Sabtu, 31 Agustus 2013

Tiket Harian Berjaminan: Apalagi ini?

PT. KAI masih terus berbenah diri. Pertanggal 22 Agustus 2013, PT. KAI memberlakukan sistem tiket baru yang diberi nama Tiket Harian Berjaminan (THB). Hal ini disebabkan karena gagalnya sistem Tiket Single Trip.

Pada awal peluncuran e-Ticketing (kartu single trip), banyak penumpang yang pada akhirnya membawa pulang tiket kereta api. Koq bisa? Hal ini disebabkan oleh kurangnya fasilitas pendukung (banyaknya stasiun belum dilengkapi pintu gate out di awal peluncuran e-Ticketing). Sehingga para penumpang yang enggan mengembalikan tiket Single Trip, membawa pulang kartu-kartu tersebut.

PT. KAI diperkirakan kehilangan hampir 800.000 kartu atau setara dengan nilai 4 miliar rupiah. Angka yang amat fantastis dari sebuah uji coba sistem, bukan? Dalam hal ini, PT. KAI jelas-jelas telah dianggap gagal oleh banyak pihak.

Lalu, bagaimana cara kerja sistem Tiket Harian Berjaminan?

Tiket Harian Berjaminan (THB) adalah sistem yang memaksa penumpang untuk disiplin (tidak membawa pulang tiket kereta api). Tarif yang diberlakukan adalah sama dengan tarif kartu Multi Trip. Bedanya, untuk THB penumpang di wajibkan membayar jaminan kartu sebesar Rp 5.000. Uang jaminan ini akan di kembalikan (refund) setelah penumpang sampai di stasiun tujuan dengan menukarkan THB. Proses refund berlaku selama tujuh hari.

Ilustrasi: Pagi hari, penumpang berangkat dari St. Depok Baru (membeli tiket THB di stasiun awal) dan berhenti di St. Jakarta Kota. Penumpang akan membayar Rp 10.000 (Rp 5.000 untuk harga tiket dan Rp 5.000 untuk jaminan kartu). Sore hari, penumpang kembali dari St. Jakarta Kota menuju St. Depok baru. Penumpang hanya perlu membayar Rp 5.000. Di akhir minggu, penumpang melakukan proses refund di stasiun awal pemberangkatan. Di minggu berikutnya, proses berulang.



Saya sendiri lebih memilih menggunakan tiket Multi Trip. Selain lebih praktis, saya juga tidak perlu membeli tiket lagi jika ingin pergi ke stasiun tujuan lain.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kenangan..

Selamat sore..!!

Saat menulis ini saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah menggunakan moda transportasi ular a.k.a kereta listrik Commuter Line. Konon kereta yang saya naiki ini adalah salah satu dari 172 rangkaian kereta hibah dari Pemerintah Jepang, lho. Bangga atau malu? Gak usah dibahas lah yaa. Lanjut!!

Tulisan ini cuma buat ngisi waktu luang di kereta aja (gangguan antrian kereta di stasiun Gambir!). Dari pada tidur? Tul gak? Jadi sambil dengerin winamp di headset, biarkan jari-jari saya berbicara.

Bagi yang pernah membaca tulisan saya (cerpen di blog ini), pasti tau terdapat beberapa kata yang sangat sering saya ulang. Misalnya; hujan, kopi, malam, sendiri, langit, jalanan basah, gerimis atau diam. Ngeh gak? Hehehe. Jangan heran, karena memang seperti itulah saya.

Entah sejak kapan tepatnya saya mulai jatuh cinta pada kopi. Aromanya yang khas selalu berhasil membuat pikiran saya mengangkasa. Kadang sore, seringkali pagi, saya mengisi segelas besar kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Lebih nikmat baik dalam suhu panas maupun dingin. Saya tidak peduli teman-teman menjuluki saya sebagai "Dukun". Hahaha.

Tak hanya meminum kopi, saya suka mengawali cerpen saya dengan kalimat "beraroma kopi" atau nge-tweet sesuatu yang berhubungan dengan kopi. Saya akan memejamkan mata sejenak, mengatur napas pelan dan teratur, membangun suasana. Rasanya seperti memasukkan separuh dari jiwa saya ke dalam cerita tersebut.

Aku hidup diantara kopi dan pagi dimana bulan terlambat pergi. Mimpi tentangmu yang datang semalam memenuhi ruang kenangan. Andai saja kau disini bersamaku, tak peduli pintu surga telah terbuka, aku akan memilih menghabiskan kopi ini.. bersamamu...



Lalu tentang malam. Banyak yang bisa saya gali dari malam, misalnya; purnama, bulan, bintang dan sepi. Saya senang melihat bintang saat malam, bukan untuk dihitung seperti scenekebanyakan film atau sinetron. Saya hanya menikmati kelip dan terangnya. Dulu, sewaktu saya masih bekerja dengan jadwal shift, saya sering memandang bintang sambil berkhayal. Konyol? Hahaha. Dan berjalan di saat malam, saya masih melakukannya hingga kini!

Hujan, gerimis atau jalanan yang basah mengingatkan saya pada kenangan masa kecil. Tinggal di sebuah kampung Betawi daerah pinggiran Kota Jakarta, membuat saya masa kecil saya terasa sempurna. Sepeda ria tiap sore, mandi di kali sambil nyari siput, pergi mengaji di mushala Bang Udin, manjat pohon kecapi, perang-perangan berpeluru bunga jambu di kebon, main layang-layang di pematang sawah, panen ikan di empang Kong Duloh, sampe maen hujan-hujanan bareng temen-temen adalah kenangan terindah dalam hidup saya. Bertemu teman-teman saya saat ini seringkali membuat kami tertawa tanpa harus bicara. Saat mata kami bertemu, kami akan ingat, betapa kami dulu adalah para petualang-petualang kampung yang bahagia! Dan hujan membantu saya mengingat semua kenangan itu. Ya Tuhan, betapa saya merindukan masa-masa itu..

Hujan. Aku akan tetap menyukainya. Sesering apapun dia datang..

Aku Tak Ingin Sendiri

Sendiri. Melangkah di bawah langit malam. Menjejak kenangan yang tercecer di pinggir-pinggir jalan. Ku tendang batu kecil hingga terpental menjauh. Aku mendengus. Seharusnya aku tak disini..


Aku terbangun dengan dering telepon memenuhi kamar tidurku yang sempit dan pengap. Aku bangun dengan malas dan meraih ponsel di atas meja samping tempat tidur sementara mataku masih terpejam .

"Halo.." ujarku dengan suara seperti orang mabuk.

"Selamat ulang tahun, Sayang.."

Suara seorang wanita membawa rohku kembali ke tubuh yang kosong ini. Aku menegakkan tubuh seraya mengucek mataku yang masih lengket. Ku hirup napas dalam-dalam. Lembab dan aku tersedak. Tiba-tiba merasa segar. Aku menghadapi dunia nyata.

"Semoga aku tetap menjadi yang pertama mengucapkannya. Aku mencintaimu.." ujar suara itu lagi.

"Ya Sayang, tentu, kau adalah yang pertama mengucapkannya." jawabku, berusaha keras terdengar normal.

"Assalamualaikum.." sayup-sayup terdengar suara di luar rumah.

"Kirimannya sudah datang. Selamat menikmati." katanya lagi.

"Sayang, terima kasih. Aku mencintaimu..." ucapku pelan.

"Aku juga mencintaimu.."

Aku bergegas keluar rumah. Sebuah wajah sumringah lelaki di usia pertengahan empat puluh menyapa mataku. Ditangannya, terdapat dua kotak putih besar polos yang terlihat di susun hati-hati. Aku menyambutnya. Kotak putih besar itu pun berpindah.

"Selamat ulang tahun ya, Om. Semoga akhir tahun ini kalian memutuskan untuk menikah. Selamat menikmati kuenya!" ujar laki-laki tadi sambil berlalu. Aku hanya tersenyum kecut.

Pelan-pelan kubuka kotak putih besar itu. Satu kotak berisi kue tart besar bergambar logo Manchester United, klub bola favorit ku. Kotak lainnya berisi macam-macam lauk pauk kesukaanku; ayam goreng, rendang, sambel goreng hati, dendeng sapi dan beberapa macam kerupuk dan.. segelas milkshake vanilla. Ya Tuhan, dia ingat. Dia selalu ingat.

- - - - - * * * * * - - - - -

Ku seruput lagi minumanku hingga tandas. Milkshake vanilla. Kulempar pandanganku keluar jendela. Memandangi jalanan basah dan air yang tergenang akibat gerimis sejak pagi yang tak kunjung reda. Matahari sore sembunyi di balik awan hitam yang berarak pelan.

Sudah hampir dua jam kami duduk di kafe ini dan belum ada satu pun kata sepakat yang kami peroleh. Mempertahankan prinsip membuat hati dan jiwa kami lelah. Benar-benar lelah. Dan tak ada satupun dari kami yang berniat mengalah. Ah, mungkin benar kata mereka, kami berdua memang egois.

"Mau pesan minuman lagi?" ujar wanita di hadapanku. Sejenak kupandang wajahnya lalu mataku kembali mengamati jalanan.

"Bukan itu yang ingin kau katakan, kan?"

Kami kembali diam. Wanitaku menunduk sambil meremas jari-jarinya. Bingung bagaimana kami harus meneruskan pembicaraan tadi. Langit sore cerah walau hujan masih saja ada. Aku menghela napas.

Dimataku, dia adalah sosok wanita sempurna. Orang tua tunggal dari seorang gadis belia usia sekolah dasar yang bahagia sekaligus seorang wanita karier yang sukses. Semua usahanya berjalan baik dan lancar, namun tidak demikian dengan kehidupan pribadinya. Terlebih hubungannya denganku.

Sebagai laki-laki, aku terluka secara pribadi. Wanitaku memiliki segalanya kecuali seorang pendamping hidup. Sedangkan aku? Aku hanya seorang karyawan sebuah perusahaan swasta dengan gaji seadanya. Rasanya aku hanya akan menumpang hidup jika kami menikah sedang dia tetap menjalankan usahanya. Ahh, kepalaku pusing.

"Jika ada wanita lain yang lebih memahamimu dariku, menikahlah dengannya. Semua biayanya biar aku yang tanggung." wanita di hadapnku berkata tiba-tiba. Aku menoleh.

Napasku seakan berupa bara api. Panas. Rasanya aku hampir mati kehabisan oksigen. Mataku menatapnya tak percaya. Kata-kata itu seperti sebilah pedang yang menembus jantungku dan mematahkan tulang-tulang rusuk ku.

"Jangan bercanda!" semburku marah.

"Aku sungguh-sungguh. Aku rela kau menikahi wanita lain.." dia menghela napas, "Sepertinya hubungan kita akan tetap seperti ini. Lalu apa yang bisa kulakukan?" ujar wanitaku.

"Tapi aku mencintaimu.."

"Aku juga mencintaimu. Sejak dulu hingga nanti. Selalu." dia mengecup keningku lalu berlalu.

Aku menatapnya menjauh. Tak percaya dengan pendengaranku barusan. Dadaku rasanya sakit sekali. Seakan dihujam ribuan duri. Aku telah kalah. Kami berdua telah kalah. Lagi dan lagi. Entah sampai kapan.

- - - - - * * * * * - - - - -

Kulirik jam dinding di ruang tamu. Pukul dua belas malam lewat sepuluh menit. Ku nyalakan kan lilin ulang tahun di atas kue tart. Aku berdoa, untuknya dan untuk kebahagiaan kami. Lalu kutiup lilin itu. Sebulir air mata bening lalu meluncur turun di pipiku.

Aku, empat puluh dua tahun hidupku. Sendiri...

Selasa, 20 Agustus 2013

Tuhan, Aku Datang..

Pagi. Aku hidup diantara kopi dan ingatan tentang mimpi semalam. Mataku memandang uap kopi dari gelas yang sisa setengah penuh. Ku hirup aromanya dalam-dalam dan memejamkan mataku. Aku, mengingatmu. Tuhan, aku merindukannya...


- - - - - * * * * * - - - - -

"Kau sudah datang.." tanya-NYA.

"Ya, Tuhan aku datang. Maaf aku terlambat." jawabku seraya mendekati-NYA.

Rabu, 14 Agustus 2013

Donor Darah Aman

Hai!

Sekarang saya mau membagi informasi mengenai penyakit yang membuat seseorang tidak dapat mendonasikan darahnya karena resiko penularan yang mungkin dapat terjadi. Mungkin saja ada kawana dan kawani yang masih penasaran. Yuk disimak...

1. HIV/AIDS
Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Namun penderita HIV tidak berarti menjadi penderita AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) karena gejala AIDS baru akan muncul (rata-rata) 2-10 tahun sejak seseorang terinveksi. Sebelum muncul gejala AIDS seorang penderita HIV masih merasa dan tampak sehat. Bahkan pemeriksaan laboratorium pun bisa saja negatif. Masa antara masuknya HIV ke dalam tubuh manusia sampai terbentuknya antibodi terhadap HIV memerlukan waktu antara 2 minggu sampai dengan 3 bulan. Sebelum munculnya gejala AIDS, pengidap HIV dapat menularkan kepada orang lain secara tidak sengaja karena dia sendiri tidak tahu kalau terinveksi HIV.

Minggu, 11 Agustus 2013

Walini: Teh Asli Indonesia

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mempersiapkan artikel tentang teh, sayangnya karena satu hal yang amat ra-ha-si-a artikel tersebut gak jadi saya publikasikan.

Sepulang dari silaturahim ke rumah teman di daerah Tanjung Barat, saya mampir ke mart terdekat. Tiba di bagian teh, tetiba timbul penasaran akan rasa teh Walini. Dulu, saya pernah menonton sebuah berita di stasiun tivi berlambang kepala Elang tentang kemasyuran teh Walini di luar negeri. Teh Walini di cap sebagai teh asli Indonesia!

Kamis, 08 Agustus 2013

Gosong Tak Selamanya Pahit



Suatu sore sepulang kerja di bulan Ramadhan, saya melihat ibu saya duduk di teras sambil melamun. Tangannya sibuk menggerus bagian bawah kue yang terlihat agak hitam. Saya berjalan mendekatinya lalu duduk di hadapannya. Ternyata kue kering pesanannya gosong.

Saat itu kebetulan saya gak puasa, jadi saya comot satu potong. Hemh.. rasanya gak terlalu buruk, bathin saya kala itu. Lalu tangan saya seperti bergerak sendiri: memasukkan potongan-potongan kue gosong tadi ke dalam mulut. Walah! Sekejap saja loyang kue itu kosong. Saya nyengir ke ibu saya.

"Enak, Nek.." ujar saya pada ibu sambil tersenyum (nenek adalah panggilan saya kepada ibu).

Saya lalu beranjak masuk ke dalam rumah, mengambil toples lalu meyusun kue itu ke dalam toples.

"Ini jatah Ndah, ya.." ujar saya lagi sambil memeluk toples berisi kue gosong tadi.

Kamis, 01 Agustus 2013

Pandawa Negeri Cahaya

Aku menangis dalam diam. Mataku sembab akibat air mata semalam. Kasihku pergi, kasihku hilang. Aku terjerembab dalam kebingungan. Oh Tuhan, kuatkan aku dalam menjalani takdirMu. Aku rela atas kehendakMu.

Langit senja menyelimuti tubuhku yang lelah dan lemah. Cahaya jingga nan lembut membuat segalanya tampak keemasan dan indah. Semburat merah di ufuk barat bagai permadani yang membawaku melintasi bumi. Anganku melangkah memasuki dunia lain, tanah diantara cahaya.

Ku hirup lagi udara senja di tanah tempatku berpijak. Tubuhku mulai ringan. Sebuah beban berat seakan terangkat dari dadaku yang sejak tadi sesak. Gemerisik dedaunan tersapu angin menyapa telingaku bagai melodi indah negeri Sakura. Dapatkan kutemui para Dewa?