Sabtu, 28 Februari 2015

Ini Sabtu dan Saya Masuk Kerja

Gak.. Gak.. Ceritanya gak berhenti disitu aja koq.

Jadi ceritanya bagian manufacture punya proyek mempercepat jadwal ekspor. Jadilah orang-orang yang terlibat dalam proses produksi (termasuk saya) dijadwalkan untuk masuk pada hari sabtu.

Sebagai anak kost yang emang jarang pulang, saya gak masalah dengan peraturan tersebut. Karena sebagai kompensasi peraturan tersebut, maka pada akhir maret sampai awal april kami akan libur panjaaaaaaaaaaaannnggg....

Emang sih libur panjang tapi galau juga klo gak ada yang bisa di ajak ngeluyur di tanggal segitu hiks...

Rata-rata mereka gak bisa ambil cuti. Yaiyalah akhir dan awal bulan gitu. Pada sibuk bikin laporan.

Jadi di kantor cuma berdua sama bagian QC. Dan ya seperti hari-hari sebelumnya juga, tiap kali kami ngobrol saya gak pernah berhenti ketawa. Sumpah gaya berceritanya lucu banget!

Sabtu jadi gak ngebosenin broooo...

Minggu, 15 Februari 2015

DIY: Bros Kain Perca

Wiken ini kembali gak pulang, lho (bodo). Jadi dari pada bengong sendiri di kost-an, buka-buka kotak persediaan jahit. Ada paket hadiah perlengkapan membuat bros yang masih nganggur dari mba Dian Almada. Sayang juga sih itu paket kalo cuma nyempil di pojok kotak. Jadilah singsingkan lengan baju dan mulai mempersiapkan bahan.

Alat dan bahan:
1. Kain perca ukuran seperti di bawah (bisa disesuaikan)
2. Benang dan jarum
3. Kain flanel
4. Kancing bungkus dan peniti
5. Lem tembak

Cara membuat:
1. Siapkan bahan-bahan seperti di atas.
2. Lipat kain menjadi setengah lebar ukuran.
3. Jahit jelujur.
4. Serut benang hingga membuat kain tertarik. Rapikan.
5. Jahit serutan kain pada kain flanel. Mulai dari sisi terluar ke sisi terdalam, dengan posisi melingkar.
6. Sembunyikan ujung kain perca ke dalam lingkaran.
7. Periksa semua jahitan. Pastikan tidak ada bagian kain yang belum terjahit.
8. Jahit kancing bungkus dibagian tengah.
9. Pasang peniti dengan bantuan lem tembak.



Tampil cantik kurang dari 30 menit? Bisa! ^_*

Minggu, 08 Februari 2015

Menu Anak Kost: Ayam Saos Teriyaki

Selamat hari minggu kawana dan kawani \o/

Wiken dan gak pulang, alhasil harus kembali memutar otak biar bisa tetep makan enak dengan modal dan tenaga yang minim #modusmales hahaha

Yah namanya juga anak kost cyin. Kudu ngirit maksimal. Bagi saya ngekost gak sekedar hidup pisah dari keluarga. Namun juga sebagai kesempatan bagi saya menata hidup menjadi lebih baik. Itung-itung belajar ngurus rumah setelah nikah lah hohoho

Mulai dari urusan cuci-cuci, masak dan bersih-bersih, semua dilakukan sendiri. Kalo males, ya langsung keliatan berantakan tuh kamar kost. Tempat melepas lelah malah jadi kaya sarang sampah. Ieww.. banget kan?

Duh jadi kebanyakan cing-cong. Lanjutlah bahas menu makanan wiken ini: Ayam Saos Teriyaki.

Bahan:
- 1/4 kg Ayam Rp 9.000
- 1 bungkus tempe Rp 2.000
- 1 bungkus cabe rawit merah Rp 2.000
- 1 bungkus saos Teriyaki Rp 2.000
- Minyak, saos sambal, garam dan penyedap rasa (stok bulanan)

Cara membuat:
1. Bersihkan ayam lalu potong kecil. Lumuri dengan garam. Goreng hingga kecokelatan. Sisihkan.
2. Potong-potong tempe. Goreng. Sisihkan.
3. Berdoa lah agar masakan kalian enak.
4. Panaskan minyak goreng. Tumis cabai rawit merah hingga harum. Masukkan 1 bungkus saos Teriyaki, 1 sendok makan saos sambal, sedikit air, garam dan penyedap rasa.
5. Masukkan ayam dan tempe goreng. Masak hingga air menyusut. Angkat.

Taraaaaaa!!!

Jadi deh Ayam Saos Teriyaki ala chef irit hahahah



Maaf ya kalo gambarnya gelap mirip kayak ayam kecap. Cahaya berkurang karena langit bogor lagi mendung banget #alasan

Dengan modal gak lebih dari Rp 15.000 kawana dan kawani udah bisa makan enak seharian lho. Yang penting jangan lupa masak nasi ya cyin.

Salam #AnakKostKreatif

Kamis, 22 Januari 2015

Menu Ala Anak Kost: Biskuit Goreng

Ceritanya mau coba sarapan dengan sesuatu yang berbeda. Berbekal saran dari salah satu rekan kerja, saya pun mencoba menu baru. Biskuit Goreng.

Bahan-bahan yang diperlukan:


1. Susu cair tawar secukupnya
2. 1 butir telur ayam
3. Biskuit sesuai selera
4. Garam dan penyedap rasa

Cara membuat:
1. Aduk telur ayam, susu cair dan penyedap rasa
2. Hancurkan biskuit dan rendam ke dalam adonan susu
3. Goreng hingga matang kecokelatan. Sajikan bersama saos sambal.



Salam #AnakakostKreatif

Selamat mencoba *_^

Rabu, 21 Januari 2015

Belajar Sabar Dari Menjahit

Lagi punya hobi baru: menjahit. Terdengar seperti ibu-ibu yak? Heheheh

Tingkat kemahiran saya dalam menjahit masih berada di level terbawah koq. Jadi jangan berharap akan melihat hasil karya saya yang menakjubkan hohoho

Menurut saya dengan belajar menjahit, secara tidak langsung kita juga belajar tentang ketelitian, keuletan dan yang jelas juga belajar kesabaran. Kan gak mungkin menjahit dengan terburu-buru. Hasilnya pasti berantakan. Setuju?

Penasaran gak dengan hasil karya saya? Penasaran dong #maksa hahah. Nih penampakannya

























Sabtu, 17 Januari 2015

Sang Pemancing Dan Kisah Tentang Ibu Jarinya

Sabtu pagi dalam perjalanan menuju haribaan kasih sayang yang sejak semalam kurindukan. Berharap terselamatkan dari dekap hampa berkepanjangan #mendadaksajak

Lebay! Hahahha

Seorang diri melakukan perjalanan menuju Tangerang membuat saya dapat berkhayal bebas selama kurang lebih tiga jam. Dan seringkali pikiran saya tertumpu pada nasihat atau cerita yang rajin dikisahkan oleh ibu. Dan kali ini saya ingin berbagi salah satu kisahnya.



Suatu hari berkumpullah beberapa pemancing di tepi sungai. Sambil bersenda gurau, mereka menyiapkan peralatan memancing dan satu per satu dari mereka mulai melemparkan umpan ke dalam sungai.

Hari beranjak sore, keramba (wadah penyimpan ikan dari bambu) pun telah penuh. Satu persatu pemancing memutuskan untuk pulang hingga hanya tersisa seorang pemancing.

Saat dia hendak mengambil alat pancingnya, seekor ular berbisa, entah dari mana, telah menancapkan taringnya di ibu jari sang pemancing. Dengan sigap sang pemancing melepaskan gigitan ular itu dari ibu jarinya. Lalu dengan dada yang masih berdegup, sang pemancing mengambil pisau dalam wadah pancingnya dan memotong ibu jarinya.

Jeritannya di senja itu menggema hingga ke penjuru desa. Dengan mata berurai, sang pemancing menyelipkan potongan ibu jarinya di dahan pohon di dekatnya lalu beranjak pulang.

Hari berlalu dan terus berlalu. Tak terasa tahun telah berganti sejak kejadian itu. Sang pemancing telah sembuh dari lukanya dan tetap bisa menyalurkan hobi memancingnya. Hingga suatu hari sang pemancing kembali ke tempat itu. Tepi sungai dimana dia pernah terpaksa kehilangan bagian tubuhnya.

Dia terkejut ketika mendapati ibu jarinya masih dalam keadaan yang sama. Masih seperti ibu jari miliknya dulu. Dengan wajah sumringah sang pemancing meraih potongan ibu jari lalu menempelkannya kembali di tempat dulu ia pernah berada.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu, tubuh sang pemancing terserang demam. Istri sang pemancing yang dikuasai takut membawa sang pemancing kepada tabib desa.

"Kapan terakhir kali dia pergi memancing?" tanya tabib setelah selesai memeriksa keadaan sang pemancing.

"Sudah lebih dari beberapa hari." jawab istri sang pemancing.

"Apakah dia menceritakan suatu peristiwa padamu?" tanya tabib lagi.

"Tidak satu pun. Apa yang terjadi pada suamiku?" tanya istri sang pemancing cemas.

"Bisa ular telah menyebar ke seluruh tubuh suamimu. Aku tidak tahu apakah obat yang kuberikan akan mampu menyelamatkannya atau tidak."


Bagai tersapu badai air laut lalu membawanya ke kedalamannya yang mematikan, istri sang pemancing terpaku diam di tempatnya. Air mata tak henti membasahi wajahnya. Memandang lemah pada gundukan tanah merah yang masih basah. Dibawah sana, tubuh sang pemancing telah terbaring untuk selamanya.

* * *

Pintarlah mengambil pelajaran dari masa lalu. Keputusan untuk kembali adalah mutlak pilihanmu, tapi pastikan bahwa tidak akan lagi ada hati yang patah atau terluka ;-)