Kamis, 29 Desember 2011

Ijinkan Aku Membencimu

“Sebentar saja, apa tidak boleh…” rajukku.

“Apa kau sungguh-sungguh?” jawab pria dihadapanku sambil tertawa. Aku menggangguk dengan penuh semangat.

“Aku tidak percaya kau mengatakan itu padaku…” pria di hadapanku menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ini hanya sementara…” kataku. Pria di hadapanku mendongak lalu menatapku, “… ku harap…” kataku lagi.

“Kau ini ada-ada saja.” Dia menyandarkan punggungnya di kursi, masih tersenyum.

“Ku mohon. Sebentar saja. Sebentaaaaa……r saja. Ini hanya sementara.” aku membuat jarak antara telunjuk dan ibu jariku seperti ingin menguatkan permohonannku.

“Tapi kenapa? Aku ingin tau alasannya. Ke-na-pa?” tanyanya padaku.

Aku mengangkat bahuku sebelum menjawab entahlah dengan suara pelan. Dia menghela napas. Entah apa yang dipikirkannya.

“Aku masih tidak percaya kau mengatakannya.” Katanya lagi.

“Aku pun tidak. Yang aku tau, aku merasakannya. Begitu saja.” Aku berkata lagi.

“Apa kau benar-benar…” ragu, tak menyelesaikan kalimatnya. Aku mengangguk penuh kepastian.

"Dari hatimu?" tanyanya lagi, masih tidak percaya.

Aku mengangguk yakin sebelum menjawab, ku busungkan dada dan meletakkan telapak tangan kananku di dada sebelah kiri, "Dengan seluruh hati dan jiwaku." 

“Sejak kapan?” tanyanya lagi. Aku memutar bola mataku, berfikir. Lalu mengangkat bahu.

“Tidak apa-apa kan?”

Sepi. Aku menatapnya yang terdiam dengan penuh harap. Aku benar-benar butuh jawabannya sekarang.

“Baiklah, terserah kau saja…” akhirnya dia berkata.

“Jadi boleh? Boleh? “tanyaku penuh antusias.

“Tentu… tentu… tidak masalah…” jawabnya lagi mantab, masih tersenyum.

“Aaaa…. Jadi aku boleh membencimu?! Terima kasih… terima kasih…” kataku penuh semangat.

“Jadi…?”

“Hmmm… “ aku tersenyum, “… terima kasih orang yang ku benci…”. Dan kami pun tertawa.

Note: Seorang teman pernah berkata “Seseorang yang tidak dapat menerima rasa benci, tidak berhak menerima cinta.” 

Sabtu, 17 Desember 2011

Manisnya Sebuah Hinaan

Pernahkah anda mengalami sebuah penghinaan? Atau pernahkah anda menghina seseorang?

Sudah beberapa hari ini, pertanyaan tersebut mengganggu hari-hari saya. Membuat saya berfikir lebih, membuat saya bertanya kesana kemari (lagi lebay...). Dari hasil diskusi dengan orang yang saya benci (ini hanya sebutan saja, saya tidak benar-benar membencinya) saya mendapat beberapa masukan bagus.

Mungkin ada kalanya kita sebagai manusia tidak sadar telah berbuat salah, salah satunya menyakiti hati orang lain dengan sebuah penghinaan. Atau mungkin ada seseorang yang dengan sengaja atau tidak telah melontarkan sebuah penghinaan kepada kita. Sebagai seorang manusia yang konon katanya adalah makhluk paling sempurna di atas muka bumi, sudah sewajarnya jika kita merasa tersinggung jika ada orang yang menghina kita. Namun, sebagai seorang manusia yang mempunyai sifat egois ada saat-saat dimana kita sebagai manusia merasa "lebih tinggi derajatnya" dibanding orang lain sehingga tanpa sadar terlontarlah sebuah penghinaan.

Tapi, ada satu hal yang terlupa oleh kita sebagai manusia, bahwa hinaan hanya lah sebuah kata-kata. Jika kita tidak menganggapnya maka hinaan itu akan "lewat saja", tidak meresap ke dalam hati dan pikiran kita. Jika seseorang yang mendapat hinaan tidak merasa terhina, maka hinaan itu tidak ada. Tidak pernah terjadi. Sederhana kan?

Satu hal saja yang perlu dilakukan saat sebuah hinaan mampir di hadapan kita, JANGAN MARAH. Karena saat kita marah, sebuah kontrol dalam diri kita telah lepas. Yang pada akhirnya menjadikan kita benar-benar terhina. Hinaan akan terasa manis jika hinaan tersebut tidak terbukti ada dalam diri kita. Jadikanlah sebuah hinaan sebagai pecut untuk bekerja lebih giat, lebih rajin, lebih pantas dan lebih ikhlas. Buktikanlah pada diri sendiri bahwa kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dan lebih berarti dari pada tuduhan yang disematkan pada kita.

Sesungguhnya Tuhan sedang menguji kita melalui sebuah hinaan yang datang menghampiri. Sebuah ujian hanya datang pada orang-orang terpilih yang akan naik kelas seperti saat kita duduk di sekolah. Jika kita lulus dalam ujian itu, tandanya kita telah belajar menjadi orang yang lebih baik lagi dalam meresapi sebuah pelajaran. Orang-orang yang menghina tidak akan mendapat apa-apa selain kesenangan sesaat dan bonus seperangkat dosa. Sedangkan orang-orang yang terhina akan mendapat sebuah pelajaran berharga yang justru dapat meningkatkan pemahaman dalam menjalani kehidupan.

Air mata akan terasa lebih berarti jika kebahagiaan telah di raih dari pada diteteskan untuk mereka yang telah menghina kita. Toh, matahari gak selamanya terang. Ada kalanya mendung tertutup awan, ada kalanya gelap saat malam.

Terima kasih kepada orang yang kubenci, aku tau aku selalu bisa mengandalkanmu. Sekali lagi, kau telah menDahsyatkan hatiku ^_^

Sabtu, 03 Desember 2011

terDahsyat dan terCinta

Gak terasa sudah lebih dari sebulan sejak saya terakhir kali berceloteh di blog (sambil bersihin sarang laba-laba). Kali ini gak mau cerita yang berat-berat ah cuma berbagi pengalaman aja *tikus lewat.

Kisah ini bermula dari perjumpaan dengan teman kecil saya di salah satu situs jejaring sosial yang paling terkenal di kalangan remaja, facebook. Awalnya perbincangan kami membahas mengenai rencana reuni temen-temen SD. Sudah lebih dari 13 tahun kami gak saling ketemu dan ngobrol. Rasanya kayak mau mengulang masa-masa kekonyolan dan keluguan kami dulu (kayak yang dulu lugu aja heheh) *kecoa lewat.

Salah satu teman SD saya kemudian menanyakan nomor ponsel saya. Saling berkirim pesan, kami pun akhirnya janjian untuk bertemu. Saat pertemuan kami, yang dibahas jelas saja rencana reuni yang udah molor hampir 2 bulan. Beberapa teman yang ternyata tinggal di luar kota selepas SD dan kembali ke Jakarta untuk bekerja juga menjadi topik pembicaraan kami. Sampai akhirnya teman saya mengajak duduk dan bicara sesuatu yang serius.

Saat mendengarkannya bicara, saya merasa takjub dan terpukau. Betapa tidak, dia yang dulu saya kenal sebagai anak paling cupu, gagap dan pendiam kini berubah menjadi sosok paling sempurna di mata saya (walau saya tau gak ada manusia yang sempurna, tapi tolong jangan dibantah ya ucapan saya). Dengan gayanya yang cool dan sopan, dia menjelaskan pada saya kegiatannya setahun belakangan ini. Saat mendengar penjelasannya, saya bergumam dalam hati, "Ya Allah inikah jawaban doa-doaku? Akhirnya kutemukan juga penyembuh dari sakitku."

Jujur saja, kini saya adalah seorang leader MLM. Sebuah bisnis paling dibenci di seluruh negeri tapi tidak dengan MNI (Melia Nature Indonesia). Tapi saya tidak pernah menyesali keputusan itu. dan sampai sekarang saya masih berkomitmen dalam menjalaninya. Ini adalah MLM yang jauh berbeda dengan MLM di luaran sana. Teman saya mengajarkan banyak hal pada saya, tidak pernah meninggalkan saya, membantu dan mendampingi saya kemana pun saya melangkah sehingga saya tidak pernah merasa berjuang seorang diri. Bahkan dalam keadaan kurang sehat dan dihari hujan, dia tetap datang mendampingi saya.

Mungkin awalnya yang saya cari adalah kesehatan fisik, tapi jika itu ternyata dibarengi dengan kesehatan finansial, kenapa tidak? Disini saya bertemu dan mengenal banyak orang, termasuk gadis-gadis galau yang nge-fans dengan teman saya itu heheheh. Pantaslah jika teman saya itu berubah.

Setiap hari Minggu, kami biasa ngumpul di CTU Tebet, dan tiap kali saya melewati kerumunan gadis-gadis remaja, tokoh sentral dalam topik pembicaraan mereka adalah teman saya yang sekaligus leader saya. Jadi bangga punya leader tampan heheheh. Dan yang bikin saya suka ketawa geli sendiri adalah pada saat kami bicara, ada aja gadis-gadis yang berdiri dan memandang kami dengan tatapan aneh hehehehehe. Makanya kalo lagi dateng isengnya kami akan saling bertukar sapa dengan panggilan "tercinta". Dan biasanya mereka pasti akan menarik-narik tangan saya sambil cemberut hahahahahah

Thanks to my beloved Leader, kau telah menDahsyatkan hatiku ^_^