Selasa, 17 Desember 2013

Kita Pernah Hampir Berhenti

Aku tertunduk lesu sambil sesekali menghela napas. Beberapa kali air mataku hampir saja terjatuh, namun selalu saja ada seseorang yang dengan lembut meremas bahuku dan meredam perasaan itu. Kini, aku hanya dapat menunggu seseorang mengabarkan berita padaku.

Berkelebat lagi bayang-bayang kenangan masa lalu. Saat dimana kami menghabiskan waktu bersama dengan ribukan kata-kata. Atau saat dimana kami hanya duduk diam dan membiarkan hati kami yang bicara.

* * * * *

Sejak satu jam yang lalu kami duduk di kafe ini. Memandang jalanan dengan orang yang berlalu lalang tiada henti. Menghindari sapaan matahari yang terlalu dekat pada bumi.

Alunan nada-nada indah nan lembut merayapi tiap sudut ruang di kafe ini. Dan pencahayaannya yang dramatis membuat kami hanyut dalam pikiran masing-masing.

Pria di hadapanku menarik napas lagi. Tangannya terus memainkan sendok kecil di dalam gelas kopinya. Pandangannya sesekali terlempar ke jalanan, menghindari tatapanku yang terfokus di wajahnya.

"Jadi?" tanpa sadar aku mengatakan kata yang sama beberapa kali. Pria di hadapanku menatapku sebentar lalu kembali sibuk memainkan sendoknya.

"Selalu saja mentok pada bahasan yang sama. Kau terlalu keras memegang prinsipmu." katanya acuh.

"Jadi benar, aku yang salah. Aku yang harus terus berkorban. Atau apakah kau yang tak pernah bersedia memahami?" ujarku kesal.

"Sudahlah. Aku bosan bicara tentang ini."

"Kenapa?" aku menuntut.

Pria di hadapanku kembali melempar pandangannya ke jalan. Beberapa kali menghela napas. Matanya menyipit. Sebuah beban berat seakan sedang menantinya di ujung jalan sana.

"Kau berhak mendapatkan seseorang yang memiliki pandangan yang sama denganmu." jawabnya.

Deg! Aku terhenyak. Sebuah balok kayu besar seakan menimpa kepalaku. Tak menyangka akan mendengar kalimat itu darinya. Mataku seketika buram, air mataku hampir saja jatuh. Aku menghela napas.

"Bagaimana mungkin kau bisa berfikir aku akan berhenti sedemikian mudah jika sampai detik ini di dalam doaku masih terselip namamu?!" suaraku terbata di sela napas yang semakin berat.

Di luar, langit mulai terlihat mendung. Daun-daun pada ranting pohon seakan melambai-lain di tiup angin. Beberapa daun kering melayang di tengah jalan. Gerimis lalu turun menimbulkan ribuan anak sungai pada dinding kaca.

* * * * *

Aku meremas jari-jariku. Perempuan setengah baya di sampingku masih dengan setia menenangkan gemuruh di dadaku. Senyumnya yang manis di wajah lembutnya dan belaiannya di punggungku, sejenak membuat aku melupakan ketakutan yang sejak tadi membayang.

Sayup-sayup ku dengar riuh ucapan syukur dari luar ruangan. Aku mendongak, begitu pun perempuan setengah baya di sampingku. Seorang gadis muda berkerudung merah muncul dengan wajah sumringah dari pintu yang tiba-tiba terbuka.

"Sudah selesai! Dia berhasil!" ujarnya tak jelas.

Aku memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebuah pelukan lembut dan hangat kemudian menyergapku yang masih kebingungan. Mata perempuan setengah baya di sampingku basah diantara wajah lembutnya yang tersenyum.

Perempuan setengah baya menuntunku keluar ruangan. Menjumpai wajah-wajah penuh senyum lainnya. Beberapa jabat tangan dan ucapan selamat menghampiriku bertubi-tubi. Aku masih belum menyadari apa yang terjadi. Dadaku berdebar-debar terlalu hebat hingga rasanya sakit sekali.

"Lihatlah. Itu suamimu." bisik perempuan setengah baya di sampingku.

Aku mendongak. Mataku menangkap sebuah wajah yang sejak berminggu-minggu lalu kurindukan. Sang pemilik nama yang selalu ku selipkan kala berdoa. Air mataku lalu jatuh berderai kala menyadari kalimat perempuan setengah baya di sampingku. Pria itu.. dia suamiku.

Bagi kami, hujan memang baru saja turun. Namun hal itu tak kan bisa memaksa kami untuk berhenti. Karena kami percaya bahwa matahari akan selalu datang membawa sewarna pelangi.