Jumat, 30 September 2016

Narasi Hujan

Nyanyian itu
Sendu
Lalu kalbu
Merindu

Mata ku terpejam
Lalu kenangan
Datang
Mengambang

Kecipak air yang menggenang
Lari! Menghindar hujan
Mata kita beradu pandang
Lalu rasa itu menyerang

Tanah basah
Mega merona merah
Di antara senja
Rasa menjelma, cinta..

Minggu, 25 September 2016

Kelas Menulis FLP Bogor: Puisi, Menulis Hati

Minggu (25/9/16) forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bogor kembali menyelenggarakan kelas pelatihan menulis di salah satu Common Class Room S2 Agribisnis Fakultas Pertanian IPB Dramaga, Bogor. Kelas dimulai pada pukul 08.30-12.30 wib dengan nara sumber Usup Supriyadi yang membawa tema 'Berpuisi Seumpama Berpuasa'.

Puisi menurut Goenawan Muhamad merupakan fragmen peristiwa pengalaman, pengamatan dan pemikiran. Karena itu, menurut Usup puisi biasanya bersifat pribadi. Dalam praktiknya puisi adalah permainan bahasa dengan penuh cinta atau bisa disebut juga sebagai kreasi pikir.

Secara sederhana seorang penulis puisi bisa dikatakan sebagai penyair. Namun Saini. KM mendefinisikan penyair sebagai "Ia yang berumah di sebuah kuil di tengah hutan.". Dijelaskan oleh Usup, Saini mengumpamakan penyair sebagai seorang yang memiliki bagian lain dalam hidupnya dimana dia tidak merasa kesepian meski sedang sendiri namun justru menikmati kesendiriannya itu.

Sedangkan Ramadhan. KH mendefinisikan penyair sebagai "Ia adalah kayu dalam pembakaran.". Lagi, Usup menjelaskan maksud dari kalimat Ramadhan tersebut adalah bahwa penyair merupakan seseorang yang memberikan pencerahan.

Usup menjelaskan bahwa menulis puisi tidak memiliki aturan baku. Namun demikian, puisi harus tetap memperhatikan unsur intrinsik (berada di dalam naskah) dan ekstrinsik (berada di luar naskah). Unsur intrinsik meliputi tema, tipografi, amanat, nada, rasa, perasaan, enjambemen (pemotongan kalimat atau frase di akhir larik), citraan, kata konkret, diksi, akulirik, rima, verifikasi dan majas. Sedangkan unsur ekstrinsik meliputi unsur biografi, nilai dalam citra dan kemasyarakatan.

Meski membawakan materi puisi, Usup dapat membuat kelas beberapa kali dipenuhi tawa. Diakhir penjelasannya Usup memberikan waktu lima belas menit untuk anggota kelas menulis puisi untuk kemudian dibaca dan dikupas bersama-sama.



Beberapa anggota kelas dapat menyelesaikan tiga hingga lima bait puisi. Sedang yang lain hanya mampu menghasilkan dua hingga lima baris saja. Namun kebanyakan anggota tidak dapat menentukan judul untuk puisi mereka.

"Jualan judul lumayan, nih." seloroh Usup.

Diakhir pertemuan Usup berpesan untuk memperbanyak membaca. "Baca saja. Baca apapun." ujar Usup menutup kelas.

Kongkow Ziarah Wali: Abuya Dimyati

Setelah vakum selama kurang lebih satu tahun, Kongkow Ziarah Wali (KZW) kembali melakukan perjalanan menyusur jejak-jejak para ulama terdahulu. Dengan dikomandani Ahmad Rivai, rombongan KZW bertolak menuju Makam Abuya Dimyati, Pandeglang, Banten pada Sabtu (3/9/2016).

Namun informasi mengenai rencana ziarah yang mendadak, membuat tidak banyak orang yang bisa mengikuti perjalanan ini. Rombongan hanya berjumlah empat orang, menurut penuturan Riva'i selaku komandan dalam pembicaraan melalui aplikasi WhatsApp pada Jumat malam (3/9/16).

Perjalanan di awali dengan berziarah ke Makam Pangeran Jayakarta. Sekitar dua jam kemudian, rombongan berangkat menuju Banten.

Sesampainya di tempat tujuan, rombongan langsung menuju Makam. Selain bertugas sebagai komandan, kali ini Riva'i juga bertugas memimpin doa. Hal ini berdasarkan penuturan Suyitno melalui aplikasi WhatsApp, Selasa (6/09/2016). Selain berziarah, rombongan juga berkesempatan bertemu dengan KH. Muhtadi bin Abuya Dimyati, putra pertama Abuya.

Sebelum pulang, rombongan mencoba menikmati sajian sederhana khas nusantara di salah satu warung makan di depan Makam. Rombongan kembali ke Jakarta pada Minggu (4/9/2016) sekitar pukul dua siang.






Jumat, 23 September 2016

Bogor Macet, Jalur Angkot Masih Ruwet

Kemacetan di Bogor bukan lah berita baru. Penataan transportasi untuk menanggulangi kemacetan ini sudah dimulai sejak pemerintahan Bogor dipimpin oleh Suratman, Edy Gunardi, Iswara dan Diani Budiarto. Namun hingga saat ini, hampir seluruh ruas jalan Bogor masih mengalami kemacetan lalu lintas.

Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa angkot adalah penyebab utama kemacetan di Bogor. Namun dalam hal ini jumlah kendaraan pribadi roda empat dan roda dua juga perlu diperhitungkan. Menurut laporan Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) tahun 2015 jumlah angkutan kota Bogor yang tercacat adalah sebanyak 3.412 unit dengan 23 trayek. Sedangkan jumlah Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) adalah sebanyak 4.644 unit dengan 10 trayek. Sedangkan data terakhir tentang jumlah kendaraan pribadi tahun 2010 sudah berjumlah 51.145 unit untuk roda empat dan 206.845 unit untuk roda dua. Semua kendaraan itu bisa dialokasikan dalam 88 lahan parkir seluas lapangan sepak bola.

Selain jumlah armada yang terlalu banyak, kekurangpahaman sopir angkot terhadap rambu-rambu lalu lintas juga membuat kemacetan kota Bogor semakin parah. Menurut Farid Wahdi selaku Sekretaris Organisasi Angkutan Darat, 70 persen sopir belum memiliki SIM. Para sopir bukannya tidak mau mengurus kepemilikan SIM, namun kejenuhan mereka akibat tidak pernah lolos tes, membuat mereka enggan mengurus SIM untuk yang kesekian kalinya. Bayangkan jika para sopir itu harus bolak-balik sebanyak tiga hingga enam kali untuk mengurus SIM, berapa banyak biaya yag harus mereka keluarkan?

Belum lagi pada musim liburan. Bogor yang memiliki tempat tempat tujuan wisata kuliner tidak hanya mengundang wisatawan lokal untuk datang, namun juga mengundang banyak kendaraan dengan nomor polisi berplat Jakarta memenuhi berbagai ruas jalan kota Bogor. Dalam upaya mengatasi kemacetan tersebut, Pemerintah Kota Bogor telah mencoba menerapkan Sistem Satu Arah (SSA) yang pada kenyataan di lapangan kurang memberi perubahan secara signifikan.

Dalam waku dekat, Pemerintah telah berencana melakukan konfersi dua hingga tiga angkot menjadi satu bus. Meski belum bisa diterapkan sesegera mungkin dan tetap harus dikaji ulang. Saat ini pemerintah masih terus berupaya melakukan perundingan dan sosialisasi terhadap pemilik angkot yang tidak berbadan hukum.

Yang pasti selain pembenahan trayek angkot, Pemerintah juga harus segera menyediakan fasilitas moda transportasi massa yang aman, nyaman, murah dan menjangkau banyak kepentingan masyarakat. Karena tujuan utama dalam mengatasi kemacetan adalah mengubah mindset para pemilik kendaraan untuk beralih menggunakan kendaraan umum. (Endah)

Minggu, 18 September 2016

Kelas Menulis Artikel FLP Bogor



Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bogor kembali membuka kelas pelatihan penulisan pada Minggu (18/9). Masih bertempat di salah satu ruang Common Class S2 Agribisnis IPB Dramaga, Bogor, FLP cabang Bogor menyelenggarakan Kelas Menulis Artikel yang dimulai pukul 08.30-13.00 WIB.

Novita Sari sebagai pemateri awal, membuka pelatihan dengan diskusi antar peserta mengenai tugas reportase kelas matrikulasi yang diselenggarakan dua pekan sebelumnya. Peserta diminta untuk mengenali masalah yang dialami saat membuat reportase dan menganalisa perasaan yang muncul saat itu. Beberapa peserta mengaku kesulitan saat menentukan kalimat pembuka untuk tugas reportasenya. Seperti yang diungkapkan Desi, salah satu peserta pelatihan.

Beranjak siang, kelas dilanjutkan dengan materi Artikel yang disampaikan oleh Waluyo Hanjarwadi, kontributor Majalah Patriot Insight Pajak. Selama 90 menit, Waluyo atau yang biasa disapa Reno, mengupas materi tentang Opini dan Features.

Dijelaskan bahwa Opini merupakan tulisan yang berisi gagasan, ulasan atau kritik terhadap persoalan yang sedang berkembang di masyarakat. Sebuah Opini harus ditulis dengan bahasa yang mudah dibaca dan dipahami, mengandung fakta yang objektif dan dijiwai oleh kebenaran serta metode berpikir keilmuan. Sedangkan Features adalah karangan kreatif yang ditulis untuk memberi informasi tentang suatu kejadian, situasi atau aspek kehidupan seseorang dan disampaikan dengan cara yang menghibur. Dalam jurnalistik Features juga dapat disebut sebagai berita ringan.

Reno juga menjelaskan rambu dan syarat dalam menulis sebuah opini maupun features. Di antaranya penulis harus menguasai tema opini yang ditulis, menyajikan masalah yang aktual dan faktual, tidak menghasut, tidak menimbulkan fitnah, menyajikan penyelesaian masalah yang diangkat dan yakin terhadap apa yang ditulis.

Dua puluh menit sebelum kelas selesai, Reno menantang semua peserta pelatihan untuk membuat opini. Di akhir sesi, Reno memilih satu opini yang paling menarik. Rinda yang mengusung tema Sehat Dengan Senyuman keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah kejutan Majalah Patriot Insight Pajak. Selamat! (Endah)

Senin, 05 September 2016

Aku Tak Akan Berhenti Mencintaimu

Langit malam di atas kepalaku tengah berwarna kelabu selepas hujan yang merindu bumi singgah sore tadi. Sisa air yang menggenang telah selesai bercerita tentang jumlah rintiknya yang datang tak seberapa banyak. Dan udara dingin yang tersemai sempurna melengkapi kisahnya.

Pandanganku bertumpu pada sepasang kekasih yang tengah saling menguntai senyum. Sulur-sulur asmara seakan dapat kulihat tertenun bak benang-benang emas berbias pelangi. Kalimat-kalimat cinta mereka menumpuk di atas meja.

Jarum jam di pergelangan tangan kiriku berdendang tik-tok-tik-tok. Pukul 18.53.

Tere liye.

"Aku tidak akan berhenti mencintaimu.."

"..meski dirimu tak pernah sunguh-sungguh mencintaiKu. Selalu saja dengan mudah kau berpaling muka dan mendua. Berlari mengejar yang berkilau di pandang mata. Bergumul diantara riuh yang seakan-akan membuat bangga."

"..walau kau seringkali mudah tertipu oleh panjangnya angan. Merasa mampu berjalan dengan kekuatan dirimu sendiri. Mudah menyerah meski saat genggam tanganKu masih menyerta langkah kecilmu."

"..walau kau berlari jauh meninggalkanKu dan melupakan kebersamaan yang pernah ada diantara kita. Jika saja kau tahu, Aku adalah satu-satunya tempat yang akan kau tuju dan Aku lah satu-satunya yang engkau perlu."

"Katakanlah 'Aku menyaksikanmu, Aku mendengarmu, Aku bersamamu'".

"Aku tak akan berhenti mencintaimu..".

Jakarta, Ramadhan 2016

Puisi: Memaafkan Kesempatan

Kita adalah sepasang pelukan yang berdiri di tepian
Terpisah masa lalu yang pergi tanpa mengucap salam
Kisah-kisah yang ingin diucapkan telah habis dimakan waktu
Membeku dan terlupa

Kita adalah luapan amarah yang belum reda
Memilih berdiam diri dan berdoa dengan kata-kata tanpa suara
Kita adalah kenyataan yang belum terwujud dari sebuah pinta
Kita adalah sebuah kesempatan yang telah hilang dan kehabisan asa

Kita adalah kenangan yang melemah karena hadirnya kenyataan
Menyerah untuk melawan, bersyukur dengan keadaan
Kita adalah waktu kebersamaan yang telah habis masanya
Mengasingkan diri adalah satu-satunya yang perlu kita lakukan

Kita adalah pernyataan akan perasaan yang baik-baik saja
Tersenyum dan tertawa meski air mata menganaksungai di wajah yang lelah
Kita adalah pecahan hati yang terserak di atas rajutan mimpi
Perih dan luka tiada lagi terasa, mereka sudah bosan tampil di muka

Jadi mengapa kita tidak memilih untuk memaafkan kesempatan?