Sabtu, 29 Desember 2012

Pesan


Ini baru pukul tujuh pagi. Udara di luar rumah masih sangat dingin. Hujan turun sejak semalam, menyisakan gerimis, air yang menggenang dan jalan yang basah. Ponselku bergetar-getar dan mengeluarkan bunyi beberapa kali sejak tadi. Siapa yang terlalu penting mengirim pesan pada ku sepagi ini? Aku bahkan belum mandi jadi aku mengabaikannya.

Ku julurkan kaki di depan tivi dan menyanggah kepalaku dengan bantal super empuk. Secangkir teh yang masih mengepulkan uap dan setangkup roti bakar selai strawberry berada tak jauh dari jangkauanku. Beberapa kali ku ganti channel sampai akhirnya menemukan acara yang pas mengisi hari minggu pagi ini.

Riky, adik laki-lakiku keluar dari kamar dengan rambut kusut dengan suara derit pintu yang berisik. Matanya memandangku tajam dengan penuh rasa jengkel yang ku tak tahu sebabnya. Atau mungkin dia terbangun karena suara berisik dari ponselku? Ah, aku tak begitu peduli. Toh itu ponselku, hak bagiku bagaimana memperlakukannya. Dia menuju dapur.

Sekitar setengah jam kemudian, Riky muncul dari dapur dengan rambut yang basah dan handuk yang tersampir di bahu kanannya. Dia melemparkan handuknya kepadaku. Aku kaget. Ku lemparkan pandangan tak senang sambil melotot kepadanya. Dia melengos tak peduli. Pasti dia masih marah. Kutinggalkan dia dengan tivi yang masih menyala dan sarapanku yang tinggal setengah lalu menuju dapur. Mandi.

Saat kembali tak kulihat Riky di depan tivi dan sarapanku pun telah hilang. Dia bahkan tidak ada di kamar. Mungkin Riky telah pergi. Rumah terasa sepi sekali karena ibu sedang menginap di rumah saudara di Bogor. Aku kembali duduk di depan tivi.

Ku pandang ponselku dengan lampu berwarna merah yang masih berkedip-kedip. Ini sudah jam delapan lewat dan rasa penasaranku semakin meningkat. Kuraih ponselku. Sebuah bintang berwarna merah pada lambang salah satu jejaring sosial menjadi penanda bagiku untuk mengecek pesan baru di jejaring sosial itu.
Ku tekan beberapa tombol dan rentetan pesan pun muncul. Dari orang yang sama.

Pesan pertama 04.50 wib:
Dear Bayu, selamat pagi. Apa kabar dirimu? Sudah sholat subuh kan? Aku sudah. Semangat untuk hari ini ya. Kabar ku tidak terlalu baik, sedang menjalani masa pemulihan karena sakit. Mungkin karena terlalu lelah dengan jadwal kegiatan bulan lalu tapi sekarang sudah tidak apa-apa jadi kau tidak perlu khawatir. Semoga kau tidak mengalami sakit seperti aku. Kamu jangan lupa makan dan jaga kesehatan ya  :*

Yang Hilang Sebagian


Aku adalah sebagian yang hilang dari tubuh seseorang. Tuhan memisahkan aku darinya untuk kemudian dipersatukan kembali dalam sebuah ikatan. Kami dipisahkan untuk satu tujuan.

Aku adalah sebagian yang hilang dari tubuh seseorang. Tuhan menciptakanku dari dari salah satu bagian tubuh sang pemilik yang sedang terlelap. Dia mengambilnya perlahan agar sang pemilik tubuh tidak menyadarinya.

Wahai pemilik bagian tubuh yang hilang, adakah kau mendengar suaraku? Adakah kau merasakan hatiku? Adakah kau merindukanku? Adakah kau ingin bertemu?

Wahai pemilik bagian tubuh yang hilang, maafkan aku yang pergi terlalu jauh. Semoga kau masih setia menungguku. Semoga kau tak lelah mencariku. Semoga nanti kau mengenali bagaimana pun rupaku saat kita bertemu. Semoga kau sempatkan waktu untuk menjemputku.

Selasa, 13 November 2012

Memperingati Hari Pahlawan


Yeaaaaayyyyyy…..!!!

Penantian selama beberapa waktu akhirnya tunai juga :D

Hari Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 10 November 2012 bertepatan dengan Hari Pahlawan, akhirnya saya berhasil mendonorkan darah setelah beberapa kali ditolak dengan alasan jumlah HB yang rendah.
Keinginan saya untuk ikut mendonor sebenarnya telah lama muncul karena seringnya saya melihat spanduk acara donor darah tak jauh dari kelurahan Pasar Minggu. Namun saya masih takut untuk maju sendirian karena tak ada satu pun teman saya yang mau ikut mendonor bersama saya. Saat itu saya masih duduk di bangku SMU.

Keinginan itu bertambah-tambah beberapa tahun kemudian setelah saya membaca sebuah artikel tentang donor darah dan sepasang suami istri yang telah mendonor sebanyak 78 kali sepanjang hidup mereka. Ada rasa haru dan iri saat saya membaca artikel tersebut. Saya harus ambil bagian, batin saya kala itu.
Jadi mulailah saya memburu informasi mengenai acara-acara donor darah lewat internet. Agak sulit bagi saya mendapatkan informasi dari google, jadi saya memfokuskan diri pada jalur social media. Lewat sebuah akun bernama @Blood4LifeID saya mendapat banyak informasi tentang acara-acara donor. Namun sayang keinginan saya tak begitu saja dapat terpenuhi.

Rabu, 10 Oktober 2012

Ini Cinta...


Ini cinta. Selalu saja tentang sebuah kisah. Dimana aku, kamu, menemui sebuah arah. Entah lurus, entah membelah. Tentang kita, kami, mereka. Baik bahagia, sedih, amarah atau luka. Cinta, hanya lah akhir dari sebuah proses panjang hati yang berdoa. Selebihnya hanya lah angan, mimpi yang belum berbuah nyata.

Sudah setengah jam lebih Bayu berdiri di depan cermin. Berkali-kali menata rambutnya yang tak seberapa panjang dengan gel rambut berkaleng merah. Bibirnya tak henti-hentinya bersiul. Sekali lagi menatap bayangannya di cermin lalu menyemprotkan minyak wangi yang baru dibelinya semalam. Dia sudah siap.
Bayu keluar dari kamar dengan sebuah tas kecil tersampir di bahu kanannya. Bibirnya tak juga berhenti bersiul. Adiknya, Riky masih lelap dalam selimut. Ini hari minggu dan jam dinding baru menunjukkan angka delapan lewat sedikit. Dia mencari ibunya untuk berpamitan.

Minggu, 30 September 2012

Nyoblos Part 2


Melanjutkan cerita Pemilihan Gubernur DKI Jakarta putaran pertama, sekarang saya mau meriview sedikit perjalan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta putaran kedua. Dan sebagaimana pembaca sudah mengetahui siapa calon Gubernur DKI Jakarta terpilih selanjutnya dari hasil perhitungan surat suara, baik dari hasil quickcount maupun resmi, jadi gak perlu saya bahas kan ya ^^


Surat Undangan (diterima pukul 18.00 sehari sebelum pemilihan)

Senin, 17 September 2012

Masih Perlukah Pengamen di Jakarta???

Wow.. ekstrim sekali pertanyaan saya. Atau pernyataan saya?
Rasanya kita gak bisa lagi tutup mata, bahwa public enemy yang dihadapi masyarakat Jakarta bertambah satu lagi. Yap! Pengamen!

Sungguh saya udah merasa jengah dengan kehadiran pengamen di angkutan umum yang saya tumpangi. Gak kurang dari tiga pengamen turun-naik selama kira-kira 20 menit saya menggunakan transportasi ini. Dan bagi saya yang harus dua kali berganti angkutan, itu berarti saya bertemu dengan minimal enam pengamen sekali jalan. tinggal di kali kan dua untuk mengetahui jumlah pengamen yang saya temui setiap harinya. Eneg, bukan?

Hampir berasa pengen menjerit "woi, turun!" tiap kali para pengamen itu naik. Terlebih sekarang para pengamen itu menggunakan kalimat, "Jika anda masih punya hati nurani, jika anda masih merasa manusia, tolong hargai suara kami. Suara kami bukan suara angin atau suara binatang. Seribu dua ribu tidak akan mengurangi harta anda, jabatan anda, kehormatan anda. Dari pada kami mencopet, mencuri, merampok lebih baik kami mengamen. Itu lebih halal. Anda butuh makan, kami juga butuh makan bla.. bla.. bla.." Ya Tuhan, mereka itu sedang mengamen atau mengancam sebenarnya?

Kadang juga saya merasa bahwa para pengamen itu tidak pandang "jam kerja" mereka. Pagi-pagi (di bawah jam 7) mereka udah meng"invasi"   angkutan-angkutan kota. Padahal kelopak mata kami masih terlalu ngantuk untuk mendengar nyanyian mereka yang tak seberapa merdu. Sering saya melihat wajah muram dan tatapan sinis dari penumpang angkutan. Tak jarang suara menghela nafas yang sengaja di keraskan.

Jumat, 03 Agustus 2012

Esok Lagi

Bagaimana jika ini adalah hari terakhirku?

Seringkali aku menangis untuk hal yang sia-sia.  Merasa diri tak guna, masa bodoh untuk apa aku ada. Dia yang sering ku lupa bagaimana aku bersyukur seharusnya. Melenggang dengan angkuh dan tenang atas salah dan dosa yang kubuat. Dan lagi untuk di lain kali.

Menghiasi hari-hari dengan iri, marah dan dusta. Menghabiskan waktu dengan tidak berguna. Bangga akan khilaf yang ada. Menyombongkan segala noda. Hidup tak lagi mewujud cinta.

Ya Allah, jika masih ada saat ku jalani waktu dunia, ijinkan ku nikmati saat keningku menyentuh bumi. Ijinkan aku membahagiakan ibu ku tercinta. Hapus sedih dan luka yang pernah kutoreh dalam hatinya. Ijinkan aku beri sedikit bahagia untuk yang lama tak rasa indah. Bosan dengan hidup yang tak kunjung berubah. Ijinkan aku menyambung lagi silaturahim agar terhapus sedikit cela yang pernah kubawa.

Rabu, 11 Juli 2012

Nyoblos????

Uyeeeeyyyy!!!

Telah tertunaikan dengan sempurna tanggung jawab hari ini. Yup! 11 Juli 2012 merupakan hari besar untuk memulai awal yang baru bagi warga kota Jakarta. Hari ini, warga kota Jakarta melakukan pemungutan suara untuk memilih wakilnya untuk duduk sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

Dari enam pasang calon Gubernur DKI Jakarta, dua pasang diantaranya berasal dari kubu independen (udah pada tau dari berita pastinya..). Sempet tidak bisa menentukan pilihan pada detik-detik penghabisan sampai akhirnya saya menemukan sebuah link yang dibagikan melalui account twitter seorang comic (@encebagus-red). Dan saat yang saya membukanya, meluangkan waktu untuk memahami isinya, saya menangis!

Yap, saya menangis!!

Saya benar-benar terharu. Diantara sikap dan pandangan warga Indonesia, warga DKI Jakarta khususnya, terhadap ketidakpercayaan untuk perubahan ke arah yang lebih baik, masih ada sekelompok orang yang dengan antusias menyerukan suaranya. Hati nuraninya. Mereka masih punya harapan serta mimpi untuk Jakarta yang lebih baik.

Program-program sederhana yang dicanangkan CaGub-CaWaGub yang dibahas di tulisan itu membuat saya kembali berharap. Kesederhanaan, dan program yang realistis menjadi pertimbangan saya untuk akhirnya menetapkan hati dan menentukan pilihan untuk nyoblos pasangan ini.

Senin, 25 Juni 2012

Dia Sudah Pergi


Langit sedang bergembira atau apa? Sejak pagi warnanya cerah namun hujan rintik yang turun sejak semalam tak juga reda. Tidak sampai membuatku basah, namun udaranya yang lumayan dingin membuat tubuhku menggigil. Padahal ini baru lewat jam makan siang. Cepat-cepat aku berlari masuk ke dalam gedung sambil berusaha melindungi kepalaku dengan majalah yang baru aku beli.
Kurapikan pakaianku di depan pintu sebelum melanjutkan langkahku. Ruri, reseptionis di meja depan memandangku sambil tersenyum. Ku lemparkan senyum sambil memutar bola mataku ke atas. Dia menghampiriku.
“Ini Mba..” katanya sambil menyodorkan kotak tisu.
“Makasih, Ri..” jawabku seraya menarik beberapa lembar tisu.
“Sama-sama mba. Eh, Mba udah tau belum kalo mas Johan mau resign?” tanya Riri tiba-tiba.
“Oh ya? Syukur deh… aku masuk dulu ya Ri..” jawabku lalu beranjak pergi.
Dalam hati aku amat bersyukur karena pada akhirnya pria bernama Johan mengundurkan diri dari tempat kerjaku ini. Aku senang dia akhirnya tidak akan menggangguku lagi. Aku memang tidak suka pada Johan, jujur saja. Entah wajar atau tidak, sejak dia berusaha mendekatiku beberapa bulan yang lalu aku mulai merasa tidak nyaman berada di dekatnya.
Aku baru saja putus dari Leo ketika dia mulai berusaha mendekatiku. Johan memang baik, tapi aku masih belum bisa melupakan Leo dan menerima kehadirannya. Apalagi jika dibandingkan dengan Leo, Johan benar-benar tidak sebanding. Sudahlah, aku tidak mau membicarakannya.
“Psstt.. psstt.. Mel..”
“Ngapain sih Re? Aneh banget deh..” teman kerja di samping meja ku memanggil sambil merendahkan tubuhnya hampir 45 derajat. Aku hanya tidak ingin dia jatuh.
“Johan mau resign, udah tau belum?” tanyanya.
“Udah..” jawabku pendek.
“Kamu dikasih apa ma dia?” tanya Tere lagi.
“Dikasih apa?” aku benar-benar tidak mengerti pertanyaan Tere.

Minggu, 27 Mei 2012

Iklan...?

Kalo ngomongin soal produk, kita pasti langsung inget sama iklan produk tersebut. Dari banyaknya iklan yang kita liat di tivi, koran, radio, majalah atau koran, iklan yang paling bisa meng-eksplore kreatifitas tentu aja iklan tivi. Tapi dari semua iklan yang kita liat, beberapa iklan pasti lebih menarik dari iklan lainnya, dilihat dari jargon, tema bahkan cara penyampaiannya. Beberapa iklan dengan rating paling oke menurut saya, misalnya:
  1. Axis. Entah bagaimana cara mereka mencari ide, namun operator yang mengusung warna ungu ini selalu punya ide ber-iklan paling kreatif tanpa harus menyinggung promosi operator-operator saingannya.
  2. Djarum 76. Dengan tema sospol, iklan Djarum 76 selalu menghadirkan senyum di wajah saya.
  3. Nutrilon. Perpaduan antara pemandangan yang indah dan puisi yang dibacakan oleh seorang anak, iklan ini bener-bener bikin terharu.
  4. Rinso Anti Noda. Mengusung tema "Noda itu Baik", iklan ini selalu bercerita tentang kreatifitas anak-anak.
Sebenarnya masih banyak iklan-iklan yang menarik, tapi saya lupa apa aja. Kalo teman-teman mau membantu mengingatkan, silahkan.

Minggu, 06 Mei 2012

Aku Akan Selalu mendoakanmu

Jika saat nanti kau kembali tapi tidak dapat menemukan ku atau menebak dimana aku berada saat itu, ingatlah bahwa aku pernah berada dalam posisimu. Aku sudah teramat lelah menunggu kabar yang tak pernah kau kirim kan kepadaku, hingga akhirnya ku putuskan untuk pergi. Maaf.

Jika nanti kau ingin menghubungiku untuk berbagi kisah tentang harimu atau meminta pendapatku tentang sesuatu namun tak bisa, ingatlah bahwa aku pernah berada dalam posisimu. Dulu, aku pernah mengirimkan pesan namun entah mengapa sepertinya kau abaikan. Jadi saat kini aku menghilang, silahkan kau tanya pada hatimu.

Jika nanti kau merasa benar-benar sendiri, diam merenung memikirkan sesuatu sambil menatap bintang di sebuah kursi taman seperti dulu, ingatlah bahwa aku pernah berada dalam posisimu. Saat kau putuskan untuk menghilang tanpa pernah memikirkan bagaimana aku nanti, aku akhirnya mengerti bahwa kau tidak butuh aku lagi. Jadi dengan sadar, aku pun undur diri.

Selasa, 17 April 2012

Iseng

Kaget!!!

Lagi asik-asiknya "menjelajah", gak sengaja nemu iklan ini di Kaskus. Lumayan rame sih obrolannya, tapi gak enak banget responnya. Ada yang ngatain bintang iklannya madesu, bahkan ada kalimat yang mengandung SARA#tepok jidat. Ceritanya di iklan ini: ada seorang cowok bernama Bimo yang sama sekali gak punya ekspresi dalam hidupnya (ketimpuk bola aja cuma bilang "AU"). Bahkan saat dia menyatakan perasaannya. Lalu sebuah suara terdengar dan menyarankan agar Bimo menggunakan fitur XpressiveSMS dari XL. Di akhir cerita Bimo di kelilingi tiga orang gadis karena menuruti saran tersebut .

Minggu, 01 April 2012

Telat



Beberapa waktu yang lalu saya sering mendapat sms dengan footnote "jangan telat". Jujur saja saya bukan tipe orang yang suka meremehkan waktu, janji temu. Saya selalu berusaha datang lebih awal, minimal tepat waktu ditiap acara karena bagi saya menunggu adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Tapi si pengirim sms rupanya tidak peduli dengan ketepatan waktu kedatangan saya dan hanya ingin tetap memastikan agar saya tidak telat.

Tapi rupanya ketepatan waktu kedatangan saya tidak berbanding lurus dengan ketepatan waktu kedatangan si pengirim sms karena seringkali dia lah yang datang melewati batas waktu. Dan sebuah senyum serta permintaan maaf akan terlontar dari bibirnya. Kemudian saya hanya akan menjawab "santai...".

Gak Sengaja

Semalam, saat sedang leyeh-leyeh di depan tivi sebuah sms masuk dari seorang teman yang tinggal jauh di kota Jogja, isinya tentang film yang sedang tayang di Bioskop TransTV "The Taking of Pelham 123". Sebuah film thriller kriminal yang dibintangi oleh John Travolta dan Denzel Washington. Kebetulan saya pun sedang menikmati film yang sama. Sayangnya, teman saya tidak bisa "merampungkan" durasi film ini dikarenakan satu dan lain hal heheheh...

Sejujurnya acara nonton saya pun tidak berjalan mulus, sebuah BBM (BlackBerry Messenger) dari seorang teman yang berlanjut jadi curhat membagi konsentrasi saya. Belum cukup rasanya konsentrasi terbagi karena kemudian seorang teman lain melayangkan curhatannya pada saya. Jadilah saya "ngobrol pesan" dengan dua orang teman. Tapi... belum cukup rasanya jari-jari tangan saya menari-nari lincah di atas keypad karena kemudian seorang teman lain "ngajak ngobrol" juga. Berharap punya tangan tambahan.

Konsentrasi saya jelas terbagi empat sekarang. Pada film yang sedang tayang dan obrolan dengan tiga orang teman saya. Yang lucu adalah, dari obrolan dengan seorang teman SMU saya. Gak sengaja saya mengomentari display picture teman saya ini. Rasanya saya pernah mengenal orang disebelahnya. Setelah saya konfirmasi ternyata orang disebelahnya itu yang juga merupakan kekasih teman saya adalah teman lama saya yang beberapa waktu lalu sempat saya keluhkan keberadaanya yang kini entah dimana (saya punya janji ucapan yang ingin saya penuhi).

Senin, 26 Maret 2012

Rasanya Lebih Dari Itu

Kita tertawa. Duduk menikmati secangkir kopi hangat dan sepotong kue yang selalu kita suka, entah sejak kapan. Selalu saja kau yang bertanya dan membiarkan aku berpikir untuk menjawabnya. Seperti itu lah kita. Entah kau sadar atau tidak.

Langit masih saja terang walau kita tahu waktu tak lagi siang. Sepertinya matahari membiarkan kita berlama-lama menikmati cahayanya. Saling bertukar tanya, menikmati canda dan tawa yang sepertinya tak akan pernah habis tersisa.

Lalu kau bertanya tentang dadaku yang kadang sesak terasa. Aku hanya menggeleng tak ingin menjawabnya. Sungguh. Aku tak sakit. Sesak ku itu, ahh.. lupakan saja. Kau tersenyum, memandangku dengan binar yang selalu membuatku hilang sadar. Lembut, kau sentuh punggungku dan mengusapnya pelan. Aku diam.

Itu Cuma Masa Lalu...

Langkah ku terhenti. Angin membuat langkahku sulit saat gaun ku tersikap. Jilbabku melambai-lambai menimbulkan bunyi ribut. Cahanya kuning emas dari matahari sore melukis langit batas kota, menyelimuti benda-benda sejauh mata memandang. Dramatis sekali, pikirku.

Pelan-pelan aku menglangkah menyusuri jalan. Sendirian. Menikmati perjalanan yang memang harus aku lakukan. Angin menyentuh tubuh ku. Bermandi sinar matahari sore. Hangat. Perjalanan ini mengingatkan ku. Saat ini di hari yang lain.

Warna dan angin yang mempesona. Rasa hangat yang sama di jalan yang berbeda. Sinar keemasan yang membawa langkah-langkah kenangan saat dulu pernah dirasa. Itu cuma masa lalu…

Sabtu, 10 Maret 2012

Aku Tahu Dia Tak Akan Datang

Sumpah deh benciiiiiiiiiiiiiiiiii... banget.. banget.. banget! Nget.. nget.. nget!!

Pagi-pagi udah dibikin pusing. Ahh... akhir pekan seharusnya digunakan untuk bersantai dan bermalas-malasan, walau gak ada juga alasan untuk bermalas-malasan tapi setidaknya seharusnya hari ini berjalan biasa sesuai dengan rencana dan jadwal yang telah tersedia. Perubahan dadakan ini benar-benar membuat saya hilang akal. Uuugghhh....

Saya mencintai kata "siap" yang tentu saja bukan hanya sebatas ucapan. Saya selalu berusaha memenuhi janji yang terucap dan menuntaskannya dengan cara yang terbaik. Namun ternyata semua itu tidaklah cukup. Banyak hal yang harus disesuaikan terutama menyangkut kepentingan dan "keharusan" setiap orang. Lalu apa yang harus saya lakukan?

Akhirnya saya sadar bahwa tidak bisa selamanya saya berada dalam sebuah dekapan penuh perlindungan. Untuk berkembang, saya harus mandiri, mengandalkan diri saya sendiri. Kalau mereka percaya saya mampu, kenapa saya justru ragu? Ok ok.. Saya akan memulainya hari ini. Sendiri.

I need to hate someone and thank God, he's you

Rabu, 08 Februari 2012

Bintang Itu

Aku berhenti. Sudah sejak lama. Bagaimana denganmu? Masihkah? Aku hanya sekedar ingin tahu, jangan salah paham.

Kau yang bilang, kan? Suatu kali. Kau suka, suka sekali. Dan kau ingin aku menemanimu. Dan sejak itu, kita melakukannya. Kau dan aku. Setiap hari, setiap malam. Entah sendiri, kadang berdua. Tak ada kata, hanya memandang hal yang sama, malam.

Menghitung bintang? Tidak. Kita tidak pernah menghitungnya, melelahkan, kau bilang. Jadi, kita hanya memandangnya. Yang berkelip-kelip atau yang kadang menghilang sinarnya karena tertutup awan. Aku akan menahan kantuk agar aku bisa menemanimu. Lalu kau akan mengirimku pesan, malam telah lewat, sudah. Lalu aku akan masuk ke kamarku dan tidur. Kau juga.

Tapi saat sendirian, aku akan menangis diam-diam. Menangisi kesediannku menemanimu melihat bintang sedang kau disana sedang merindukan seseorang. Tentu saja aku tau. Kau yang bilang, kan? Ingat?

Kadang aku masih memandangnya. Aku masih menyukai bintang. Tapi bukan karena kau.

Indonesia??

Cintailah p(r)loduk-p(r)loduk Indonesia....

Kita pasti gak asing dengan kalimat di atas. Slogan salah satu perusahaan besar di Indonesia. Bisa sebutkan beberapa produknya? Yah... gak usah dibahas deh ya...

Pukul empat sore lewat beberapa menit saat saya mulai menekan tuts-tust di papan keyboard diiringi lagu-lagu korea dari ponsel yang lagi dicharge, beberapa kali keplintut karena keseringan pake bahasa sms (disingkat-singkat). Ceritanya abis liat-liat daftar film yang lagi diputer di bioskop, gak lupa sempetin baca sinopsisnya. Lalu... dor! Ada hal yang agak klise disini dan jujur saja hal itu cukup membuat saya males (nonton film Indonesia). Mau tau alasannya? Apa? Gak? Mau gak mau, kamu harus mau hahahhahaha *maksa mode on. Yuk ulas sedikit tentang film Indonesia.

Film Remaja:
  1. Temanya biasanya tentang kekuatan cinta, cinta pertama atau dari benci jadi cinta.
  2. Para pemainnya biasanya blasteran alias bule (liat aja namanya).
  3. Rumahnya gede-gede alias cerita orang kaya.
  4. Selalu ada adegan dengan gadget.

Rayuan Gombal edisi 2

+ Saat ulang tahunmu nanti aku mau memberikan hadiah untukmu.
- Ow y? Hadiahnya apa ya? Tas, sepatu, baju atau....
+ Bukan.
- Lalu?
+ Ikan.
- ???
+ Karena ikan hanya akan mengatakan 1 hal padamu.
- Apa?
+ love... love... love...



+ Coba lihat punggungmu, ada sesuatu gak?
- Apa? Gak ada apa-apa koq.
+ Ah, yang bener? Kayaknya aku ngeliat sesuatu deh
- Jangan ngaco. Di punggungku gak ada apa-apa tauuuuuu.....
+ Jadi bener kata mereka...
- Bener? Soal apa?
+ Bahwa gak semua malaikat itu bersayap...



+ Tuhan telah menciptakan 7 hari dalam seminggu, tapi buatku dalam seminggu hanya ada 1 hari. Kamu tau gk hari apa?
- Hari minggu ya? Secara pengen males-malesan terus heheheheeh
+ Hari Selasa.
- Kenapa Selasa?
+ Selasa ada di syurga kalo deket kamu

Sabtu, 04 Februari 2012

Kritik??

Manusia sejatinya adalah makhluk sosial yang pasti butuh untuk bertemu satu sama lainnya. Istilahnya ya berinteraksi. Nah, saat kita bersama teman atau sodara atau tetangga atau bahkan orang yang bukan siapa-siapa  yang secara kebetulan aja ketemu, kalo nemuin bahan obrolan yang bagus pasti betah deh ngobrol ngalor-ngidul. Berjam-jam juga pasti jadi gak berasa.

Tapi, sadar gak sih kalo dari banyak topik yang dibicarain itu justru adalah kritikan bagi orang lain. Entah langsung atau tidak, entah orang yang kita kenal atau bukan. Beberapa orang menyampaikan kritikan itu secara gamblang yang kadang-kadang menyakitkan, tapi beberapa orang yang lain bisa menyampaikannya secara santai dan diselingi dengan guyonan. Malah kadang bisa jadi pemicu hubungan yang lebih akrab.

Contoh aja nih, beberapa hari yang lalu saya ngumpul sama temen-temen di Teras Kuliner, Kalibata City. Awalnya kami ini meeting serius dan memang tujuan utamanya ya itu. Saat masuk waktu maghrib, saya pamit sholat pada teman-teman yang lain. Nah, setelah balik dari izin sholat itu lah saya jadi korban kritikan mereka. Tapi bukannya marah, saya malah ketawa sampe gak bisa ngomong, sampe perutnya sakit!! Wah pokoknya jadi makin cinta sama temen-temen deh ^^


Petikan obrolan kami:
Org 1: Ndah, pulangnya hati-hati ya. Nanti kalo gak ada orang di angkot turun aja. Pokoknya jangan sendirian.
Saya: Ok Ka, nanti aku naek kereta koq. Rammmeee....
Org 1: Oh, naek kereta toh...
Org 2: Endah mah selalu naik kereta Ka, gak liat apa DPnya karcis commuter line?
Saya: Ya maklum lah, namanya juga fisabilillah Jakarta-Depok hehheheeh
Org 3: Hayya... fisabilillah, pejuang dong
Saya: Kan naeknya penuh perjuangan, commuter line sekarang penuh banget, empet-empetan sambil pegangan.
Org 2: Si Endah mah, emang statusnya aneh-aneh! Apa kabar mata bulet? Hahahah (mereka membicarakan tentang foto masa kecil saya yang bulet abisss)
Org 4: Iy tuh, aku juga liat. Itu mata bisa sampe bulet gitu gimana, Ndah? Hahahahah
Saya: Lho.. lho.. ini ngapa jadi ngebahas mata saya?
Org 3: Mata bulet si, gak pa-pa deh. Itu status nenek gayung! Ada-ada aja, Ndah hahahah (status waktu meeting sama grup lain)
Org 2: Ini si Ndah emang statusnya aneh-aneh aja.
Org 3: Kemaren ane ketemu sama nenek-nenek bawa gayung, pas ane tanya buat apaan dia jawab mau mandi di sonoh (disana - dalam bahasa yang benar) 


Dan mereka masih saling sahut-menyahut mengkritik status-status saya ^^.

Menurut anda, sebulet apakah mata saya? ^^

Jumat, 03 Februari 2012

Cinta Terakhir Di Senja Pantai

“Sudah dengar tentangnya?” sahabatku bertanya saat aku duduk di hadapannya.

Aku menyeruput minumanku yang telah dipesannya lebih dulu, lalu memandang sahabatku dengan pandangan bertanya.

“Jadi kau benar-benar tidak tahu? Dia akan menikah! Tahun ini!” ujar sahabatku menggebu-gebu.

“Terus?” aku memandangnya dengan tatapan jahil sambil tersenyum.

“Ya Tuhan.. bagaimana mungkin kau bisa setidak peduli itu?! Sadarlah kawan, kau akan kehilangan dia selamanya. Selamanya!!” lebih menekankan pada kata selamanya.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanyaku masih tidak perduli.

“Sadarkan dia bahwa kau lah cinta sejatinya! Bawa dia kembali pada kenyataan bahwa kau lah satu-satunya wanita yang bisa menerima dia apa adanya. Mencintainya dengan sepenuh hatimu. Katakan padanya…”

“Cukup!” Aku mengangkat telapak tanganku, “.. kenapa tidak kita biarkan saja dia menentukan hidupnya? Cintanya, itu haknya. “ aku tersenyum pada perempuan dihadapanku.

“Tapi..”

“Sudahlah, kumohon.” Aku menggeleng padanya. Dan kami pun diam.

                                                         -- * * * --

Langit senja Jakarta di pinggir pantai. Memandang lukisan Illahi, mengaggumi kebesaran Sang Pencipta warna. Rambutku melayang-layang dimainkan angin laut. Kubentangkan lengan, kupejamkan mata dan kupenuhi paru-paru dengan udara senja pantai Jakarta.

“Tidakkah kau menginginkan kehadiran seseorang di sampingmu?” sebuah suara menyadarkanku. Kubuka mata, kuturunkan lenganku dan menoleh ke arah suara. Seorang laki-laki dengan badan tegap dan tinggi yang melebihi aku, berdiri persis di sisiku.

“Tolong jangan salah paham, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada pantai ini, suara deburan ombaknya, hempasan angin dan suaranya yang ribut dan lukisan langit merah di ujung sana..”

Aku berbalik, berniat meninggalkannya. Aku tak ingin mendengar apapun darinya apalagi sekarang.

“Katakan padaku.. pernahkah kau mencintaiku?” pertanyaannya menghentikan langkahku. Aku berbalik dan memandangnya.

“Apa yang kau harapkan dari pertanyaanmu? Masih perlukah aku menjawabnya?”

“Jawab saja pertanyaanku. Kumohon.” Matanya seakan mengiba, menunggu jawaban dari pertanyaannya.

Aku menghela napas panjang. Memandang dia yang pernah memberi arti dalam kesehariannku. Bagaimana pun tak kutampik itu. Dia memang pernah menjadi yang teristimewa, namun akhirnya bagiku semua itu tak cukup nyata. Kehadirannya tak lagi menjadi sesuatu yang berharga. Aku merasa bahagia melebihi saat aku bersamanya dan aku yakin bisa bertahan tanpa harus memilikinya.

“Kau tak cukup nyata untuk menerima cinta..” kataku. Dahinya berkerut, tak yakin akan apa yang didengarnya, “.. Kau tak pernah berani melangkah. Tidakkah kau sadar bahwa ada yang menunggumu?” aku diam menunggu reaksinya.

“Maksudmu?” suaranya pelan seraya bisikan. “Ku mohon, jawab aku..” suaranya bergetar, sebuah bulir air mata jatuh dan meluncur di wajahnya. Aku masih diam memandangnya. Ya Tuhan, betapa aku pernah amat mencintai wajah ini.

“Cukup waktu bagiku untuk bersamamu. Aku tak bisa lagi menunggu hilangnya takut dan ragu agar kau mau melangkah maju. Memperjuangkan cintamu untuk bersamaku. Perbedaan kita mungkin terlalu nyata. Cintailah pilihanmu.”

Aku kembali melangkah. Meninggalkan dia yang memandangku berjalan menjauh. Suara deburan ombak dan ributnya angin masih memenuhi telingaku. Ah… aku akan merindukan pantai ini.

Siluet Malaikat

Gerimis masih membayangi Jakarta sejak pagi tadi. Jalan-jalan basah dan becek. Aku berlari meninggalkan Statiun Duren  Kalibata, langkah kakiku menimbulkan bunyi kecipak tak karuan saat menginjak genangan-genangan air. Napasku memburu, keringat meluncur turun dari keningku dan membasahi leher, menimbulkan efek lengket bergaris-garis.

Aku berteduh disebuah gapura. Kulirik jam tanganku, sudah lewat setengah jam sejak acara dimulai. Kuatur napas dan merapikan pakaianku. Kuambil ponsel dan melihatnya, dua pesan masuk bernada sama, menanyakan dimana keberadaanku. Kukirim pesan balasan lalu menyimpan ponselku kembali.

Srett!

Ada rasa yang aneh meluncur tiba-tiba turun ke hatiku. Entah apa. Aku tak merasa yakin. Kutengok kiri dan kanan, mencari sumber rasaku. Deg. Tubuhku seakan terpaku dan tak mampu bergerak. Ya Tuhan… aku melihatnya, dia disana! Berjalan pelan dan santai, seakan tak ada gerimis hujan. Langkahnya mantap, badannya tegak. Dan dia tidak melihatku yang tersembunyi di balik tiang. 

Ya Tuhan, mengapa aku selalu saja lemah saat bertemu dengannya? Mengapa sosoknya menjadi terlalu sempurna bagiku? Jantungku selalu saja berpacu lebih cepat saat melihatnya. Akal dan nyaliku seakan lari entah kemana, meninggalkan aku sendiri menghadapi pesona itu.

Sering kali aku merasa hampir pingsan saat menghadapinya. Melihatnya adalah anugrah terbaik bagiku sedang mendengar suaranya adalah sebuah keajaiban. Ya Tuhan...! Andai saja aku dapat menggapainya, berada lebih dekat beberapa centi darinya.

Oh, tidak! Dia pergi! Dia pergi! Melenggang jauh meninggalkanku yang tak terlihat, tersembunyi di balik tiang ini. Tapi apakah dia…?

Kakiku tiba-tiba bergerak sendiri melangkah menembus gerimis yang mulai deras. Cepat.. cepat.. langkahku semakin cepat. Setengah berlari aku mengejar dia yang menghilang di tikungan. Aku kehilangan jejaknya setelah dia berbelok, buru-buru aku menyusul langkahnya. Sepintas kulihat punggungnya menghilang di ujung tangga dan aku pun menuju tempat yang sama.

Dia disana, berdiri di tengah kebisuan. Wajahnya tenang dan serius dengan tangan terlipat di dada. Rambutnya sedikit basah membuat wajahnya terlihat segar dan gagah. Jas hitamnya basah oleh gerimis. Siluet tubuh itu pernah sesekali tergambar. Kuabaikan suara-suara yang menggema di lubang telingaku dan menikmati siluet itu. Bagaimana mungkin mereka melewatkan salah satu keajaiban Tuhan.

Srett.

Dia berbalik!

Ya Tuhan.. sembunyikan aku! Sembunyikan aku. Tanpa sadar aku bergeser, berlindung di balik salah satu penghalang. Menikmati siluet itu sudah cukup untukku, tak perlu dia menyadari akan hadirku. Hatiku berdegup, rasanya seperti ada yang meninju tulang dadaku. Berdentam-dentam bak gebukan drum seorang pemain band. Tubuhku menggetar kakiku seakan goyah. Jadi aku berbalik, berlari lalu menghilang.

Aku mengutuki diriku sendiri yang terlalu lemah bahkan untuk sekedar menatap wajahnya, menatap matanya. Andai saja teknologi transfer data seperti bluetooth dapat membantuku di saat-saat seperti ini. Ahh... sudahlah. Nyatanya aku disini, melangkah sendirian.

Drrt... Drrt... Kesadaranku kembali saat ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk yang kemudian membawaku kembali pada kenyataan.

Kau dimana? Singkat saja.

Maaf aku tak datang. Jawabku untuknya. Andai dia tahu, siluet malaikat itu…

Minggu, 22 Januari 2012

Ini . . .

Kenapa kau tersenyum sambil memandangku seperti itu? Kau tahu, hampir saja aku berdiri dan berteriak sambil menuding wajahmu. Namun tiba-tiba saja hatiku berubah. Kau tahu kenapa? Kurasa aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah terlalu lama marah. Aku sudah terlalu lelah. Dan kau masih saja tersenyum dan memandangku seperti itu.

Ada kalanya aku ingin menghilang, menjauh darimu. Bahkan kadang aku berharap tidak pernah lahir ke dunia ini.  Hanya karena aku tidak mau melihatmu atau bertemu denganmu. Ada kalanya aku berharap tidak mengenalmu tapi kurasa itu percuma saja karena Tuhan telah mempertemukan kita. Dan disinilah aku, melihatmu tersenyum padaku. Hey . . . aku sedang marah padamu, tahu?! Ya Tuhan, kenapa kau masih saja tersenyum padaku seperti itu?

Kau tahu, ibaratnya kau itu pelari tercepat di dunia. Yang mengherankan adalah kau berlari sambil menggenggam tanganku. Berkali-kali aku hampir jatuh, terpeleset dan kehabisan napas tapi kau tidak pernah berhenti. Kau terus saja berlari dan tanganmu masih saja menggenggam tanganku. Aku heran, apa kau tidak merasa lelah? Apa kau tidak pernah merasa ingin menyerah? Ya Tuhan . . . . sejak kapan kau belajar berlari seperti ini?

Sudah . . .  sudah . . .  berhenti tersenyum! Berhenti pandangi aku seperti itu. Iya kau! Aku sedang bicara tentangmu, tahu. Aku menyerah. Cukup saja sampai disini. Aku menyerah untuk melawanmu. Mulai sekarang apapun yang kau katakan akan aku turuti. Biar . . .  biar saja tanganmu menggenggam tanganku, jangan lepaskan. Aku akan belajar untuk berlari secepat dirimu. Dengan kau di sampingku tidak saja jalan panjang dan bergelombang, jalan menanjak pun akan aku lalui. 

Rabu, 18 Januari 2012

Rayuan Gombal

+ Hmmm... kamu punya kompas?
- Koran kompas?
+ Bukan, kompas penunjuk arah. Punya gak?
- Gak punya. Emang kenapa?
+ Aduh, mana aku gak tau arah lagi.
- Emang kamu mau kemana sih?
+ Aku tuh mau nyari arah ke hatimu....

+ Pahlawan favorit mu siapa?
- Cut Nyak Dien
+ Alasannya?
- Jelas, mencerminkan woman power.
+ Kalo pahlawan favoritku Sayuti Melik
- Alasannya?
+ Soalnya aku pengen belajar sama beliau bagaimana caranya mengetik teks proklamasi cintaku padamu

+ Kamu sedang megang apa?
- Megang tas
+ Tapi masih bisa gak?
- Bisa apa?
- Masih bisa gak nerima hatiku??

Sekedar intermezzo, jangan diambil hati ^_^