Senin, 26 Maret 2012

Rasanya Lebih Dari Itu

Kita tertawa. Duduk menikmati secangkir kopi hangat dan sepotong kue yang selalu kita suka, entah sejak kapan. Selalu saja kau yang bertanya dan membiarkan aku berpikir untuk menjawabnya. Seperti itu lah kita. Entah kau sadar atau tidak.

Langit masih saja terang walau kita tahu waktu tak lagi siang. Sepertinya matahari membiarkan kita berlama-lama menikmati cahayanya. Saling bertukar tanya, menikmati canda dan tawa yang sepertinya tak akan pernah habis tersisa.

Lalu kau bertanya tentang dadaku yang kadang sesak terasa. Aku hanya menggeleng tak ingin menjawabnya. Sungguh. Aku tak sakit. Sesak ku itu, ahh.. lupakan saja. Kau tersenyum, memandangku dengan binar yang selalu membuatku hilang sadar. Lembut, kau sentuh punggungku dan mengusapnya pelan. Aku diam.

Itu Cuma Masa Lalu...

Langkah ku terhenti. Angin membuat langkahku sulit saat gaun ku tersikap. Jilbabku melambai-lambai menimbulkan bunyi ribut. Cahanya kuning emas dari matahari sore melukis langit batas kota, menyelimuti benda-benda sejauh mata memandang. Dramatis sekali, pikirku.

Pelan-pelan aku menglangkah menyusuri jalan. Sendirian. Menikmati perjalanan yang memang harus aku lakukan. Angin menyentuh tubuh ku. Bermandi sinar matahari sore. Hangat. Perjalanan ini mengingatkan ku. Saat ini di hari yang lain.

Warna dan angin yang mempesona. Rasa hangat yang sama di jalan yang berbeda. Sinar keemasan yang membawa langkah-langkah kenangan saat dulu pernah dirasa. Itu cuma masa lalu…

Sabtu, 10 Maret 2012

Aku Tahu Dia Tak Akan Datang

Sumpah deh benciiiiiiiiiiiiiiiiii... banget.. banget.. banget! Nget.. nget.. nget!!

Pagi-pagi udah dibikin pusing. Ahh... akhir pekan seharusnya digunakan untuk bersantai dan bermalas-malasan, walau gak ada juga alasan untuk bermalas-malasan tapi setidaknya seharusnya hari ini berjalan biasa sesuai dengan rencana dan jadwal yang telah tersedia. Perubahan dadakan ini benar-benar membuat saya hilang akal. Uuugghhh....

Saya mencintai kata "siap" yang tentu saja bukan hanya sebatas ucapan. Saya selalu berusaha memenuhi janji yang terucap dan menuntaskannya dengan cara yang terbaik. Namun ternyata semua itu tidaklah cukup. Banyak hal yang harus disesuaikan terutama menyangkut kepentingan dan "keharusan" setiap orang. Lalu apa yang harus saya lakukan?

Akhirnya saya sadar bahwa tidak bisa selamanya saya berada dalam sebuah dekapan penuh perlindungan. Untuk berkembang, saya harus mandiri, mengandalkan diri saya sendiri. Kalau mereka percaya saya mampu, kenapa saya justru ragu? Ok ok.. Saya akan memulainya hari ini. Sendiri.

I need to hate someone and thank God, he's you