Selasa, 26 April 2011

THE LAST EMPRESS (ANCHEE MIN)

Sejarah itu seperti sebuah harta karun, semua hal menjadi begitu berharga. Saya sempat tidak terima akan alur cerita bahkan masih tak percaya bahwa semua tokoh utama harus berakhir dengan kematian. Namun sayangnya sejarah tak bisa diubah. Novel sejarah Cina di abad ke-20 ini disajikan dengan alur yang sangat menarik, sehingga saya merasa sayang jika harus cepat-cepat menyelesaikan buku ini.


Ketika sebuah Negara diguncang oleh pemberontakan dalam negeri dan serangan dari tentara asing, Cina hanya dapat menggantungkan kelangsungan Dinasti pada seorang perempuan yang berkuasa, Tzu Hsi, Empress Orchid – Maharani Anggrek. Satu-satunya selir yang dapat melahirkan seorang putra mahkota sebelum Sang Kaisar meninggal akibat serangan oleh tentara asing di Kota Terlarang.

Tak mudah langkah Anggrek dalam memimpin kerajaan sebagai Wali (pendamping calon Kaisar sebelum mencapai usia matang), pengaruh buruk Tsai-chen, putra Pangeran Kung (saudara Kaisar Hsien Feng) pada putra mahkota, Tung Chih, membuat Kaisar Muda itu meninggal dalam usia sembilan belas tahun. Kegemarannya mendatangi tempat-tempat pelacuran dan mengabaikan ribuan selirnya membuat dia terkena penyakit kelamin.

Sebagai penerus Dinasti dan pengganti Kaisar Tung Chih, Anggrek memilih Tsai-t’ien (selanjutnya akan dikenal sebagai Guang-hsu) yang baru berusia tiga tahun, keponakannya, putra Pangeran Ch’un (adik bungsu Hsien Feng). Awalnya Anggrek benar-benar siap meninggalkan perwaliannya ketika pada usia remaja dan dianggap sanggup memimpin kerajaan, Guang-hsu memperlihatkan ketertarikan dan keseriusannya menangani masalah-masalah kerajaan dengan memimpin audensi. Namun menginjak usia dewasa, apalagi setelah menikah Guang-hsu berubah menjadi pemurung dan pendiam.

Guang-hsu akan melarikan diri ke ruang jam dan mulai mengutak-atiknya ketika dia bosan memimpin audensi. Rasa malu dan rendah diri akibat penyakitnya (ejakulasi dini) membuat dia tidak yakin dapat memimpin Cina, dia bahkan tidak pernah sekalipun menyentuh Permaisurinya. Hal ini membuat hubungan antara Anggrek, Permaisuri, Kaisar Guang-hsu dan para selir menjadi panas. Kesalahpahaman membuat Anggrek serba salah.

Semangat Guang-hsu kembali hadir saat seorang reformis gagal ujian Kerajaan muncul, Kang Yu-wei masuk ke dalam pikiran Guang-hsu melalui artikel dan selebaran yang dibawa selir Mutiara. Kang juga mempengaruhi Guang-hsu untuk menjadikan Ito Hirobumi sebagai teman Kerajaan, namun membenci para penyelamat Dinasti (Li Hung-chang, Yung Lu, Sir Robert Hart, Yuan Shih-kai) dan menolak bekerja bersama mereka. Guang-hsu juga mendukung para pemberontak yang diharapkannya dapat melancarkan rencana reformasinya terhadap Cina. Namun pada akhirnya, reformasi Cina yang direncanakan Guang-hsu gagal.

Kegagalan reformasi Cina dan ditambah kematian Li Hung-chang dan Yung Lu membuat hati Anggrek hancur. Penyesalan akan kegagalan membawa Cina pada reformasi membuat Guang-hsu terpuruk dan membawanya pada kematian di usianya yang ke tiga puluh delapan tahun dan tanpa meninggalkan penerus Kerajaan. Sekali lagi, Anggrek dituntut mencari pengganti Guang-hsu. Putra Pangeran Ch’un Junior, Puyi, yang baru berusia tiga tahun ditunjuk menjadi Kaisar. Anggrek meninggal pada audensi saat memperkenalkan Puyi sebagai pewaris tahta di usianya yang ke tujuh puluh tiga tahun.

Minggu, 24 April 2011

Aku Ingin.....

Aku ingin berlari di pantai, merasakan basahnya pasir di kakiku yang telanjang, merasakan ombak yang bergelung-gelung lalu pecah di kakiku. Aku ingin mengenggam karang, tak khawatir pada apa yang akan melukai tanganku. Aku ingin berdiri di bawah siraman air hujan, merasakan dingin yang menusuk kulitku, basahi rambut, wajah dan tanganku. Aku ingin beryanyi, senandungkan lagu dengan kenangan terindah, melepaskan segala emosi yang tertahan dan mengganggu jiwa.

Aku ingin teriak di atas bukit, berdiri dengan kedua tanganku terangkat ke atas, melepaskan lelah dari kakiku selepas mendakinya. Aku ingin menjelajah, mengepak barang-barangku dalam tas ransel besar dan membawanya dengan semangat seorang petualang. Aku ingin berfoto, mengabadikan keberadaanku di tempat-tempat baru yang paling menawan. Aku ingin belajar, mendengar petuah, nasihat dan saran yang buatku menjadi manusia yang lebih baik. Aku ingin mendengar kritik, hanya yang bisa membuatku sadar akan kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku ingin berpendapat, memberi komentarku akan semua yang aku lihat, bukan untuk menjatuhkannya, bukan, hanya ingin berkomentar. Itu saja.

Aku ingin memasak, sajikan masakan terlezat yang bisa kusiapkan. Aku ingin makan, mencoba berbagai tempat makan yang sajikan hidangan dari berbagai negara, mencoba merasakan apa yang orang-orang bule itu makan. Aku ingin menangis, menjerit atau terisak, hanya untuk yang terakhir kali sebelum ribuan kebahagiaan datang padaku. Aku ingin tertawa, tak peduli tentang pandangan orang yang melihat aneh padaku. Aku ingin menari, berputar-putar dengan kaki berjingkat-jingkat, menikmati irama yang mengalun dan mengikutinya. Aku ingin pergi ke bioskop, menonton film yang aku sukai dan berkomentar sesudahnya. Atau menonton konser dengan penyanyi yang menginspirasi. Aku ingin membaca, menambah ilmuku akan sesuatu yang berarti yang mungkin akan berguna untukku dikemudian hari.

Aku ingin menghadang angin, melebarkan lenganku dengan mata tertutup, bernapas dalam-dalam saat dia datang dan berhenti di hadapanku. Aku ingin melihat matahari terbenam, menikmati hangat dan lembutnya paparan sinar matahari di sekitarku. Aku ingin berjalan dalam kegelapan malam, pelan menyusuri jalan-jalan sepi, tersembunyi dan merasakan damai. Aku ingin bicara, duduk memandang langit penuh bintang di atap sebuah gedung, merasakan dingin angin yang menyapa. Aku ingin berkhayal, mencoba bayangkan dan menebak-nebak masa depan, menaruh harapan untuk yang akan datang. Aku ingin bercerita tentang masa laluku, tentang beban yang menghimpitku, tentang hari yang baru saja kulewatkan, tentang ambisiku, tentang cita-citaku. Aku ingin melamun, diam mendengar suara-suara samar, entah ombak, entah arus air, entah langkah kaki, entah suara orang atau hanya angin.

Aku ingin berdoa, bersyukur untuk semua karunia yang telah terlimpah, untuk semua kesedihan, kekalahan dan air mata yang membuatku makin kuat dan untuk semua kebahagiaan dan kemenangan yang membuat hidupku makin sempurna. Aku ingin tidur, sejenak melupakan penat, meninggalkan rutinitas yang mulai menganggu keseimbangan hidup. Aku ingin terbangun, mendengar cicitan burung yang bertengger di ranting-ranting kecil di samping rumah dekat jendela.

Tak ada habisnya. Begitu banyak yang ingin aku lakukan. Terlalu banyak. Tapi masih banyak lagi hal yang ingin aku lakukan jika nanti, suatu saat nanti, dia yang kutunggu telah datang. Aku ingin melakukannya, melakukan semua yang ku ingin. Hanya dengannya, dengan dia yang akan jadi pendamping ku nanti. Menghabiskan waktuku dengannya, menjalani hari-hariku dengannya. Aku tak akan takut, sungguh! Karena ada dia yang akan menjagaku. Dia yang kutunggu dengan kesabaran dan keikhlasan. Semoga dia segera datang. Semoga.

Jumat, 22 April 2011

Workshop Coding Mobile Game Developer oleh Majalah Chip dan Nokia

Ya ampuunnn...

Telat posting nih, karena nungguin data dari temen yang sudah lebih dari seminggu belum juga ditransfer. Ya sudahlah nanti di tambah saja.

Minggu lalu, tepatnya tanggal 13 April 2011, Majalah Chip dan Nokia mengadakan Workshop coding untuk mobile game developer, bertempat di Ballroom Ruby, Gedung KOMPAS Gramedia, Palmerah Jakarta.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan selesai pukul 17.00 WIB. Tidak seperti acara-acara lain yang saya datangi yang sering kali diwarnai oleh "jam karet", enam belas jempol (secara kami datang berdelapan) patut kami ajukan untuk workshop ini. Tepat waktu euy...

Acara dimulai dengan pembagian goodie bag (2 buah majalah Chip), lalu dilanjutkan dengan sarapan selama setengah jam, dari pukul 09.00 sampai 09.30. Berlanjut dengan sambutan dari Aditia Dwiperdana, wakil Agate Studio, mitra Nokia yang memberikan materi workshop. Nokia memang bekerjasama dengan Agate Studio pada acara workshop ini





















Pukul 12.00 sampai pukul 13.00, workshop rehat sejenak untuk makan siang, lalu materi workshop dilanjutkan hingga pukul 15.00. Selama 15 menit kita rehat lagi untuk coffee break. Pukul lima sore, kita semua sudah selesai mengikuti workshop.

Bagi saya dan kawan-kawan yang belum pernah membuat game, workshop ini sungguh sangat bermanfaat, bisa menjadi pengalaman pertama bagaimana membuat game, sedangkan bagi para developer ini kesempatan untuk menjual game mereka ke OVI Store (peserta workshop yang mendaftar ke OVI Store sebagai developer game tidak akan dikenakan biaya pendaftaran sebesar 1 euro).





















Acara workshop ini juga akan dilengkapi dengan Developer Camp dan Competition yang kemungkinan besar tidak akan kembali kami ikuti.

Senin, 18 April 2011

Rakyat VS Pesantren dan Rock and Roll (keluhan dan pengaduan)

Baru aja pulang!
Uuhh.. cuapek. Tapi lagi punya inspirasi nulis, jadi disinilah saya. Duduk manis di depan monitor sambil terus merangkai kalimat untuk dituangkan.

Tadi itu, sewaktu menunggu angkot di halte, seorang teman curhat tentang keponakannya yang suka banget nonton sinetron Pesantren dan Rock and Roll yang tayang di SCTV. Teman saya mengeluhkan cerita sinetron itu yang dinilainya melenceng dari nilai-nilai keislaman yang sebenarnya, apalagi mengingat judulnya yang dtambah embel-embel "pesantren", seharusnya sinetron ini tidak terlalu mengedepankan kisah cinta antara dua tokoh utamanya, Nada dan Wahyu.

Menurut teman saya lagi, dengan embel-embel kata "Pesantren", seharusnya sinetron ini lebih banyak menceritakan kehidupan dan kegiatan para santri di pesantren, supaya orang luar seperti kita ini dapat lebih paham dan mengerti apa yang diajarkan para Ustad dan Ustadzah kepada para santrinya dan semoga bisa ikut meneladaninya. Hitung-hitung belajarlah. Dia juga jadi mempertanyakan tentang sistem pergaulan di pesantren setelah menonton sinetron ini. Setau teman saya, pesantren adalah tempat dimana peraturan Islam lebih ditegakkan, terutama soal pergaulan antara akhwat dan ikhwan, namun dalam salah satu episode Pesantren dan Rock and Roll, dikisahkan Wahyu dapat menemui Nada di kamarnya. Seorang ikhwan masuk ke kamar seorang akhwat putri Kiai! Toloooongg!

Dalam episode yang lain, kedua pemeran utama dan beberapa santri lainnya (baik putra dan putri) pergi menonton pertunjukan wayang kulit sampai jauh malam. Wahyu juga sering sekali diceritakan bicara berdua dengan Nada (dari cara bicaranya sih mau mengungkapkan rasa cinta). Semudah itukah pergaulan laki-laki dan perempuan dalam lingkungan pesantren? Saya jadi bertanya-tanya, apakah boleh seperti itu di pesantren?

Pakaian Nada juga menurutnya kurang "Islami". Mengapa? Nada tidak pernah "melindungi kakinya", jadi saat dia menaiki tangga maka betisnya akan terlihat. Setau saya yang bodoh ini, aurat seorang wanita adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah. Jadi seharusnya Nada memakai celana panjang dibalik roknya dan mengenakan kaos kaki untuk melindungi kakinya. Seorang anak Kiai seharusnya lebih paham akan hal ini, kan?
 

Sekarang ini, memang sudah dimulai trend sinetron "agak religi" dan "bebau religi". Mudah koq, bermodal pemain yang mau memakai jilbab (tak peduli dengan batas-batas aurat yang harus ditutup) dan judul yang ke-Islam-Islam-an, tada... jadi deh sinetron religi.

Minggu, 10 April 2011

Allahu Ma'i Allahu Naadhiri Allahu Syaahidi

Lagi ngutak-ngutik inbox, eh ada sms nyelip yang dulu pernah dikirim oleh seorang teman.
Isinya: "Allahu Ma'i Allahu Naadhiri Allahu Syaahidi", sebuah kalimat mantra para ahli sufi dan saya diminta melafalkannya setiap akan berganti pakaian dan sebelum tidur tanpa menggerakkan lisan. Sebuah kalimat yang pada saat itu (jujur saja) tidak saya pahami.

Karena penasaran, saya pun langsung bertanya pada Mbah Google dan dari mbah lah saya mengetahui kalimat tadi.
"Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku".

Berat. itulah yang terlintas pertama kali dalam benak saya. Jujur saja, bahkan sampai hari ini pun saya sering kali lupa akan makna dari kalimat di atas. Mungkin saja, hari ini Allah sedang mengingatkan saya (lagi) yang sudah terlalu lama lupa akan kehadiranNya. Semoga saya bisa lebih memaknai kalimat di atas dan mengamalkannya dalam keseharian saya. Semoga.

Ilmu itu datang dari mana saja, bahkan dari sebuah sms.

Sabtu, 09 April 2011

Rona Yang Menghilang

Suatu hari tiba-tiba punya inspirasi bikin cerpen, dari pada gak ada yang baca mending di share aja. Tokoh dalam cerpen asli fiksi, jadi kalo ada kesamaan itu hanya kebetulan semata. Cekidot.


Langit di atas kepalaku masih gelap, matahari telah lama turun meninggalkan singgasananya, membiarkan bulan menggantikan tempatnya, walau bulan malam itu tidak sepenuh biasanya. Ratusan bintang-bintang berkelap-kelip menemani bulan, mereka seakan-akan menyenandungkan nyanyian tanpa suara, sunyi. Begitu damai, lembut, sepi . . .

Udara malam dingin dan pengap, membuatku malas dan gelisah. Aku bersandar di dinding kanan jendela, menatap malas pada keluargaku yang tampak murung dan sedih. Ibu, ayah dan kedua kakakku, mereka duduk mengitari ranjang dengan sosok yang terbaring lemah di sana sambil terus membaca doa. Om dan tanteku juga ada, mereka berdiri di sudut yang lain, tak henti-hentinya menelepon orang dengan telepon seluler. Aku melongok ke luar sebentar lalu kembali menatap keluargaku, ada rasa yang aneh dalam diriku. Tiba-tiba ayah menatap ke arahku, kami berpandangan dalam diam, cukup lama lalu beliau memalingkan wajahnya. Aku tidak tahan lagi, jadi kuputuskan untuk keluar jalan-jalan.

Koridor rumah sakit lenggang dan sepi, hanya sekali aku melihat seorang perawat melintas di depanku, dia berbelok lalu menghilang. Aku keluar dari pelataran rumah sakit, melewati pintu gerbang dengan penjaga yang acuh terhadap kedatanganku. Ah, biarlah.

Aku berjalan dan terus berjalan tanpa merasa lelah, udara malam yang lembab tak menghalangi keinginanku menyusuri jalan-jalan ibu kota. Aku tak tahu tujuanku, aku berjalan tanpa arah sambil memandangi kendaraan yang lewat berpacu cepat, hembusan anginnya tak menggangguku sama sekali. Ku ikuti kemanapun kaki ini membawaku.

Entah sudah berapa lama aku berjalan, aku kaget ketika langkahku terhenti di sebuah bangunan rumah kuno yang sudah ku hafal sekali, rumah sahabatku, Metha. Terakhir kali aku bertemu dengannya minggu lalu, dia menemaniku yang ingin berjalan-jalan di tepi pantai, aku memang suka sekali pada pantai. Aku mengenal Metha saat masuk ke sekolah menengah pertama, dia adalah gadis manis yang paling ceria yang pernah kukenal, aku heran bagaimana dia bisa selalu membuat orang lain tersenyum.

Aku bersandar di pintu kamarnya, menatapnya yang terdiam dalam lelap, begitu damai dan manis. Metha bertubuh gemuk dengan pipi yang menggelembung, seperti ada dua buah bakso yang nyempil di ujung gigi gerahamnya. Walaupun banyak teman-teman yang sering mengejeknya, Metha tak pernah merasa terganggu. Satu hal yang akan selalu aku ingat tentang Metha adalah ketika kami bertemu dengan teman sekolah dasarnya beberapa bulan yang lalu.

Saat itu, Metha dan aku sedang jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, tak ada tujuan pasti tentang perjalanan hari itu. Setelah lelah berkeliling-keliling, kami memutuskan untuk menonton film. Kami baru saja duduk di kursi kami ketika seorang cowo menyapa Metha.

“Hei . . .  lo Metha kan?”

“Eh, Arman, masih inget gue?” tanya Metha.

“Masih dong, gimana kabar lo?” tanya cowo bernama Arman lagi.

“Biasa, masih gendut, nih . . . ” Metha mengembangkan tangannya seakan ingin menunjukkan bentuk badannya yang memang lumayan bulet.

Ternyata Arman itu adalah cowo yang pernah disuka Metha. Arman mengetahui tentang perasaan Metha dari penuturan teman dekat Metha sendiri. Sejak saat itu, setiap kali mereka bertemu, Arman selalu melontarkan kata-kata “Andai aja lo gak segendut itu . . . ”.

“Ta, aku selalu merasa beruntung bisa memiliki sahabat sepertimu, terima kasih sudah memilihku untuk jadi sahabatmu . . . ”.

Aku kembali meneruskan langkahku. Malam kian larut dan gelap, tapi aku belum ingin kembali kepada keluargaku, aku masih ingin jalan-jalan. Jadi kubiarkan angin menuntun langkahku, menembus dinginnya malam dan redupnya cahaya bintang. Aku mendongak, mendapati bulan yang kian tertutup kelabunya awan, lalu pandanganku kembali turun ke jalan. Semilir angin berhembus menembus tubuhku, tak dapat aku rasakan, yang kudengar hanya suaranya yang berlalu lalu hilang.

Langkahku kembali terhenti di sebuah bangunan rumah modern berlantai dua di depan jembatan yang sering kulalui saat pulang sekolah. Sekali dua kali dalam sebulan aku berkunjung ke rumah ini untuk belajar kelompok. Pemilik rumah ini, Arka, teman satu SMUku. Kami memang tidak sekelas, tapi kami cukup akrab hingga akhirnya kami memutuskan untuk membentuk kelompok belajar.

Aku mengenal Arka dari Metha, dulu dia adalah tetangga Metha sebelum akhirnya pindah ke rumahnya yang sekarang. Arka adalah cowo keren yang sederhana, satu-satunya kegiatan yang diikuti Arka adalah belajar kelompok bersamaku dan Metha, dia adalah tipe cowo penyendiri.

Arka memiliki tingkat ketertarian yang tinggi pada buku, tempat favorit yang selalu dikunjunginya adalah perpustakaan. Hampir semua buku koleksi perpustakaan sekolah sudah dia baca, dia juga bersedia membantu petugas perpustakaan sekolah untuk mendata buku-buku baru atau sekedar merapikan buku-buku yang telah selesai dipinjam teman-teman.

Arka merupakan tipe cowo yang sulit untuk mengungkapkan perasaannya, dia pernah mengatakan bahwa dia menyukai seseorang di kelas kami. Tapi saat kami tantang dia agar menyatakan perasaannya dia hanya tersenyum sambil menggeleng kuat-kuat. Dan satu-satunya yang kami katakan padanya saat itu adalah kata “payah”. Aku tahu seharusnya kami membantunya untuk berani mengungkapkan perasaannya, apalagi saat aku tahu bahwa yang dia suka adalah Rahmi, ketua kelasku.

Rahmi adalah gadis keturunan jawa yang sangat sopan dan manis. Tak satu pun teman yang kukenal tidak menyukai Rahmi, maka kami pun memilihnya sebagai ketua kelas, bukan saja karena dia sangat baik namun juga karena dia sangat disiplin. Rahmi adalah gadis yang aktif di banyak kegiatan sekolah, berbanding terbalik dengan Arka.

Aku pernah bertanya padanya suatu hari saat kami berjalan bersama menuju ruang kelas, apakah dia sudah punya pacar atau cowo yang dia taksir, Rahmi tersenyum sebentar sebelum menjawab pertanyaanku, dia bilang dia tidak mau pusing memikirkan apa yang belum dia hadapi, jika saatnya tiba dia akan berhenti sebentar dan menyediakan waktu untuk berfikir dan memutuskan apa yang terbaik. Lalu kami meneruskan perjalanan, ku pikir Rahmi ada benarnya.

Ku dapati sosok Arka sedang duduk di teras rumahnya, sendirian. Aku mendekat dan duduk di sisi kanannya, bersandar pada tiang penyangga rumah, entah mengapa aku merasa hangat dan nyaman. Arka menatap lurus ke depan, tak mengeluarkan sepatah kata pun, dia juga tak merasa terganggu dengan kehadiranku. Kami diam mendengarkan nyanyian jangkrik, kami seakan berada dalam dimensi lain yang tak tersentuh waktu.

“Ka, masuk, udah malem . . . ” suara ayah Arka membuyarkan lamunan kami, pintu rumah terbuka dan sosoknya kini berdiri di depan pintu. Arka bangkit dari duduknya dengan malas dan perasaan berat.

“Ka . . . ” suaraku memanggilnya, Arka menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku, “ . .  jangan takut.” aku mengepalkan tanganku, seakan mencoba memberi semangat kepadanya. Arka tersenyum lalu masuk ke dalam.

Kesedirian membawaku kembali melangkah, namun kali ini aku tahu kemana aku akan membawa kedua kakiku ini, ke rumah Rahmi. Aku kembali mendongak, bulan di atas sana telah menyingkirkan awan kelabu yang menghalangi cahayanya. Bentuknya yang bulat kian sempurna dengan taburan bintang yang berkelap-kelip genit.

Aku memasuki pelataran rumah kayu ala panggung. Halaman rumah ini cukup luas, terdapat kursi-kursi taman dari batu, saat siang kursi-kursi ini akan dilapisi oleh bantal-bantal tipis. Di tempat inilah aku dan Metha duduk-duduk jika berkunjung ke rumah Rahmi. Arka, karena rasa malunya, tidak pernah mau menerima ajakan kami main ke rumah Rahmi. Memang dasar payah.

Aku duduk di tepi tempat tidur Rahmi, menatapnya mengamati langit dari jendela kamar selepas melaksanakan sholat tahajjud. Rahmi hanya diam, mengacuhkan aku, tak seperti biasanya.

“Mi, entah kau tahu atau tidak, entah kau sadar atau tidak bahwa selama ini ada seseorang yang memendam perasaan padamu.” aku menghentikan kata-kataku. Rahmi berbalik dan menatap ke arahku, dia bersandar di bibir jendela, menutupi cahaya yang masuk dan membuat wajahnya tak dapat kulihat.

“Jika suatu hari nanti Arka mengungkapkan perasaannya padamu, kumohon, jangan menolaknya.” lalu aku pergi meninggalkannya.

Ombak yang bergelung pecah di jari-jari kakiku, kubenamkan kakiku pada pasir yang dingin dan basah. Aku menatap laut yang memerah, fajar hampir datang dan cahaya merah terang membuat benang-benang berwarna emas meliuk-liuk di goyang laut. Langit biru terang menggeser kelabunya malam, bintang telah lama pamit meninggalkan bulan sendirian saat menyapa mentari.

“Sudah waktunya kau pulang, Nak . . . ” seorang kakek menyapaku sambil tersenyum.


Aku berdiri di belakang keluargaku yang menangis menggerung-gerung, menangisi jenazah di hadapan mereka, sedang aku sendiri tidak dapat berkata apa-apa. Keluargaku memutuskan untuk mengurus sendiri jenazah tersebut. Jenazah disholatkan di masjid dekat rumah, aku berdiri di pelataran masjid saat mereka menyolatkannya. Seorang gadis kecil mendongak saat menatapku, aku menyunggingkan senyum terbaikku kepadanya, dia membalas senyumku dan memamerkan gigi-giginya yang ompong.

Beberapa motor mendahului mobil ambulance diikuti beberapa mobil berpenumpang pengantar jenazah. Kami menuju TPU tak jauh dari rumah, jalan raya terasa lenggang dan kosong, seakan memberi ruang untuk kami lewat.

Arka, Rahmi, Metha dan beberapa teman sekelas serta guru-guruku berdiri tak jauh dariku, aku merasakan kesedihan yang mereka rasakan. Rahmi dan Metha bahkan saling berpelukan sambil menangis, sedang Arka merangkul bahu Metha. Tante memeluk ibuku yang tak kuasa menopang tubuhnya sendiri, terlalu rapuh untuk menerima kenyataan, matanya basah dan bengkak, bibirnya bergetar menyebut-nyebut sebuah nama.
Pak Haji memimpin doa, khusyuk dan damai. Aku menatap satu per satu wajah-wajah sedih di pemakaman ini, aku pasti akan merindukan mereka, aku hanya berharap dapat kembali bersama. Suati saat nanti, kuharap.

“Bu, waktunya kita pulang . . . ” suara serak ayah di sela-sela tangisnya berusaha membujuk ibu untuk meninggalkan makam.

Satu persatu pengantar jenazah telah pulang, kembali ke rumah, meninggalkan aku sendirian di sini, di pemakaman ini. Di hadapanku sebuah kuburan baru yang masih basah dan merah, dengan papan nisan yang menghadap kepadaku.

Di makam ini terbaring, Rona Asmowidjoyo, lahir Jakarta 1 Januari 1995, wafat 01 September 2010.

Itu . . .  Aku . . .

Jakarta, 04 September 2010.

Jumat, 08 April 2011

"Brimob Berdendang" Di Bukan Empat Mata

Yeiyy.....!

Akhirnya kesampaian juga liat aksi Polisi Brimob yg lipsync lagu India, kocak abisss!

Briptu Norman mungkin memang hanya ingin menghibur rekannya yg sedang sedih tanpa niatan lain utk mengunggah aksinya di YouTube agar terkenal. Namun, ancaman sanksi atas ketidakdisiplinannyalah yg membuat keluarganya ketar-ketir. Saya sendiri mendukung Briptu Norman.

Bagi yg masih penasaran dengan aksinya, saksikan penampilan Briptu Norman di Bukan 4 Mata, 8 April '11 pkl. 21.45. Nanti malam!!
Don't miss it!

Rabu, 06 April 2011

Presentasi Terburuk

Baru saja selesai presentasi Proposal Pembuatan Website, uugh.... payah! Gak keren! Ancur Band! Sedih.....

Selama sejarah perpresentasian kuliah saya, sepertinya ini adalah presentasi terburuk. Banyak pertanyaan yg tak bisa kami jawab. Ya Allah.... berilah petunjukmu, kuatkanlah kami dalam menghadapi rasa malu ini (hiyaaa...h..!!).

1 lagi pecut untuk memacu semangat saya. Semangat! Semangat! Berjuang!

Senin, 04 April 2011

Pesta Buku Mizan

Sekedar berbagi info aja nih!

Buat temen-temen yang sedang berencana menambah koleksi buku bacaannya, boleh lho tengok-tengok ITC Depok lt. 2.
Dari tanggal 25 Maret - 25 April '11, sedang digelar Pesta Buku Mizan.

Agenda acara lain:
Seminar Pendidikan: Teaching With Ur Heart, 15 April '11 (Pkl 14.00 - 16.00).
Lomba Lipsync-Dance Justin. B, 22 April '11.
Temu penulis KKPK dan pemutaran film Laskar Pelangi dan Garuda Di Dadaku, 24 April '11.

NB: informasi lanjut hub Poppy (021)7874455

C U there ^_^