunya. Saat tiba di rumah sang nenek, Zoey menemukan secarik kertas yang bertuliskan bahwa nenek sedang berada di ladang bunga lavender. Dalam perjalanan mencari sang nenek, Zoey mengalami kecelakaan yang membawanya pada peristiwa yang menjadikannya istimewa dan luar biasa. Saat tersadar, Zoey telah berada di sekolah barunya. House of Night.

Seperti novel-novel bertema sama, sang tokoh utama tentu saja istimewa, dibicarakan (dan hampir dibenci) semua orang, ada seseorang yang akan menjadi musuh utama namun juga memiliki beberapa teman setia yang lucu, pintar dan menyenangkan. Jangan khawatir, kita akan menjumpainya disini. Tapi yang bikin iri adalah mata pelajaran di sekolah vampir ini keren banget!

Zoey memang berbeda, dia sangat istimewa. Dan Tandanya adalah sebuah tanda yang mengisyaratkannya dengan jelas. Jadi gak usah heran kalo ada cowok vampir paling cakep dan populer tiba-tiba suka sama dia dan ngajak dia kencan atau Zoey yang bisa memegang kendali dan menghentikan sebuah kekacauan atau bencana besar. Itu juga akan kita temui disini. Sayang, cerita House of Night bersambung di novel berikutnya.

Oiya, walau di dalam novel terdapat beberapa ritual yang melantunkan mantra (yang katanya) dalam bahasa kuno, kalimat mantra tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia terdengar cukup indah dan bijaksana. Menjadi salah satu poin yang saya suka.

Secara keseluruhan novel ini cukup menyenangkan dan karena saya sedang berbaik hati, tiga bintang boleh lah disematkan padanya ^_*

Jumat, 16 Mei 2014

Perempuan Muda di Warung Kopi

Malam telah turun sempurna. Udara cukup sejuk untuk tetap berada di luar rumah. Seorang perempuan muda duduk menyandar pada salah satu tiang warung kopi di depan gang. Kepulan asap rokok diantara jemari kecil dan lentik meliuk-liuk bagai tarian sedih dari hatinya yang gelisah.

Matanya berkali-kali melirik layar ponsel berharga dua ratus ribuan hasil mengumpulkan uang semalaman. Seorang teman menyarankannya membeli ponsel di sebuah pasar malam. Perempuan muda itu menarik napas dalam-dalam. Tak ada pesan. Rahangnya menegang, tangannya meremas ponsel di tangannya yang kecil. Apa gunanya benda ini sekarang?

Pemilik warung kopi memandang penuh iba pada perempuan muda di depannya. Sejak sore dia sudah ada disana. Setiap hari, setiap sore, perempuan muda itu duduk di tempat yang sama, bersandar pada tiang yang sama. Sesekali memandangi layar ponselnya. Menunggu pesan, entah dari siapa.

Masih lekat di benak sang pemilik warung, dua tahun yang lalu perempuan muda itu masih berlari sambil tertawa-tawa mengitari desa mengenakan celana pendek bergambar tikus. Rambut hitamnya yang panjang, tebal dan berkilau indah melayang-layang bagai selendang seorang bidadari. Kala itu usianya baru enam belas tahun, namun keelokkan wajahnya adalah gambaran sempurna seorang gadis desa. Keceriannya adalah madu dari setiap permainan dan ketidakhadirannya adalah peredup semangat di semua pembicaraan.

Siapa yang tak kenal perempuan muda itu? Dialah satu-satunya dambaan para pria desa yang setiap minggu kembali pulang dari bekerja. Dan saat seorang pria mendatangi orang tua perempuan muda dan meminangnya, reduplah harapan para pria desa lainnya. Perempuan muda itu mendatangi takdirnya. Menikah.

Entah apa yang terjadi pada perempuan muda itu hingga setahun lalu dia kembali ke desa. Sendirian. Berkelebat ingatan tentang pesta pernikahan mewah yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Dimana setiap orang ikut berbahagia untuknya. Lalu hari dimana setiap orang melambaikan tangannya mengantar kepindahan perempuan muda ke kota bersama suami barunya. Semua kenangan itu berlomba-lomba memenuhi ingatan sang pemilik warung.

"Non!" sebuah suara berat menyerukan nama perempuan muda di warung kopi.

Seorang pria gendut dengan kumis hitam lebat berusia lebih dari empat puluh tahun melambaikan tangannya pada perempuan muda. Seorang laki-laki, entah siapa, berdiri tak jauh darinya. Perempuan muda itu tersenyum seraya membalas lambaian. Jarinya dengan sigap melempar batang rokok yang masih setengah lalu meneguk habis minumannya. Setengah berlari dia menuju laki-laki gendut dan seorang teman yang berdiri tak jauh darinya. Malam ini dia tidak sendiri.

Curhat: My Lovely Boss

Matahari siang ini bersinar cukup terik dan berlari di bawahnya dengan membawa sebuah buku bukanlah sebuah pilihan yang cukup tepat. Rasa sesak segera saja menyelimuti udara di sekitarku. Seorang rekan kerja melirik ke arahku yang masih terengah-engah setelah berada cukup dekat dengannya seraya tersenyum.


Tiba-tiba saja tubuhku serasa disiram air es dari kepala saat kami memasuki ruang meeting yang memilliki suhu hampir nol derajat. Aku memilih duduk di kursi paling pojok belakang. Segera memenuhi paru-paruku dengan udara segar di ruang meeting. Tak lama kemudian, jajaran petinggi perusahaan memasuki ruangan dan sebuah opera pun dimulai.

- - - - - * * * * * - - - - -

Aku duduk melotot bergantian pada kartu stok dan monitor komputer di sebuah sore yang sedikit mendung. Aku menoleh ke arah pintu saat seseorang mendorong daun pintu ke arah dalam. Pak Andi, Ka.Dept. Maintenance duduk di salah satu kursi tak jauh dariku.

"Pak, disini banyak nyamuk ya? Pada gatel nih. Bisa DBD dah eike lama-lama disini." ujarku menyambutnya.

"Ah! Kamu doang tau Ndah yang complain. Yang lain terima-terima aja." jawabnya sambil nyengir.

"Lah ini pada tangan sama kaki saya pada gatel." aku menunjukkan jariku yang berwarna agak merah.

"Oh iya, you, nanti akan jadi anak buah I. Disini."

Aku menatap Pak Andi lurus-lurus. Seakan tak bisa mencerna kalimatnya. Lalu pandanganku mengitari setiap sudut ruang maintenance.

"Disini? Ihh kan ruangannya jelek banget.." aku langsung menutup mulutku saat menyadari apa yang baru saja aku gumamkan.

"Astaghfirullah.."

"Complain mulu dah ni anak. Ya nanti dibagusin lah. Dibesarin juga. Ntar kita minta ACnya dua." Pak Andi nyengir.

"Mati." aku menepuk dahiku sendiri.

- - - - - * * * * * - - - - -

Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga lewat. Hujan baru saja mengguyur tanah Bogor walau mendung sudah menggelayut sejak siang. Aku duduk di dekat pintu sambil menulis pada kartu stok, mencari udara segar.

"Ndah, selamat ya. Bos kamu banyak temuan nya tuh." ujar temanku tiba-tiba. Nyengir.

"Hah?" aku bengong tak mengerti.

"Tadi dia abis di audit. Mungkin sebentar lagi dia kesini." jawabnya lalu pergi sambil tetap tertawa. Aku kembali menekuri kartu stok.

"Ndah.."

Aku menoleh. Pak Andi menatapku serius.

"Besok kamu pulang (ke rumah orang tua) gak?" tanyanya.

"Gak, Pak. Gak punya ongkir." jawabku asal.

"Saya minta tolong ya kamu bikin realisasi maintenance. Semua datanya ada di Network. Di lemari ada kertas satu rim, kamu ambil aja." ujarnya.

"Dari bulan apa sih, Pak?" tanyaku ragu.

"Januari."

"Mati." kutepuk dahiku lagi. Pak Andi tertawa lalu meluncur pergi.

- - - - - * * * * * - - - - -

Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat beberapa menit. Aku masih santai berkutat di depan mesin fotokopi.

"Hai, Ndah. Kamu lagi ngapain?" tanya Ka Ermi.

"Inilah, Ka." jawabku sambil mengibaskan kertas-kertas.

"Eh, bos kamu tuh parah. MQOnya gak ada yang dikerjain dari bulan Januari. Aku sih kasih dia waktu untuk nyelese-in semuanya sampe minggu depan. Trus dia janji hari rabu semuanya beres." jelas Ka Ermi.

"Hemh, pantes dia santai aja bisa janji ke Ka Ermi semuanya beres minggu depan. Lah yang ngerjain semuanya saya."

Dan kami pun tertawa.

Senin, 12 Mei 2014

Ngentit Goceng Masuk Neraka

Aku berlari menjauhi hujan. Kakiku berkecipak pada genangan air saat langkahku semakin dekat menuju kantor. Kaca mataku berpola titik titik air.

"Hujaaan.." kataku seraya menyerahkan dokumen di meja rekan kerja lalu duduk di sampingnya.

"Kenapa sih, Ndah, muka mu koq dari tadi merengut aja?" tanya Bu Vanda, atasanku, heran.

"Ibuuu.. Aku sedang galau." kupasang wajah se-mengiba mungkin.

"Lho kenapa?" tanyanya lagi.

"Gara-gara orang sebelah kontrakan gak mau gantian bayar listrik, Bu. Saya kan udah bayar untuk bulan ini, tapi dia bilang saya belum bayar ke orang kontrakan yang lain. Mana iurannya dilebihin goceng lagi, Bu. Kalo mau ngentit mah jangan nanggung ya, Bu? Dosanya sama, masuk neraka juga. Goceng doang, sampe mana sih? Bakso yang gak enak aja harganya delapan ribu." ujarku panjang lebar.

"Hahaha.. Kacau kamu, Ndah. Goceng doang. Dosanya sama, masuk neraka juga. Bener.. Bener.." balas Bu Vanda.

"Deket rumah saya sih sembilan ribu, enak." jawab Pak Ading asal.

"Ya saya sih gak majalah ya, Bu soal gocengnya. Tapi ini, udah ngentit, fitnah pula." ujarku lagi.

"Hahaha.. Gak majalah. Haduh Endah.. Endah.. Kamu ini lucu amat sih..." Bu Vanda menarik napas, "Fitnah kan lebih kejam dibanding pembunuhan ya, Ndah?"

"Lebih kejam juga di banding fitnes, Bu." jawabku sambil menyambar mangkuk manisan mangga.

Mendengar jawabanku Bu Vanda malah ketawa tanpa suara sambil memukulkan tangannya pada buku di meja. Kepalanya menempel di meja dengan posisi miring.

"Ihh Ibu, saya kan lagi curhat malah diketawain." ujarku di sela-sela suapan manisan mangga.

"Haduuhh ini anak makan apa sih, bisa aneh begini.." Bu Vanda geleng-geleng kepala. Aku nyengir.

"Bu Tina, ko sakit cacar cepet banget sembuhnya? Cuma tiga hari gak ada bekasnya?" tanyaku pada rekan kerja.

"Aku minum mapo, Ndah. Jadi cepet kering." jawabnya.

"Ohh, mapo. Kalo saya dulu dikasih air teh basi biar cepet kering cacarnya." kataku.

"Owalah.. Dikasih teh basi toh. Pantes kamu jadi basi gini, Ndah.." ujar Bu Vanda diiringi tawa.

Manisan mangga di mangkuk masih banyak dan saya bersedia memakannya pelan-pelan hingga habis sementara langit masih saja hujan.

Minggu, 11 Mei 2014

Tuhan, Aku (Kembali) Datang

"Lancang!"

Sebuah suara penuh amarah menggema di telingaku. Dadaku berdebar hebat. Air mataku mulai jatuh. Sungguh merasa terguncang.

"Sadarkah atas kesalahan yang telah kau perbuat, wahai manusia?" tanya suara itu lagi.

"Kau berlindung di balik fitrah! Kau mencari pembenaran diri atas kesalahan yang telah kau lakukan! Masih berani kau menemuiKU?"

Aku tersungkur. Menangis tersedu-sedu. Hatiku dipenuhi rasa takut. Aku telah salah. Aku berdosa. Aku lemah!

"Ampuni aku, TUHAN.." jeritku mengiba di sela-sela tangis yang tak henti.

"Sungguh tiada tempat ku kembali selain ENGKAU. Aku memang berdosa, TUHAN. Tapi kumohon ampuni aku. Sungguh tak kan sanggup kutanggung siksaMU." kubenamkan wajahku diantara sujud pada bumi.

"Katakan, apa yang kau inginkan dariKU?" suara itu kembali melembut.

Diantara rasa takut dan isak yang tersisa, aku kembali menatapNYA. Cahaya yang sama yang selama ini kukenal. Lembut dan penuh pesona. Tak terurai oleh kata. Air mataku kembali jatuh, tak sanggup berkata-kata.

"Katakanlah sebagaimana kau biasa meminta padaKU."

"Ambil hatiku, TUHAN. Aku terlalu lemah dan belum sanggup menjaganya. Banyak luka dan kesakitan yang telah kutorehkan padanya. Aku takut dia akan terluka lebih parah."

"Dengarlah, wahai hambaKU. Dia tidak akan kemana-mana. Kau akan tetap hidup bersamanya. Bersama hatimu."

"Tapi, TUHAN.."

"Akan ada kebahagiaan yang menunggumu setelah ini, bersabarlah.."

"Tidak, TUHAN. Sungguh aku tak sanggup lagi jika harus.."

"Kau akan sanggup. Selama kau tetap bersamaKU." DIA tersenyum.

Aku bersujud.

- - - - * * * * - - - -

Aku tersentak dari tidurku. Napasku memburu. Keringat mengucur deras di pelipisku yang berdenyut-denyut. Ku pejamkan mataku dan mulai mengatur napas.

"Tuhan, aku datang.."

Menu Anak Kost: Sarden

Bukan anak kost namanya klo gak merana (halahh..). Gak lengkap rasanya jadi anak kost kalo semua hal serba tinggal beli. Sekali-kali mau coba jadi anak kost yang sesungguhnya *benerin sarung*



Pasang setrika pada posisi terbalik. Set setrika pada panas maksimal. Gelas difungsikan sebagai penahan kardus agar posisinya tidak bergeser. Walau matengnya agak lama tapi teteup poko'e maknyusss!!

Selamat mencoba *_^

Kamu, Apa Kabar?

"Ceu! Gue mau nikah!" ujar suara di ujung telepon. Aku tersenyum.

Ini baru pukul delapan pagi dan Rani, sahabatku, membicarakan pernikahan dengan begitu bersemangat. Mau tak mau aku tersenyum lebar dan seketika melupakan kesakitanhatiku. Ya Tuhan, terima kasih telah memberi sahabatku hidup yang sempurna. Ucapku dalam hati.

Rani tak henti berceloteh. Dan aku masih tetap bertahan menimpali setiap ucapannya. Entah bagaimana kebahagian seakan merambat dan menjalari setiap inchi tubuhku seperti gelitik lembut barisan semut hitam kecil.

Saat Rani memutuskan sambungan telepon, aku kembali dalam kegelapan duniaku. Dunia sepi yang kuciptakan sendiri. Kupejamkan mata dan mulai mengatur napas. Kepalaku berdenyut-denyut, seakan ada yang menekankan jarinya tepat di dahiku.

Kamu, apa kabar?
Maaf karena aku masih saja memikirkanmu
Walau tak pernah lagi ku berani menyapa kamu
Sampai hari ini aku masih saja mengkhawatirkan kesehatanmu
Apakah kau makan tepat waktu?
Apakah waktu tidurmu cukup?
Apakah hujan semalam sempat menyapamu saat berjalan pulang?
Apakah..
Ah aku tahu itu bukan lagi tugasku
Jadi, maaf
Kamu yang namanya tak boleh lagi kusebut, semoga kamu baik-baik saja
Dengan siapa pun yang menemanimu saat ini"


Kubuka mata dan bangkit dari duduk lalu berjalan ke arah pintu. Udara pagi pasti akan sangat menyenangkan saat ini. Karena bagaimana pun hidupku harus terus berjalan..

Menu Anak Kost: Roti Bakar dan Secangkir Energen



Semua dimasak dengan menggunakan rice cooker. Tanpa bantuan kompor. Dan hasilnya: GAK MENGECEWAKAN.

Yap. Udah sekitar seminggu lebih jadi anak kost edisi 2, saya yang terbiasa menggunakan kompor untuk memasak kini harus berteman dengan rice cooker untuk segala urusan.

Urutan memasak: air untuk melarutkan sebungkus energen. Setelah mendidih, tuang air pada gelas dan panci ternyata langsung kering. Lanjutkan dengan memasukkan lembaran roti.

Selamat mencoba ^_*

Sabtu, 10 Mei 2014

Review: Dark Lover by J.R. Ward





Niatnya pergi ke mall untuk cari peralatan makan tapi nyangkutnya di rak buku dan bertemulah dengan novel ini. Sebuah novel lainnya tentang dunia vampir. Tema yang terdengar tidak asing, ya? Berterima kasihlah pada serial Twillight yang menyapa kita dengan lembut dan manis karena Dark Lover menjadi sangat berbeda dengan cerita vampir yang selama ini terpatri dalam ingatan setiap kawana dan kawani.

Pertarungan abadi antara vampir dan pemburunya menciptakan sebuah dunia dengan tujuh kubu: Scribe Virgin, Black Dagger Brotherhood, vampir sipil, Omega, Lessening Society, Lesser dan (tentu saja) manusia. Apa bisa terbaca polanya?

Wrath, Sang Raja Buta dan sekaligus Pemimpin Black Dagger Brotherhood, memutuskan untuk tidak meneruskan takhta karena rasa bersalahnya pada kegagalan menyelamatkan keluarganya. Jumlah vampir sipil turun drastis karena perburuan para Lesser di bawah kepemimpinan Omega. Dan Scirbe Virgin sebagai pemimpin tertinggi para vampir tidak dapat melakukan apapun karena tidak ada yang mendatanginya. Tidak ada raja yang berdoa dan memohon padanya.

Masalah bermula dengan kekhawatiran sang ayah vampir terhadap masa transisi anak perempuan setengah manusia menjadi vampir seutuhnya. Sang ayah, Darius, yang juga salah seorang prajurit Black Dagger Brotherhood, takut putrinya mengalami kegagalan masa transisi dan mati. Hanya Wrath, Sang Raja yang memiliki darah murni yang dapat menyelamatkannya. Namun sayang, saat semuanya seakan kembali seperti biasa, Darius mati.

Karena merasa berhutang, Wrath kemudian memutuskan untuk menemui perempuan setengan vampir putri Darius, Beth. Dan entah bagaimana Beth membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Entah apa, hanya terasa berbeda.

Tidak ada adegan vampir meminum darah manusia hingga mati dan meninggalkan dua luka menganga pada leher, mereka hanya meminum darah dari vampir pasangannya. Keterkejutan akan kulit vampir yang sedingin es kutub selatan juga tidak ada di buku ini saat Beth dan Wrath bersentuhan. Dan vampir juga tidak kebal senjata. Seperti halnya manusia, di buku ini mereka juga bisa terluka.

Lika liku perjalanan cinta dan pengabdian Sang Raja membuat buku ini sama sekali tidak membosankan. Walau ada beberapa bagian yang saya anggap berlebihan tapi ya sudahlah.

Akhir kata dari saya: Wrath layak naik tahkta. Selamat!

Masa Lalu Yang Menyakitkan: Sinusitis

Sekitar dua malam yang lalu, sebuah sms dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel saya. Sms itu menjelaskan bahwa si pemilik nomor, yang kemudian saya ketahui bernama Arya, baru saja membaca postingan saya di salah satu pertanyaan terbuka yahoo tentang sinusitis.

Sebagai salah satu "mantan" sinusitis saya tahu bagaimana hari-hari yang dijalani dengan penuh penderitaan. Perubahan suhu sekitar, bau menyengat dan tiba-tiba, rasa pedas, debu atau bahkan sentuhan ringan yang tidak sengaja di area hidung bisa menjadi penderitaan sepanjang waktu. Bau amis yang mengganggu, tidur mendengkur, iritasi mata dan rasa sakit pada tulang pipi adalah teman sejati para penderita sinusitis. Sungguh kami telah kehilangan separuh kenikmatan hidup.

Berbagai obat berharga ratusan ribu dan ramuan tradisional dengan segala rasa yang tidak mengenakan perut dan mulut pun telah saya coba. Jangan tanya hasilnya, semua NIHIL. Saya pun sempat ditawarkan terapi-terapi aneh dengan asap, tusukan di dahi yang belum sempat saya jalani karena tempat pengobatan yang terlalu jauh.

Jujur aja saya sempat pasrah dengan penyakit saya yang tidak kunjung mengalami kemajuan ke arah kesembuhan. Tapi syukurlah doa saya di dengar Allah.

Dikatakan kemudian, Mas Arya yang saat ini sedang menjalani pendidikan di Bandung berusaha mencari obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya sebelum beliau kembali bertugas di Ternate. Jadi inget temen kerja dulu yang juga dari Ternate. Hai "Bu Besar" Vini Laila Timura, kapan nih ditraktir di Kedai Chaki #lho..

Beberapa waktu yang lalu, beberapa orang lain juga pernah menghubungi saya terkait pengalaman penyakit sinusitis mereka. Bahagia rasanya bisa berbagi pengalaman dengan sesama penderita sinusitis. Semoga kesembuhan segera mendatangi mereka dimana pun mereka berada, seperti saya saat ini. Aamiin..

Menu Anak Kost: Pasta Level 10

Huwaaaa!! Puedese poooolllll !!

Gak bisa mikir, langsung cek penampakannya nih


Kamis, 17 April 2014

4 Hal Yang Tidak Boleh Ada di Rumah (Saya)

Waktu mules-mules kemarin sempet ngebayangin lagi ngidam. Nikah aja belum, udah mikir hamil. Apa daya hasrat memiliki anak sungguh sangat luar biasa hehehe

Lalu saya kembali terkenang tentang kehebohan obrolah di salah satu grup whatsapp tentang pembunuhan yang dilakukan dua orang ABG, moment pada path seorang mahasiswi PTN yang minim toleransi dan tindak susila pada murid di salah satu sekolah berstandar internasional. Brrrr.. Langsung merinding. Akan seperti apa kehidupan yang akan dijalani anak saya nanti ya?

Saya sebagai seorang calon ibu, tentu akan berusaha melindungi keluarga. Terutama produk (konten) yang akan dikonsumsi oleh si buah hati. Namun sebagai manusia, saya tentu tidak bisa selamanya stand by menjaga buah hati. Jadi saya menarik kesimpulan untuk tidak akan menghadirkan beberapa hal di rumah saya nanti untuk melindungi mereka.

Apa aja sih yang gak boleh ada di rumah saya nanti? Yuk disimak:

1. Televisi
Walau harus kehilangan menyaksikan episode Mamah dan Aa, tapi saya harus merelakan benda ini menghilang dari daftar benda yang ada di rumah. Jujur saja, konten hiburan yang lebay, memaksimalkan pornografi dan kekerasan meyakinkan saya untuk tidak menyediakan tivi di rumah.

2. Komik
Alasan yang sama dengan yang di atas.

3. Minuman bersoda
Gak akan ada hal positif dari meminum minuman ini.

4. Rokok
Terserah jika nanti suami saya adalah perokok. Asal dia tidak membawa rokok ke dalam rumah, semuanya akan tetap biasa. Saya tidak akan mencari tentunya, tapi jika saya temukan maka rokok itu akan saya tumis pake pete.

Udah kali ya segitu dulu. Gampang lah nanti bisa di tambah ^_*

Rabu, 16 April 2014

Untukmu Kota Depok

Setelah tepar seharian dan hampir gak bisa move on dari tempat tidur, pagi ini akhirnya bisa kembali beraktifitas seperti semula. Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur.

Gak terasa udah hampir 2 tahun saya tinggal di Depok, sebuah kota yang sebelumnya hanya saya singgahi beberapa kali dalam sebulan. Dan kini setiap hari saya memulai aktifitas dari kota ini. Kota yang tidak pernah saya bayangkan seperti apa sebelumnya. Hadeeuhh..tetiba jadi melankolis gini hehehe

Pagi ini setelah sholat subuh, nyiram tanaman di halaman depan, menggoreng pisang dan nyapu halaman belakang, saya masih sempet nyuci baju sebelum berangkat kerja. Angin dingin yang membelai daun-daun pisang, udara sejuk dan paparan hangat sinar matahari dari celah-celah daun pisang yang menyirami tubuh saya membawa angan-angan saya menjelajah kota Depok tercinta ini. Disinilah hidup saya bermula (lagi) setelah dulu pernah menyinggahi Lenteng Agung sebagai tempat tinggal selepas SD.

Bertemu teman-teman senasib se-kota Depok yang sering terjebak macet atau kena gangguan kereta api, nyobain makanan nostalgia pinggir jalan ala anak SD, ngopi-ngopi hore di Ranah Kopi atau uji nyali makanan pedes di lesehan Nasi Jancuk seberang Mares bahkan tanding futsal di belakang LIA.

Di kota Depok lah semua bermula. Disini, saya mulai memikirkan hal-hal yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Misalnya saja macet di Margonda, lampu merah Juanda, pertigaan TipTop, jln. Dewi Sartika, sulitnya angkot 07 setelah lewat jam 8 malem atau patahnya panthograph di UI atau gangguan wesel yang menyebabkan antrian kereta api. Hahaha. Walau bagaimana pun saya tetap mencintai kota ini.

Di kota Depok semuanya bermula. Akankah juga tempat saya menutup mata?

Akhir kata untuk mu kota Depok, selamat pagi ^^

Selasa, 08 April 2014

Surat Untuk Ibu

"Bu, aku ingat sebuah kisah yang dulu sering kau ceritakan kepadaku, tentang seorang putri pengembara yang menulis kisah sejatinya mencari sang penambat hati. Sambil berbaring di pangkuanmu dan jemarimu membelai tipis helai rambutku. Bu, aku ingat kisah itu.."

"Seiring berjalannya waktu dan tentang semua kisah yang pernah kudengar, aku tumbuh menjadi jelita penebar cerita. Kuurai lagi ingatanku tentang kisah-kisah lama, kisah tentang sang putri pengembara, berharap bisa meniru apa yang dulu pernah dilakukannya. Lalu kusadari aku telah salah."

"Aku hidup di dalam dunia yang sesungguhnya, bukan dalam sebuah kisah. Semua yang kudengar dulu hanyalah dongeng penenang jiwaku. Agar aku dapat tidur bersama mimpi-mimpi yang membahagiakan hati. Bukan sebagai masa depan yang harus kuwujudkan."

"Bu, maafkanlah aku untuk semua kesalahan yang telah kubuat, untuk mimpi-mimpi dan harapanmu yang sempat kuwujud, untuk semua bahagia yang masih tertunda. Maaf, aku belum sanggup."

"Bu, sungguh aku dapat melihat kesedihanmu kala mereka meninggalkanku sendiri. Sungguh aku dapat melihat kecewamu karena menyadari bahwa aku masih menyendiri. Sedang mereka, teman-temanku, telah bahagia dengan sebuah keluarga yang baru. Sungguh aku dapat melihat itu. Jadi kumohon, tersenyumlah."

"Bu, maafkanlah aku yang tak sempurna. Belum dapat kuwujud untuk semua yang kau pinta. Belum dapat ku ukir di wajahmu sebuah senyum bernama bahagia. Bu, maafkanlah aku yang masih selalu membuatmu resah."

"Bu, sungguh aku berjanji untuk menuruti semua nasihatmu. Akan ku tulis sebuah kisah paling indah dalam hidupku untukmu. Bukan karena ku temukan seorang pengembara paling sempurna. Namun kisah indah ini akan dirangkai oleh rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Tak kan ku pinta pesta yang mewah, tak kan ku pinta rumah yang megah, tak kan ku pinta perhiasan paling indah dan tak kan kucari dia paling bertahta."

"Bu, terima kasih untuk tidak pernah bertanya tentang apa yang sedang kurasakan. Terima kasih untuk dukungan tanpa kata yang kau selalu berikan. Terima kasih atas kesabaranmu menungguku siap untuk berbagi cerita. Terima kasih untuk telah bersedia menjadi ibuku. Terima kasih.."

Kamis, 03 April 2014

Cantengan, Aku Kudu Piye?

"Setiap penyakit ada obatnya."

Beberapa waktu yang lalu, kakak ipar perempuan di rumah sedang galau bukan main. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak dikarenakan penyakit yang menyerang jempol kakinya: cantengan.

Yup! Bagi sebagian orang yang putus asa, biasanya pengobatan untuk kuku cantengan adalah ke dokter. Praktis dan cepat. Untuk mereka yang berjiwa kreatif dan pejuang, bebat obat tradisional jadi tumpuan.

Tapi tau gak ada pengobatan cantengan yang alami, murah, mudah dan nyaman? Yup, kawana dan kawani gak salah baca koq. Obat cantengan adalah: pacar kuku. Tinggal campur dengan air lalu oleskan. Dijamin cantengan kawana dan kawani sembuh. Selamat mencoba ^_*

Senin, 24 Februari 2014

Dangdutan nih?

Sore ini hujan dan dangdut di lapangan dekat rumah gelaran hajat Pak RT terpaksa berhenti berdendang. Saya sebagai penikmat musik apapun (termasuk musik dangdut) tak bermasalah dengan gelaran tersebut. Beberapa lagu yang dibawakan pun sempat membuat saya ikut berdendang.

Tapi pernah gak perhatikan list lagu dangdutan di acara nikah itu agak ganjil? Seharusnya di acara nikahan daftar lagu yang di bawakan adalah lagu cinta yang ceria. Tapi yang sering kali terjadi justru lagu-lagu sedih yang dinyanyikan sang biduan. Bukankah tiap ucapan adalah doa?

Banyak kok lagu dangdut bertema cinta yang baik dan bisa menjadi doa. Berikut sedikit daftar yang mungkin bisa menjadi acuan:
1. Terlena - Ike Nurjanah
2. Dasi dan Gincu - Rhoma Irama
3. Siapa yang Punya - Rhoma Irama
4. Azza - Rhoma Irama
5. Aku Tidak Suka Lagu Dangdut - Angel Lelga
6. Jodoh Dunia Akhirat - Rita Sugiarto
7. Mutiara Kasih Bunda - Eri Susan
8. CAKA - Novi Ayla
9. Mati Lampu - Nasar
10. Dewa Amor - Ridho Rhoma
dll

Ternyata masih banyak bukan lagu dangdut bertema cinta? Jadi gak melulu harus Gedung Tua, Tiga Kursi atau bahkan Mandul yang mengalun dari bibir sang biduan. Akhir kata "maju terus musik Indonesia!".

Salam Dangdut is the music of my country.

Rabu, 15 Januari 2014

Ketawa Dulu

Kalo lagi ujan-ujan gini, emang paling enak mengenang masa lalu di temani secangkir kopi panas. Sedaaaap!

Belakangan, saya sering inget kejadian waktu zaman SD dulu yang bikin saya gak bisa berhenti ketawa. Zaman saya masih lugu dan polos kaya buku tulis. Haha.

Zaman itu, lagi naik daun banget yang namanya kuis Familly 100. Pasti tau dong gimana cara mainnya. Nah, sebagai anak-anak zaman SD yang selalu ceria, kami seperti merasa perlu untuk ikut bermain dan "mereka ulang permainan" #eaaa

Singkat cerita, saya pernah di ajak Familly 100 ala SD. Jadi waktu itu di jam istirahat, saya di tarik sama Farah, temen sekelas, untuk ikut main. Nah, kebetulan saya jadi orang giliran kedua yang menjawab. Anehnya setiap kali Farah melempar pertanyaan, saya gak bisa denger suara Farah. Padahal saya yakin banget kalo Farah sampe teriak-teriak waktu ngelempar pertanyaan.

Dengan semangat saya tetap menjawab pertanyaan walau tidak mendengar apa pertanyaannya. Entah kenapa semua jawaban yang keluar dari bibir saya adalah nama-nama penyanyi dangdut *tepok jidat

Jawaban pertama: Rhoma Irama.
Jawaban kedua: Meggy Z.
Jawaban ketiga: Mansyur S.

Farah dan teman-teman lain marah mendengar jawaban yang keluar dari bibir saya kala itu. Sampe saya diancam gak di keluarkan dari permainan. Saya makin bingung kenapa saya tetap gak bisa denger pertanyaannya. Lalu...

Teeett..

Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Dan akhirnya permainannya berhenti. Farah dan teman-teman lain lain langsung duduk di tempat mereka dengan wajah masih merengut. Penasaran, saya mengambil kertas pertanyaan yang tertinggal di meja saya. Dan saya jadi ketawa sendiri setelah membacanya. Mau tau gak apa pertanyaanya?

SEBUTKAN NAMA-NAMA ARTIS YANG MEMBINTANGI IKLAN SABUN MANDI LUX

Bhahaha. Piss ah

Selasa, 07 Januari 2014

Baso Iga



Hari Sabtu kemarin, sedang berniat jalan-jalan tanpa arah. Trus niatnya mau beli kebab untuk makan di perjalanan. Apa daya tukang kebabnya menghilang entah kemana.

Kemudian sebuah spanduk di lampu merah Depok membuat saya penasaran: Bakso Iga. Seperti apa rasanya?

Tanpa banyak pertimbangan saya pun masuk ke sebuah warung makan tenda ini dan memesannya. Dan saat saya mencicipi kuahnya, rasanya sungguh BIASA!. Laiknya kita memakan soto daging dengan tambahan beberapa butir bakso aja. Dan yang lebih mengagetkan adalah rasa baksonya sungguh HAMBAR. Sungguh mengecewakan.

Dengan harga semangkuk bakso di patok pada angka Rp 17.000 saya tidak menyarankan kawana dan kawani mencoba menu ini. Walau daging iga nya sangat empuk dan kuah soto yang standar, namun menu ini bukan pilihan istimewa yang harus kawana dan kawani coba.

Selamat makan siang ;-)