Jumat, 23 September 2011

Aku Sedang Tak Mempercayai Mataku

Aku sedang tak mempercayai mataku, mencoba mengelak dari apa yang ada di depan pandanganku. Mencoba untuk mengingkarinya, mencoba untuk tidak melihatnya. Namun aku tidak bisa. Dia sudah terlanjur ada di sana dan aku sudah terlanjur melihatnya, walau terpaksa.

Ombak di hatiku bergelung-gelung saat kulihat lagi dirinya, antara menahan rindu dan amarah pada laki-laki di hadapanku ini. Aku tidak dapat mengontrol detak jantungku yang tiba-tiba berdetak lebih cepat dan berbunyi deg-deg-deg, tak ada suara lain yang ku dengar kecuali detak jatungku sendiri.

Aku tak tahu apa yang membawanya datang kembali di hadapanku saat ini, menemuiku yang tak lagi membutuhkannya, tak lagi mengharapkannya. Dia, laki-laki yang hampir tiga tahun ini tak kulihat, tak ku ketahui keberadaannya atau ku tahu kabarnya. Ku kira dia telah melupakan aku, waktu tiga tahun cukup bagi siapapun untuk memulai hidupnya yang baru, termasuk aku. Dan seharusnya ini juga berlaku padanya.

Aku menghela napas, menatapnya dalam diam tanpa kata. Aku berada di teras rumah sedangkan dia berdiri di ujung jalan depan rumahku. Dia melihatku, menatapku tajam. Entah apa yang dia pikirkan, aku tak perduli. Kami diam saling menatap dari kejauhan.

Lama kami terdiam, dalam udara hangat sore hari. Cahaya emasnya membuat semua terasa indah tapi tidak pada sosok di hadapanku. Aku ingin mengenyahkannya. Tidak saja dari pandanganku tapi juga dari otakku. Bukan, bukan karena aku membencinya, namun karena aku pernah merasa terlalu tersakiti oleh sikapnya. Dan aku tak ingin merasakan sakit yang sama.

Badannya kurus, wajahnya tirus, rambutnya yang lurus kusut tak diurus. Matanya hampir hilang tertutup ujung rambut yang menggelayut. Lengannya lemah berada lurus di sisi tubuhnya. Tak pernah aku melihatnya seperti ini. Sisa-sisa ketampanannya yang dulu masih dapat kulihat di ujung garis bibirnya. Di mataku dia bagai seorang spikopat yang kabur dari tahanan.

Pikiranku melayang, menjauh dari tempat aku berdiri. Ingatanku terbang ke masa-masa lalu, saat aku masih merasa hanya perlu memikirkan satu hal di dunia. Hanya satu hal, “CINTA”. Entah apa yang terjadi dalam dirinya, ketika tanpa kata, tanpa berita dia pergi menghilang. Kuhabiskan banyak waktu untuk mencari dirinya. Ku penuhi otakku dengan rencana-rencana pencarian yang nyata sia-sia. Dia menghilang meninggalkan aku.

Awalnya, ku pikir semua baik-baik saja, tak ada yang berubah. Dia masih tetap baik, selalu perhatian padaku, tak pernah sekalipun aku merasa ditinggalkan olehnya. Dia selalu ada untuk mendengar keluh kesahku, menyemangatiku untuk melalui hari-hari yang penuh tekanan atau sekedar bertukar kabar tentang aktifitas yang sedang dijalani. Kami merasa nyaman akan kehadiran masing-masing dari kami, merasa lengkap, merasa cukup dengan hubungan yang kami jalani. Ku pikir itulah yang terjadi.

Dia adalah laki-laki yang dapat membuatku merasa dilindungi, merasa aman. Dia memang tidak selalu membelaku setiap kali aku berselisih paham dengan teman lain, sebagai gantinya dia akan memberiku masukan yang dapat aku pertimbangkan tentang sikap yang mungkin dapat ku ambil. Dia orang yang bijaksana.

Dadaku sakit, aku merasa lemah dan kalah. Aku ingat bagaimana dulu dia memperlakukanku. Masih lekat dalam ingatan bagaimana dulu dia bersikap, cara bicaranya, gayanya berjalan, caranya menaburkan kepercayaan dalam hatiku. Sedikitpun tak pernah terlintas dalam benakku bahwa hanya ada sedikit waktu untuk menikmatinya.

Satu kesalahan yang aku perbuat adalah karena aku merasa memilikinya, merasa akan bersama selamanya. Aku merasa dia akan selalu berada di sampingku, tak ada sesuatu hal pun yang kulihat dapat memutuskan hubungan kami. Aku memilikinya. Tapi ternyata hal ini tidak sama dengan yang dia rasakan. Kita tidak akan merasa kehilangan jika kita tidak merasa memiliki, harusnya aku sadari itu.

Aku menatapnya lagi. Aku ingin bicara dengannya,aku ingin mengadukan semua kekesalanku. Menceritakan hari-hariku yang hilang, merasa kosong dan tak lengkap. Bagaimana aku merasa sia-sia. Seperti jendral tanpa tentara, seperti Negara tanpa warga, seperti dunia tanpa manusia, seperti raga tanpa nyawa, seperti aku tanpa hati yang memberi cinta.
      
     Aku terjerembab dalam kebahagiaan yang kau sodorkan tiba-tiba dihadapanku. Aku terperangah dalam dunia gemerlap akan indahnya cinta. Aku terlena dalam kenikmatan kasih sayang yang kau hamparkan di depan mataku. Kau menyelimutiku dengan ribuan kata-kata cinta. Kau buai aku dalam khayalan yang membuatu tertidur dalam harapan-harapan akan kata  “ bahagia selamanya”. Namun tidak, kau menghentikannya, Lalu semua berakhir.

Sejenak kulihat matanya bergerak, menatap fokus yang lain. Bukan aku, tapi benda di belakangku. Rumahku, Rumah yang sering didatanginya, sering disinggahinya. Sesering lebah mendatangi kuncup-kuncup bunga, sesering tentara menembakkan senjatanya. Dulu setiap akhir pekan sejak akhir bulan Sya’ban, Lalu tiba-tiba dirinya menghilang.

Apakah kau tahu, betapa aku sangat tersiksa? Mencarimu kemana-mana bagai orang gila. Ku tanggalkan rasa malu ku di pinggir-pinggir jalan, hanya untuk menemukan kehadiranmu kembali dalam hidupku. Ku tinggalkan rasa malu ku di belakang pintu kamar hanya untuk membawamu kembali di hadapanku. Ku tinggalkan rasa malu ku hanya agar aku dapat kembali bersamamu.

Aku tersesat dan kehilangan arah. Ku tahu ada sesuatu yang salah, hanya aku tak tahu benar apa masalahnya. Kuhabiskan waktuku untuk memikirkanmu. Hingga ku sadar tak ada lagi yang dapat aku lakukan untukku dapat bertemu denganmu. Dan ketika ku sudah mulai hidup lagi, bangkit kembali, dan mulai bersemangat kembali, kau datang. Untuk apa? Untuk menghancurkanku? Untuk membuatku sedih? Untuk membuat hati ku sakit? Untuk apa?!!

Aku sudah dapat hidup tanpa memikirkanmu, Bukan berarti aku melupakanmu. Tidak. Sungguh. Aku tidak pernah lupa bagaimana kau dulu sangat berarti dalam hidupku. Membuatku bahagia walau hanya sepenggal waktu. Dan aku tak ingin melupakan kebahagiaan yang ku reguk bersamamu, aku tak ingin melupakan bagaimana kau dulu adalah seorang arjuna, walau ternyata kau memutuskan bahwa bukan aku “srikandi”-nya. Dan aku tahu saat itu aku akan sakit.

Kini, aku memiliki kehidupan yang lain, Kehidupan yang dipenuhi oleh rasa syukur atas apa yang telah ku dapat dan rasa syukur atas apa yang tidak kudapat. Aku tahu, Tuhan selalu menjagaku dari hal-hal yang ada di sekelilingku, menjauhkanku dari hal-hal yang membuatku terluka, dari hal-hal yang membuatku menderita, dari hal-hal yang membuatku lupa pada-Nya.

Lalu fokus matanya kembali bergerak. Kembali menatapku. Lama kami menatap dalam kebisuan. Lalu tiba-tiba matanya mengembang, bulir air mata meluncur dari sudut matanya dan turun di kedua belah pipinya yang kurus. Matanya memancarkan kesedihan mendalam, kesedihan yang akan membuatmu menangis saat melihatnya, kesedihan yang terasa terlalu menyakitkan.

Gerimis mulai turun kecil dan lambat. Semilir angin menyentuh kami berdua. Memainkan ujung rambut di keningnya, seperti mencoba menariknya menjauh, mencoba menghilangkan konsentrasinya, mencoba mengalihkan pandangannya,  selebihnya tetap dalam posisi yang sama. Dia seperti tak tersentuh, masih diam pada pijakannya. Dan aku masih menatapnya.

Lalu dia melangkah ke arahku, mendekatiku. Wajahnya tak berubah, tetap diam tak bersuara. Langkahnya panjang dan lamban, seperti ingin memberiku ruang untuk pergi melarikan diri. Namun, aku tetap diam, tak bergeming dari tempatku. Aku bagai dua nyawa dalam satu raga. Satu nyawaku bagai ingin berteriak, menariknya agar aku tak perlu menunggu lama untuk melihat wajahnya di depan mataku. Sedang nyawa yang lainnya ingin berlari, menghilang dari hadapannya.

Gerimis masih mengiringi kebisuan kami. Angin yang mulai kencang membuat suara berisik yang membuatku merinding. Udara lembab dan dingin. Gemerisik daun seakan ingin menyeret kami menjauh, mengakhiri kebisuan antara kami dan mengembalikan keadaan semula. Daun-daun yang gugur melayang-layang, berputar di antara kami yang masih saling memandang.

Ujung gaunku meronta-ronta ditiup angin. Wajahku mulai basah oleh gerimis. Begitupun dengan wajahnya. Baju bagian bahunya pekat, basah. Celananya juga, menimbulkan bulatan-bulatan bak noda tinta. Lalu mulutnya membuka, hendak mengeluarkan suara………

“Maaf…… aku kembali……”           

“Pulanglah… dan lupakan kau pernah mengatakannya……”

Hujan mengiringi langkahnya dengan kepala tertunduk, melangkah menyusuri jalan kecil yang basah lalu menghilang. Dan yang ku lihat, hanyalah sebuah kenangan.

Senin, 19 September 2011

Habiburrahman El Shirazi : Dalam Mihrab Cinta The Romance

Gak terasa saya menghabiskan novel setebal 270 halaman ini hanya dalam waktu satu hari. Itu pun tidak full satu hari karena dipotong waktu sholat, makan, tidur bahkan bercanda dengan keponakan saya yang baru datang. Kata-katanya yang lugas, alur cerita yang cepat dan mengalir ringan membuat saya terlena dan terus membaca. Novel ini sudah diangkat ke layar lebar, jadi beberapa teman mungkin sudah pernah ada yang menontonnya.

Kisah pencarian jati diri seorang pemuda yang ingin sukses melalui cara yang berbeda, bukan menjadi seorang saudagar batik seperti ayah atau kedua kakaknya. Keputusan akhir setelah perbincangannya dengan beberapa tokoh, membuat dia memilih pesantren sebagai tempat menimba ilmu.

Perjalanannya menuju Kediri mempertemukan dia dengan Zizi, gadis yang akan mengisi separuh relung hatinya. Dan sebuah peristiwa heroik yang menyelamatkan si gadis dari tangan pencuri membuat dia memiliki nilai istimewa dimata sang gadis.
Syamsul, nama pemuda itu, menyinggahi empat pesantren atas saran si gadis. Dari ketiganya, Syamsul merasa kurang cocok dengan sistem pengajarannya. Syamsul yang merasa mampu mengejar pelajaran dengan cepat merasa tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakatnya. Namun akhirnya hatinya justru terpaut di pesantren terakhir yang didatanginya, Pesantren Al-Furqan, Pagu, Kediri. Pesantren pimpinan ayah si gadis, K.H. Baejuri.

Pada awal kedatangan Syamsul, tidak semua santri menyukai sosoknya karena penampilannya yang awut-awutan dan rambutnya yang gondrong. Namun lambat laun karena kesungguhannya belajar dan mengejar ketertinggalannya Syamsul pun diterima. Hanya satu santri putra yang tidak menyukainya, Burhan, putra saudagar kaya di Jakarta. Burhan merasa prestasi Syamsul hanyalah alat pancing untuk memikat hati putri pimpinan pesantren.

Suatu hari pesantren gempar, terjadi pencurian di kamar para santri putra. Bagian keamanan menlakukan rapat untuk mendiskusikan cara menangkap pelaku,sayangnya rencana bocor oleh salah satu petugas Bagian Keamanan. Pencuri gagal ditangkap.

Suatu siang, Burhan meminta Syamsul menemaninya ke dokter. Karena lupa membawa dompet, Burhan meminta Syamsul untuk mengambilnya, tanpa prasangka Syamsul menurut. Syamsul masuk ke kamarnya yang juga merupakan kamar Burhan, lalu mengambil dompet Burhan yang disimpan di lemari. Belum sempat Syamsul melangkahkan kakinya keluar kamar, sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Syamsul babak belur dihajar puluhan santri putra. Syamsul dituduh mencuri.

Syamsul disidang oleh Kiai Miftah, putra K.H. Baejuri, pengasuh pesantren Al-Furqan yang baru. Syamsul memberikan pembelaannya, namun Burhan menentangnya. Pahamlah ia sekarang, bahwa Burhan sengaja memjebak dan memfitnahnya. Syamsul digunduli dan dikeluarkan dari pesantren dengan tidak hormat. Hatinya sakit.
Setelah kepulangannya, Syamsul justru tidak menemukan ketenangan. Sikap merendahkan ayah dan kedua kakak laki-lakinya membuat Syamsul makin terpuruk, dia memutuskan melarikan diri ke Jakarta. Awalnya Syamsul berniat mencari pekerjaan tapi tak satupun tempat yang mau menerimanya. Nekat, Syamsul memutuskan untuk mencuri.

Aksi perdana Syamsul gagal. Dia dihajar masa dan babak belur. Di kantor polisi, Syamsul mengaku bernama Burhan. Berita Syamsul masuk penjara sempat tayang ditivi dan koran. Karena tidak percaya pada penglihatannya, Nadia, adik Syamsul datang ke kantor polisi. Syamsul meminta bantian adiknya, akhirnya dia dibebaskan.

Saat di penjara, dia sempat belajar cara mencopet dari seorang napi pencuri motor. Saat mencopet, maksimal orang yang boleh dicopet hanya dua orang, tidak boleh lebih. Syamsul manut, aksi mencopetnya sukses.

Suatu hari, Syamsul mencopet seorang gadis muda berjilbab. Selain uang senilai lima ratus ribu rupiah, Syamsul juga mendapati foto Burhan, tunangan Silvie, gadis yang dompetnya ia copet. Berniat memperingatkan Silvie untuk menjauhi Burhan, Syamsul akhirnya malah mendapat pekerjaan. Menjadi seorang guru mengaji. Profesi ini kemudian membawanya menjadi seorang mubaligh.

Hanya dua orang dari pesantren yang masih mempercayai Syamsul, Ayub teman sekamarnya dan Zizi wanita yang pernah ditolongnya. Dibantu adik Ayub, mereka bertiga melakukan tipuan untuk menjebak pencuri sebenarnya. Burhan.
Singkat cerita, Syamsul jadi sukses, sedang Burhan terpuruk. Ayah dan kakak Syamsul meminta maaf, lalu mereka rukun kembali. Silvie meminta ayahnya untuk melamar Syamsul, diterima. Zizi sedih dan cemburu. Menjelang hari pernikahan, Silvie meninggal karena kecelakaan. Syamsul sedih dan terpuruk. Nadia yang ingin menghibur kakaknya, mengajak Syamsul jalan-jalan di pantai. Mereka naik perahu. Di tengah perjalanan, perahu oleng, Nadia tenggelam. Syamsul tersadar, makin dia terpuruk makin dia kehilangan orang-orang yang dicintainya. Syamsul kembali melanjutkan hidup, disaat inilah Kiai Miftah datang dan melamar Syamsul untuk adiknya, Zizi. 

Rabu, 14 September 2011

Marga T : Oteba II (Buku ketiga trilogi)

Buku ini saya dapatkan di Terminal Senin setelah mengacak-acak dan merubuhkan sebuah menara buku (maap bu kios heheheh…). Ahh, akhirnya dapat juga penutup dari novel misteri berseri ini. Lega rasanya!

Dinovel terakhirnya Marga T benar-benar menguak seluruh misteri. Semua pertanyaan terjawab sudah. Mulai dari penyebab kematian pasien-pasien Ramon, alasan mereka dibunuh, tokoh sebenarnya yang meninggal (Wudu atau Lukas) dan kehidupan pribadi Lukas dan Wudu dewasa.

Kisah diawali pada masa remaja Oteba. Kisah percintaan maupun peranan mereka dalam pergaulan sehari-hari. Di buku ini juga dikisahkan tanpa disadari telah terjadi persaingan antara Lukas dan Ramon dalam hal percintaan. Lukas menganggap Ramon sering merebut gadis-gadis pujaannya sehingga Lukas berniat untuk melenyapkannya.

Lukas juga menganggap bahwa wanita-wanita cantik yang tidak setia atau mudah berpaling muka harus dilenyapkan. Dan Wudu berpendapat, jika saudaranya berniat demikian maka dia pun harus memiliki niat yang sama.

Jalan keluar dari misteri ini dimulai dengan telepon jebakan Lukas untuk Kishi agar datang ke villanya. Lukas berkata bahwa ada seorang pasien yang butuh bantuan Kishi dan jika Kishi bersedia datang untuk menyelamatkan pasien tersebut, maka Kishi juga akan membongkar misteri pembunuhan pasien-pasien Ramon.

Apakah Kishi memenuhi permintaan Lukas? Tentu saja. Khas cerita-cerita misteri sebenarnya, karena pada akhirnya sang pembunuh menceritakan seluruh alasannya membunuh pada korban terakhir mereka, yaitu tokoh utamanya. Sang pembunuh juga menceritakan peristiwa apa yang menyebabkan dia memutuskan untuk membunuh dan bagaimana cara dia memilih para korbannya.

Hemh… walaupun demikian saya cukup puas setelah menyelesaikan rangkaian novel percintaan yang berubah menjadi misteri pembunuhan dan balas dendam ini. Terlebih dengan perjuangan mencari kesana kemari buku lanjutannya. Marga T sepertinya tahu akhir cerita seperti apa yang diinginkan pembacanya.

Marga T : Oteba I (Buku ketiga trilogi)

Sempet kesel juga karena ternyata buku ketiganya dibagi menjadi dua bagian. PR lagi untuk mencari endingnya. Buku ini saya beli di salah satu kios di belakang Dunadarma Depok bersama seorang teman di bulan Ramadhan tahun 2006.

Kalau agan-aganwati pernah menyimak dua novel sebelumnya (Saskia-Kishi), mungkin masih ingat dengan tokoh Wudu dan Lukas Oteba, dokter kembar teman Ramon dan Kishi yang punya kebiasaan sedikit aneh dan sangat sulit dibedakan. Nah, plot dibuku ketiga ini melompat dari satu masa ke masa yang lain, awalnya Marga T menceritakan masa kecil si kembar Oteba lalu kembali ke masa dewasa.

Dikisahkan ibu Oteba meninggal karena disiksa ayahnya di ruang bawah tanah rumahnya karena dituduh selingkuh. Oteba kecil menyaksikan bagaimana ibunya dibunuh oleh ayah mereka dari balik dinding dan hal ini menyebabkan trauma sendiri bagi keduanya. Setelah meninggal, mayat ibunya tidak dikubur melainkan tetap tergantung di dinding menggunakan borgol.

Setelah kematian ibunya, Wudu berubah jadi orang penakut dan sering gugup. Sedangkan Lukas walau menjadi pria yang mudah bergaul dan disenangi para gadis, namun saat dirinya malu dia akan berubah liar dan ganas, pembalasan dendamnya bisa menyebabkan kematian. Lukas dan Wudu seringkali bertukar peran, hal ini disebabkan karena tidak ada satupun orang yang bisa membedakan keduanya.

Lukas adalah ahli psikiatri sedang Wudu adalah ahli bedah. Suatu hari salah satu Oteba tewas, entah siapa namun kembarannya menyatakan bahwa yang meninggal itu Wudu. Namun setelah kematian Wudu, Lukas, kembarannya menjadi aneh. Dia seringkali mengumpat dan menyalahkan Lukas (padahal kan dia Lukas), semua salah Lukas. Dan misteri masih belum terungkap.

Marga T : Kishi (Buku kedua trilogi)

Kishi adalah novel pertama yang saya baca dari rangkaian novel bergenre misteri pembunuhan karya Marga T ini. Dibeli dengan harga Rp 10.000 di kios koran langganan di samping Ramayana, Pasar Minggu. Waktu pertama kali ditawari saya menolak karena sampulnya yang "gak banget", tapi karena sang penjual memberikan garansi (kalo gak bagus boleh dibalikin), akhirnya saya terima.

Novel dibuka dengan sebuah skandal di klab malam dimana Ramon yang pandai bermain piano dan hobi menyanyi mengisi waktu luangnya dengan menjadi seorang penyanyi. Dipicu sebuah foto Ramon dan seorang gadis yang dimuat disurat kabar, kehidupan Ramon mulai berantakan. Hubungannya dengan Kishi hancur, harus berurusan dengan polisi yang kemudian berakhir di penjara. puncaknya dia diskors dari IDI sampai batas waktu yang belum ditentukan. Ramon frustasi.

Melihat semua kepahitan yang menimpa Ramon, Kishi terketuk hatinya dan mengalah untuk menolong Ramon dengan menikahinya. Namun pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Semua terasa hampa, hanya kepura-puraan belaka. Keduanya selalu sibuk dengan urusannya masing-masing dan tersadar saat anak pertama mereka, Malleo, mengidap penyakit leukemia yang akhirnya merenggut nyawanya.

Setelah kematian Malleo, muncul sebuah peristiwa aneh di rumah sakit tempat Ramon praktek. Pasien-pasiennya satu per satu meninggal. Semua menyangka emosi Ramon terganggu dan melakukan euthanasia pada mereka. Ramon kembali dihadapkan pada polisi dan terancam masuk penjara.

Tidak tahan dengan semua masalah yang menimpa suaminya, Kishi yang tidak sadar tengah hamil anak keduanya, meninggalkan Ramon dan pergi merantau. Saskia, adik ipar Ramon yang pernah sangat mencintainya akhirnya rela mengorbankan keperawanannya untuk sang kakak ipar yang kesepian hingga mengakibatkan kehamilan. Nasib baik bagi Saskia, ada seorang pemuda tampan dan baik hati yang bersedia menikahinya, Fadil.

Dalam perantauannya, Kishi bertemu dengan Renard, seorang dokter yang berkharisma. Saat keduanya hampir menikah, sebuah berita kecelakaan terhadap Ramon membuat Kishi sadar bahwa hatinya masih mencintainya. Ramon dikabarkan menjadi korban kebakaran, mayatnya yang hangus diantarkan pada keluarganya.

Saat kesedihan melanda Kishi, tiba-tiba sebuah peristiwa mengungkap semuanya. Ramon memang menjadi korban kebakaran, namun dia tidak meninggal, hanya mengalami luka bakar serius di tubuhnya. Rambutnya pun habis terbakar api dan separuh wajahnya mengalami luka bakar ringan. Dentingan piano setiap malam di rumah Kishi mengiringi kenyataan bahwa Ramon ternyata masih hidup.

Marga T : Saskia (Buku pertama sebuah trilogi)

Aslinya novel ini dicetak pertama kali pada tahun 1985 (lama banget, ya? Belum lahir saya juga), dan yang saya dapat adalah cetakan keenam, Februari 2004. Cukup sulit saya mendapatkan novel ini, maklum lah buku lama. Namun setelah lelah cari-cari sana-sini dengan hasil nol, saya berhasil mendapatkan novel ini di Gramedia Depok dengan harga Rp 12.000 (wah, kenapa dulu gak langsung kesana aja, ya?).

Disajikan dengan bahasa gaul tahun 80-an, Saskia memulai ceritanya dengan sebuah rencana pesta ulang tahun Tosi, seorang anak SMA teman Saskia. Di pesta ulang tahun inilah Saskia bertemu dengan Ramon,sepupu Tosi yang kuliah kedokteran. Pada pandangan pertama dengan Ramon, Saskia langsung jatuh hati setengah mati.

Kishi, kakak Saskia yang juga kuliah kedokteran menentang hubungan ini. Kishi takut adiknya menjadi korban ke-playboy-an Ramon. Saskia yang tengah dimabuk kepayang tentu saja tidak mau mendengarkan, malah menuduh kakaknya cemburu. 
Diakhir cerita diketahui bahwa ternyata Kishi dan Ramon pernah berpacaran. Namun keduanya putus karena Ramon menuduh Kishi selingkuh.

Ramon akhirnya mengakui bahwa tindakannya mendekati Saskia adalah untuk membalas sakit hatinya pada Kishi. Dan pada akhirnya dia meminta maaf untuk perbuatannya itu. Namun sayang, saat Ramon memintanya untuk kembali, Kishi menolaknya.

Apakah ceritanya selesai? Oh, tentu tidak. Novel ini hanya pembuka, cerita berlanjut di novel kedua. Kishi.

Minggu, 11 September 2011

Gadis Kecil dan Rasa Sakitnya

Bukk!

Hehk!

Bukk!

Bukk!

“Gadis.. pergi! Cepat bangun!” ibu berteriak-teriak histeris. Gadis bingung. Di matanya semua terlihat dalam gerak lambat. Semua terlihat buram.

“Gadis! Cepat bangun! Pergi.. pergi..!” ibu berteriak lagi. Gadis kemudian bangkit lalu berlari.

Seorang perempuan muda melambaikan tangan padanya. Wajahnya terlihat panik. “Sini.. masuk sini!” ujar perempuan muda itu, kata-katanya seperti tercekat. Perempuan muda itu menarik lengan Gadis ke dalam rumahnya lalu menyuruhnya duduk. Gadis baru sadar celananya basah, jadi dia berdiri.

“Tidak apa-apa.. tidak apa-apa. Duduklah.” Perempuan muda itu mengangguk pada Gadis. 

“Tunggulah sebentar disini, saya akan keluar melihat keadaan.” Perempuan muda itu lalu pergi.

Gadis masih bingung akan apa yang terjadi. Dia merasa gamang, tidak yakin apa yang baru saja terjadi, seakan kehilanagn ingatan. Dia mengamati jari-jari tangannya, meraba telinganya, belakang kepalanya. Dia merasakan sesuatu tapi tidak yakin apa itu.

Seorang perempuan muda yang lain lalu masuk dan duduk di dekat gadis. Dia menyerahkan pakaian kering pada Gadis dan menyuruhnya berganti pakaian. Gadis mengucapakn terima kasih lalu pergi ke kamar mandi dan mengganti celananya yang basah.

“Kamu diapain aja? Mana yang sakit?”  tanyanya kemudian setelah Gadis kembali. Gadis hanya menggeleng, tidak yakin apa yang harus dikatakannya. Perempuan muda itu mengangguk lalu mengajak Gadis ke rumahnya.

“Tidur aja, nanti sore kalau keadaan sudah tenang kamu baru pulang.” ujar perempuan muda itu di kamar tidur lalu pergi.

Gadis berjongkok di sudut kamar, kembali berusaha mengingat kejadian yang baru menimpanya. Perlahan ingatannya pulih, sadar apa yang telah terjadi. Air matanya menetes, hampir tidak mempercayai apa yang diingatnya. Lalu dia mulai menangis.



10menit sebelumnya.

“Kurang ajar! Berani menentangku?!” kakak Gadis kalap lalu menghampiri Gadis yang sedang mencuci.

Bukk!

Sebuah pukulan menghantam wajah Gadis.

Hehk!

Gadis tersungkur dan menerjang seember air. Celananya basah. Gadis limbung, dunianya seolah berputar. Pandangannya kabur.

Bukk!

Bukk!

Gadis diam meringkuk. Tubuhnya berkali-kali dihantam pukulan dan tendangan tapi dia tidak merasakan apa-apa. Gadis memang tidak merasakan sakit, tubuhnya seakan dapat meredam hantaman-hantaman itu. Tapi saat itu hatinya remuk.

Sabtu, 10 September 2011

Kecele

Aku benar-benar sedang kesal! Sudah dua jam aku duduk disini, memperhatikan dia yang seolah sibuk sendiri. Cangkir kopiku masih penuh, tak sedikit pun kusentuh. Tangannya sibuk memainkan tombol-tombol di hapenya, kemudian dia tertawa. Manis sekali, ahh... aku langsung meleleh lagi.

Aku tak tahan berdiam diri terus, sengaja kupandang dia lekat-lekat agar dia sadar bahwa aku memperhatikannya, menunggunya untuk berkata-kata. Ku mainkan sendok di cangkir kopiku yang sudah dingin.

Ting.. ting.. ting..

Lihat aku, pandang aku. Menengoklah padaku, sebentaaa…r saja. Doaku sambil terus memainkan sendok.

Dia menatapku! Dia menatapku! Teriakku dalam hati. Terima kasih Tuhan, telah Kau kabulkan permintaanku. Segera saja kulempar senyum termanis yang bisa kurangkai. Tuhaaa…n.

Glek!

Dia tersenyum! Dia tersenyum! Dia membalas senyumku! Terima kasih Tuhan, terima kasih. Rasanya ada air terjun dihatiku.

Oh ya.. ya.. ya.. ya..!!!

Ini aku. Bicaralah denganku. Kumohon.

Syut…

Sebuah bayangan berkelebat di sisi kananku.

“Maaf sayang, aku terlambat.”

Dia tersenyum. Lalu bangkit, kemudian beranjak pergi. Dan aku hanya bisa melihatnya dari seberang meja. Ahh… kopiku tak lagi hangat.

Selasa, 06 September 2011

Wisata Lebaran

Ini adalah jalan-jalan perdana saya saat lebaran dengan keluarga, biasanya kalo jalan-jala sama temen-temen mulu. Walau gak semua anggota keluarga ikut karena ada yang masih pulkam ke kampung pasangannya. salah satu keponakan saya juga absen karena mau jalan sama temen-temennya, maklum lah ABG...

Tujuan wisata gak jauh-jauh, cuma ke Ragunan aja nengokin sodara tua, tapi yang penting kebersamaannya toh? Dari rumah cuma sekali naik angkot dan gak terlalu jauh juga. Berangkat jam sembilan lewat, mampir di Alfa beli minum dan makanan ringan.


Sampai di Ragunan, kita antri beli tiket (udah jelas lah ya...). Tiket masuk belum naik dari tahun kemarin, untuk orang dewasa masih Rp 4.000, sedang untuk anak-anak masih Rp 3.000, plus asuransi Rp 500/orang. Setelah masuk, kita langsung duduk-duduk aja, makan-makan, foto-foto, jompo banget kayaknya yah baru datang udah ngaso?


Tujuan kedua, kita menuju Pusat Primata Schmutzer. Tiket masuknya Rp 5000, tapi kebetulan hari itu kita gak usah bayar karena ternyata ketemu temen sekolah salah satu kakak saya. Lumayan, hemat Rp 35.000. Sayangnya, ada beberapa tempat yang ditutup, seperti Dunia Orang Utan dan Rumah Gorila. Padahal kita mau nonton filmya, yah apa daya pintu terkunci...


Inilah beberapa foto yang kami ambil:














Gadis Kecil dan Tangan Panjangnya

Langkahnya gontai, susuri jalan batu dengan mata separuh terpejam. Langit pagi masih gelap, matahari belum sepenuhnya naik. Embun pagi di ujung dedaunan juga belum kering. Lambungnya kosong sejak semalam, perih, keroncongan minta diisi nasi. Kaki-kaki kecilnya lemas terseret-seret di sepanjang jalan.

“Jangan pulang dengan tangan kosong! Pergi sana!” perintah nenek setiap pagi pada gadis kecil dengan langkah gontai tadi.

Usianya baru lima tahun, ayahnya telah meninggal sedang ibunya menikah dengan pria lain. Gadis kecil lalu diasuh nenek dari ibunya, namun kehidupan gadis kecil tidaklah seceria anak-anak kecil lainnya.

Setiap hari gadis kecil pergi ke ladang-ladang, ke sawah-sawah, ke kebun-kebun, ke halaman-halaman rumah orang, diam-diam mengambil hasil panenan dan membawanya pulang. Setiap hari gadis kecil pergi mencuri. Tiap kali curiannya bertambah banyak, makin banyak pula makanan yang diberikan padanya. Namun, jika tak ada yang dibawanya pulang maka dia harus bersiap mendapat pukulan. Dan setiap kali pukulan-pukulan itu akan lebih lama dibanding sebelumnya.

Gadis kecil pergi ke sawah, mencari-cari padi. Nenek dari ayahnya melihatnya datang. Wajah nenek terlihat sinis, matanya menyipit dan bibirnya berkerut-kerut. Gadis kecil mendekati nenek itu dengan langkah hati-hati, takut.

“Nek, minta padinya…” pinta gadis kecil.

“Pergi sana!” hardik si nenek.

Gadis kecil lalu menjauh, duduk di bawah sebuah pohon, memanjangkan kakinya yang lelah. Menengadah, mencoba melupakan lambungnya yang perih. Air matanya meluncur turun dan berhenti di ujung bibirnya yang kering. Asin. Tenggorokannya kering.

“Ya Allah, jangan biarkan aku dipukul hari ini.” pinta gadis kecil sambil menangis.

“Ambil padi itu lalu pulanglah, sawah ini milik ayahmu...” seorang bapak tiba-tiba berdiri di dekat gadis kecil dan  bicara padanya. Gadis kecil tidak kenal bapak itu dan tidak pernah melihatnya.

“Ambillah cepat, biar aku yang mengawasi.” Kata bapak itu lagi.

Gadis kecil bangkit lalu mengambil padi-padi dan berlari pulang. Dari jauh dia melihat neneknya mengamati apa yang dilakukannya tapi dia tidak melihat bapak tadi. Dia tidak peduli, yang penting hari ini dia tidak akan dipukul.