Rabu, 08 Februari 2012

Bintang Itu

Aku berhenti. Sudah sejak lama. Bagaimana denganmu? Masihkah? Aku hanya sekedar ingin tahu, jangan salah paham.

Kau yang bilang, kan? Suatu kali. Kau suka, suka sekali. Dan kau ingin aku menemanimu. Dan sejak itu, kita melakukannya. Kau dan aku. Setiap hari, setiap malam. Entah sendiri, kadang berdua. Tak ada kata, hanya memandang hal yang sama, malam.

Menghitung bintang? Tidak. Kita tidak pernah menghitungnya, melelahkan, kau bilang. Jadi, kita hanya memandangnya. Yang berkelip-kelip atau yang kadang menghilang sinarnya karena tertutup awan. Aku akan menahan kantuk agar aku bisa menemanimu. Lalu kau akan mengirimku pesan, malam telah lewat, sudah. Lalu aku akan masuk ke kamarku dan tidur. Kau juga.

Tapi saat sendirian, aku akan menangis diam-diam. Menangisi kesediannku menemanimu melihat bintang sedang kau disana sedang merindukan seseorang. Tentu saja aku tau. Kau yang bilang, kan? Ingat?

Kadang aku masih memandangnya. Aku masih menyukai bintang. Tapi bukan karena kau.

Indonesia??

Cintailah p(r)loduk-p(r)loduk Indonesia....

Kita pasti gak asing dengan kalimat di atas. Slogan salah satu perusahaan besar di Indonesia. Bisa sebutkan beberapa produknya? Yah... gak usah dibahas deh ya...

Pukul empat sore lewat beberapa menit saat saya mulai menekan tuts-tust di papan keyboard diiringi lagu-lagu korea dari ponsel yang lagi dicharge, beberapa kali keplintut karena keseringan pake bahasa sms (disingkat-singkat). Ceritanya abis liat-liat daftar film yang lagi diputer di bioskop, gak lupa sempetin baca sinopsisnya. Lalu... dor! Ada hal yang agak klise disini dan jujur saja hal itu cukup membuat saya males (nonton film Indonesia). Mau tau alasannya? Apa? Gak? Mau gak mau, kamu harus mau hahahhahaha *maksa mode on. Yuk ulas sedikit tentang film Indonesia.

Film Remaja:
  1. Temanya biasanya tentang kekuatan cinta, cinta pertama atau dari benci jadi cinta.
  2. Para pemainnya biasanya blasteran alias bule (liat aja namanya).
  3. Rumahnya gede-gede alias cerita orang kaya.
  4. Selalu ada adegan dengan gadget.

Rayuan Gombal edisi 2

+ Saat ulang tahunmu nanti aku mau memberikan hadiah untukmu.
- Ow y? Hadiahnya apa ya? Tas, sepatu, baju atau....
+ Bukan.
- Lalu?
+ Ikan.
- ???
+ Karena ikan hanya akan mengatakan 1 hal padamu.
- Apa?
+ love... love... love...



+ Coba lihat punggungmu, ada sesuatu gak?
- Apa? Gak ada apa-apa koq.
+ Ah, yang bener? Kayaknya aku ngeliat sesuatu deh
- Jangan ngaco. Di punggungku gak ada apa-apa tauuuuuu.....
+ Jadi bener kata mereka...
- Bener? Soal apa?
+ Bahwa gak semua malaikat itu bersayap...



+ Tuhan telah menciptakan 7 hari dalam seminggu, tapi buatku dalam seminggu hanya ada 1 hari. Kamu tau gk hari apa?
- Hari minggu ya? Secara pengen males-malesan terus heheheheeh
+ Hari Selasa.
- Kenapa Selasa?
+ Selasa ada di syurga kalo deket kamu

Sabtu, 04 Februari 2012

Kritik??

Manusia sejatinya adalah makhluk sosial yang pasti butuh untuk bertemu satu sama lainnya. Istilahnya ya berinteraksi. Nah, saat kita bersama teman atau sodara atau tetangga atau bahkan orang yang bukan siapa-siapa  yang secara kebetulan aja ketemu, kalo nemuin bahan obrolan yang bagus pasti betah deh ngobrol ngalor-ngidul. Berjam-jam juga pasti jadi gak berasa.

Tapi, sadar gak sih kalo dari banyak topik yang dibicarain itu justru adalah kritikan bagi orang lain. Entah langsung atau tidak, entah orang yang kita kenal atau bukan. Beberapa orang menyampaikan kritikan itu secara gamblang yang kadang-kadang menyakitkan, tapi beberapa orang yang lain bisa menyampaikannya secara santai dan diselingi dengan guyonan. Malah kadang bisa jadi pemicu hubungan yang lebih akrab.

Contoh aja nih, beberapa hari yang lalu saya ngumpul sama temen-temen di Teras Kuliner, Kalibata City. Awalnya kami ini meeting serius dan memang tujuan utamanya ya itu. Saat masuk waktu maghrib, saya pamit sholat pada teman-teman yang lain. Nah, setelah balik dari izin sholat itu lah saya jadi korban kritikan mereka. Tapi bukannya marah, saya malah ketawa sampe gak bisa ngomong, sampe perutnya sakit!! Wah pokoknya jadi makin cinta sama temen-temen deh ^^


Petikan obrolan kami:
Org 1: Ndah, pulangnya hati-hati ya. Nanti kalo gak ada orang di angkot turun aja. Pokoknya jangan sendirian.
Saya: Ok Ka, nanti aku naek kereta koq. Rammmeee....
Org 1: Oh, naek kereta toh...
Org 2: Endah mah selalu naik kereta Ka, gak liat apa DPnya karcis commuter line?
Saya: Ya maklum lah, namanya juga fisabilillah Jakarta-Depok hehheheeh
Org 3: Hayya... fisabilillah, pejuang dong
Saya: Kan naeknya penuh perjuangan, commuter line sekarang penuh banget, empet-empetan sambil pegangan.
Org 2: Si Endah mah, emang statusnya aneh-aneh! Apa kabar mata bulet? Hahahah (mereka membicarakan tentang foto masa kecil saya yang bulet abisss)
Org 4: Iy tuh, aku juga liat. Itu mata bisa sampe bulet gitu gimana, Ndah? Hahahahah
Saya: Lho.. lho.. ini ngapa jadi ngebahas mata saya?
Org 3: Mata bulet si, gak pa-pa deh. Itu status nenek gayung! Ada-ada aja, Ndah hahahah (status waktu meeting sama grup lain)
Org 2: Ini si Ndah emang statusnya aneh-aneh aja.
Org 3: Kemaren ane ketemu sama nenek-nenek bawa gayung, pas ane tanya buat apaan dia jawab mau mandi di sonoh (disana - dalam bahasa yang benar) 


Dan mereka masih saling sahut-menyahut mengkritik status-status saya ^^.

Menurut anda, sebulet apakah mata saya? ^^

Jumat, 03 Februari 2012

Cinta Terakhir Di Senja Pantai

“Sudah dengar tentangnya?” sahabatku bertanya saat aku duduk di hadapannya.

Aku menyeruput minumanku yang telah dipesannya lebih dulu, lalu memandang sahabatku dengan pandangan bertanya.

“Jadi kau benar-benar tidak tahu? Dia akan menikah! Tahun ini!” ujar sahabatku menggebu-gebu.

“Terus?” aku memandangnya dengan tatapan jahil sambil tersenyum.

“Ya Tuhan.. bagaimana mungkin kau bisa setidak peduli itu?! Sadarlah kawan, kau akan kehilangan dia selamanya. Selamanya!!” lebih menekankan pada kata selamanya.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanyaku masih tidak perduli.

“Sadarkan dia bahwa kau lah cinta sejatinya! Bawa dia kembali pada kenyataan bahwa kau lah satu-satunya wanita yang bisa menerima dia apa adanya. Mencintainya dengan sepenuh hatimu. Katakan padanya…”

“Cukup!” Aku mengangkat telapak tanganku, “.. kenapa tidak kita biarkan saja dia menentukan hidupnya? Cintanya, itu haknya. “ aku tersenyum pada perempuan dihadapanku.

“Tapi..”

“Sudahlah, kumohon.” Aku menggeleng padanya. Dan kami pun diam.

                                                         -- * * * --

Langit senja Jakarta di pinggir pantai. Memandang lukisan Illahi, mengaggumi kebesaran Sang Pencipta warna. Rambutku melayang-layang dimainkan angin laut. Kubentangkan lengan, kupejamkan mata dan kupenuhi paru-paru dengan udara senja pantai Jakarta.

“Tidakkah kau menginginkan kehadiran seseorang di sampingmu?” sebuah suara menyadarkanku. Kubuka mata, kuturunkan lenganku dan menoleh ke arah suara. Seorang laki-laki dengan badan tegap dan tinggi yang melebihi aku, berdiri persis di sisiku.

“Tolong jangan salah paham, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada pantai ini, suara deburan ombaknya, hempasan angin dan suaranya yang ribut dan lukisan langit merah di ujung sana..”

Aku berbalik, berniat meninggalkannya. Aku tak ingin mendengar apapun darinya apalagi sekarang.

“Katakan padaku.. pernahkah kau mencintaiku?” pertanyaannya menghentikan langkahku. Aku berbalik dan memandangnya.

“Apa yang kau harapkan dari pertanyaanmu? Masih perlukah aku menjawabnya?”

“Jawab saja pertanyaanku. Kumohon.” Matanya seakan mengiba, menunggu jawaban dari pertanyaannya.

Aku menghela napas panjang. Memandang dia yang pernah memberi arti dalam kesehariannku. Bagaimana pun tak kutampik itu. Dia memang pernah menjadi yang teristimewa, namun akhirnya bagiku semua itu tak cukup nyata. Kehadirannya tak lagi menjadi sesuatu yang berharga. Aku merasa bahagia melebihi saat aku bersamanya dan aku yakin bisa bertahan tanpa harus memilikinya.

“Kau tak cukup nyata untuk menerima cinta..” kataku. Dahinya berkerut, tak yakin akan apa yang didengarnya, “.. Kau tak pernah berani melangkah. Tidakkah kau sadar bahwa ada yang menunggumu?” aku diam menunggu reaksinya.

“Maksudmu?” suaranya pelan seraya bisikan. “Ku mohon, jawab aku..” suaranya bergetar, sebuah bulir air mata jatuh dan meluncur di wajahnya. Aku masih diam memandangnya. Ya Tuhan, betapa aku pernah amat mencintai wajah ini.

“Cukup waktu bagiku untuk bersamamu. Aku tak bisa lagi menunggu hilangnya takut dan ragu agar kau mau melangkah maju. Memperjuangkan cintamu untuk bersamaku. Perbedaan kita mungkin terlalu nyata. Cintailah pilihanmu.”

Aku kembali melangkah. Meninggalkan dia yang memandangku berjalan menjauh. Suara deburan ombak dan ributnya angin masih memenuhi telingaku. Ah… aku akan merindukan pantai ini.

Siluet Malaikat

Gerimis masih membayangi Jakarta sejak pagi tadi. Jalan-jalan basah dan becek. Aku berlari meninggalkan Statiun Duren  Kalibata, langkah kakiku menimbulkan bunyi kecipak tak karuan saat menginjak genangan-genangan air. Napasku memburu, keringat meluncur turun dari keningku dan membasahi leher, menimbulkan efek lengket bergaris-garis.

Aku berteduh disebuah gapura. Kulirik jam tanganku, sudah lewat setengah jam sejak acara dimulai. Kuatur napas dan merapikan pakaianku. Kuambil ponsel dan melihatnya, dua pesan masuk bernada sama, menanyakan dimana keberadaanku. Kukirim pesan balasan lalu menyimpan ponselku kembali.

Srett!

Ada rasa yang aneh meluncur tiba-tiba turun ke hatiku. Entah apa. Aku tak merasa yakin. Kutengok kiri dan kanan, mencari sumber rasaku. Deg. Tubuhku seakan terpaku dan tak mampu bergerak. Ya Tuhan… aku melihatnya, dia disana! Berjalan pelan dan santai, seakan tak ada gerimis hujan. Langkahnya mantap, badannya tegak. Dan dia tidak melihatku yang tersembunyi di balik tiang. 

Ya Tuhan, mengapa aku selalu saja lemah saat bertemu dengannya? Mengapa sosoknya menjadi terlalu sempurna bagiku? Jantungku selalu saja berpacu lebih cepat saat melihatnya. Akal dan nyaliku seakan lari entah kemana, meninggalkan aku sendiri menghadapi pesona itu.

Sering kali aku merasa hampir pingsan saat menghadapinya. Melihatnya adalah anugrah terbaik bagiku sedang mendengar suaranya adalah sebuah keajaiban. Ya Tuhan...! Andai saja aku dapat menggapainya, berada lebih dekat beberapa centi darinya.

Oh, tidak! Dia pergi! Dia pergi! Melenggang jauh meninggalkanku yang tak terlihat, tersembunyi di balik tiang ini. Tapi apakah dia…?

Kakiku tiba-tiba bergerak sendiri melangkah menembus gerimis yang mulai deras. Cepat.. cepat.. langkahku semakin cepat. Setengah berlari aku mengejar dia yang menghilang di tikungan. Aku kehilangan jejaknya setelah dia berbelok, buru-buru aku menyusul langkahnya. Sepintas kulihat punggungnya menghilang di ujung tangga dan aku pun menuju tempat yang sama.

Dia disana, berdiri di tengah kebisuan. Wajahnya tenang dan serius dengan tangan terlipat di dada. Rambutnya sedikit basah membuat wajahnya terlihat segar dan gagah. Jas hitamnya basah oleh gerimis. Siluet tubuh itu pernah sesekali tergambar. Kuabaikan suara-suara yang menggema di lubang telingaku dan menikmati siluet itu. Bagaimana mungkin mereka melewatkan salah satu keajaiban Tuhan.

Srett.

Dia berbalik!

Ya Tuhan.. sembunyikan aku! Sembunyikan aku. Tanpa sadar aku bergeser, berlindung di balik salah satu penghalang. Menikmati siluet itu sudah cukup untukku, tak perlu dia menyadari akan hadirku. Hatiku berdegup, rasanya seperti ada yang meninju tulang dadaku. Berdentam-dentam bak gebukan drum seorang pemain band. Tubuhku menggetar kakiku seakan goyah. Jadi aku berbalik, berlari lalu menghilang.

Aku mengutuki diriku sendiri yang terlalu lemah bahkan untuk sekedar menatap wajahnya, menatap matanya. Andai saja teknologi transfer data seperti bluetooth dapat membantuku di saat-saat seperti ini. Ahh... sudahlah. Nyatanya aku disini, melangkah sendirian.

Drrt... Drrt... Kesadaranku kembali saat ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk yang kemudian membawaku kembali pada kenyataan.

Kau dimana? Singkat saja.

Maaf aku tak datang. Jawabku untuknya. Andai dia tahu, siluet malaikat itu…