Rabu, 01 April 2015

Kesempatan Kedua

Aku buta dikelilingi cahaya putih dan menyilaukan. Hembusan angin dingin terus menerus menyentuh kulitku. Rumput segar terasa basah di bawah kakiku yang telanjang. Bau harum dan lembut segera memenuhi hidungku.

"Dimana aku?"

Pandanganku menajam ketika cahaya putih itu perlahan mulai memudar. Disana, mataku menangkap bayangan serupa tebing dengan air terjun yang mengalir di salah satu sisinya. Pepohonan tinggi menyembunyikan hampir seluruh keberadaannya. Mataku menyipit memastikan bahwa apa yang kulihat adalah benar.

Jubahku yang panjang dan berwarna putih menari-nari bersama angin. Kakiku tersembunyi di bawah hamparan rumput hijau setinggi lutut.

"Dimana aku?"

Kakiku segera mengambil alih tubuhku. Aku tidak tahu arah mana yang harus kutuju, namun entah mengapa air terjun di depan sana seperti memanggil jiwaku.

Ujung rumput terasa lembut saat tersentuh jari-jariku ketika aku melangkah. Telingaku dipenuhi suara air terjun dan kicauan burung-burung. Lalu langkah kakiku tiba-tiba saja terhenti..

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" sebuah suara terdengar menggema di telingaku.

Pandanganku tertumpu pada sebuah cahaya yang mengambang tak jauh dari tempatku berdiri.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya suara itu lagi.

"Aku.."

"Kau tidak seharusnya berada disini?"

"Aku.. tersesat.." jawabku jujur.

"Jika begitu, aku akan menuntunmu untuk kembali."

"Tempat apa ini? Dimana aku?" tanyaku bingung.

"Ini adalah tempat terakhir yang di janjikan oleh Tuhanmu." jawabnya.

Seketika saja mataku membelalak mendengar penjelasannya.

"Tempat terakhir? Dimana Dia? Bisakah kau antarkan aku padaNya? Bisakah?" pintaku penuh harap.

"Tidak!"

"Mengapa?"

"Karena Dia belum memanggilmu."

"Tak bisakah aku tetap berada disini?" tanyaku lagi.

"Tidak!"

"Mengapa?" aku menuntut.

"Hanya mereka yang telah memenuhi takdirnya yang diperbolehkan untuk kembali."

Aku menatap cahaya putih dengan perasaan aneh yang bergolak di dalam hatiku. Tanpa sadar, tanganku terulur seraya menggapainya.

"Kau tak akan bisa menyentuhku, wahai manusia.."

Aku tersentak saat mendengar kalimat itu. Dia menyebutku manusia? Lalu apakah dia..?

"Kau masih memiliki takdir yang harus kau selesaikan.. "

Seketika saja pandanganku berubah. Sebuah layar raksasa seakan muncul di hadapanku dan menampilkan wajah mereka yang sangat kusayang. Wajah-wajah yang kini terlihat sangat sedih.

"Kembalilah.. keluargamu telah menunggu.."

Aku terdiam memandang cahaya putih itu hendak mengucapkan sesuatu namun lidahku terasa kaku. Tak ada satu suara pun yang dapat kuhasilkan.

Sekonyong-konyong aku merasakan suatu kekuatan tak terlihat membuatku melayang dan menghempaskan tubuhku ku dalam lorong berwarna pelangi. Tubuhku terasa ringan. Aku terbang.


Aku membuka mataku. Rasa kantuk yang teramat sangat membuat penglihatanku kabur. Sebuah cahaya putih redup menyapa mataku yang hampir tertutup lagi.

"Dia sudah siuman!" kudengar suara seorang pria berteriak, membuatku kembali terjaga.

"Sayang, kau sudah bangun.." suara yang sama kini menyapa telingaku lembut.

Seorang perempuan berpakaian putih masuki ruangan lalu mendekat ke arahku. Ia mendekatkan cahaya pada pupil mataku yang terus bergerak-gerak.

Aku sudah kembali.

Sebuah dengungan terdengar tak jauh dari tempatku. Entah apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Lalu ketika sebuah sentuhan lembut membelai keningku, entah bagaimana aku bisa merasakan kedamaian dan kenyamanan karenanya.

"Kau pingsan selama seminggu setelah melahirkan anak kita sayang. Berjanjilah untuk tetap menemaniku membangun kebahagian kita. Tolong berjanjilah untuk tetap kuat bersamaku." sebuah kecupan mendarat di keningku dan membuat hatiku berdenyut-denyut.

"Tuhan, terima kasih.."

Sebulir air mata meluncur turun dari hatiku yang teramat bersyukur. Untuk kesempatan kedua yang diberikan Tuhan bersama mereka yang kucinta.

Senin, 30 Maret 2015

Jene: Kesambet Taubat

Udara siang ini cukup bersahabat. Angin sepoi sepoi tak jarang numpang lewat. Menghamburkan rambut agak sedikit gondrong yang basah oleh keringat.

Seorang pria muda berkemeja biru dengan lengan panjang yang digulung setengah, duduk menghadap ke arah kipas angin di atas meja. Dari tempatnya, langit terlihat agak sedikit pucat.

Wajah pria itu tak begitu tampan. Bahunya tak begitu bidang. Hanya tinggi badannya yang mencapai 185cm lah yang bisa membuatnya terlihat mempesona. Kadang kala.

"Jen.. " suara seorang pria terdengar menggema di ruang kecil itu.

Jene, pria kurus dan gondrong menoleh ke arah datangnya suara. Beni, seorang pria kurus lainnya berjalan mendekat ke arahnya.

"Assalamualaikum, Ben.." sapa Jene ketika Beni mendekat. Wajah Beni tampak agak sedikit kaget mendengar salam dari Jene.

"Waalaikumsalam.. Beuh adem banget kuping gue denger salam dari lo, Jen. Berasa kaya masuk ke mushala.." ujar Beni nyengir seraya duduk. Jene hanya tersenyum.

"Ada apa, Ben?"

"Ngapain lo disini? Dicariin tuh di bawah."

"Gue lagi merenung aja."

"Tentang?"

"Tentang umur gue yang udah lewat."

"Emang kenapa sama umur lo?"

"Gue lagi inget-inget kemana aja jatah umur itu gue abisin. Banyak benernya, atau malah banyak ngelindurnya." jelas Jene.

"Lo salah makan ya Jen?"

"Kayaknya sih gak.. Tapi klo perut gue mules, berarti gue emang salah makan hehe"

"Omongan lo serius banget, bro. Kayak lagi di UGD. Kita ini masih muda kali, Jen. Santai dikit napa.." ujar Beni tak sabar.

"Siapa yang berani jamin umur gue cukup sampe besok? Bayi yang baru lahir aja bisa meninggal, apalagi gue yang udah punya dosa sampe berkarat. Bisa aja Tuhan gedek sama gue yang seneng maksiat mulu trus nyabut nyawa gue."

"Serem dah omongan lo, Jen. Kayak orang kesambet. Kayaknya lo salah gaul nih."

"Kiamat emang udah deket, Ben. Mendekat pada Tuhan menjadi hal yang aneh dan menakutkan karena dunia dan isinya sudah terlalu menggiurkan."

"Jen, lo bikin gue takut."

"Emang udah seharusnya kita takut. Perhitungan Tuhan itu detail, Ben.."

Dalam diam, Beni meluncur pergi. Dengan hati yang cemas karena kalimat yang terlontar dari rekan kerjanya di ruang kantin.

Jene pasti gak tidur sampe ngelindur. Ujar Beni dalam hati.

Minggu, 22 Maret 2015

Sebuah Jawaban

Sungguh kalimat itu terasa salah
Celotehku tentang kata berima cinta
Sebagai wujud rindu pada sang Hamba
Membuatku kacau dan hampir gila

Aku hampir saja lupa memuji Sang Maha
Dia pemilik segala rasa
Dan saat mimpi kembali nyata
Yang kutemui hanya lah hampa

Wahai sang pemilik waktu
Perkenankan lah kami tuk kembali bertemu
Tentang ikrar yang pernah terucap dulu
Semoga selamanya bersama menjadi satu


Hujan baru saja turun. Langit senja di pinggir kota membuatku menepikan langkah pada tempat minum kopi. Suasana tempat ini masih saja ramai seperti dulu.

Aku mengambil kursi di tengah ruangan. Menyesap minumanku dengan perasaan nyaman.

"Hai.."

Deg!

Dia lagi.

Tapi kenapa?

"Boleh aku duduk?" tanya laki-laki di depanku.

Mengapa kaki ku tiba-tiba saja terasa kaku?

"Terima kasih.. " ujarnya seraya duduk.

"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.

"Seperti yang kau lihat sekarang." jawabku tak jelas.

"Kau menghilang.."

Diam.

"Tiga bulan sejak terakhir kita bertemu bukan?" ujarnya lagi.

Sungguh aku tidak sanggup tetap berada di tempat ini. Aku bangkit dan bersiap pergi.

"Tolong beri aku alasan." matanya menatap ku dengan sedih.

Diam.

"Aku hanya lelah" jawabku pada akhirnya.

"Tapi kenapa?"

"Kau tau alasannya. Kau selalu tau.."

Hanya ketika sang pujangga terluka, maka diam menjadi satu-satunya jawaban yang ia punya..

Sabtu, 28 Februari 2015

Ini Sabtu dan Saya Masuk Kerja

Gak.. Gak.. Ceritanya gak berhenti disitu aja koq.

Jadi ceritanya bagian manufacture punya proyek mempercepat jadwal ekspor. Jadilah orang-orang yang terlibat dalam proses produksi (termasuk saya) dijadwalkan untuk masuk pada hari sabtu.

Sebagai anak kost yang emang jarang pulang, saya gak masalah dengan peraturan tersebut. Karena sebagai kompensasi peraturan tersebut, maka pada akhir maret sampai awal april kami akan libur panjaaaaaaaaaaaannnggg....

Emang sih libur panjang tapi galau juga klo gak ada yang bisa di ajak ngeluyur di tanggal segitu hiks...

Rata-rata mereka gak bisa ambil cuti. Yaiyalah akhir dan awal bulan gitu. Pada sibuk bikin laporan.

Jadi di kantor cuma berdua sama bagian QC. Dan ya seperti hari-hari sebelumnya juga, tiap kali kami ngobrol saya gak pernah berhenti ketawa. Sumpah gaya berceritanya lucu banget!

Sabtu jadi gak ngebosenin broooo...

Minggu, 15 Februari 2015

DIY: Bros Kain Perca

Wiken ini kembali gak pulang, lho (bodo). Jadi dari pada bengong sendiri di kost-an, buka-buka kotak persediaan jahit. Ada paket hadiah perlengkapan membuat bros yang masih nganggur dari mba Dian Almada. Sayang juga sih itu paket kalo cuma nyempil di pojok kotak. Jadilah singsingkan lengan baju dan mulai mempersiapkan bahan.

Alat dan bahan:
1. Kain perca ukuran seperti di bawah (bisa disesuaikan)
2. Benang dan jarum
3. Kain flanel
4. Kancing bungkus dan peniti
5. Lem tembak

Cara membuat:
1. Siapkan bahan-bahan seperti di atas.
2. Lipat kain menjadi setengah lebar ukuran.
3. Jahit jelujur.
4. Serut benang hingga membuat kain tertarik. Rapikan.
5. Jahit serutan kain pada kain flanel. Mulai dari sisi terluar ke sisi terdalam, dengan posisi melingkar.
6. Sembunyikan ujung kain perca ke dalam lingkaran.
7. Periksa semua jahitan. Pastikan tidak ada bagian kain yang belum terjahit.
8. Jahit kancing bungkus dibagian tengah.
9. Pasang peniti dengan bantuan lem tembak.



Tampil cantik kurang dari 30 menit? Bisa! ^_*

Minggu, 08 Februari 2015

Menu Anak Kost: Ayam Saos Teriyaki

Selamat hari minggu kawana dan kawani \o/

Wiken dan gak pulang, alhasil harus kembali memutar otak biar bisa tetep makan enak dengan modal dan tenaga yang minim #modusmales hahaha

Yah namanya juga anak kost cyin. Kudu ngirit maksimal. Bagi saya ngekost gak sekedar hidup pisah dari keluarga. Namun juga sebagai kesempatan bagi saya menata hidup menjadi lebih baik. Itung-itung belajar ngurus rumah setelah nikah lah hohoho

Mulai dari urusan cuci-cuci, masak dan bersih-bersih, semua dilakukan sendiri. Kalo males, ya langsung keliatan berantakan tuh kamar kost. Tempat melepas lelah malah jadi kaya sarang sampah. Ieww.. banget kan?

Duh jadi kebanyakan cing-cong. Lanjutlah bahas menu makanan wiken ini: Ayam Saos Teriyaki.

Bahan:
- 1/4 kg Ayam Rp 9.000
- 1 bungkus tempe Rp 2.000
- 1 bungkus cabe rawit merah Rp 2.000
- 1 bungkus saos Teriyaki Rp 2.000
- Minyak, saos sambal, garam dan penyedap rasa (stok bulanan)

Cara membuat:
1. Bersihkan ayam lalu potong kecil. Lumuri dengan garam. Goreng hingga kecokelatan. Sisihkan.
2. Potong-potong tempe. Goreng. Sisihkan.
3. Berdoa lah agar masakan kalian enak.
4. Panaskan minyak goreng. Tumis cabai rawit merah hingga harum. Masukkan 1 bungkus saos Teriyaki, 1 sendok makan saos sambal, sedikit air, garam dan penyedap rasa.
5. Masukkan ayam dan tempe goreng. Masak hingga air menyusut. Angkat.

Taraaaaaa!!!

Jadi deh Ayam Saos Teriyaki ala chef irit hahahah



Maaf ya kalo gambarnya gelap mirip kayak ayam kecap. Cahaya berkurang karena langit bogor lagi mendung banget #alasan

Dengan modal gak lebih dari Rp 15.000 kawana dan kawani udah bisa makan enak seharian lho. Yang penting jangan lupa masak nasi ya cyin.

Salam #AnakKostKreatif