Minggu, 19 Juli 2015

Rindu Aku Rindu

Kala mataku terpejam, senyum itu masih terbayang
Tatapan mata nan sendu, penuh sayang
Uluran tangan nan lembut, penuh kehangatan
Dan kata-kata terakhir, meski diiringi keterbataan
Duhai ayah.. Duhai ibu..
Sungguh rindu aku rindu
Berada dalam dekapmu
Sungguh rindu aku rindu...

Jumat, 22 Mei 2015

Kopra



1957.

Andai pagi ini ayam jantan tetangga sebelah masih terlelap dalam tidurnya dan matahari tak bersinar terlalu cepat, mungkin aku masih bisa menyelipkan tangan kecilku di bakul nasi. Tak apa bahkan jika yang kutemui hanya kerak dari sisa makan semalam.

Andai kemarin senja datang lebih cepat bersama bulan dan kegelapan malam saat perutku belum terlalu keras berteriak dan memanggil siapa saja yang berjarak satu meter dari tubuhku, mungkin aku masih bisa menyelinap dan mencicipi apa yang seharusnya mereka sisakan untukku, Dan  jika itu terjadi, mungkin saat ini aku masih bisa merayap dan menemukan sebuah jalan terang.

Tapi sekali-kali tidak. Yang mereka sisakan untukku hanya udara!

Tini, gadis kecil berusia delapan tahun, bertubuh kecil dengan kulit yang menghitam  akibat sering berjalan dibawah matahari siang, hanya bisa pasrah dan menunggu mati. Kelopak matanya terpejam, namun tulang rahangnya menegang. Menahan suara agar tetap tercekat di panggal tenggorokannya. Seorang perempuan tua berusia lebih dari empat puluh tahun, asik melayangkan pukulan ke tubuh gadis kecil itu.

Dapur sesak dan gelap berlantai tanah  itu penuh dengan suara pukulan gagang sapu ke tubuh kecil tak bergerak di antara meja dan tungku masak. Beberapa pasang mata ukuran kecil mengintip di balik gorden pintu dapur. Menyaksikan sebuah adegan yang bagai tak akan berkesudah.

“Mati! Mati!” jerit seorang laki-laki tua bersuara berat saat memasuki ruangan.

"Apa yang kau lakukan? Tahu kah bahwa kau bisa saja membunuhnya?" teriak laki-laki tua itu seraya menarik tubuh kecil Tini ke pelukannya.

"Dia pantas mendapatkan hal itu. Dia mencuri kopra ku! Kopra ku!" sembur perempuan tua.

"Kopra.. Kopra.. Kopra.. Hanya itu kah yang ada di pikiran mu? Kau hampir saja merenggut sebuah nyawa hanya demi kopramu  yang tak berharga!"

"Aku tidak sudi membesarkan seorang pencuri!" teriak perempuan tua itu lagi.

"Bagaimana dia tidak menjadi seorang pencuri jika kau tidak pernah mengajarkannya tentang makna berbagi?" geram laki-laki tua itu

Dengan Tini berada dalam pelukannya, laki-laki tua pergi meninggalkan dapur kecil dan pengap berisi adegan pahit. Matanya panas, tubuhnya bergetar. Andai saja beberapa menit tetap berjalan tanpa kehadirannya, mungkin yang akan ia tenemui hanyalah jasad seorang gadis kecil berkulit gelap.



Laki-laki tua duduk di sebauh kursi goyang, memperhatikan Tini, gadis kecil berkulit gelap yang tenah memakan makanannya. Gerakan tangannya teratur tanpa sedikit pun terburu. Sesekali tanagn kecilnya meraih gelas yang terletak tak jauh di tempatnya duduk.

“Nduk..” panggilnya tiba-tiba. Tini mendongak.

“Tinggal disini sama si mbah mau?” Tanyanya kemudian.

Lama, Tini terdiam menatap laki-laki tua di kursi goyang. Lalu dia menggeleng.

“Tini mau pulang, Mbah..” ujarnya lalu melanjutkan makan.

Terik mentari siang seakan hendak membakar segala yang ada dalam jangkauannya. Laki-laki tua di kursi goyang hanya menatap nanar pada gadis kecil berkulit gelap. Diam-diam berdoa pada Tuhan agar dia masih sanggup melindungi gadis itu.



2015.

Langit sepertinya tak merasakan duka. Warna birunya yang cerah dengan lukisan awan yang berarak pelan, terlihat di sejauh mata memandang. Semilir angin menghembuskan kesejukan diantara gemerisik daun di dahan pohon-pohon nan rindang. Burung-burung gereja berkicau riang seraya menari kesana kemari.

Seorang perempuan tua msih berdiri di tempatanya. Sendirian. Air mata menganak sungai di pipinya yang tirus dan keriput. Bibirnya tak henti bergerak-gerak lemah. Entah apa yang tengah memenuhi pikirannya. Tak peduli pada gaunnya yang terus saja bersuara ribut.

Di hadapannya, sebuah kuburan dengan tanah yang masih merah dan bunga yang masih segar.

“Mbok, maafkan Tini. Maafkan karena Tini pernah mencuri kopra. Mencuri kopra. Kopra...” ujarnya di sela isak tangisnya.

Kamis, 14 Mei 2015

Kamu: Sang Cinta Sejati

Semalam aku hampir saja tak bisa tidur. Karena sepertinya ingatanku tentangmu mulai mengabur. Merajut kembali kisah tentang mu membuatku terpaksa harus bekerja lembur.

Untunglah pagi segera datang. Menyelamatkan nyawaku yang hampir meregang. Menahan rindu setiap kali malam mulai menjelang.

Sungguh ku tak sabar untuk segera bertemu denganmu. Berdua saja menguntai harapan yang tak pernah jemu. Menunaikan sesuatu yang kusebut: rindu kamu.

Aku tak sabar untuk menikmati senyummu yang mengembang. Meski kadang aku melihatnya dibalik tabir yang menghalang, namun selalu saja berhasil membuat sukma ku seakan melayang.

Kehadiranmu seumpama harum secangkir kopi di pagi hari. Dimana ribuan kata menjadi tak berarti. Namun lembut dan hangatnya menyentuhku hingga ke dasar hati.

Indahmu seumpama pelangi dari bias embun yang diterpa mentari. Keistimewaan yang hanya bisa dinikmati dipagi hari. Mana mungkin kulewatkan begitu saja mukjizat ini?

Sopan santun dan perangaimu adalah kesempurnaan Sang Pencitpa. Lalu apa lagi yang dapat kulakukan selain: jatuh cinta? Berkali kali tanpa hingga. Sampai nanti tubuh ini renta.

Ah, apa lagi yang bisa kuceritakan tentang dirimu? Bahkan dunia ini saja berubah menjadi semu. Hanya untuk melukiskan satu kata saja: kamu.

Maafkan aku yang tak pandai melukiskan dirimu, kasih. Namun membayangkan kehilanganmu membuat hatiku perih. Rasanya mungkin lebih dari berkali-kali mati.

Pintaku selalu padaNya, agar aku dapat mencintaimu sampai nanti. Hingga tiada lagi yang tersisa dari ku di muka bumi. Duhai kamu, Sang Cinta Sejati..

Selasa, 05 Mei 2015

Dua Sisi Cinta?

Cinta kadang seperti api yang hangat, namun jika tak kuat menanggungnya kita bisa terbakar habis karenanya.

Cinta seperti air yang menyejukkan, namun jika tak kuat menanggungnya kita mungkin mati tenggelam karenanya.

Cinta kadang seperti angin yang menyegarkan, namun jika tak kuat menanggungnya kita mungkin dibuat porak-poranda olehnya.

Cinta mungkin seperti bumi yang selalu menopang hidup kita,
namun jika tak kuat menanggungnya kita bisa terkubur di dalamnya.

Cinta memberi kita kekuatan disatu sisi dan memberi kita kelemahan disisi lainnya.

Cinta bisa membuat kita MENAATI semua aturan dan bisa membuat kita MELANGAR semua aturan. Dengan cinta sebuah kepalsuan dibilang benar dan yang benar dibilang kepalsuan.....

Begitu seterus-nya selalu berada dalam dua sisi yang beriringan...

Minggu, 26 April 2015

Tentang Aku yang MerinduMu

Diantara temaram dan suara nafas yang tertahan, aku merenung dalam kesendirian
Kepalaku penuh dengan pertanyaan tentang arah dan tujuan
Kemana langkah ini akan kubawa berjalan?
Sedang aku masih tersesat di tanah lapang tanpa tuan

Diantara suara binatang malam dan arus sungai di belakang rumah
Tercekik rutinitas hidup yang membuatku jengah
Dan desakan beban yang berkumpul di dalam dada
Buatku ingin melarikan kaki sejauh angkasa dapat bernama

Tuhan, aku putuskan untuk menyerah
Aku sudah renta dan teramat lelah
Pelarianku atasMu telah nyata berakhir sia-sia
Kini ku tahu siapa yang paling berkuasa

Tuhan, aku butuh pelukan
Aku masih terseret dalam ombak kelelahan
Sisa percarian jejak akan jalan menuju kedamaian
Sudah benarkah jalanku menuju sesembahan?

Ah Tuhan, ini kerinduan
Andai saja hatiku dapat menggemakan jeritan
Kisah tentang runtuhnya sebuah kesombongan
Menyisakan puing-puing bernada penyesalan

Kini malam telah berlari terlalu jauh
Menyisakan aku yang masih merindu akan diriMu

Sabtu, 25 April 2015

Karena Allah

Kamu datang kepada hati yang kosong karena Allah
Mana ku tau kamu akan mengetuk pintu hati itu dan menyapa ke kediamanku?
Kamu pergi pun karena Allah
Mana ku tau kamu bawa sebelah hatiku untuk kamu simpan di dalam hatimu?

Jika takdir Allah membawa kamu kembali kepadaku
Itu juga karena Allah yang menuntunmu untuk mengetuk kembali pintu hatiku yang tertutup

Pintu yang tak pernah aku kunci Karena Allah jua yang selalu membuatku tak menguncinya
Selalu ada doa yang terucap yang keluar dan masuk melalui pintu hati itu
Untuk mu..

Pergilah ke langit untuk meraih bintang yang paling terang
Pergilah ke gunung untuk mendaki puncak yang tertinggi
Akan aku hantar kamu setiap saat dalam doaku
Dan turunlah kembali dengan hatimu yang merendah serendah dasar samudera

Karena Allah aku ada disana menantikanmu kembali
Karena Allah ku lepaskan kamu untuk pergi
Tapi kamu tinggalkan sebelah hatimu untuk selalu ku jaga dalam diam
Karena Allah kamu akan kembali
Bersama hatiku yang selalu kamu bawa di dalam ruang hatimu
Karena Allah
ku menantimu

Belahan Hatiku..



~ Sebuah karya Achmad Jupri