Sabtu, 26 Januari 2013

Hujan

Hujan baru saja usai, rintiknya yang lebat kemudian melambat. Diantara dinginnya yang masih tertinggal, aku menyelinap dalam balutan selimut dan secangkir teh hangat di teras rumah. Ku lemparkan pandangan jauh pada rimbunnya pohon-pohon hijau. Tiba-tiba ku lihat sesosok pria melintas diantara rumput ilalang kuning. Sejujurnya aku tak yakin benar apakah itu sosok pria atau perempuan. Hanya saja dari pakaiannya kurasa itu sosok pria. Setengah berlari dia melewati ilalang, telapak tangannya menyentuh ujung rumput tinggi itu. Aku memperhatikan langkahnya.

Hujan kembali datang. Semilir angin dingin berhembus, membawa percikan hujan menyapu wajahku. Gelas tehku yang tinggal setengah masih mengepulkan uapnya. Ku eratkan lilitan selimut di tubuhku. Entah pandanganku yang mengabur atau memang sosok itu yang mendekat, aku merasa ukuran sosok itu makin terlihat membesar. Ku tegakkan punggungku dan menunggu.

"Hai..." sapanya setelah sosok itu mendekat.

Rabu, 09 Januari 2013

Lamaran!


            “Ayo kita menikah..”

Ujar pria di depanku tiba-tiba. Aku tersikap, tak siap dengan situasi seperti ini. Entah mengapa kalimat itu terdengar begitu asing bagiku. Rasanya hampir tak dapat ku mengerti. Terdengar seperti kalimat dalam bahasa lain yang tak pernah ku dengar sebelumnya, kalimat dari bahasa suatu kaum yang baru ditemukan oleh para ilmuan. Tuhan, apa tingkat kecerdasanku sudah berkurang? Mungkin aku harus meminjam kamus bahasa dari perpustakaan nasional besok.

             Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Aku baru saja putus cinta dan lukaku masih menganga. Bagaimana mungkin secepat ini Kau hadirkan lagi seorang pria yang menuntutku untuk mencintainya? Aku pasti sudah pergi berlari sambil menangis jika saja kakiku tidak lecet karena gesekan di kulit sepatu baru. Aku heran, mengapa kaki ku tak pernah bisa bersahabat dengan kulit sepatu baru? Mengapa selalu saja menyebabkan lecet di kaki ku?

            Sepi. Aku memilih tak bersuara. Kami memilih tak berkata-kata tapi langit tahu, bulan tahu, Tuhan pun tahu bahwa masing-masing dari kami punya lebih dari sejuta kalimat untuk di ucapkan. Tapi tak ada satupun dari kami yang masih begitu berani untuk memulai pembicaraan. Entah aku harus bersyukur atau bersedih atas hal ini, aku hampir tak peduli.

Aku bahkan tak berani untuk menatap matanya, jadi kubenamkan saja wajahku dalam-dalam dalam mangkuk bakso di hadapanku. Ah, lecet di kakiku semakin terasa perih dan panas sementara bakso di mangkuk ku sudah hampir habis. Aku merasa pria di depanku sedang memandangku lekat-lekat, menunggu jawaban atau mungkin sebuah kalimat atau bahkan suara kecil dari mulut yang sudah ku kunci. Dan sayangnya kunci itu sudah ku telan bersama bakso yang makan. Bagaimana nasibku setelah mangkok bakso ini kosong? Kemana aku harus mencari perlindungan? 

Tuhan, beri aku jawaban.