Selasa, 17 Desember 2013

Kita Pernah Hampir Berhenti

Aku tertunduk lesu sambil sesekali menghela napas. Beberapa kali air mataku hampir saja terjatuh, namun selalu saja ada seseorang yang dengan lembut meremas bahuku dan meredam perasaan itu. Kini, aku hanya dapat menunggu seseorang mengabarkan berita padaku.

Berkelebat lagi bayang-bayang kenangan masa lalu. Saat dimana kami menghabiskan waktu bersama dengan ribukan kata-kata. Atau saat dimana kami hanya duduk diam dan membiarkan hati kami yang bicara.

* * * * *

Sejak satu jam yang lalu kami duduk di kafe ini. Memandang jalanan dengan orang yang berlalu lalang tiada henti. Menghindari sapaan matahari yang terlalu dekat pada bumi.

Alunan nada-nada indah nan lembut merayapi tiap sudut ruang di kafe ini. Dan pencahayaannya yang dramatis membuat kami hanyut dalam pikiran masing-masing.

Pria di hadapanku menarik napas lagi. Tangannya terus memainkan sendok kecil di dalam gelas kopinya. Pandangannya sesekali terlempar ke jalanan, menghindari tatapanku yang terfokus di wajahnya.

"Jadi?" tanpa sadar aku mengatakan kata yang sama beberapa kali. Pria di hadapanku menatapku sebentar lalu kembali sibuk memainkan sendoknya.

"Selalu saja mentok pada bahasan yang sama. Kau terlalu keras memegang prinsipmu." katanya acuh.

"Jadi benar, aku yang salah. Aku yang harus terus berkorban. Atau apakah kau yang tak pernah bersedia memahami?" ujarku kesal.

"Sudahlah. Aku bosan bicara tentang ini."

"Kenapa?" aku menuntut.

Pria di hadapanku kembali melempar pandangannya ke jalan. Beberapa kali menghela napas. Matanya menyipit. Sebuah beban berat seakan sedang menantinya di ujung jalan sana.

"Kau berhak mendapatkan seseorang yang memiliki pandangan yang sama denganmu." jawabnya.

Deg! Aku terhenyak. Sebuah balok kayu besar seakan menimpa kepalaku. Tak menyangka akan mendengar kalimat itu darinya. Mataku seketika buram, air mataku hampir saja jatuh. Aku menghela napas.

"Bagaimana mungkin kau bisa berfikir aku akan berhenti sedemikian mudah jika sampai detik ini di dalam doaku masih terselip namamu?!" suaraku terbata di sela napas yang semakin berat.

Di luar, langit mulai terlihat mendung. Daun-daun pada ranting pohon seakan melambai-lain di tiup angin. Beberapa daun kering melayang di tengah jalan. Gerimis lalu turun menimbulkan ribuan anak sungai pada dinding kaca.

* * * * *

Aku meremas jari-jariku. Perempuan setengah baya di sampingku masih dengan setia menenangkan gemuruh di dadaku. Senyumnya yang manis di wajah lembutnya dan belaiannya di punggungku, sejenak membuat aku melupakan ketakutan yang sejak tadi membayang.

Sayup-sayup ku dengar riuh ucapan syukur dari luar ruangan. Aku mendongak, begitu pun perempuan setengah baya di sampingku. Seorang gadis muda berkerudung merah muncul dengan wajah sumringah dari pintu yang tiba-tiba terbuka.

"Sudah selesai! Dia berhasil!" ujarnya tak jelas.

Aku memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebuah pelukan lembut dan hangat kemudian menyergapku yang masih kebingungan. Mata perempuan setengah baya di sampingku basah diantara wajah lembutnya yang tersenyum.

Perempuan setengah baya menuntunku keluar ruangan. Menjumpai wajah-wajah penuh senyum lainnya. Beberapa jabat tangan dan ucapan selamat menghampiriku bertubi-tubi. Aku masih belum menyadari apa yang terjadi. Dadaku berdebar-debar terlalu hebat hingga rasanya sakit sekali.

"Lihatlah. Itu suamimu." bisik perempuan setengah baya di sampingku.

Aku mendongak. Mataku menangkap sebuah wajah yang sejak berminggu-minggu lalu kurindukan. Sang pemilik nama yang selalu ku selipkan kala berdoa. Air mataku lalu jatuh berderai kala menyadari kalimat perempuan setengah baya di sampingku. Pria itu.. dia suamiku.

Bagi kami, hujan memang baru saja turun. Namun hal itu tak kan bisa memaksa kami untuk berhenti. Karena kami percaya bahwa matahari akan selalu datang membawa sewarna pelangi.

Sabtu, 09 November 2013

Gadis Bumi

Aku tahu dia mencintaiku karena dia pernah berkata begitu. Aku hanya tidak tahu kapan dia akan benar-benar datang untuk meminangku..


Aku berlari menghindari gerimis hujan yang turun sejak pagi. Genangan air berkecipak di bawah langkahku yang terburu. Tanganku mencincing rok sedikit ke atas agar tidak terkena cipratannya. Bercak noda cokelat tertinggal di ujung sepatuku.

Awan hitam menggelayut di bawah langit sore yang mendung. Matahari bersembunyi lebih cepat dari seharusnya, meninggalkan udara dingin yang menyengat. Hembusan suara angin yang ribut membuatku bergidik ngeri dan mengigil.

Aku menarik ujung kerah jaketku. Berusaha menghalau udara dingin yang membekukan tulang. Aku menyentak-nyentakkan kaki ke tanah, mencoba membuat gerakan-gerakan yang mungkin dapat mengurangi rasa dingin.

Kutengok lagi jam tanganku. Aku masih punya waktu beberapa belas menit sebelum janji temu dengannya. Aku tidak terlambat.

Ragu-ragu aku melangkah memasuki tempat janji bertemu. Sebuah ruangan dengan kesan elegan dan pencahayaannya yang membuat hati nyaman. Memandangnya saja sudah membuatku enggan untuk pulang. Jika bukan karena dia yang meminta untuk bertemu disini, mungkin aku tak kan pernah menginjakkan kaki kesini.

"Permisi.." aku menoleh ketika sebuah suara menyapaku. Seorang pramusaji berwajah ramah tersenyum memandangku. Aku mengangguk kecil padanya.

"Mari, saya tunjukkan meja anda.." ujar pramusaji lagi.

Aku diam mengikuti langkah pramusaji tadi. Setelah beberapa lama berjalan, pramusaji tadi mempersilahkan aku duduk di salah satu meja di sebuah ruang terbuka. Pohon-pohon hijau dan beberapa jenis bunga dalam pot disusun rapi dan teratur. Aku menunggu.

Tak lama kemudian seorang pramusaji lain masuk dan membawa baki berisi sepotong kue dan segelas minuman. Dia menghampiriku.

"Silahkan.." katanya padaku.

"Tapi saya belum memesan." jawabku. Dia tersenyum seraya memintaku mencicipi kue itu.

"Bagaimana rasanya?" tanyanya setelah aku mencicipi kue yang dia bawa.

"Rasanya sedikit asam, gurih dan manis. Enak." jawabku.

"Itu blueberry cheese cake." dia tersenyum lalu meninggalkanku.

Tak lama berselang, seorang pramusaji lain menghampiri mejaku. Membawa baki dengan sepotong kue lain di atas piring. Lagi, dia mempersilahkanku mencicipi kue tersebut.

"Bagaimana rasanya?"

"Rasanya sedikit pahit dan manis." jawabku.

"Itu blackforrest." dia tersenyum lalu meninggalkanku.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda dengan senyum di wajahnya dan baki di tangannya datang menghampiri mejaku. Laki-laki yang memintaku datang ke tempat ini. Dalam balutan kemeja lengan panjang berwarna gading yang di gulung hingga siku dan celana jeans, laki-laki muda itu tampak begitu mempesona. Dia laki-laki ku, Bumi.

Bumi menarik kursi seraya meletakkan baki di meja. Wajahku pasti menyiratkan kebingungan dan tanda tanya, tapi dia hanya tersenyum menatapku.

"Kue-kue tadi, mungkin bisa sedikit mewakili hidup yang akan kita jalani. Asam, asin, manis, gurih dan pahit. Aku mungkin tidak akan bisa menghadirkan kemewahan dalam hidupmu. Tapi jika kau bersedia, kita akan sama-sama membangun hidup bahagia penuh cinta, dan menjadikannya lebih mewah, seperti kue ini.." matanya mengarah pada kue yang dibawanya, "..Sepanjang kita bersama, aku selalu menemukan alasan untuk tetap berada disisimu. Mencintaimu. Dan aku tak pernah punya satu alasan pun untuk pergi dan meninggalkanmu.." dia berhenti sejenak, menarik beberapa napas panjang.


"Terima kasih.. Untuk kehadiranmu dalam hidupku. Untuk air mata dan doa-doa panjang di setiap akhir sujudmu. Terima kasih.. Atas kesediaanmu menungguku.."

Sebuah kotak kecil berwarna biru tersorong dihadapanku, entah dari mana asalnya. Sebuah cincin mungil berukir sederhana namun indah terselip di antara bantalan busa, terlihat saat kotak itu terbuka.

Deg!

Kakiku bergerak-gerak gelisah. Hatiku berdebar terlalu kencang. Mataku panas, air mataku rasanya hampir saja tumpah. Aku menggigit bibir. Ya Tuhan, kuatkan aku.

"Gadis.. Izinkan aku menjadikanmu sebagai satu-satunya cinta yang halal untukku.."

"Bumi.."

Sejenak, matahari kembali cerah di sela senja yang sebentar lagi tiba. Semilir angin lembut nan sejuk menyapa wajah-wajah penuh bahagia. Buliran air mata tertumpah di akhir anggulan pelan dan malu penuh bahagia. Seorang jelita kini tak kan lagi merasa merana. Semoga. Semoga...


Note: untuk Bumi, untuk sebuah janji

Sabtu, 05 Oktober 2013

Boleh, Aku Jatuh Cinta?

Tuut.. Tuuut..

Bunyi peluit panjang kereta mengangetkan aku dari lamunan. Perjalanan selama lebih dari delapan jam dalam posisi duduk sepertinya telah melemahkan kewaspadaanku. Dan kini aku telah sampai di sebuah kota yang sama sekali asing bagiku. Tak banyak yang kubawa dari Jakarta. Sebuah tas ransel lusuh berisi dua pasang pakaian kurasa cukup menemani di kota asing ini. Jika semua sesuai rencana, aku akan kembali pulang malam nanti.

Ku sampirkan ransel dan bergegas mengikuti arus pelan penumpang lain yang juga berniat turun. Lambat, udara dingin mulai menyusup dari rongga pakaian dan menyapa kulitku. Hemh.. Sekarang aku sudah mengerti mengapa dia begitu mencintai kota ini.

Jika bukan karena janjiku pada seseorang untuk mengunjunginya, tak kan mungkin aku sampai di kota ini. Kota yang selalu di ceritakannya dengan semangat dan mata yang berbinar. Kota yang baginya adalah surga budaya dunia. Kota dimana aku hanya mengenalnya lewat nama. Dia berjanji akan menjemputku di stasiun dan menjadi pemandu selama aku berkunjung. Dan kini, aku disini.

Udara yang lebih dingin seakan memelukku ketika menjejak peron stasiun kota ini. Ya Tuhan, untung saja dia telah mengingatkanku untuk membawa baju hangat. Jika tidak.. ah sudahlah. Ku arahkan mataku menjelajah stasiun, mencari seraut wajah yang kukenal. Ku julurkan kepala lebih tinggi. Terus mencari.

Lamat-lamat, kudengar seseorang meneriakan namaku. Aku memutar badan, mencari sumber suara. Dia disana! Melambai ke arahku dengan wajah penuh senyum seperti biasa. Aku tersenyum lega. Dia telah menepati salah satu janjinya, menjemputku.

Dia mengatupkan kedua tangannya di dada sambil mengucapkan salam. Ku lihat peluh mengalir di dahinya yang lebar dan bersih. Wajah ramah yang sama sejak terakhir kali ku lihat. Aku mengangguk seraya menjawab salamnya. Dengan sopan dia menawarkan bantuan membawa ransel yang tersampir di bahuku. Aku mengangguk dan menyerahkan ransel itu. Kami berjalan keluar stasiun.

Aku berada dua langkah tepat di belakangnya. Mengikuti langkahnya yang anggun dan santai. Ya Tuhan, mengapa tiba-tiba jantungku berdebar sekeras ini? Suaranya membuat dada dan telingaku sakit. Apa dia dapat mendengarnya dari jarak sedemikian?

"Ayo.." katanya. Membuyarkan lamunanku.

Di depan kami, sebuah kereta dengan kuda cokelat berbadan tegap dan gagah menyapa dengan menghembuskan napasnya. Hemh.. Seingatku dia berjanji akan mengajakku naik motor kesayangannya. Tapi, baiklah. Naik kereta kuda pasti akan sangat menyenangkan.

Badan kami berguncang-guncang saat kereta kuda melaju. Jalanan berisi kendaraan bermotor, kereta kuda dan becak berisi banyak muatan. Orang-orang berlalu lalang di kanan kiri jalan. Kujulurkan kepala diantara tiang penopang, memandang langit biru cerah dan iringan awan putih bersih. Ku hirup napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Berusaha menikmati setiap hembusannya. Udara dingin memenuhi paru-paruku dalam sekejap. Selama perjalanan tak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya. Mungkin dia sengaja membiarkanku menikmati kota ini. Jadi, seperti ini aromanya?

Kereta kuda kami berhenti di sebuah rumah sederhana bercat warna gading dan berjendela biru, tak lama setelah berbelok di perempatan jalan. Laki-laki tadi mendahului ku turun. Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan kami dengan senyum di wajahnya. Senyum yang sama dengan yang dimiliki laki-laki itu. Ku cium telapak tangan wanita paruh baya dengan takzim. Rasanya seperti mencium tangan ibuku sendiri.

Kami memasuki ruang tamu beraroma kayu. Sebuah meja bundar berpelitur cokelat tua di kelilingi empat kursi berlengan rendah memenuhi salah satu sudut ruangan. Bertiga kami mengitari meja bundar itu. Tak berapa lama, seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun yang diperkenalkan sebagai kakak tertuanya, keluar membawa sepiring pisang goreng, singkong rebus dan tiga gelas teh yang masih mengepulkan uap. Segera saja aromanya membuat air liurku menetes. Lalu kusadari bahwa serigala di perutku sudah terlalu lapar dan menyalak begitu keras.

Hangatnya teh manis memenuhi perutku dan menenangkan serigala lapar yang bersemayam disana. Kami berbincang sambil menikmati sajian hangat yang terhidang. Terima kasih Tuhan, untuk semua keramahan di keluarga ini. Ucapku dalam hati.

Suara dering telepon menghentikan perbincangan kami. Ibu yang mengangkatnya, bicara sebentar dengan seseorang di ujung sana lalu pamit padaku. Aku mengangguk. Mereka pergi. Aku kemudian sendiri.

Ku lihat jam tanganku, baru pukul tujuh pagi lewat beberapa puluh menit. Ku edarkan pandanganku mengelilingi ruang kecil itu, memandang beberapa foto yang berjejer rapi di salah satu dinding. Penasaran, aku pun mendekat. Ku pandangi foto-foto lama beberapa anak kecil yang sedang bermain di taman, foto mereka dalam balutan seragam sekolah, foto mereka dalam sebuah acara, foto mereka di sebuah tempat rekreasi. Lalu aku beralih pada foto seseorang mengenakan toga. Fotonya. Aku tersenyum.

Lalu mataku terantuk pada sebuah foto seorang anak laki-laki kecil yang sedang tertawa. Wajahnya tampak begitu bahagia, entah apa yang terjadi kala itu. Aku terseyum. Lalu tanpa sadar, air mataku menetes.

"Apa foto kecilku begitu membuatmu bahagia sampai kau menangis?" tiba-tiba dia sudah berdiri di sampingku.

Aku terkejut lalu menoleh ke arah suara. Dia sedang tersenyum padaku. Aku menunduk malu seraya menghapus air mataku.

"Ayo kita sarapan.." ujarnya sambil mengangkat sebuah bungkusan kecil.

Dia mendahuluiku berjalan memasuki ruang makan. Baru kali ini ku pandangi punggungnya. Sebuah rasa tiba-tiba menyusup dan memenuhi hatiku. Entah mengapa rasanya begitu tenang dan damai. Lalu seperti teringat akan sesuatu langkahku terhenti.

"Mas.." kataku.

Dia berhenti dan menoleh padaku, wajahnya menyiratkan sebuah tanya. Ku tarik napas dalam-dalam dan menguatkan hatiku.

"Boleh.. aku jatuh cinta?".

Perlahan, sebuah pagi kemudian meninggi. Menyisakan sejuk yang berlalu pergi dan berganti hangatnya mentari. Hati, selalu saja tak dapat dibohongi...

Selasa, 01 Oktober 2013

Nebengers: Bukan hanya Sebuah Komunitas

Pernah ngalamin macet? Yailah pastinya.. pertanyaan macam apa itu?

Beberapa bulan yang lalu, saat sedang asik men-scroll timeline twitter, mata saya terpaku pada sebuah mention dari seorang teman lama ke sebuah akun yang cukup aneh (untuk saya): @nebengers . Apasih nebengers? Pertanyaan standar buat orang-orang yang baru pertama kali mendengar, termasuk saya (kala itu).

Berbekal rasa penasaran yang tinggi dan semangat ala detektif bergaji rendah (opoo iki..) saya pun men-stalking akun @nebengers. Jawaban yang saya dapat kemudian membuat saya terharu dan kembali belajar mencintai Indonesia. Betapa tidak? Ditengah banyaknya orang berteriak "macet", "bete", "jenuh", "cape", ada segelintir orang yang telah lebih dulu melakukan sebuah aksi nyata untuk mengatasi permasalahan macet di Indonesia, khususnya Jakarta.

Adalah om @_eas a.k.a Andreas Aditya yang pertama kali mengibarkan bendera @nebengers sebagai salah satu cara mengurai kemacetan di Jakarta. Awalnya, ide berbagi bangku kosong di kendaraan anda dengan orang asing mungkin terdengar menyeramkan. Namun, jika di dasari niat yang lurus dan pola pikir yang benar, hal-hal buruk akan dapat dihindari. Nebengers kemudian tidak hanya menjadi sebuah solusi kemacetan, namun bisa menjadi sebuah komunitas sehat yang dapat berbagi dengan sesama. Hasil kumpul-kumpul komunitas nebengers bukan sekedar hura-hura atau cuap-cuap gak guna, namun ide berbagi ini telah direalisasikan dalam sebuah kegiatan donor darah yang telah sukses dilangsungkan dengan gegap gempita (lebayy..) pada tanggal 22 September 2013 di Old House Cafe, Margo City, Depok.

Dalam acara tersebut, saya yang ditugaskan di meja pendaftaran bersama Shandy bertanggung jawab untuk menjelaskan tentang komunitas nebengers. Diantaranya menjelaskan apa itu nebengers, cara pendaftaran, cara mencari / memberi tebengan sampai berjualan kaos nebengers. Kegiatan donor darah hari itu sebenarnya telah di upload ke youtube, namun entah kenapa tidak bisa saya tautkan videonya disini (silahkan meminta pertanggungjawaban langsung pada @wafiqulqul..). Namun masih bisa di cari dengan keyword: #nebengdonor


nb
Tips aman berbagi bangku kosong:

  1. Pastikan untuk men-stalking orang yang hendak memberi atau mencari tebengan
  2. Pastikan bukan akun iseng yang hanya memfollow akun-akun berkonten dewasa
  3. Boleh memberi syarat hanya wanita jika masih ragu
  4. Selalu mention akun @nebengers di setiap transaksi tebeng-menebeng agar dapat di pantau
  5. Jangan memberikan nomor kontak pribadi
  6. Lakukan meet-up untuk menambah relasi
  7. Waspada

Sabtu, 21 September 2013

Pornografi

Setiap detik, sedikitnya 30.000 orang melihat website berkonten dewasa.
Setiap menit, pengguna internet mengirim lebih dari 1,7 juta e-mail berkonten dewasa.
Setiap jam, sedikitnya 2 film dewasa dirilis di Amerika.
Setiap hari, lebih dari 2 juta film dewasa di sewa (hanya) di Amerika.
Setiap bulan, 9 dari 10 remaja putra dan 3 dari 10 remaja putri di Amerika menonton film dewasa.
Setiap tahun, industri berkonten dewasa meraup 100 miliar USD.

Selasa, 17 September 2013

Sore, Secangkir Kopi dan Dua Iris Brownies




Aku adalah serpih kenangan yang tertinggal di tepi jalan
Yang berdoa di kala malam, berharap di jemput tuk kembali pulang
Namun sering terlupa setiap kali pagi datang menjelang.

Aku adalah rangkaian kalimat doa yang belum waktunya di kabulkan.
Sapuan kuas dari lukisan mimpi yang belum jadi kenyataan
Aku lah rahasia dari hati yang berdoa dalam diam
Akhir pencarian penuh sabar sebagai tulang rusuk yang hilang dari tubuh seseorang.

Aku adalah secangkir sore penuh kenangan
Puisi di ujung pena yang belum sempat tertuang di secarik kertas
Pelangi dari jalinan sepi penantian, usai riuhnya opera masa remaja
Langit cerah usai hujan yang turun sepanjang malam.



"Maaf, kertas itu.." kataku pada sosok laki-laki yang duduk di meja kafe yang kutinggalkan.

"Milikmu?" tanyanya seraya membalikkan badan.

Deg! Aku terkesiap. Tubuhku terasa membeku. Jantungku berdebar-debar. Tiba-tiba saja deburan ombak di tepi pantai memenuhi seluruh rongga dadaku.

Sore datang seperti biasa. Aku berpikir bahwa menikmati secangkir kopi di kafe akan sangat membahagiakan jiwaku. Apalagi hujan hanya meninggalkan sedikit gerimis dan belaian angin. Lalu, laki-laki ini. Apakah takdir sedang di perintah Tuhan untuk bermain denganku?

"Apa kabar? Lama tak jumpa. Duduklah, temani aku sebentar." katanya, menghentikan senandung kebisuan di antara kami. Aku menelan ludah.

"Masih tentang kopi?" dia tersenyum saat menyorongkan kertas tadi padaku, "Bagaimana kabarmu?"

"Baik. Selalu. Terima kasih sudah menanyakannya." jawabku seraya meraih kertas tadi.

Dia menghela napas. Hatiku seketika terasa menciut. Takut. Lalu rasa kecut, tetiba muncul di dalam mulutku. Aku hampir mati kehabisan udara karena menunggu kata-kata.

"Puisi itu.. apakah kau tidak berniat berbagi sore dengan seseorang?" ujarnya.

Aku menunduk. Entah mengapa mataku terpaku pada jari-jari tangan laki-laki di hadapanku, seolah mencari sesuatu yang seharusnya ada disana selama beberapa waktu. Lalu debar hatiku seakan pecah saat menyadari bahwa yang kucari TIDAK ADA DISANA!

Aku menatapnya. Entah nyali milik siapa yang datang dan dari mana asalnya hingga aku berani menatap langsung kedua matanya yang hitam dan teduh. Binarnya selalu hampir membuatku hilang sadar.

"Aku percaya, bahwa suatu saat takdir akan membawaku bertemu seseorang yang mau berbagi sore dan secangkir kopi denganku." kataku.

Laki-laki di hadapanku tersenyum. Pandangannya lembut namun menyelipkan perasaan aneh yang menggelitik jantungku. Aku tak tahu mengapa. Ah, aku tak tahan lagi.

"Aku harus pergi.. Maaf.." aku berdiri, bersiap meninggalkannya. Mataku tiba-tiba terasa panas saat aku membalikkan badan. Sesuatu seperti menyayat hatiku di setiap aku mengayunkan langkah, rasanya perih.

"Aku hanya punya sisa dua iris brownies.." ku hentikan langkahku saat mendengar suaranya.

Ku balikan badan dan menatapnya lagi. Dia disana. Berdiri sambil menatapku. Aku terlalu kaget dan bingung untuk dapat menjawab ucapannya.

".. Jika kau masih bersedia tinggal dan berbagi sore dan secangkir kopi. Denganku."

Glek. Tiba-tiba saja kakiku terasa lemas saat mendengar kata-katanya. Mataku perih. Seketika saja bulir air mataku telah mengalir bak anak sungai. Aku tak percaya mendengar kalimat itu darinya.

Di luar, gerimis kembali turun. Meningkahi rasa canggung ku akan tatapan matanya dan kata-kata yang kudengar barusan. Senja turun perlahan saat aku tersenyum padanya di sela-sela tangisku. Pada akhirnya dia akan tahu, bahwa cangkir ku selalu penuh akan kenangan dan doa-doa tentangnya.

Tuhan, dia sudah datang...


Download File Ini Aku 


Senin, 16 September 2013

Aku Mencintai Malam



Mengapa aku menyukai malam? Selalu saja tentang sebuah perjalanan. Dimana disana tertinggal sebuah kenangan. Tentangmu. Tentang kita.

Aku mencintai malam. Seperti titik hujan yang merindu kembali menjadi awan. Atau angin yang berhembus dan timbulkan gemerisik dedauan. Seperti banyaknya bayang yang tertinggal di pinggir-pinggir jalan.

Selalu saja ku cintai malam. Dimana semua mimpi dan harapan menguat disaat aku sendirian. Lalu doa ku selalu tertahan lebih lama setiap kali kusebut nama mu. Berkali-kali. Dalam diam di akhir detik sebelum mataku terpejam. Dan malam kembali merayap perlahan tanpa pernah bisa tertahan.

Aku mencintai malam. Karena Tuhan akan selalu ada walau saat aku sendirian.

Jumat, 13 September 2013

Jadi Terkenal di Indonesia: Ini Caranya

Apa sih yang gak jadi heboh di Indonesia? Teknologi mudah di beli, gaya hidup sosial yang bergeser dari dunia nyata ke dunia maya dan rasa keingintahuan yang tinggi membuat sesuatu hal cepat menyebar.

Media sosial memegang peranan penting dalam menyebarkan suatu berita, baik bohong maupun benar. Kita tentu masih ingat hoax tentang Mak Nori yang meninggal atau cepatnya berita tentang Uje yang meninggal pukul (kurang lebih) dua dini hari, yang keduanya sama-sama berawal di twitter.

Beberapa hari belakangan ini media sosial Indonesia sedang heboh membicarakan dua hal: asal usul Vicky Prasetyo a.k.a Hendriyanto dan kecelakaan yang melibatkan Dul a.k.a Abdul Qadir Jaelani, putra bungsu musisi Ahmad Dani.

Awal bulan September, acara gosip di Indonesia di dominasi oleh acara pertunangan Zaskia Gotik dengan seorang (yang mengaku) pengusaha muda bernama Vicky Prasetyo di hotel berbintang bak cerita dongeng. Yang menggemparkan adalah bahwa ternyata Vicky Prasetyo alias Hendriyanto merupakan mantan calon Lurah Desa Karang Asih telah menjadi buronan polisi sejak tahun 2012 karena kasus sengketa tanah. Dimulai dengan munculnya pengakuan beberapa biduan dangdut yang pernah ditipu oleh VickPras, kebenaran-kebenaran lain pun muncul.

Dan diantara ruwetnya masalah VickPras, beberapa kosakata yang di lontarkan saat VickPras melakukan konfrensi pers setelah acara pertunangannya ternyata tidak memiliki arti. Hal ini di ungkapkan oleh ahli Sastra dan Bahasa Universitas Indonesia. Namun, namanya juga orang Indonesia, kata-kata yang tidak memiliki arti tersebut malah jadi TTI di media sosial.



Jujur aja, saat mendengarnya saya mengira saya lah yang bodoh karena tidak mengerti ucapannya. Namun ternyata kami yang mendengar pernyataan VickPras hanyalah korban dari gaya berbicara VickPras. Mengaku salah? Coba perhatikan (foto) pernyataan adik VickPras di bawah ini:




Sehari setelah acara pertunangan yang konon menghabiskan dana tiga ratus juta lebih, Zaskia Gotik memutuskan pertunangan mereka. Satu langkah yang dianggap paling benar oleh beberapa pihak. Dan sekarang kita sudah bisa melihat Zaskia move on dengan tampil di beberapa acara musik di televisi.

Sedang berita tentang kecelakaan yang menimpa putra bungsu musisi Ahmad Dani, sampai saat ini masih terus bergulir. Kecelakaan di Tol Jagorawi km 8+200 yang menewaskan 6 orang dan melukai 11 orang lainnya di duga akibat dari tren adu pamer speedometer di Instagram dan Path. Polisi juga belum bisa meminta keterangan dari Dul akibat kondinya yang masih dalam perawatan akibat kecelakaan tersebut. Haiiiihhh...ada-ada aja tren anak-anak jaman sekarang.

Selasa, 03 September 2013

Jalan-Jalan

Apa sih yang terlintas dalam benak kawana dan kawani saat mendengar kata: "SENIN"? Beberapa orang mungkin ada yang bergidik ngeri. Lalu beberapa yang lain?

Pagi ini saya bangun dengan perasaan bahagia yang sempurna. Kenapa? Saya sedang berusaha menggeser paradigma Monster Day yang selama ini meracuni semangat awal pagi saya.

Tepat pukul sepuluh pagi waktu Indonesia bagian Depok, saya keluar rumah. Niatnya asli ngebolang. Wisata kuliner lah istilahnya. Jadi setelah sarapan pagi ala orang iseng, saya pamit pada pintu rumah seraya berucap bismillah.



Awalnya saya mau mampir ke Kopi Kimung. Tak disangka, kedai yang hampir setiap hari saya lewati sama sekali gak keliatan dalam pandangan. Aneh. Jadi saya pun putar haluan. Tak ada Kopi Kimung, Kopi Bar pun jadi!

Kedatangan saya di sambut oleh dua lengkung senyum dan wajah ramah barista dan pemilik kafe. Beruntung bagi saya yang sempat berbincang sebentar dengan sang pemilik kafe, seorang wanita cantik di usia pertengahan tiga puluh. Kopi Bar baru buka sekitar dua bulan dan lebih mengedepankan cita rasa kopi nusantara dengan penyajian ala internasional. Penasaran dengan rasa kopi dan penyajian ala Vietnam, saya pun memesan Ice Vietnam KopiBar. Sayang, mereka belum menyiapkan menu pendamping. Tapi saya berkesempatan mencicipi muffin lemon. Gratis!!



Ice Vietnam KopiBar menyajikan kopi Sumatra dengan Vietnam drip. Jadi pemesan harus menunggu sampai tetesan kopi berhenti dari sebuah wadah press sebelum dapat menikmati kopinya. Aduk tetesan kopi dan susu kental manis yang telah menunggu di dasar gelas, Ice Vietnam Kopi Bar siap disajikan. Sambil membaca Surat Wasiat karya John Grisham, saya menghabiskan waktu satu jam tanpa terasa. Walau ada fasilitas wi-fi, saya tak sempat mencobanya. Karena saya harus meluncur ke tempat kedua. Ini Teh Kopi!

Saya memilih angkutan bus Depok-Lebak Bulus lalu nyambung Busway ke Pos Pengumben untuk mencapai Kedai Ini Teh Kopi, kedai milik Yasa Pratama Singgih, salah satu dari 10 pengusaha muda sukses versi YukBisnis.com.

Di kedai, saya dan teman adalah 2-2nya pengunjung yang datang. Gak membuang waktu lama, kami pun memesan menu andalan di kedai Ini Teh Kopi, Ini Kopi Duren (panas dan dingin), Gensot Koplit dan Mie Kangkung.



Kopi Duren menyajikan kopi robusta dengan campuran daging duren. Sedang Gensot adalah singkong kukus dengan taburan kelapa muda parut, keju parut, misis cokelat dan gula pasir. Lalu Mie Kangkung sendiri terdiri atas mie kari dengan campuran kangkung, wortel potong, daging sapi cincang dan telur ayam. Ngobrol ngalor ngidul, gak terasa kami pun memesan makanan lagi. Kentang goreng dan Avocado Milkshake. Rakus apa laper? Hahaha. Hari sudah semakin sore, akhirnya kami memutuskan pulang.

Dalam perjalanan pulang, mata kami terpaku pada sebuah warung duren. Wow! Tetiba langkah kami pun berbelok ke warung itu. Udah kenyang sih, tapi demi duren, kalo gak sanggup? Ya, shangupin! *terThe_Comment.



Udah cukup kayaknya petualangan saya dengan tema kafein. Setelah cuci tangan dan membayar duren, kami pun pulang.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Tiket Harian Berjaminan: Apalagi ini?

PT. KAI masih terus berbenah diri. Pertanggal 22 Agustus 2013, PT. KAI memberlakukan sistem tiket baru yang diberi nama Tiket Harian Berjaminan (THB). Hal ini disebabkan karena gagalnya sistem Tiket Single Trip.

Pada awal peluncuran e-Ticketing (kartu single trip), banyak penumpang yang pada akhirnya membawa pulang tiket kereta api. Koq bisa? Hal ini disebabkan oleh kurangnya fasilitas pendukung (banyaknya stasiun belum dilengkapi pintu gate out di awal peluncuran e-Ticketing). Sehingga para penumpang yang enggan mengembalikan tiket Single Trip, membawa pulang kartu-kartu tersebut.

PT. KAI diperkirakan kehilangan hampir 800.000 kartu atau setara dengan nilai 4 miliar rupiah. Angka yang amat fantastis dari sebuah uji coba sistem, bukan? Dalam hal ini, PT. KAI jelas-jelas telah dianggap gagal oleh banyak pihak.

Lalu, bagaimana cara kerja sistem Tiket Harian Berjaminan?

Tiket Harian Berjaminan (THB) adalah sistem yang memaksa penumpang untuk disiplin (tidak membawa pulang tiket kereta api). Tarif yang diberlakukan adalah sama dengan tarif kartu Multi Trip. Bedanya, untuk THB penumpang di wajibkan membayar jaminan kartu sebesar Rp 5.000. Uang jaminan ini akan di kembalikan (refund) setelah penumpang sampai di stasiun tujuan dengan menukarkan THB. Proses refund berlaku selama tujuh hari.

Ilustrasi: Pagi hari, penumpang berangkat dari St. Depok Baru (membeli tiket THB di stasiun awal) dan berhenti di St. Jakarta Kota. Penumpang akan membayar Rp 10.000 (Rp 5.000 untuk harga tiket dan Rp 5.000 untuk jaminan kartu). Sore hari, penumpang kembali dari St. Jakarta Kota menuju St. Depok baru. Penumpang hanya perlu membayar Rp 5.000. Di akhir minggu, penumpang melakukan proses refund di stasiun awal pemberangkatan. Di minggu berikutnya, proses berulang.



Saya sendiri lebih memilih menggunakan tiket Multi Trip. Selain lebih praktis, saya juga tidak perlu membeli tiket lagi jika ingin pergi ke stasiun tujuan lain.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kenangan..

Selamat sore..!!

Saat menulis ini saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah menggunakan moda transportasi ular a.k.a kereta listrik Commuter Line. Konon kereta yang saya naiki ini adalah salah satu dari 172 rangkaian kereta hibah dari Pemerintah Jepang, lho. Bangga atau malu? Gak usah dibahas lah yaa. Lanjut!!

Tulisan ini cuma buat ngisi waktu luang di kereta aja (gangguan antrian kereta di stasiun Gambir!). Dari pada tidur? Tul gak? Jadi sambil dengerin winamp di headset, biarkan jari-jari saya berbicara.

Bagi yang pernah membaca tulisan saya (cerpen di blog ini), pasti tau terdapat beberapa kata yang sangat sering saya ulang. Misalnya; hujan, kopi, malam, sendiri, langit, jalanan basah, gerimis atau diam. Ngeh gak? Hehehe. Jangan heran, karena memang seperti itulah saya.

Entah sejak kapan tepatnya saya mulai jatuh cinta pada kopi. Aromanya yang khas selalu berhasil membuat pikiran saya mengangkasa. Kadang sore, seringkali pagi, saya mengisi segelas besar kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Lebih nikmat baik dalam suhu panas maupun dingin. Saya tidak peduli teman-teman menjuluki saya sebagai "Dukun". Hahaha.

Tak hanya meminum kopi, saya suka mengawali cerpen saya dengan kalimat "beraroma kopi" atau nge-tweet sesuatu yang berhubungan dengan kopi. Saya akan memejamkan mata sejenak, mengatur napas pelan dan teratur, membangun suasana. Rasanya seperti memasukkan separuh dari jiwa saya ke dalam cerita tersebut.

Aku hidup diantara kopi dan pagi dimana bulan terlambat pergi. Mimpi tentangmu yang datang semalam memenuhi ruang kenangan. Andai saja kau disini bersamaku, tak peduli pintu surga telah terbuka, aku akan memilih menghabiskan kopi ini.. bersamamu...



Lalu tentang malam. Banyak yang bisa saya gali dari malam, misalnya; purnama, bulan, bintang dan sepi. Saya senang melihat bintang saat malam, bukan untuk dihitung seperti scenekebanyakan film atau sinetron. Saya hanya menikmati kelip dan terangnya. Dulu, sewaktu saya masih bekerja dengan jadwal shift, saya sering memandang bintang sambil berkhayal. Konyol? Hahaha. Dan berjalan di saat malam, saya masih melakukannya hingga kini!

Hujan, gerimis atau jalanan yang basah mengingatkan saya pada kenangan masa kecil. Tinggal di sebuah kampung Betawi daerah pinggiran Kota Jakarta, membuat saya masa kecil saya terasa sempurna. Sepeda ria tiap sore, mandi di kali sambil nyari siput, pergi mengaji di mushala Bang Udin, manjat pohon kecapi, perang-perangan berpeluru bunga jambu di kebon, main layang-layang di pematang sawah, panen ikan di empang Kong Duloh, sampe maen hujan-hujanan bareng temen-temen adalah kenangan terindah dalam hidup saya. Bertemu teman-teman saya saat ini seringkali membuat kami tertawa tanpa harus bicara. Saat mata kami bertemu, kami akan ingat, betapa kami dulu adalah para petualang-petualang kampung yang bahagia! Dan hujan membantu saya mengingat semua kenangan itu. Ya Tuhan, betapa saya merindukan masa-masa itu..

Hujan. Aku akan tetap menyukainya. Sesering apapun dia datang..

Aku Tak Ingin Sendiri

Sendiri. Melangkah di bawah langit malam. Menjejak kenangan yang tercecer di pinggir-pinggir jalan. Ku tendang batu kecil hingga terpental menjauh. Aku mendengus. Seharusnya aku tak disini..


Aku terbangun dengan dering telepon memenuhi kamar tidurku yang sempit dan pengap. Aku bangun dengan malas dan meraih ponsel di atas meja samping tempat tidur sementara mataku masih terpejam .

"Halo.." ujarku dengan suara seperti orang mabuk.

"Selamat ulang tahun, Sayang.."

Suara seorang wanita membawa rohku kembali ke tubuh yang kosong ini. Aku menegakkan tubuh seraya mengucek mataku yang masih lengket. Ku hirup napas dalam-dalam. Lembab dan aku tersedak. Tiba-tiba merasa segar. Aku menghadapi dunia nyata.

"Semoga aku tetap menjadi yang pertama mengucapkannya. Aku mencintaimu.." ujar suara itu lagi.

"Ya Sayang, tentu, kau adalah yang pertama mengucapkannya." jawabku, berusaha keras terdengar normal.

"Assalamualaikum.." sayup-sayup terdengar suara di luar rumah.

"Kirimannya sudah datang. Selamat menikmati." katanya lagi.

"Sayang, terima kasih. Aku mencintaimu..." ucapku pelan.

"Aku juga mencintaimu.."

Aku bergegas keluar rumah. Sebuah wajah sumringah lelaki di usia pertengahan empat puluh menyapa mataku. Ditangannya, terdapat dua kotak putih besar polos yang terlihat di susun hati-hati. Aku menyambutnya. Kotak putih besar itu pun berpindah.

"Selamat ulang tahun ya, Om. Semoga akhir tahun ini kalian memutuskan untuk menikah. Selamat menikmati kuenya!" ujar laki-laki tadi sambil berlalu. Aku hanya tersenyum kecut.

Pelan-pelan kubuka kotak putih besar itu. Satu kotak berisi kue tart besar bergambar logo Manchester United, klub bola favorit ku. Kotak lainnya berisi macam-macam lauk pauk kesukaanku; ayam goreng, rendang, sambel goreng hati, dendeng sapi dan beberapa macam kerupuk dan.. segelas milkshake vanilla. Ya Tuhan, dia ingat. Dia selalu ingat.

- - - - - * * * * * - - - - -

Ku seruput lagi minumanku hingga tandas. Milkshake vanilla. Kulempar pandanganku keluar jendela. Memandangi jalanan basah dan air yang tergenang akibat gerimis sejak pagi yang tak kunjung reda. Matahari sore sembunyi di balik awan hitam yang berarak pelan.

Sudah hampir dua jam kami duduk di kafe ini dan belum ada satu pun kata sepakat yang kami peroleh. Mempertahankan prinsip membuat hati dan jiwa kami lelah. Benar-benar lelah. Dan tak ada satupun dari kami yang berniat mengalah. Ah, mungkin benar kata mereka, kami berdua memang egois.

"Mau pesan minuman lagi?" ujar wanita di hadapanku. Sejenak kupandang wajahnya lalu mataku kembali mengamati jalanan.

"Bukan itu yang ingin kau katakan, kan?"

Kami kembali diam. Wanitaku menunduk sambil meremas jari-jarinya. Bingung bagaimana kami harus meneruskan pembicaraan tadi. Langit sore cerah walau hujan masih saja ada. Aku menghela napas.

Dimataku, dia adalah sosok wanita sempurna. Orang tua tunggal dari seorang gadis belia usia sekolah dasar yang bahagia sekaligus seorang wanita karier yang sukses. Semua usahanya berjalan baik dan lancar, namun tidak demikian dengan kehidupan pribadinya. Terlebih hubungannya denganku.

Sebagai laki-laki, aku terluka secara pribadi. Wanitaku memiliki segalanya kecuali seorang pendamping hidup. Sedangkan aku? Aku hanya seorang karyawan sebuah perusahaan swasta dengan gaji seadanya. Rasanya aku hanya akan menumpang hidup jika kami menikah sedang dia tetap menjalankan usahanya. Ahh, kepalaku pusing.

"Jika ada wanita lain yang lebih memahamimu dariku, menikahlah dengannya. Semua biayanya biar aku yang tanggung." wanita di hadapnku berkata tiba-tiba. Aku menoleh.

Napasku seakan berupa bara api. Panas. Rasanya aku hampir mati kehabisan oksigen. Mataku menatapnya tak percaya. Kata-kata itu seperti sebilah pedang yang menembus jantungku dan mematahkan tulang-tulang rusuk ku.

"Jangan bercanda!" semburku marah.

"Aku sungguh-sungguh. Aku rela kau menikahi wanita lain.." dia menghela napas, "Sepertinya hubungan kita akan tetap seperti ini. Lalu apa yang bisa kulakukan?" ujar wanitaku.

"Tapi aku mencintaimu.."

"Aku juga mencintaimu. Sejak dulu hingga nanti. Selalu." dia mengecup keningku lalu berlalu.

Aku menatapnya menjauh. Tak percaya dengan pendengaranku barusan. Dadaku rasanya sakit sekali. Seakan dihujam ribuan duri. Aku telah kalah. Kami berdua telah kalah. Lagi dan lagi. Entah sampai kapan.

- - - - - * * * * * - - - - -

Kulirik jam dinding di ruang tamu. Pukul dua belas malam lewat sepuluh menit. Ku nyalakan kan lilin ulang tahun di atas kue tart. Aku berdoa, untuknya dan untuk kebahagiaan kami. Lalu kutiup lilin itu. Sebulir air mata bening lalu meluncur turun di pipiku.

Aku, empat puluh dua tahun hidupku. Sendiri...

Selasa, 20 Agustus 2013

Tuhan, Aku Datang..

Pagi. Aku hidup diantara kopi dan ingatan tentang mimpi semalam. Mataku memandang uap kopi dari gelas yang sisa setengah penuh. Ku hirup aromanya dalam-dalam dan memejamkan mataku. Aku, mengingatmu. Tuhan, aku merindukannya...


- - - - - * * * * * - - - - -

"Kau sudah datang.." tanya-NYA.

"Ya, Tuhan aku datang. Maaf aku terlambat." jawabku seraya mendekati-NYA.

Rabu, 14 Agustus 2013

Donor Darah Aman

Hai!

Sekarang saya mau membagi informasi mengenai penyakit yang membuat seseorang tidak dapat mendonasikan darahnya karena resiko penularan yang mungkin dapat terjadi. Mungkin saja ada kawana dan kawani yang masih penasaran. Yuk disimak...

1. HIV/AIDS
Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Namun penderita HIV tidak berarti menjadi penderita AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) karena gejala AIDS baru akan muncul (rata-rata) 2-10 tahun sejak seseorang terinveksi. Sebelum muncul gejala AIDS seorang penderita HIV masih merasa dan tampak sehat. Bahkan pemeriksaan laboratorium pun bisa saja negatif. Masa antara masuknya HIV ke dalam tubuh manusia sampai terbentuknya antibodi terhadap HIV memerlukan waktu antara 2 minggu sampai dengan 3 bulan. Sebelum munculnya gejala AIDS, pengidap HIV dapat menularkan kepada orang lain secara tidak sengaja karena dia sendiri tidak tahu kalau terinveksi HIV.

Minggu, 11 Agustus 2013

Walini: Teh Asli Indonesia

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mempersiapkan artikel tentang teh, sayangnya karena satu hal yang amat ra-ha-si-a artikel tersebut gak jadi saya publikasikan.

Sepulang dari silaturahim ke rumah teman di daerah Tanjung Barat, saya mampir ke mart terdekat. Tiba di bagian teh, tetiba timbul penasaran akan rasa teh Walini. Dulu, saya pernah menonton sebuah berita di stasiun tivi berlambang kepala Elang tentang kemasyuran teh Walini di luar negeri. Teh Walini di cap sebagai teh asli Indonesia!

Kamis, 08 Agustus 2013

Gosong Tak Selamanya Pahit



Suatu sore sepulang kerja di bulan Ramadhan, saya melihat ibu saya duduk di teras sambil melamun. Tangannya sibuk menggerus bagian bawah kue yang terlihat agak hitam. Saya berjalan mendekatinya lalu duduk di hadapannya. Ternyata kue kering pesanannya gosong.

Saat itu kebetulan saya gak puasa, jadi saya comot satu potong. Hemh.. rasanya gak terlalu buruk, bathin saya kala itu. Lalu tangan saya seperti bergerak sendiri: memasukkan potongan-potongan kue gosong tadi ke dalam mulut. Walah! Sekejap saja loyang kue itu kosong. Saya nyengir ke ibu saya.

"Enak, Nek.." ujar saya pada ibu sambil tersenyum (nenek adalah panggilan saya kepada ibu).

Saya lalu beranjak masuk ke dalam rumah, mengambil toples lalu meyusun kue itu ke dalam toples.

"Ini jatah Ndah, ya.." ujar saya lagi sambil memeluk toples berisi kue gosong tadi.

Kamis, 01 Agustus 2013

Pandawa Negeri Cahaya

Aku menangis dalam diam. Mataku sembab akibat air mata semalam. Kasihku pergi, kasihku hilang. Aku terjerembab dalam kebingungan. Oh Tuhan, kuatkan aku dalam menjalani takdirMu. Aku rela atas kehendakMu.

Langit senja menyelimuti tubuhku yang lelah dan lemah. Cahaya jingga nan lembut membuat segalanya tampak keemasan dan indah. Semburat merah di ufuk barat bagai permadani yang membawaku melintasi bumi. Anganku melangkah memasuki dunia lain, tanah diantara cahaya.

Ku hirup lagi udara senja di tanah tempatku berpijak. Tubuhku mulai ringan. Sebuah beban berat seakan terangkat dari dadaku yang sejak tadi sesak. Gemerisik dedaunan tersapu angin menyapa telingaku bagai melodi indah negeri Sakura. Dapatkan kutemui para Dewa?

Sabtu, 27 Juli 2013

Ngabuburit? Penting ya?

Gak terasa kita sudah menginjak hari yang ke sembilan belas di Bulan Suci Ramadhan. Bagaimana puasanya? Lancar kan?

Nah, selama bulan Ramadhan, anda lebih seneng berbuka dimana? Di rumah bersama keluarga atau di luar sambil cuci mata? Kalo jawabannya "dirumah", berarti kita senada ^^

Tapi perhatiin gak sih kalo selama bulan Ramadhan, mall, restoran atau rumah makan jadi lebih rame? Munculnya stand-stand yang di gelar beberapa waktu sebelum adzan maghrib juga jadi fenomena unik yang hanya ada di bulan Ramadhan. Lalu pertanyaannya adalah: apa sih inti dari Ramadhan?

Jumat, 26 Juli 2013

"Menghitung" Maaf

"Saya kan udah minta maaf, Ndah. Koq dia masih belum juga maafin?" seorang teman pernah bertanya.

"Tau dari mana dia gak maafin?" tanya saya balik.

"Sikapnya gak kaya dulu. Beda banget." jelasnya.

"Perekat untuk sesuatu yang retak, lubangnya akan tetap terlihat, seperti itulah maaf. Kita sudah melakukan kewajiban dengan meminta maaf, jangan berharap lebih. Ikhlasin aja.." jawab saya.

Rabu, 24 Juli 2013

Beri Aku Waktu..

Aku tercenung. Melihat gadis impianku menangis tersedu. Air matanya bagai semburan air mendidih di wajahku. Entah mengapa hatiku tiba-tiba sakit.

Tanganku mengambang di udara. Takut menyentuh tubuhnya yang belum halal untukku. Namun setiap isak tangisnya seperti mengiris tipis hatiku. Ku tatap lagi wajahnya. Mencari jawaban atas setiap air mata yang membasahi ppipinya. Betapa ingin ku menghapusnya, namun tak kan kuasa ku bendung amarahnya bila aku menyentuhnya.

Tuhan, bantu aku. Rangkul bahunya. Peluk jiwanya. Hapus air matanya. Doaku dalam hati.

"Dik.." kataku. Dia mengangkat wajahnya dan menatapku. Susah payah dia tersenyum.

"Katakan padaku, kenapa?" tanyaku. Dia menggeleng.

"Aku takut, Bang." jawabnya lirih.

Selasa, 23 Juli 2013

Asiknya Pake Android

Alasan saya menulis artikel ini adalah menggunakan waktu menunggu kereta agar lebih bermanfaat, terlebih untuk saya sendiri (dari pada ngantuk hehe).

Sebagaimana kita tau bahwa saat ini ponsel ber-OS android sedang naik daun. Dengan banyaknya fitur dan harga yang terjangkau masyarakat menengah ke bawah, menjadikan ponsel jenis ini semakin menarik dan menjadi salah satu pertimbangan dasar dalam memilih ponsel.

Di dukung dengan banyaknya fitur gratisan, android menjadi pilihan paling maksimal bagi anda yang sedang beranjak narsis. Nah, ada beberapa aplikasi yang menjadi favorit saya dan mungkin bisa jadi pilihan anda untuk memaksimalkan android kesayangan

1. Kingsoft Office
Bagi anda yang masih sibuk dengan pekerjaan kantor namun malas membawa laptop, notebook atau netbook, aplikasi ini bisa menjadi solusinya. Bagaimana tidak? Ada 4 jenis dokumen yang bisa anda buat menggunakan aplikasi gratisan ini (Word, Excell, Note dan PwP). Penggunakan aplikasi ini juga mudah laiknya kita menggunakan PC biasa.

Senin, 22 Juli 2013

Dimana.. Dimana.. Dimana.. Integritas Kita?

Never spoil your energy on something you can't change.

Saya duduk termenung di lantai masjid yang luas. Menatap layar ponsel dengan sebuah kalimat yang membekukan. Dia benar, saya tak harus melakukannya. Jadi saya memilih pergi dan melanjutkan perjalanan.

Kemarin, saya mengikuti sebuah seminar bisnis. Bertempat di Gedung BPPT, Thamrin, Jakarta, pada pukul dua siang. Saya berangkat ke tempat acara dengan menumpang angkutan Bus TransJakarta (Busway) dan tiba di tempat acara sekitar pukul satu lewat tiga puluh menit. Tak lama kemudian, hujan pun turun.

Sebenarnya saya janjian dengan seorang teman untuk datang ke acara tersebut. Saya telah me-wanti-wanti dia agar datang sebelum acara di mulai. Sungguh saya kecewa dengannya. Dalam tiga kali kesempatan janji bertemu, tak satu pun yang dia datang tepat waktu. Dan kali ini pun demikan.

Pantaskah Kita Mengeluh?

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah kakak perempuan di daerah Tangerang. Dari tempat kerja, saya harus berganti angkutan sebanyak tiga kali, metromini 84, angkot Kalideres-Cadas dan angkot Daon. Gak.. gak.. gak usah terharu gitu dong (sapa juga yang terharu sih? haha).

Pengalaman menarik yang bikin saya terharu terjadi di dalam metromini 84. Saat itu angkutan cukup sarat penumpang. Seperti kebanyakan metromini, dua baris bangku penumpang bagian belakang dilepas agar makin banyak penumpang yang berdiri. Posisi yang saya ambil saat naik metromini adalah di dekat jendela. Di samping saya, berdiri seorang laki-laki berusia di akhir dua puluhan.

Metromini terus berjalan dan satu per satu penumpang pun akhirnya turun. Setiap kali ada bangku penumpang yang kosong, laki-laki di samping saya selalu menawarkankan perempuan untuk duduk. Namun saat seorang perempuan berniat duduk, seorang laki-laki berpenampilan necis nyerobot bangku tersebut.

Rabu, 03 Juli 2013

EONA: Punggawa Naga Terakhir



Berminat melakukan petualangan seru dari kaca mata seekor naga? Buku ini bisa membantu anda mewujudkannya. Berlatar belakang sejarah antara Jepang-Korea-Cina, kisah seorang Punggawa Naga terasa benar-benar hidup dan nyata.

EONA. Merupakan penjelasan akhir dari buku sebelumnya, EON. Sang Punggawa Naga Kembar yang bangkit setelah menghilang selama lebih dari 500 tahun ini ternyata adalah seorang perempuan! Kenyataan bahwa Sang Punggawa Naga terakhir adalah seorang bocah yang belum terlatih saja sudah membuat panik dan isu tentang Lord Eon adalah perempuan menimbulkan kekacauan baru. Dan satu-satunya kesempatan untuk mengendalikan kekuatan 10 naga adalah dengan meminta bantuan Lord Ido yang sedang mendekap dalam penjara.

Dimulai dengan pemberontakan High Lord Sethon untuk menggulingkan kekaisaran yang sah dan merebut Mutiara Kerajaan, High Lord yang awalnya bersukutu dengan Lord Ido kemudian justru berbalik menyerang Sang Punggawa Naga setelah mengetahui bahwa ada rahasia untuk menguasai kekuatan ke 12 Punggawa Naga beserta naga mereka.

Jumat, 07 Juni 2013

e-ticketing, Efesiensikah?



Woo.. Woo.. Woo..

Bagi yang penasaran sama foto di atas, perlu anda camkan bahwa foto di atas bukanlah antrian sembako apalagi antrian di loket bioskop. Foto di atas adalah antrian di loket kereta api commuter line St. Depok Baru!

Yap! Sejak di berlakukannya percobaan e-ticketing per tanggal 1 Juni 2013 kemarin, kekacauan antrian mulai terjadi. Penyebabnya adalah antara selesainya transaksi penjualan dan keluarnya e-ticketing dari dropbox mempunyai jeda sekitar 2-3 detik per transaksi. Otomatis hal ini memperlambat jalannya antrian untuk transaksi berikutnya.

Padahal dalam peraturan sosialisasi pemberlakuan e-ticketing, penjualan hanya di lakukan antara jam 09.00-16.00. Yang artinya adalah di luar jam-jam sibuk. Bayangkan jika peraturan itu di langgar, maka foto di atas lah buktinya.

Well, walau bagaimana pun, pemberlakuan e-ticketing sekaligus tarif progresif KRL yang baru adalah langkah awal dari serangkaian pembenahan sistem perkeretaapian oleh PT. KAI di Indonesia. Jadi sudah seharusnya sebagai warga negara yang baik, untuk kita mendukungnya.

Oiya, untuk tarif progresif ( Rp 3.000 untuk 5 stasiun pertama, Rp 1.000 untuk 3 stasiun berikutnya) sepenuhnya akan di berlakukan mulai tanggal 1 Agustus 2013 karena pihak PT. KAI merasa bahwa masa sosialisasi perlu diperpanjang hingga akhir Juli 2013.

PT. KAI, we love you..

Selasa, 04 Juni 2013

Karena Aku Mencintai Gadis Lain..

Langit kelabu pucat memayungi makhluk bumi siang ini. Semilir angin sejuk menerpa ujung kerudungku, meliuk-liuk bagai tarian yang mempesona. Aku menghela napas. Aku berdiri di depan sebuah rumah mungil bercat putih. Setelah sekian lama kini aku kembali.

'Ya Allah, kuatkan hamba'. Doa ku dalam hati. Ku langkahkan kakiku pelan dan mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam.." suara seorang perempuan menjawab salamku. Beliau di rumah.

Aku tersenyum saat mata kami bertemu. Sejenak kami saling terpaku. Sedetik kemudian aku sudah berada dalam pelukan perempuan tadi. Tanpa sadar, air mataku menetes dan membasahi bajunya. Tuhan, bantu hamba..

Perempuan tadi membimbing tanganku masuk ke rumahnya. Kami duduk berhadapan. Aku tersenyum memandangnya. Beliau, seorang perempuan setengah baya yang selama ini ku panggil 'Ibu'.

Setelah beberapa lama bicara, kusorongkan sebuah amplop kuning ke atas meja. Perempuan setengah baya itu tercekat. Matanya seolah bertanya 'apa ini?'. Aku menunduk, tak sanggup menatap matanya. Buru-buru beliau membuka amplop itu. Dari kesunyian yang mencekik, aku dapat merasakan keterkejutannya.

"Nak, Ibu tidak mengerti. Bagaimana mungkin ini...?" tanyanya padaku.

"Maafkan saya, Bu." jawabku sambil tetap menunduk. Ku remas jari-jariku untuk menahan air mata yang hampir keluar.

"Bagaimana dengan Arka? Kamu sudah bicara dengannya?" tanyanya lagi. Aku menggeleng.

Arka. Bagaimana kabarnya sekarang?

Rabu, 29 Mei 2013

Donor Darah

Yo!

Buat semua warga Negara Indonesia yang gak punya acara pada hari Minggu, 16 Juni 2013, yuk ikutan acara Donor Darah yang diadakan oleh Yayasan Kasih Mulia Sejati. Bertempat di Jl. Jembatan 3, Komplek Ruko Tama Indah 36 D/L, Jakarta Utara. Acara dimulai dari pukul 09.00-12.00.

Setetes darah kamu bisa menyelamatkan banyak orang.

Kamis, 23 Mei 2013

Luka Batin

Mungkin saya memang bukan orang yang tepat untuk membicarakan tema di atas. Namun, anggap saja ini adalah sebuah kisah untuk sekedar berbagi pengalaman.

Seringkali kita merasa bahwa kita adalah manusia paling nelangsa, paling menderita seperti Indah di sinetron Tersanjung 1-6. Merasa sendiri dan tak ada satu orang pun yang dapat mengerti diri. Tapi, benarkah demikian adanya? Atau kita saja yang berlebihan?

Setiap orang pasti pernah merasa kecewa. Dan luka batin adalah kecewa yang terpendam. Banyak di antara kita merasa luka batin tidak akan dapat disembuhkan, nyatanya beberapa orang dapat melanjutkan hidupnya dan tetap bahagia.

Yang paling berat dari proses penyembuhan luka batin adalah sesi memaafkan diri sendiri. Kenapa? Disini lah proses penerimaan sepenuhnya terhadap diri yang tak sempurna. Merelakan rasa sakit yang pernah kita rasakan untuk pergi.

Jika kita pahami, kesakitan di masa lalu tidak akan pernah sepahit dan seperih yang kita bayangkan kecuali kita tetap memelihara kesakitan itu di dalam hati. Dan semakin kita menahannya, kita pasti akan semakin terluka.

Berdamailah dengan hati, maafkan dan terima lah ketidak sempurnaan pada diri. Syukuri masa lalu mu. Tuhan tidak akan mempertemukan mu dengan masalah kecuali Dia tau bahwa kau akan tetap tegar berdiri menghadapi dunia separah apapun kesakitan yang pernah kau alami.

Semangat!

Selasa, 21 Mei 2013

Iklan: Semprong Wijen



Cobain enaknya semprong @jajananndeso ! Rasanya yang gurih dengan taburan wijen bikin tangan gak bisa berhenti. Ambil lagi. Lagi. Dan lagi!

Pemesanan bisa melalui komentar di blog ini atau no telp 081808446061 dengan Ibu Hendri.

Harga: Rp 30.000/ stoples

NB: Dibuat TANPA pewarna buatan dan bahan pengawet. Rasakan yang beda untuk sehatnya Indonesia!

Bang... Selamat Ulang Tahun

Aku terbangun karena udara dingin yang menyengat-nyengak. Betisku membeku. Perlahan kusibak kan selimut dan turun dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Seruan Tuhan memanggilku untuk menghadap-Nya. Tuhan aku datang.

Di atas sajadah, dalam doa-doa panjang selepas shalat, aku mengadu pada-Nya. Air mataku mengalir begitu deras, membuat noda basah di mukena ku. Aku terisak-isak dalam permohonan dan doaku.

Langit biru cerah dan semilir angin sejuk memeluk seluruh makhluk bumi. Kicauan burung di ranting-ranting pohon, suara ayam yang mengais tanah mencari rezeki yang di janjikan Tuhannya, melodi alam terindah di telingaku.

Aku berdiri di halaman rumahku, menyambut pagi sebagaimana ku lakukan setiap hari. Seorang pria muda keluar dari pintu dan mendekatiku. Badannya tinggi dan tegap dengan langkah-langkah panjang yang anggun. Sebuah kecupan lembut nan hangat di daratkan di keningku. Aku tersenyum padanya. Ku belai pipinya yang sedikit kasar karena bulu yang tumbuh.

"Jangan terlambat..." kataku padanya.

"Aku pasti datang." dia mencium keningku lagi, melambai lalu pergi bersama laju kendaraan yang dia kemudikan. Dia pasti datang, kataku dalam hati.

Senin, 20 Mei 2013

Aku Akan Tetap di Sisinya...

"Jangan menerimanya!" suara Salsa meninggi beberapa oktaf.

"Tapi Sa..."

"Dengar aku, Dis. Dia tidak mencintaimu. Dia hanya memanfaatkanmu. Kumohon sadarlah." suanya melembut.

Aku diam. Mencoba memahami kalimatnya. Kuhela napas panjang dengan lemah. Dia tidak mengerti aku.

"Dia jelas-jelas telah menolakmu dan memilih perempuan lain. Seharusnya kau curiga, mengapa saat waktu pernikahan mereka telah begitu dekat, dia justru datang dan memintamu hidup bersamanya? Pasti ada yang tidak beres, Dis." jelas Salsa panjang lebar.

Aku menghela napas lagi. Satu-satunya yang tidak beres disini adalah otak ku. Aku butuh seseorang untuk mendukungku. Mengerti aku. Bukan seseorang yang menyadarkan ku dari ketiadaan logika dalam cara berpikirku.

"Dia.."

"Dia tidak mungkin tiba-tiba sadar dan merasa telah salah mencintai seseorang. Kau berhak mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintaimu. Benar-benar ada untukmu." Salsa memotong ucapanku.

"Aku rela menjadi bodoh hanya untuk tetap bisa bersamanya. Tak peduli sesakit apa hatiku nanti. Aku hanya seorang perempuan yang terjerat cinta dan akan mempertaruhkan segalanya hanya untuk merasa bahagia. Aku mencintainya..." Salsa menghela napas. Dia telah kalah. Dan dia menyerah.

-------------------------

Sabtu, 18 Mei 2013

Kereta Tak Selamanya Penuh Part II

Ini kisah tentang sakit hatinya teman saya. Dia berkeras agar saya membaginya di blog. Jadi setelah beberapa hari di berondong pertanyaan yang sama, akhirnya membuat saya menyerah.

Jadi begini ceritanya: rumah teman saya di Bogor, sedang kantornya terletak di Jembatan Tiga, Kota. Setiap hari dia menggunakan jasa kereta api listrik untuk pergi-pulang Bogor-Jakarta. Supaya dapet tempat duduk, teman saya harus naek kereta pukul 05.15. Itu artinya dia berangkat dari rumah sekitar pukul setengah lima.

Yang bikin teman saya sakit hati adalah ada tiga orang perempuan usil (mereka ternyata bersahabat) yang naik dari stasiun Depok Lama. Mereka bertiga sering kali menyindir teman saya dengan kata-kata pedas dan tajam.

Seperti:
"Ih, di rumah gak punya kasur ya? Sampe mau tidur aja numpang di kereta"

"Ya ampun ini pada tidur apa pingsan sih? Koq gak bangun-bangun dari tadi."

"Pada buta matanya kali ya? Atau budek kupingnya. Orang dari tadi berisik karena pegel masa gak ngerasa sih?"

"Sumpah deh ini orang-orang udah pada mati rasa mungkin. Pura-pura tidur semua."

Dan kalimat-kalimat semacam itu.

Kau.. Mau Menikah Denganku?

Aku tak pernah mengira bahwa hari ini akan tiba. Angan-anganku tentang dirinya hanya berani ku bingkai di bawah langit malam. Dan kini, segalanya sempurna untuk sebuah impian yang hanya berani kubayangkan...
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Langit masih saja mendung walau hujan telah lama selesai. Genangan air sepanjang jalan pun telah surut dan hanya menyisakan tanah yang sedikit basah. Kesatria-kesatria tanpa kuda di belakang kemudi pun telah kembali melajukan roda-roda kendaraan serupa jalannya kehidupan.

Semilir angin dingin dan basah menebarkan hawa menggigil yang membuat bulu kudukku merinding. Ku naik kan restleting jaket abu-abu ku hingga pangkal leher. Berharap dapat meredam hawa dingin yang menusuk-nusuk.

Aku sedang berada di aula gedung sekolah ku dulu. Rasanya hampir seperti napak tilas bagiku. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat begitu saja di kepala ku. Ya Tuhan, betapa aku telah bertambah dewasa sejauh ini.

Kamis, 16 Mei 2013

Persahabatan seperti Sayur Sop

Persahabatan itu seperti sayur sop dengan potongan daging. Rasanya nikmat, Komandan!

Saya teringat akan sebuah kalimat di salah satu buku yang pernah saya baca. 'Gak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan tanpa salah satunya terjebak akan perasaan cinta'. Rasanya seperti tepukan pelan yang menyadarkan, bukan?

Menjadi sahabat artinya siap menjadi separuh tubuh dan pikiran. Gak ada persahabatan yang lurus-lurus aja, damai-damai aja. Menjadi sahabat juga berarti harus siap jadi Seksi Humas. Lho koq?

Yap! Sadar atau gak, kita sering kali lebih repot saat sahabat kita kena masalah. Repot bantu mikir gimana jalan keluar.

Rabu, 15 Mei 2013

Kereta Tak Selamanya Penuh Part I

Oke. Ini posting pertama saya lewat aplikasi Bloggeroid for Blogger. Buat yang gak tau, ya bisa lah cari infonya sendiri di google hahaha < omongannya random abis

Sudah beberapa hari ini saya menjadi seorang karyawan yang kantornya terletak di daerah Jembatan Tiga. Pernah ada yang nanya ke saya, 'kalo kerja di Kota, trus lo harus naek kereta dong, Ndah?'

'Ya iya lah, masa mau naek helikopter.' Jawab saya asal.

'kalo gue, maaf aja deh. Gak sanggup lari-lari ngejar kereta tiap pagi.'

Saya gak tau apa motivasinya ngomong gitu. Yang jelas, semua orang pasti tau, bahkan malaikat juga tau, kalo gak ada satu orang pun yang sanggup ngejar kereta. Bahkan di film India sekali pun! Buktinya Rahul gak bisa ngejar Anjali yang mau pulang kampung naek kereta.

Sabtu, 09 Februari 2013

D'Flash - Iseng Part II

Beberapa waktu yang lalu, saya penah memposting tulisan tentang "Bowo", temen saya yang jadi bintang iklan xpressive sms dari provider XL. Yang penasaran atau belum baca bisa cari postingan berjudul Iseng. Nah, sekarang saya mau cerita lagi tentang si "Bowo". Bukan sebagai bintang iklan XL sms xpressive tentunya tapi sebagai member boyband D'Flash.

Yup! Si Bowo sekarang jadi anak boyband. Naek kelas hehehe Awal denger, saya jelas kaget. Widy, begitu saya memanggilnya, terlihat sebagai sosok pendiam, kalem dan tenang. Beda banget sama kakaknya yang bawel...ups! *maaf, Den hehe. Makanya saya sempet gak percaya dengan kabar tersebut. Tapi ternyata Widy benar-benar jadi salah satu member D'Flash.

Sabtu, 26 Januari 2013

Hujan

Hujan baru saja usai, rintiknya yang lebat kemudian melambat. Diantara dinginnya yang masih tertinggal, aku menyelinap dalam balutan selimut dan secangkir teh hangat di teras rumah. Ku lemparkan pandangan jauh pada rimbunnya pohon-pohon hijau. Tiba-tiba ku lihat sesosok pria melintas diantara rumput ilalang kuning. Sejujurnya aku tak yakin benar apakah itu sosok pria atau perempuan. Hanya saja dari pakaiannya kurasa itu sosok pria. Setengah berlari dia melewati ilalang, telapak tangannya menyentuh ujung rumput tinggi itu. Aku memperhatikan langkahnya.

Hujan kembali datang. Semilir angin dingin berhembus, membawa percikan hujan menyapu wajahku. Gelas tehku yang tinggal setengah masih mengepulkan uapnya. Ku eratkan lilitan selimut di tubuhku. Entah pandanganku yang mengabur atau memang sosok itu yang mendekat, aku merasa ukuran sosok itu makin terlihat membesar. Ku tegakkan punggungku dan menunggu.

"Hai..." sapanya setelah sosok itu mendekat.

Rabu, 09 Januari 2013

Lamaran!


            “Ayo kita menikah..”

Ujar pria di depanku tiba-tiba. Aku tersikap, tak siap dengan situasi seperti ini. Entah mengapa kalimat itu terdengar begitu asing bagiku. Rasanya hampir tak dapat ku mengerti. Terdengar seperti kalimat dalam bahasa lain yang tak pernah ku dengar sebelumnya, kalimat dari bahasa suatu kaum yang baru ditemukan oleh para ilmuan. Tuhan, apa tingkat kecerdasanku sudah berkurang? Mungkin aku harus meminjam kamus bahasa dari perpustakaan nasional besok.

             Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan? Aku baru saja putus cinta dan lukaku masih menganga. Bagaimana mungkin secepat ini Kau hadirkan lagi seorang pria yang menuntutku untuk mencintainya? Aku pasti sudah pergi berlari sambil menangis jika saja kakiku tidak lecet karena gesekan di kulit sepatu baru. Aku heran, mengapa kaki ku tak pernah bisa bersahabat dengan kulit sepatu baru? Mengapa selalu saja menyebabkan lecet di kaki ku?

            Sepi. Aku memilih tak bersuara. Kami memilih tak berkata-kata tapi langit tahu, bulan tahu, Tuhan pun tahu bahwa masing-masing dari kami punya lebih dari sejuta kalimat untuk di ucapkan. Tapi tak ada satupun dari kami yang masih begitu berani untuk memulai pembicaraan. Entah aku harus bersyukur atau bersedih atas hal ini, aku hampir tak peduli.

Aku bahkan tak berani untuk menatap matanya, jadi kubenamkan saja wajahku dalam-dalam dalam mangkuk bakso di hadapanku. Ah, lecet di kakiku semakin terasa perih dan panas sementara bakso di mangkuk ku sudah hampir habis. Aku merasa pria di depanku sedang memandangku lekat-lekat, menunggu jawaban atau mungkin sebuah kalimat atau bahkan suara kecil dari mulut yang sudah ku kunci. Dan sayangnya kunci itu sudah ku telan bersama bakso yang makan. Bagaimana nasibku setelah mangkok bakso ini kosong? Kemana aku harus mencari perlindungan? 

Tuhan, beri aku jawaban.