Kamis, 25 November 2010

Ingatan Masa Lampau

Buat yang pernah sekolah di Indonesia pasti tahu yang namanya upacara. Trus, apa yang diinget kira-kira? Bolosnya? Kaburnya? Atau apanya? Ngumpet di WC pas upacara (kaki pegel karena harus berdiri dan harus nahan bau pesing hehehe… lain kali kalo mau ngumpet di WC jangan lupa bawa kursi dan masker ya…), pura-pura sakit trus pingsan biar diangkat sama petugas PMR keren (lumayan, dapet teh manis anget pagi-pagi sambil mandangin wajah ganteng dan gagahnya petugas PMR, ups… zina mata hihi…), atau sengaja terlambat masuk. Kalo berbuat curang emang ada aja akal bulusnya, ide liciknya.

Biasanya buat yang niat datang terlambat ke sekolah, mereka masuk tanpa membawa tas sekolah. Setahu saya sih mereka kadang nitip sama temen sekelas atau udah kongkalikong sama penjaga kantin. Begitu upacara selesai, biasaya ada jeda sekitar 10 sampe 20 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Jadi gak akan ketahuan sama guru kalo mereka emang sengaja datang telat. Untuk mengelabui penjaga gerbang alias satpam (jadul amat istilahnya hehehe, security gitu…) mereka akan bilang “Ngambil buku yang ketinggalan, Pak…” perkara beres. Yang lebih parah, ada juga yang ngumpetin tasnya di mushala, tepatnya di tumpukan mukena.

Aduh….

Masa yang diinget cuma yang jeleknya doang? Yang bagusnya juga dong. Kalo Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 masih inget gak? Nah, buat yag udah pada lupa sama Pembukaan Undang-undang yang fenomenal itu, akan saya ingatkan lagi. Ini dia, selamat menikmati……

PEMBUKAAN…

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Kemerdekaan Negara Indnesia.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintahaan Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian pribadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu di dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhaan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.


Kalo dibaca-baca, rancangan ini bagus banget ya? Walau setelah lebih dari 60 tahun belum seluruh rakyat Indonesia merasakan kemerdekaan akibat faktor kemiskian atau mungkin juga kebodohan. Mentang-mentang miskin seenaknya aja orang-orang kota ngebodoh-bodohin orang desa, ngambil keuntungan tanpa tedeng aling-aling. Contoh paling popular saat ini adalah Gayus. Pegawai pajak yang tiba-tiba jadi artis dan disorot publik, apalagi kalo bukan karena tingkah polahnya yang kaya orang polos dan gak punya dosa.

Jujur. Itu yang dibanggakan oleh kuasa hukum Gayus. Jujur buat apa? Jujur kalo dia udah korup dan menghambur-hamburkan pajak rakyat? Belanja ke Singapur, nonton tennis di Bali, rumah mewah dan entah apalagi. Berapa banyak anak-anak usia sekolah yang terpaksa harus berjuang di jalanan hanya karena kemiskinan orang tuanya, sementara Gayus dan banyak pejabat korup lain sedang duduk di kursi empuk pesawat terbang dalam perjalanannya ke luar negeri? Berapa banyak orang-orang cacat yang tetap harus ngamen, keliling ke kampung-kampung demi lapar yang seringkali menghantam, sementara para istri dan anak-anak pejabat korup sedang berada di mall? Menghamburkan uang yang bahkan tak pastas mereka untuk memikirkannya.

Pasal 34:
1. Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.
2. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
3. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Saya jadi ingat sebuah drama korea berjudul City Hall, mengisahkan tentang perjuangan seorang walikota untuk kesejahteraan warganya. Dia menggunakan rumah dinasnya untuk penampungan anak-anak yatim piatu, menjual 2 mobil dinasnya (karena dia mendapat 3 mobil) untuk dana operasional “Bantuan makanan untuk orang kurang mampu”, mengendarai sepeda ke kantor (karena jarak yang tidak terlalu jauh menurutnya), belajar tarian untuk memenangkan hadiah sebuah mobil yang bisa digunakan untuk masyarakat luas.

Kapan pejabat di Indonesia bisa bersikap sederhana dan bersahaja? Berdoa saja secepatnya…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar