Kamis, 23 Desember 2010

Arti Sebuah Nama

Jika saya boleh bertanya, berapa kali dalam hidup Anda mendengar sebuah kalimat "Apalah arti sebuah nama?"

Mungkin ada diantara Anda yang memang menganut paham di atas. Tapi, sebenarnya benarkah sebuah nama itu tidak berarti? Jika saya boleh berpendapat, arti sebuah nama adalah sangat penting. Bagaimana tidak, apa Anda mau jika seseorang menyapa Anda dengan sebutan "heh"? Atau bersuit-suit sebagai kode saat memanggil Anda?

Saya tentu mengerti maksud dari kalimat "Apalah arti sebuah nama", bahwa bukan sebuah nama yang bisa merubah, mempengarui, atau berjasa, melainkan perbuatan. Percuma saja jika memiliki nama yang baik, namun kelakuannya tidak mencerminkan nama yang disandangnya. Kita tentu banyak temui orang-orang yang memiliki nama yang baik namun memiliki kelakuan yang buruk. Contoh, jika Anda pernah nonton film "Romulus, My Father", Anda pasti tahu tokoh yang bernama Chrystal, betapa cantik nama ini, betapa cantik wanita yang menyandang nama ini, tapi tidak dengan sifatnya. Chrystal adalah wanita yang bahkan tidak mau mengurus anaknya sendiri.

Mungkin Anda bertanya kenapa saya merasa terganggu dengan kalimat "Apalah arti sebuah nama?". Dan kenapa saya harus repot-repot membahas masalah ini? Ini karena rasa jengkel saya kemarin pagi. Pukul empat pagi, saya terbangun dengan kepala pusing, perasaan was-was dan jengkel yang luar biasa. Ceritanya, kakak saya yang nomor dua membangunkan orang (bukan saya, karena bukan nama saya yang dipanggil)untuk menyalakan mesin air (jet pump). Dia hanya menggoyang-goyangkan handle pintu, tanpa memanggil siapa pun. Saya berani jamin, tak ada satu pun manusia di bumi ini yang bangun hanya jika mendengar bunyi tersebut, karena bunyinya tidak terlalu keras. Yang membuat saya jengkel adalah, saat saya berkata "ya" sebagai tanda bahwa saya akan menyalakan mesin air, bukan ucapan terima kasih yang saya dengar, melainkan makian "wis mati opo kowe?!" yang cukup keras. Saya rasa, saya berhak mendapatkan ucapan terima kasih.

Sebenarnya bukan kali ini saja saya dibuat jengkel olehnya, tapi seringkali. Seingat saya, sudah hampir satu tahun dia tidak pernah menyebut nama saya. Yah, mungkin Anda tidak percaya namun itulah kenyataannya. Suatu kali dia pernah memanggil saya dengan bersuit-suit "sut..sut..", saat saya dekati ternyata dia mau minta tolong pada saya. Sopankah? Dia juga tidak pernah menyebut nama saya jika mau bertanya sesuatu, maka seringkali saat dia bertanya yang saya lakukan adalah pergi menyingkir dari TKP, karena saya tidak merasa sedang ditanya olehnya.

Apakah nama saya sejelek itu hingga kakak saya sendiri tidak mau menyebut nama saya? Ataukah saya yang tidak sederajat dengannya hingga dia merasa enggan menyebut nama saya? Entahlah, yang saya tahu hanya bahwa dia sama sekali tidak menghargai nama saya. Buktinya? Dia bahkan tidak mau mengucapkan sebuah nama. Nama saya.

Saya tentu tidak mau dikenal sebagai "sut..sut.." atau "klek..klek.."(bunyi handle pintu)atau yang lain. Anda tentu juga berpikiran sama dengan saya kan? apa Anda mau dikenal sebagai "si anu" atau "yang itu" atau "dia". Anda tentu mau dikenal sebagai Anda sebagaimana saya mau orang mengenal saya sebagai saya.

Jadi, kini jika ada yang bertanya atau berkata "Apalah arti sebuah nama?", Anda harus menjawabnya bahwa "Nama adalah hadiah pertama, sebuah doa terindah dari orang tua kita". Jangan lupa.......

Malaikat Tak Datang Malam Hari

Suatu hari di tahun 2007 silam, sebuah judul di sebuah rak mengunci mata saya yang sibuk jelalatan kesana sini. Buku berlatar belakang putih dan biru dengan gambar malaikat yang terbang keluar dari kening seorang pria berpeci putih. Malaikat Tak Datang Malam Hari karya Joni Ariadinata.

Dengan delapan cerita dalam dua bahasa, Joni menghadirkan sudut pandang baru tentang mengaplikasikan agama dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya agama Islam. Bukan ingin mencemooh agama sendiri atau merendahkan orang-orang yang mendalaminya, Joni seperti menyentil keyakinan dan faham kita pada agama. Seringkali, agama dijadikan sebagai tameng untuk melalaikan tugas-tugas duniawi, misalnya bekerja, menghidupi keluarga.



Malaikat Tak Datang Malam Hari, salah satu judul cerita dalam buku ini menceritakan tentang Kawit dan Hasnah, sepasang suami istri miskin dengan dua anak yang menderita keterbelakangan mental. Kawit membebankan seluruh pengurusan rumah tangga pada Hasnah, istrinya, sedang dia sendiri mengurung diri di masjid dan hanya pulang untuk makan dan berganti baju.

Kawit hanya mau memakai pakaian berwarna putih, puasa setip hari, melantunkan sepuluh ribu shalawat setiap malam, tiga ratus tiga belas Fatihah ba'da shalat dan tiga ribu tiga amalan khusus. Sedang Hasnah menjadi babu setiap siang selepas berjualan daun singkong di pasar, sore hari dia pulang menyiapkan menu buka puasa untuk Kawit, setelah itu memetik daun singkong, mengikatnya untuk dijual besok pagi, menyiapkan menu sahur, berjualan daun singkong di pasar lalu jadi babu lagi, hampir tidak tidur.

Kawit hanya memikirkan dirinya sendiri, berharap dapat berjumpa dengan Malaikat Jibril karena dirinyalah yang khusyuk beribadah tanpa menyelanya dengan kegiatan duniawi. Tapi menelantarkan keluarganya dan membebankan semua tanggung jawab pada istri, bukanlah sikap seorang muslim. Nabi Muhammad pun yang merupakan manusia pilihan Allah tetap bertanggung jawab menghidupi keluarganya dengan berdagang.

Jadi, apakah menjadi seorang muslim mengharuskan kita untuk berhenti berusaha? Bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?

Sabtu, 11 Desember 2010

KONFLIK DUA KOREA

[Al Islam 534] Ketegangan makin meningkat antara Korea Utara dan Korea Selatan setelah Korea Utara menembakkan artilerinya ke beberapa daerah di Korea Selatan pada hari Selasa, 23/11/2010 lalu. Cina menuduh bahwa Amerika Serikat dan Korea Selatanlah yang memicu ketegangan tersebut setelah keduanya memutuskan untuk melakukan latihan militer gabungan di Laut Kuning. Sementara itu, Cina diam saja terhadap apa yang dilakukan oleh Korea Utara. Ketegangan tersebut terjadi satu tahun setelah Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat meluncurkan hubungan antara AS dan Cina dengan disertai jaminan strategis untuk para antek Amerika di Asia, dan setelah AS melakukan berbagai upaya untuk menjaga hubungan tersebut.

Kompas.com tanggal 29/11/2010 melansir sebuah analisis, bahwa ketegangan di Semenanjung Korea bukanlah antara Korea Utara dan Korea Selatan, melainkan antara Amerika dan Cina. Hal itu karena beberapa alasan. Pertama: sebelumnya Presiden AS, Obama, telah menuntut Cina agar menekan (baca: menaikkan) nilai mata uangnya, Yuan (terhadap dolar). Akan tetapi, Cina dengan keras menolak tuntutan tersebut dengan alasan bahwa masalah tersebut bukan masalah Cina, melainkan masalah dalam negeri Amerika. Akibatnya, neraca perdagangan Amerika mengalami defisit terhadap Cina. Amerika lalu mengubah perlakuannya menjadi perlakuan bersahabat, jauh dari perlakuan agresif. Akan tetapi, Cina tidak mengubah sikapnya, bahkan tetap bersikeras dengan kebijakannya.

Kedua: Karena itu, Amerika lalu mencetak uang ratusan juta dolar untuk menekan (menaikkan) kurs mata uang Cina, Yuan (terhadap dolar). Amerika berhasil menekannya, tetapi Amerika menghadapi masalah inflasi keuangan di dalam negerinya sendiri dan perekonomiannya bertambah lemah.

Ketiga: Cina bertambah kuat dalam menghadapi Amerika. Atas dasar itu, Obama menyatakan, “Amerika menghadapi ambisi-ambisi Cina bukan hanya secara regional.”

Di sini ada pertanyaan: Lalu di mana posisi Indonesia di dalam permasalahan ini? Apakah Indonesia bersama Amerika atau Cina? Ataukah Indonesia mengambil sikap netral, terutama setelah Amerika Serikat mengikat perjanjian dengan Pemerintah Indonesia dalam apa yang disebut dengan “Kemitraan Komprehensif”?

Benar, krisis ini diinginkan Amerika untuk memukul Cina ketika Cina menolak keinginan Amerika. Amerika ingin menarik Cina ke medan Perang Korea. Kemudian Amerika hendak memukul Cina dengan dukungan sekutu dan antek-anteknya. Alasannya, karena Cina telah mengancam keamanan kawasan dan regional. Amerika telah memobilisasi negara-negara Asia untuk mengepung Cina. Ini tentu saja bukan permasalahan Indonesia. Karena itu, Indonesia wajib tidak berdiri di sisi Amerika ataupun Cina, betapapun upaya Amerika atau Cina untuk menarik Indonesia di sisi masing-masing di antara keduanya. Sebab, berada di sisi Cina ataupun Amerika tidak akan memberikan manfaat bagi Indonesia, baik sekarang ataupun pada masa depan. Indonesia yang merupakan negeri kaum Muslim terbesar di dunia harus menjadi kekuatan yang mandiri, memiliki kehendak yang independen, dan Indonesia memiliki potensi untuk itu.

Akan tetapi, Indonesia tidak mungkin menjadi negara yang kuat dan mandiri kecuali jika bersandar kepada umatnya dalam akidah dan sistemnya, yaitu akidah Islam dan sistem yang terpancar darinya. Indonesia harus menjadi sebuah negara Khilafah yang berjalan menurut manhaj Kenabian. Kemuliaan bukanlah di sisi Amerika atau Cina. Kemuliaan itu hanya ada di tangan Allah SWT:

وَلِلَّـهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَـٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui. (QS. Al-Munafiqun [63]:8)

Wahai kaum Muslim:

Benar, kita harus bersandar kepada diri kita dan kekuatan kita sendiri setelah kita bersandar kepada Allah SWT. Ini adalah kesempatan emas bagi kaum Muslim untuk melaksanakan kewajiban mereka, yaitu berjuang untuk menegakkan Khilafah. Jika tidak maka Anda semua akan tetap bagaikan buih yang diombang-ambingkan oleh arus lautan. Khilafahlah yang akan menjadikan Indonesia menjadi negara yang kuat dan independen. Khilafahlah yang akan membebaskan Indonesia dan kaum Muslim dari kontrol Amerika, Cina dan kebrutalan mereka serta kerusakan dan perusakan mereka terhadap negeri dan penduduknya. Khilafah akan memimpin dunia di bawah satu panji: Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh. Khilafahlah yang akan mempersatukan negeri-negeri kaum Muslim dan tentara mereka untuk menghadapi Amerika dan Cina serta negara-negara kafir lainnya.

Wahai Kaum Muslim,

Wahai Ahlul Quwah!

Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk membebaskan negeri Anda dan kekayaan Anda semua dari rampasan negara-negara penjajah, dengan berjuang untuk melanjutkan kembali kehidupan islami melalui tegaknya Khilafah, bersama orang-orang yang ikhlas di tengah-tengah generasi umat ini.

27 Dzul Hijjah 1431 H

03 Desember 2010 M

Hizbut Tahrir Indonesia

AMERIKA DI BALIK KONFLIK “DUA KOREA”

Iran pernah berkonflik bertahun-tahun dengan Irak. Irak pernah menyerang Kuwait. Iran sering bersitegang dengan Israel. Israel puluhan kali menyerang Gaza. Roket-roket dan pesawat tempur Israel pernah membombardir basis Hizbullah di Lebanon. Masalah Israel-Palestina sudah puluhan tahun tidak pernah selesai. Itulah beberapa konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Di Asia Timur, Cina mengarahkan banyak rudalnya ke Taiwan. Korea Utara sering bersitegang dengan Korea Selatan. Akhir-akhir ini, konflik “Dua Korea” itu bahkan sampai pada tingkat mengkhawatirkan.

Itulah segelintir konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Pertanyaannya: Mengapa semua itu terjadi? Apakah semua itu cuma kebetulan?

Peran Amerika

Memang, tidak semua konflik di berbagai negara adalah karena faktor Amerika Serikat. Namun, harus dikatakan, bahwa Amerika Serikat banyak memicu terjadinya konflik di seluruh dunia, termasuk konflik Korea Utara dan Selatan. Bahkan Amerika Serikat menjadikan konflik antarnegara sebagai strategi baru untuk menguasai dunia setelah era Kolonialisme berakhir.

Dapat dikatakan bahwa ragam konflik di berbagai wilayah dunia sangat menguntungkan Barat, khususnya Amerika Serikat, dalam upayanya untuk terus menguasai dunia, terutama kekuatan-kekuatan yang dianggap dapat mengganggu kemapanan mereka. Dalam konteks konflik Korea Utara dan Selatan, Amerika sesungguhnya ingin memancing Cina. Dengan memancing Cina masuk dalam konflik “Dua Korea” ini, jelas AS bisa secara tidak langsung melemahkan Cina yang saat ini amat kuat secara ekonomi dan kekuatan ekonominya itu tengah mengancam AS.

Sebagaimana kita ketahui, Cina berada di Asia Timur bersama Korea (Selatan dan Utara) dan Jepang. Wilayah Asia Timur ini dianggap memiliki potensi yang mampu menyaingi hegemoni Barat di dunia, yaitu penguasaan teknologi dan jumlah penduduknya. Jepang dan Korea selama ini dikenal sebagai dua negara ras kuning yang memiliki dan menguasai teknologi tinggi. Adapun Cina adalah penyumbang terbesar penghuni bumi dengan sekitar 2 miliar penduduknya. Akhir-akhir ini, Cina bahkan mengalahkan Jepang dari sisi ekonomi, selain juga penguasaan teknologinya. Selain itu, dari sisi ideologi, Cina yang komunis jelas berseberangan dengan Amerika yang kapitalis.

Karena itu, untuk melemahkan Cina, strategi konflik juga diterapkan Amerika Serikat di kawasan Asia Timur ini. Langkahnya adalah dengan membantu kekuatan militer Taiwan dalam upaya negara pulau tersebut menangkal kemungkinan serangan militer Cina yang menganggap negara ini provinsinya yang membangkang. Langkah yang sama juga diterapkan dengan membantu militer Korea Selatan dalam mengantisipasi kemungkinan serangan nuklir tetangganya, Korea Utara. Saat ini Amerika Serikat memiliki setidaknya dua pangkalan militernya di Asia Timur, yaitu di Okinawa Jepang sebagai bagian perjanjian di Perang Dunia Kedua dan di Korea Selatan.

Dengan kekuatan nuklir yang disinyalir dimiliki Korea Utara dan Cina, maka negara-negara tetangganya tentu menjadi sangat kuatir. Karena ketidakseimbangan kekuatan militer di kawasan ini, maka bantuan militer Barat menjadi sangat dibutuhkan. Akibatnya, hingga saat ini Korea Selatan, Jepang dan Taiwan sangat bergantung pada bantuan militer Barat, utamanya Amerika Serikat. Kondisi ini tentu menguntungkan Barat yang ingin tetap menguasai dunia dengan menempatkan beragam kekuatannya di berbagai belahan dunia, apalagi di kawasan-kawasan yang dapat menjadi ancaman kemapanannya.

Walhasil, konflik di berbagai wilayah di muka bumi ini terbukti menguntungkan Barat, khususnya Amerika Serikat. Konflik tentu membuat beragam kekuatan tidak bersatu. Sebaliknya, Barat dan AS dengan visi dan misi kapitalistiknya terus memelihara kondisi ini agar terus dapat menguasai dunia.

Posisi Indonesia

Indonesia tentu harus belajar dari berbagai konflik tersebut. Indonesia tidak boleh terjebak dalam konflik-konflik dunia. Apalagi jika konflik-konflik tersebut secara sengaja diciptakan oleh negara-negara besar kapitalis-imperialis, seperti Amerika Serikat. Karena itu, dalam konteks konflik Korea Utara dan Selatan pun, Indonesia harus bersikap waspada. Indonesia tidak boleh terlibat jauh dalam konflik kedua negara tersebut, yang sebetulnya hanya menguntungkan negara-negara kapitalis, khususnya Amerika Serikat.

Sebaliknya, Indonesia harus menjadi negara yang mandiri. Indonesia sesungguhnya adalah sebuah negara besar. Jumlah penduduknya merupakan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sumberdaya alamnya melimpah-ruah. Posisi geopolitik Indonesia di Asia Tenggara juga sangat strategis. Karena itu, Indonesia sesungguhnya bukan hanya mampu mandiri, bahkan berpotensi menjadi negara adidaya. Hanya saja, hal itu hanya akan terjadi jika Indonesia menjadi negara Khilafah Islamiyah, yang hanya bersandar pada ideologi Islam dengan mengatur seluruh urusannya-urusan ekonomi, politik, hubungan internasional, hukum, peradilan, pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya dan keamanannya-dengan syariah Islam. []

Komentar al-Islam:

Presiden SBY dan sejumlah menteri nonton bola Indonesia vs Thailand di Istana Tampak Siring (Detik.com, 7/12/2010).

Saat yang sama, ribuan rakyat korban bencana masih tak jelas nasibnya, dan jutaan rakyat miskin masih terus menderita.

Selasa, 07 Desember 2010

Membangkitkan Jiwa Berkorban untuk Menegakkan Khilafah Islamiyyah

Suatu hari seorang teman pernah mengirimkan email ini:

[Al Islam 530] Saat kita merayakan Idul Adha, ingatan kita pasti melayang pada kisah Nabi Ibrahim as., yang Allah SWT perintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail as. Kisah ini telah begitu lekat di dalam benak kita serta selalu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang beriman dan berserah diri. Allah SWT telah mengabadikan kisah kedua kekasih-Nya ini di dalam al-Quran:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾

Kami lalu memberikan kabar gembira kepada Ibrahim dengan (kelahiran) seorang anak yang amat sabar. Tatkala anak itu sampai pada umur sanggup bekerja dengan Ibrahim, Ibrahim berkata, “Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Karena itu, pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Ayah, lakukanlah apa pun yang Allah perintahkan kepada engkau, insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS ash-Shaffat [37]: 101-102).

Kisah ini setidaknya menggambarkan dua hal: ketaatan dan pengorbanan. Pertama: terkait ketaatan, kisah ini tegas mengajari kita agar kita selalu menaati semua perintah Allah SWT, meskipun untuk itu kita mesti mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai, sebagaimana yang ditunjukkan Ibrahim as. dan Ismail as. Apalagi Allah SWT telah berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٦٥﴾

Demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman hingga menjadikan engkau hakim dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS an-Nisa’ [4]: 65).

Allah SWT juga berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّـهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا ﴿٣٦﴾

Tidaklah patut bagi Mukmin laki-laki maupun perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain tentang urusan mereka (QS al-Ahzab [33]: 36).

Kedua ayat ini menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwa kita wajib menaati semua ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Kita pun wajib melaksanakan semua hukum Allah dengan hati tunduk dan pasrah. Sebaliknya, kita wajib menolak semua keyakinan/ideologi dan hukum yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam seperti sosialisme, komunisme, sekularisme, liberalisme, pluralisme, demokrasi, dan lain sebagainya.

Kedua: lebih dari sekadar taat, kisah Ibrahim as. dan Ismail as. juga telah mengajari kita untuk mengorbankan apa saja yang kita miliki dan cintai sebagai bukti kepasrahan kita kepada Allah SWT. Apalagi Allah SWT telah menyuruh kita untuk menempatkan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kita kepada yang lain, bahkan di atas kecintaan kita kepada diri kita sendiri. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّـهُ بِأَمْرِهِ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, karib kerabatmu kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-NYA.” (QS at-Taubah [9]: 24).

Sayang, kisah ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as. dan Ismail as. ini sekadar dibaca, namun belum dijadikan ibrah oleh sebagian besar umat Islam. Memang, tiap tahun mereka merayakan Idul Adha serta mengenang kisah ketaatan dan pengorbanan dua hamba Allah ini. Namun, kisah kedua kekasih Allah ini belum menyalakan keimanan dan ketundukan mereka secara total pada syariah Islam. Mereka justru tetap berhukum pada aturan-aturan sekular yang kufur seraya meminggirkan hukum-hukum Allah SWT dari kehidupan mereka. Bahkan sebagian mereka, khususnya para penguasa mereka, berusaha dengan keras menolak dan memusuhi syariah Islam. Jika demikian, dimana mereka meletakkan kisah ketaatan dan pengorbanan Ibrahim as. dan Ismail as.?

Lebih dari itu, Allah SWT telah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum (QS al-A’raf [7]: 40).

Tidak hanya itu, ada pula sekelompok orang yang mengaku dirinya pengusung gagasan liberal, yang dengan terang-terangan dan tanpa malu berusaha dengan keras menjajakan pemikiran dan gagasan kufur yang ditujukan untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslim. Dengan dalih demokrasi, HAM dan liberalisme, mereka berupaya menundukkan al-Quran dan as-Sunnah di bawah kepentingan-kepentingan jahat mereka. Sesungguhnya seluruh pemikiran dan gagasan liberal tidak beranjak dari sudut pandang Islam, tetapi beranjak dari HAM, demokrasi dan liberalisme. Namun, agar ide-ide sesat mereka diterima dan disambut oleh kaum Muslim, mereka membungkusnya dengan label pemikiran Islam. Mereka ini sesungguhnya hanya diperalat oleh orang-orang kafir untuk memadamkan cahaya Allah. Allah SWT berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّـهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّـهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٨﴾

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut (tipudaya) mereka, tetapi Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya walau orang-orang kafir membencinya (QS Ash Shaff [61]: 8).

Di sisi lain, para penguasa di negeri-negeri Islam, termasuk di negeri ini, malah menjadi penjaga setia sistem kufur. Mereka bahkan memaksa anak-anak kaum Muslim untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum kufur itu. Bahkan dengan dalih menjaga konstitusi negara, mereka terus menghalang-halangi setiap usaha yang ditujukan untuk menerapkan syariah Islam secara total di negeri-negeri kaum Muslim. Sebaliknya, mereka bahkan terus memproduksi UU yang berlawanan dengan akidah dan syariah Allah SWT. Lahirlah di negeri ini UU KDRT, UU Migas, UU SDA Air, UU Penanaman Modal, UU Energi, UU Minerba, UU Pendidikan, UU Kesehatan, dan sebagainya, yang jelas-jelas merugikan rakyat dan kaum Muslim. Padahal sebagian besar penguasa maupun anggota perwakilan rakyat adalah anak-anak kaum Muslim. Namun, mengapa mereka justru menjadi orang pertama yang menolak setiap bentuk formalisasi syariah Islam dalam tatanan masyarakat dan negara? Mengapa mereka malah bersekongkol dengan orang-orang kafir untuk membuat aturan-aturan yang sejatinya tidak berpihak kepada Islam dan kaum Muslim?

Penerapan sistem kufur ini telah berdampak luas bagi masyarakat dan kaum Muslim. Kesyirikan dan kemaksiatan marak di tengah-tengah masyarakat. Perzinaan, pembunuhan, pemakaian narkoba, mabuk-mabukkan, pencurian dan korupsi semakin merajalela. Kemaksiatan semacam perzinaan dan perselingkuhan malah disebarluaskan tanpa ada rasa malu lagi. Seks bebas bahkan difasilitasi dengan ATM kondom agar aman dari penyakit AIDS.

Sungguh aneh dan ironis sekali, tindakan yang mendorong terjadinya perzinaan dan seks bebas justru dilegalkan dan diberi kemudahan-kemudahan, sementara pernikahan dini dan poligami yang halal justru dihujat dan dianggap sebagai penindasan terhadap kaum wanita.

Sesungguhnya, kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa satu-satunya solusi untuk menyelesaikan berbagai persoalan kaum Muslim seperti terpapar di atas adalah dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam wilayah individu, masyarakat dan negara. Sebaliknya, tatkala hukum-hukum kufur diterapkan di tengah-tengah masyarakat, kita akan terus bergelimang dalam kemaksiatan, kemunduran dan keterbelakagan. Oleh karena itu, sebagai wujud ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kita harus berjuang untuk menegakkan kembali syariah Islam dalam institusi Khilafah Islamiyah. Sungguh, hanya dengan cara ini saja umat Islam bisa terbebas dari persoalan hidup mereka, dan hanya dengan cara ini pula umat manusia bisa keluar dari krisis multidimensional yang mendera kehidupan mereka.

Untuk itu, kita tidak boleh berdiam diri terhadap sistem dan aturan kufur yang diterapkan di tengah-tengah kita. Kita wajib berjuang menegakkan kembali syariah Islam dan Khilafah Islam. Kita wajib memberikan andil dan kontribusi bagi perjuangan menegakkan kembali syariah dan Khilafah ini. Sebaliknya, kita haram menolak dan memusuhi seruan untuk kembali pada syariah dan Khilafah. Kita juga wajib memberikan kontribusi, baik harta, tenaga, maupun pikiran demi tegaknya syariah Islam dan sistem pemerintahan Islam yang agung ini.

Akhirnya, Idul Adha dan kisah Nabiyullah Ibrahim as. dan Ismail as. ini harus kita jadikan inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk selalu menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sekaligus untuk senantiasa berkorban dalam perjuangan menerapkan syariah Islam secara kaffah melalui penegakkan Khilafah Islamiyah.

Semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada para para pemimpin kita, agar mereka kembali pada syariah Islam dan sistem pemerintahan Islam swerta agar mereka kembali menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Kita juga memohon kepada Allah, agar Allah memberikan kekuatan dan keberanian kepada para pemimpin bangsa ini untuk keluar dari tekanan, hegemoni dan dominasi kaum kafir. [Disarikan dari Naskah Khutbah Idul Adha 1431 H yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia]

KOMENTAR AL-ISLAM:
SBY Bicarakan Kemerdekaan Palestina dengan Obama (Detik.com, 9/11/2010)
Aneh! Bicara kemerdekaan dengan penguasa negara penjajah dan pendukung utama Israel, sang penjajah Palestina.

Senin, 06 Desember 2010

FESTIVAL PEMBACA INDONESIA

Bertempat di GOR Soemantri Pasar Festival Kuningan Jakarta, Minggu 5 Desember pukul 10 pagi, diadakan sebuah acara Festival Pambaca Indonesia oleh komunitas Goodreads. Sebuah ide untuk menjembatani para pembaca agar dapat saling berbagi dan bertukar informasi mengenai buku. Hemmm, sebagai orang yang suka baca (walau bukan termasuk maniak), saya merasa harus datang ke acara ini. Lagipula kalo dihitung-hitung, akomodasinya gak sulit-sulit amat koq dari rumah, naik angkot sekali trus naik busway, sampailah di tempat tujuan.

Jadi berbekal arahan dari kaka perempuan no 4, saya meluncur ke tempat acara. berangkat pukul 9, tiba di tempat tujuan pukul 10, pas sekali.

Sesampainya disana, saya berkeliling-keliling melihat stand-stand yang ada. Ada stand bedah buku, book swap (menukar buku yang kita bawa dengan buku yang tersedia), pemutaran film (walaupun sempat terganggu akibat mati lampu tapi tetep dapat diselesaikan dengan mulus dan diakhiri dengan tepuk tangan yang gegap gempita), stand makanan dan minuman, stand merchandise dan pastinya stand "tunjukkan koleksimu".

Ada 3 film yang diputar hari itu, Stardust, Tuck Everlasting dan The Road. Gak banyak yang nonton hari itu, untuk menunggu penonton, saya sampe harus nunggu setengah jam lebih. Pada rencana awal Stardust diputar pukul 10.30 tapi karena alasan belum ada pengunjung (penontonnya baru saya saja) jadilah saya menunggu sampai ada yang dateng nonton lagi. Beruntung bagi saya, 3 orang perempuan berbagai usia masuk dan ikut menonton, lalu 1 orang masuk lagi, kemudian 2 orang berikutnya masuk juga. Walau sampai akhir film penontonnya gak lebih dari 10 orang, tapi tetap tidak mengurangi keseruan film Stardust.

Stardust bercerita tentang seorang pemuda yang berjanji membawakan bintang jatuh untuk mencegah kekasihnya menikahi pria lain sebelum hari ulang tahun si gadis yang jatuh seminggu lagi. Sayangnya dia memiliki saingan yang gak sembarangan, 3 orang penyihir jahat yang menginginkan jantung, ginjal dan hati si bintang jatuh (karena ternyata si bintang jatuhnya berwujud gadis cantik), dan sekelompok calon Raja Stormhold yang menginginkan kalung yang dipakai si bintang jatuh.

Lucu dan menegangkan, lebih banyak lucunya sih. pokoknya keren.... (sst... menurut kabar, novelnya lebih bagus daripada HarPot lho...).

Pukul 2 ada acara Book War, idenya menukar buku yang kita bawa dengan buku yang disediakan panitia dengan cara berebutan. Sayangnya, saya gak dapet buku incaran, hiks.. hikss.. Tapi walaupun demikian, hal itu tidak mengurangi kebahagiaan saya sepulangnya dari acara.

Jujur, gak nyesel dateng ke acara ini, apalagi dengan keuntungan bisa menukar buku yang sudah kita baca dengan buku baru yang ada. Dan yang lebih membuat saya bangga adalah buku yang saya tukar sudah gak ada, itu artinya sudah dipilih orang. Itu berarti selera buku bacaan saya bagus, ya gak? (hehehe, PD sendiri). Saya menantikan acara selanjutnya. Goodreads, it's a good idea...

Bagi yang mau gabung, langsung aja cek di www.goodreads.com. oceh...???