Sabtu, 09 November 2013

Gadis Bumi

Aku tahu dia mencintaiku karena dia pernah berkata begitu. Aku hanya tidak tahu kapan dia akan benar-benar datang untuk meminangku..


Aku berlari menghindari gerimis hujan yang turun sejak pagi. Genangan air berkecipak di bawah langkahku yang terburu. Tanganku mencincing rok sedikit ke atas agar tidak terkena cipratannya. Bercak noda cokelat tertinggal di ujung sepatuku.

Awan hitam menggelayut di bawah langit sore yang mendung. Matahari bersembunyi lebih cepat dari seharusnya, meninggalkan udara dingin yang menyengat. Hembusan suara angin yang ribut membuatku bergidik ngeri dan mengigil.

Aku menarik ujung kerah jaketku. Berusaha menghalau udara dingin yang membekukan tulang. Aku menyentak-nyentakkan kaki ke tanah, mencoba membuat gerakan-gerakan yang mungkin dapat mengurangi rasa dingin.

Kutengok lagi jam tanganku. Aku masih punya waktu beberapa belas menit sebelum janji temu dengannya. Aku tidak terlambat.

Ragu-ragu aku melangkah memasuki tempat janji bertemu. Sebuah ruangan dengan kesan elegan dan pencahayaannya yang membuat hati nyaman. Memandangnya saja sudah membuatku enggan untuk pulang. Jika bukan karena dia yang meminta untuk bertemu disini, mungkin aku tak kan pernah menginjakkan kaki kesini.

"Permisi.." aku menoleh ketika sebuah suara menyapaku. Seorang pramusaji berwajah ramah tersenyum memandangku. Aku mengangguk kecil padanya.

"Mari, saya tunjukkan meja anda.." ujar pramusaji lagi.

Aku diam mengikuti langkah pramusaji tadi. Setelah beberapa lama berjalan, pramusaji tadi mempersilahkan aku duduk di salah satu meja di sebuah ruang terbuka. Pohon-pohon hijau dan beberapa jenis bunga dalam pot disusun rapi dan teratur. Aku menunggu.

Tak lama kemudian seorang pramusaji lain masuk dan membawa baki berisi sepotong kue dan segelas minuman. Dia menghampiriku.

"Silahkan.." katanya padaku.

"Tapi saya belum memesan." jawabku. Dia tersenyum seraya memintaku mencicipi kue itu.

"Bagaimana rasanya?" tanyanya setelah aku mencicipi kue yang dia bawa.

"Rasanya sedikit asam, gurih dan manis. Enak." jawabku.

"Itu blueberry cheese cake." dia tersenyum lalu meninggalkanku.

Tak lama berselang, seorang pramusaji lain menghampiri mejaku. Membawa baki dengan sepotong kue lain di atas piring. Lagi, dia mempersilahkanku mencicipi kue tersebut.

"Bagaimana rasanya?"

"Rasanya sedikit pahit dan manis." jawabku.

"Itu blackforrest." dia tersenyum lalu meninggalkanku.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda dengan senyum di wajahnya dan baki di tangannya datang menghampiri mejaku. Laki-laki yang memintaku datang ke tempat ini. Dalam balutan kemeja lengan panjang berwarna gading yang di gulung hingga siku dan celana jeans, laki-laki muda itu tampak begitu mempesona. Dia laki-laki ku, Bumi.

Bumi menarik kursi seraya meletakkan baki di meja. Wajahku pasti menyiratkan kebingungan dan tanda tanya, tapi dia hanya tersenyum menatapku.

"Kue-kue tadi, mungkin bisa sedikit mewakili hidup yang akan kita jalani. Asam, asin, manis, gurih dan pahit. Aku mungkin tidak akan bisa menghadirkan kemewahan dalam hidupmu. Tapi jika kau bersedia, kita akan sama-sama membangun hidup bahagia penuh cinta, dan menjadikannya lebih mewah, seperti kue ini.." matanya mengarah pada kue yang dibawanya, "..Sepanjang kita bersama, aku selalu menemukan alasan untuk tetap berada disisimu. Mencintaimu. Dan aku tak pernah punya satu alasan pun untuk pergi dan meninggalkanmu.." dia berhenti sejenak, menarik beberapa napas panjang.


"Terima kasih.. Untuk kehadiranmu dalam hidupku. Untuk air mata dan doa-doa panjang di setiap akhir sujudmu. Terima kasih.. Atas kesediaanmu menungguku.."

Sebuah kotak kecil berwarna biru tersorong dihadapanku, entah dari mana asalnya. Sebuah cincin mungil berukir sederhana namun indah terselip di antara bantalan busa, terlihat saat kotak itu terbuka.

Deg!

Kakiku bergerak-gerak gelisah. Hatiku berdebar terlalu kencang. Mataku panas, air mataku rasanya hampir saja tumpah. Aku menggigit bibir. Ya Tuhan, kuatkan aku.

"Gadis.. Izinkan aku menjadikanmu sebagai satu-satunya cinta yang halal untukku.."

"Bumi.."

Sejenak, matahari kembali cerah di sela senja yang sebentar lagi tiba. Semilir angin lembut nan sejuk menyapa wajah-wajah penuh bahagia. Buliran air mata tertumpah di akhir anggulan pelan dan malu penuh bahagia. Seorang jelita kini tak kan lagi merasa merana. Semoga. Semoga...


Note: untuk Bumi, untuk sebuah janji