Sabtu, 06 Februari 2016

Nyawa: Curahan Hati

Entah bagaimana tiba-tiba saja keinginan untuk menulis ini muncul...

Saat ini saya berada di dalam commuter line menuju Depok lepas mengunjungi tempat kerja seorang teman di daerah Cikini.

Lagi, dia mengeluhkan grup kami yang kini seperti mati dan tak berniat untuk bernyawa lagi #lebay. Jujur saja, ini sudah yang keberapa kali dia curhat mengenai hal yang sama. Dan dia bukan orang pertama yang mengeluh demikian.

Sejak perubahan nama grup beberapa waktu yang lalu, saya merasa kini grup kami seakan memasuki area baru dan sama sekali asing. Apa yang sebenarnya terjadi?

Sungguh kami telah kehilangan sebuah rumah, tempat kami biasa bercanda, bercerita atau sekedar ngobrol ngalor ngidul ga jelas. Kini kami seperti berada dalam sebuah perahu baru namun karam di tepi pantai hingga kami bahkan terlalu takut untuk menyapa sesama atau sekedar berkata "hai".

Mungkin kalian yang membaca ini berkata, "Kenapa perubahan tidak mulai dari kalian sendiri saja? Mengapa kalian tidak mencoba untuk aktif kembali?"

Sudah. Tapi rasanya tetap saja berbeda. Seperti ada sesuatu yang hilang. Entah.

Senin, 01 Februari 2016

Berkah Sebutir Nasi

Saya sering mendengar ungkapan bahwa "makanan (nasi) harus dihabiskan karena ada berkah disetiap suap(butir)nya". Lalu apa arti sebenarnya dari kalimat tersebut?

Jawaban mengenai pertanyaan ini baru saya temukan beberapa hari yang lalu di sebuah kajian di daerah Bogor (karena sungguh terlalu banyak ungkapan "pamali" yang tidak dijelaskan oleh orang tua kita dulu).

Setiap hal di bumi ini diciptakan oleh Tuhan untuk mendukung keberlangsungan hidup umat manusia. Bisa dikatakan bahwa manusia adalah makhluk dengan derajat tertinggi karena di dalam kitab suci Al Quran, Tuhan hanya menyeru (berbicara) pada manusia.

"Hai manusia yang beriman.."

Karena itulah setiap hal berlomba-lomba untuk dapat "berbicara" dengan Tuhan dengan menjadi manusia.

Benih-benih padi rela mengalami perjalanan panjang penuh perjuangan demi menjadi bagian dari manusia. Ia rela berendam di dalam lumpur, terkena panas dan hujan, bertempur melawan serangan hama, rela dibanting-digiling untuk menjadi beras, lalu dimasak dalam air yang mendidih agar menjadi nasi yang dapat dinikmati oleh manusia dan menjadi bagian darinya.

Lalu masih tegakah kita membuang, bahkan sebutir nasi, yang telah mengalami perjuangan yang sangat luar biasa?

Senin, 25 Januari 2016

Di Bawah Purnama

"Kenanga!"

Sebuah suara menggema di pinggir pantai, membelah gemuruh ombak dan ributnya angin di sore hari. Tampak sosok seorang pria muda berlari mendekati sosok seorang gadis yang tengah berdiri di tepi pantai. Wajah pria muda itu sumringah di tengah-tengah nafasnya yang terburu.

"Ayahmu mengatakan bahwa aku bisa menemuimu disini." ujarnya.

Kenanga tersenyum.

"Ada apa Abang mencariku?" tanyanya kemudian.

"Ayo kita jalan-jalan.." pria muda itu mendahului melangkah.

Kenanga memilih berjalan beberapa langkah di belakang Rey, pria muda itu. Untuk beberapa lama, mereka hanya membiarkan kesunyian bernyanyi sedang kaki-kaki mereka membelah ombak di tepi pantai.

"Kenanga.." panggil Rey.

"Hemh.."

"Kau tahu mengapa Tuhan menciptakan senja?" tanya Rey.

"Agar kita bisa memiliki kenangan ini?" jawab Kenanga jenaka.

Rey tersenyum.

"Seriuslah sedikit. Aku sedang bertanya padamu." ujar Rey kemudian.

"Baiklah. Aku menyerah." ujar Kenanga seraya mengangkat kedua tangannya.

"Turunkan tanganmu. Aku bukan polisi." ujar Rey tanpa menoleh.

"Jadi, mengapa Tuhan menciptakan senja?" tanya Kenanga.

"Senja.. Senja adalah puncak tertinggi dari sebuah hari. Akhir dari rangkaian waktu yang saling berlari. Seraya menyambut awal diiringi kehambaan pada Sang Illahi." jawab Rey.

Kenanga membiarkan jawaban Rey memeluk hatinya yang paling dalam.

"Berapa usiamu sekarang?" tanya Rey tiba-tiba.

"Abang lupa 'kah?" tanya Kenanga seraya mengintip wajah Rey.

Rey tersenyum.

"Aku hanya ingin mendengarnya lagi." jawab Rey.

"Untuk apa?" tanya Kenanga.

"Aku hanya perlu memastikan bahwa perhitunganku tidak meleset." jawab Rey.

Kenanga tersenyum.

"Kau tahu, sepertinya Tuhan sedang membiarkanku mendengarNYA berbicara tentang cinta." Rey berbalik dan mendapati Kenanga menubruk tubuhnya. Kenanga mundur.

"Lalu, apa yang DIA katakan?" tanya Kenanga kemudian.

"Disini.." Rey meletakkan tangan kanannya di dada, ".. Cinta ada disini."

"Dari mana aku tahu bahwa itu cinta?" tanya Kenanga lagi.

"Kamu pasti tahu. Kamu akan selalu tahu."

Diam.

"Aku akan pergi, Kenanga.." telunjuk Rey mengarah lurus pada langit yang tengah memerah, ".. Kesana."

"Bersediakah kau menunggu agar kita bisa menikmati purnama kedua di tahun ketiga?" Rey menatap Kenanga lekat.

"Abang.."

"Aku pasti kembali, Kenanga. Aku pasti kembali."

========== * * * * * ==========

"Kenanga!"

Kenanga tersenyum.

Dia kembali.

Mendengar suara itu mampu membangkitkan kenangan tiga tahun lalu di pantai ini. Suara yang senantiasa dia rindukan dan kini kembali menggema di telinga.

"Ayahmu mengatakan bahwa aku bisa menemuimu disini."

"Ada apa Abang mencariku?" tanya Kenanga.

"Ahh.. Aku sedang berfikir, bagaimana jika sesekali kita berkemah disini? Di pantai ini. Bukankah besok purnama akan datang?" ujar Rey.

"Hemh.." Kenanga mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ide yang menarik." jawab Kenanga kemudian.

"Baiklah jika kau sudah setuju. Boleh kita berkumpul besok pukul lima sore?" tanya Rey lagi.

"Tentu." jawab Kenanga seraya tersenyum.

"Bagus! Aku sudah katakan pada istriku bahwa kau pasti setuju dengan rencana ini. Baiklah, sampai jumpa besok." ujar Rey.

"Jangan lupa katakan pada suamimu!" teriak Rey seraya melambaikan tangan.


"Sesuai janji, kau benar-benar kembali. Suratmu di tahun kedua telah mengatakan segalanya. Abang akan kembali, tepat setahun sebelum purnama yang kau janjikan itu datang.

Namun aku sungguh tidak menyangka akan mendapati Abang kembali dengan menggandeng seorang perempuan muda berparas indah. Aku memutuskan untuk tidak bertanya mengapa. Namun aku tahu bahwa saat itu Tuhan sedang membiarkanku belajar mengenai makna yang lebih dalam dari sekedar.. cinta.

Minggu, 10 Januari 2016

Bukankah Seharusnya Kamu, Tahu?

Sabtu pagi dan aku sudah sibuk mengelompokkan potongan-potongan kain chiffon, satin, taffeta, organdi dan beberapa jenis kain lainnya. Banyaknya tumpukkan kain yang belum sempat diolah menjadi kerajinan tangan membuatku memutuskan untuk menjual saja kain-kain tersebut.

Udara masih cukup dingin dan aku belum memutuskan untuk mandi, meski perut sudah penuh terisi. Oke ini memang tidak sehat, tapi apa peduliku? Toh ini tidak terjadi setiap hari.

Ponselku berdering. Sebuah pesan salah satu media sosial muncul di layar ponsel. Ku sambar ponsel dan membuka pesannya.

Deg!

"Pesan seperti apa ini?" batinku bicara.

Aku menghela nafas seraya meletakkan ponselku.


"Benarkah dihari sepagi ini dia harus bertanya tentang hal itu? Apa pentingnya? Tidakkah dia mempunyai kegiatan yang membuatnya sibuk sepanjang hari?"


Aku memandang tumpukkan gulungan kain tak jauh dariku. Aku pikir setelah menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan dan mencoba untuk terus memperbaiki diri, hidupku akan berjalan baik-baik saja seperti sebelumnya. Ternyata aku tidak memprediksi hal-hal yang di luar dugaan yang hampir saja membuat semangatku hilang, seperti hari ini.

Jika saja Tuhan berkenan mempertemukan kami suatu hari nanti, ingin sekali aku mengatakan padanya..


"Aku minta maaf jika ternyata hingga detik ini aku masih sering menyusahkanmu. Membuatmu lelah dengan memikirkan masa depanku. Sekali lagi aku minta maaf karena aku masih belum dapat mewujudkan janjiku untuk menghilang dari hidupmu. Maaf karena aku pernah berjanji itu."

"Kamu tahu mengapa aku tidak menjawab pesanmu saat itu? Aku minta maaf jika keputusanku saat itu membuatmu tidak nyaman atau kesal, tapi jujur saja aku memang tidak berniat menjawab pertanyaanmu. Lagi pula apa pedulimu tentang apa yang terjadi dalam hidupku? Bukankah kita sudah memilih untuk menjalani hidup kita masing-masing?"

"Tidakkah kau ingat saat aku menanyakan kesungguhan keputusan yang kau ambil dulu itu? Kau terdengar sangat bersungguh-sungguh dengan keputusan itu hingga rasanya tidak akan ada sesuatu apapun yang mungkin dapat mengubah hal tersebut. Apa yang aku lakukan kemudian hanya dikarenakan aku menghormati keputusanmu. Aku tidak ingin lagi membuatmu susah dengan kehadiranku. Itu janjiku."

"Meski kesedihan dan rasa sesak di dadaku kala itu hampir membuat sulit bernafas, hanya satu yang aku yakini: jika sesuatu terjadi padaku, itu adalah pertanda bahwa Tuhan telah bersedia menyertaiku dengan ridho-NYA dalam menjalani hari-hari selanjutnya."

"Jadi kemudian aku berkata pada diriku sendiri: Jika Tuhan telah mempercayakan sesuatu terjadi padamu, maka mengapa kau masih harus bertanya mengapa hal itu terjadi? Mengapa tidak kau jalani saja sebaik-baiknya?"

"Mungkin aku sedikit kurang sopan, tapi jika kau masih berkenan aku ingin meminta sesuatu kepadamu. Tolong biarkan aku menjalani hidupku dan aku akan terus mendoakanmu saat kau menjalani hidupmu. Itu saja.."


Ponselku berdering lagi, sebuah pesan lain di media sosial kembali muncul di layar.

"Cuy, isiin pulsa dong"

Minggu, 27 Desember 2015

Tuhan, Anak Kami Lapar

Terik siang ini bagai memeluk erat tubuhku yang kurus. Kulit jari-jari yang keriput dengan kuku yang menghitam entah sejak kapan.

Kuhitung lagi lembar rupiah yang kudapat sejak pagi. Kertas-kertas kusut dengan nominal yang tak seberapa tertera di kertas-kertas kecil itu. Aku menghela.

"Apa yang kau jual?" seorang pria muda berpakaian necis berdiri sisi jalan depan lapakku yang becek. Aku tersenyum.

"Ini.. Pernak-pernik.."

"Aku tidak bertanya tentang apa ini.." dia menunjuk barang daganganku, "Aku bertanya tentang apa yang kau jual!?" tanyanya lagi dengan suara keras.

Aku tergagap.

"Tidakkah kau malu? Menggadaikan agama demi beberapa lembar rupiah? Tidak ada kah barang lain yang mampu kau jual?" tanyanya lagi.

Aku menatapnya.

"Segera lah bertaubat. Semoga Tuhan masih bersedia mengampunimu." ujarnya.

Dia baru berjalan sekitar dua langkah ketika tiba-tiba saja lidahku menyemburkan kegundahanku.

"Anakku lapar. Aku tidak bisa hanya memberinya kitab suci. Dia masih butuh nasi."

"Sudah seminggu dia sakit. Aku bahkan tidak bisa memberinya obat. Apakah Tuhan akan marah dengan hal itu? Apakah Tuhan akan marah karena kami terlahir dalam kemiskinan? Apakah Tuhan semudah itu melimpahkan kami dengan dosa? Lalu dimana sifat kasih sayang Tuhan?" aku menangis.

"Tidakkah kau yakin akan pertolongan Tuhan?"

"Tuhan pasti akan lebih mencintai mereka yang terus berjuang disertai doa dibandingkan dengan orang yang hanya diam dan menunggu tanpa berusaha?"

Gerimis kembali turun bersama senja dengan mega yang memerah.

Kamis, 24 Desember 2015

Kau, Ibu

Kau adalah gemericik doa yang mengalirkan harapan
Embun di pucuk daun yang mengandung kebahagiaan
Desau kasih sayang yang menebarkan kehangatan

Kau lah teras rumah yang basah oleh siraman hujan
Yang senantiasa menyediakan sepasang lengan yang selalu siap menghilangkan penat setelah lelah seharian berjalan

Kau lah harumnya tanah selepas awan menepati rindu pada sang bumi
Dimana langkah kaki kecilku selalu merasa aman sejauh apapun aku bermain dan berlari

Kau lah langit biru dengan lengkung senyum sang pelangi
Dimana aku merasa bahwa akan selalu ada sepenggal asa yang tersisa

Kau adalah wujud doa yang dikabulkan oleh Tuhan
Restu mu melebihi nilai harta terpendam
Senyum mu serupa surga yang tergambarkan
Jujur saja aku penasaran, bagaimana mungkin seorang malaikat diam-diam menyusup tanpa diketahui Tuhan?

Assalamualaikum, Pak

Rasanya itu baru kemarin
Aku melihat wajah penuh senyum bercaping bambu berdiri di bawah siraman hujan menungguku
Tak peduli basah tak peduli dingin meski hanya berbalut kaos tipis dan celana pendek warna kelabu

Rasanya itu baru kemarin
Kita berjalan menyusuri sebuah jalan sempit dimalam nan larut
Hanya demi menghalau risau di hatiku yang penuh takut

Rasanya itu baru kemarin
Aku menyambut tegapnya langkah dengan mata berbinar
Dimana aku menghabiskan akhir minggu bahagia yang selalu membuat hati bergetar

Rasanya itu baru kemarin
Mendengar lirih suara saat kau panggil namaku
Dan hanya bulir air mata yang jatuh sebagai saksi saat itu

Rasanya itu baru kemarin
Wajah yang teduh kini telah menjadi beku
Sedang kini masih kurasa genggam tanganmu

Rasanya itu baru kemarin
Saat aku mengucap sapa
"Assalamualaikum, Pak.."