Rabu, 27 Juli 2011

Global Warming


Teknologi memudahkan manusia atau memanjakan manusia? Ayo semuanya,  perbanyak polusi biar bumi makin PAANASSSSS!!!

Senin, 25 Juli 2011

Letak Batas Kesabaran


Semalam sambil duduk- duduk di ruang tengah, kakak saya bercerita tentang masalah di tempat kerjanya, rencananya dia akan dimutasi. Kakak meminta pendapat saya terhadap masalah ini. Pembicaraan kemudian berlanjut ngalor ngidul dan akhirnya sampai pada sebuah kisah yang menurut saya cukup memilukan.

Berusia sekitar awal empat puluhan dengan dua putri usia sekolah (SD dan SLTP), Ibu (sebut saja begitu) harus bekerja sendiri untuk menghidupi keluarganya, membayar cicilan rumah, menanggung beban kartu kredit karena ditipu rekan kantor sebesar 6 juta rupiah dan menanggung separuh biaya rumah tangga Ayah  (sebut saja begitu) dan istri mudanya. Dengan gaji tak lebih dari 1,5 juta, bila dihitung normal semua pengeluaran itu pasti tak akan bisa ditutup oleh Ibu.

Namun sepertinya beban Ibu dalam hal ekonomi tersebut belum cukup menyiksa batinnya, Ibu seringkali mendapati barang-barangnya telah dijual oleh Ayah (kompor gas beserta tabungnya, televisi, DVD sampai peralatan masak) atau anak-anaknya yang tidur dengan menahan lapar karena Ayah datang dan menghabiskan makanan yang ada. Memahami keadaan keluaganya yang sulit, Adik kemudian berinisiatif untuk memelihara ayam. Namun seringkali Adik  mendapati ayam dan telurnya telah berkurang karena dijual Ayah. Baru-baru ini Ibu bahkan tidak bisa menyediakan alat tulis untuk anak-anaknya.

Bicara soal sabar, bagi Ibu batas kesabarannya mungkin sudah tidak ada. Sudah puluhan juta doa dipanjatkan dan sudah berliter-liter air mata diteteskan  selama lebih dari 5 tahun. Namun  Ayah belum juga berubah sedang Ibu tak pernah bisa marah. Ayah tak pernah memberi nafkah padahal Ibu dan anak-anaknya pernah hampir tidur di luar karena tidak bisa membayar cicilan rumahnya. Ibu pernah meminta cerai tapi Ayah tidak mau mengabulkanya.

Sabar bagi setiap orang mungkin berbeda-beda, tapi yang jelas sabar itu tidak ada batasnya. Semoga Ibu dan anak-anaknya selalu diberikan kekuatan dan ketetapan hati. Amin.

Sabtu, 09 Juli 2011

Saya Merindu Tawa Seperti Dulu

Selalu saja menyakitkan. Itu sebabnya saya menghindar untuk berbicara, menghindar untuk bertatap muka. Bukannya sombong, saya hanya tidak mau menodai hati dengan perasaan jengkel, sedih, marah dan kesal yang mungkin berujung pada kebencian. Sungguh, saya hanya ingin berteman. Jadi kenapa selalu saja menyakiti? Kenapa selalu merendahkan?

Rasanya serba salah. Bicara membuat hati perih. Rasanya seperti ada yang merobek dada ini dan merampas jantung yang berdenyut-denyut. Sedang saya tidak bisa apa-apa. Hanya diam, mencoba meredam perih dan menahan air mata. Tidak bicara, kamu bilang saya berubah, jadi sombong. Apa harus selalu seperti ini? Apa kamu gak bisa meninggalkan kesan yang baik? Apa kamu gak bisa meninggalkan senyum untuk saya kenang esok hari? Apa kamu gak bisa mencobanya sekaliiiiiii ini saja?

Sepertinya ini tidak benar. Kamu berubah, gak seperti dulu. Yang manis, hangat dan baik hati, kamu seperti Teddy Bear yang bisa bicara. Tapi apa masalahnya? Mungkin lebih baik tidak ada. Tidak usah lagi ada saya dan kamu. Tidak usah lagi ada kata-kata. Tidak usah lagi ada tatap muka. Jadi tidak akan lagi ada salah.

Jumat, 01 Juli 2011

Krakk ...!!









Kaca di hadapanku telah retak
Pantulkan bayang tak sempurna
Dipandang sedikit berbeda
Percuma aku tersenyum
Wajahku tak lagi utuh
Yang kita lihat tak lagi sama
Lebih baik pecah
Hingga tak ada lagi kaca
Dan semua kembali semula
Sebelum bayang itu ada
Aku pergi.....
Kau pergi.....
Lalu?
Sudah....