Senin, 02 Januari 2017

Wisata Museum (Bag 2)

Perjalanan liburan saya di Kota Tua Jakarta berlanjut pada hari berikutnya, Sabtu, 24 Desember 2016. Tujuan selanjutnya adalah Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) dan Museum Wayang.

Awalnya ada beberapa anggota FLP Bogor yang berniat ikut pada perjalanan saya kali ini. Namun karena ada agenda dadakan yang tidak bisa ditinggalkan, niat mereka pun akhirnya dibatalkan. Kecuali Mba Rima, salah satu anggota Pramuda FLP Bogor angkatan sembilan. Saya juga mengajak kakak perempuan dan Affan, putranya yang masih berusia empat tahun.

Saya tiba di Stasiun Jakarta Kota pukul 10.30. Cukup telat dari rencana semula karena pergantian rel saat memasuki Stasiun Jakarta Kota. Affan sudah memperlihatkan wajah bosan saat saya sampai hahha

Karena sebelumnya saya telah mendapat informasi bahwa Rima juga akan telat, jadi saya memutuskan untuk langsung menuju museum.

Museum Sejarah Jakarta kami pilih sebagai penjelajahan pertama. Dahulu gedung ini digunakan sebagai Balai Kota masa kolonial dengan nama Stadhuis. Dengan tiket Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.000 untuk anak/pelajar, kami pun masuk. Museum Sejarah Jakarta menyimpan berbagai koleksi alat komunikasi, alat hitung, furnitur, perlengkapan sehari-hari sejak jaman pra sejarah sampai kemerdekaan Indonesia dengan jumlah mencapai 23.500 buah.









Di belakang museum terdapat ruangan bekas penjara dan sumur yang sudah tidak digunakan lagi.

Kami hampir selesai menyusuri setiap sudut museum ketika sebuah pesan dari Mba Rima yang mengabarkan kedatangannya tiba. Jadi kami pun keluar dari museum untuk menemuinya dan melanjutkan perjalanan. Mba Rima mengajak serta keponakannya, Najwa, yang baru berusia enam tahun.

Karena Affan terus merengek untuk naik delman, jadi kami pun memutuskan untuk naik delman sebelum melanjutkan perjalanan. Lalu masalah baru pun muncul. Najwa ga mau naik delman hahha

Awalnya Mba Rima mengatakan akan menunggu saya berkeliling naik delman disalah satu sudut teras museum. Tapi karena kakak saya tidak mau meninggalkan Mba Rima dan Najwa, akhirnya kami semia pun memutuskan untuk membujuk Najwa. Setelah dijanjikan akan dibelikan boneka, Najwa akhirnya mau diajak naik delman. Pyuhh..

Dengan tarif Rp 50.000 kami sudah dapat menikmati sensasi eksotis naik delman dengan rute memutari komplek Kota Tua Jakarta. Bunyi suara sepatu kuda, sejuknya angin sepoi dan nyanyian Naik Kuda dari Affan yang gak merdu membawa perasaan bahagia yang sulit untuk diungkapkan.

Selesai berkeliling dengan delman dan membeli mainan, perjalanan dilanjutkan menuju Museum Wayang. Tiket masuk museum ini juga terbilang murah meski saya lupa berapa pastinya.

Sebelumnya Museum Wayang digunakan sebagai Gereja Belanda dengan nama De Hollandsche Kerk. Museum ini memiliki berbagai koleksi wayang lokal dan mancanegara. Yang menarik, museum ini juga menyimpan batu nisan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen.

Museum ini juga menyajikan cerita epik pewayangan Ramayana, wayang cerita anak Si Unyil sampai cara pembuatan wayang kulit yang ternyata luar biasa rumit.

Di museum ini kita bisa melihat bahwa hasil pahatan, motif ukiran dan warna pada wayang kulit dan topeng masing-masing daerah dan negara ternyata sangat berbeda.











Di salah satu sudut Kota Tua, terdapat semacam lokasi bagi para seniman karakter seperti None Belanda, tentara dan meriam, bajak laut, W.R. Supratman, Pangeran Belanda, Wali Songo terbang dan lain-lain. Kita bisa mengambil pose foto yang unik bersama mereka.





Perjalanan kami ditutup dengan menyantap semangkuk bakso seharga Rp 20.000 yang ga sempet saya foto. Dan perjalanan liburan saya masih berlanjut *_^

Sabtu, 31 Desember 2016

Liburan: Wisata Museum (Bag 1)

Di penghujung tahun 2016, saya kembali mendapatkan kesempatan liburan panjang yang dimulai tertanggal 23 Desember 2016 sampai 02 Januari 2017. Hanya berdiam diri di rumah tentu bukan sebuah pilihan yang menyenangkan, bukan? Jadi saya pun mulai menyusun agenda liburan. Yeiy!!

Hari pertama libur, saya memutuskan untuk memutuskan mengunjungi daerah wisata Kota Tua. Tujuannya tentu saja museum. Kebetulan ada beberapa museum yang sejak lama memang ingin saya datangi.


Museum Seni Rupa dan Keramik

Bertempat di Jalan Pos Kota No. 2, dahulu gedung ini digunakan sebagai Dewan Kehakiman Hindia Belanda dengan nama Palais Van Justitie. Dengan tiket masuk seharga Rp 5.000 saya dipersilahkan berkeliling area ini.

Museum ini mengoleksi macam-macam jenis gerabah sejak Kerajaan Majapahit dan lukisan dari beberapa maestro besar seperti Affandi dan Antonio Blanco.

Ada perasaan unik yang menyusup pelan saat saya menengok beberapa koleksi lukisan secara lebih detail. Semacam rasa 'penuh' yang menggairahkan. Entahlah.

Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan. Maafkan jika hasil gambar kurang baik, soalnya saya memang amatiran soal dunia fotografi haha











Kondisi museum cukup baik meski tidak dalam kondisi maksimal. Terdapat proyek renovasi di beberapa tempat walaupun tidak berdampak apa-apa selain ditutupnya beberapa lokasi museum.


Museum Bank Indonesia

Perjalanan kemudian saya lanjutkan karena rasa penasaran saya tentang sejarah hadirnya uang. Langkah kaki saya dituntun mengunjungi sebuah gedung yang bertempat di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 yang dahulu digunakan sebagai Bank Sentral Hindia Belanda ini.

Memasuki gedung, kita disambut oleh 12 ruang kecil bersekat berukuran 1m x 1m yang dahulu diperuntukkan sebagai ruang kasir saat melakukan transaksi keuangan. Transaksi keuangan dilakukan berlapis untuk menghindari kecurangan yang mungkin dapat dilakukan oleh kasir.

Semakin dalam, kita di ajak menyusuri jejak awal perdagangan di Indonesia serta negara-negara yang berhubungan dengannya. Perjalanan pelaut-pelaut hebat demi menemukan negara penghasil rempah yang sudah terkenal di berbagai penjuru dunia hingga peperangan yang kemudian muncul karenanya.

Mata saya kemudian sempat mengerut heran saat menemukan ruang mata uang. Bayangkan, pada jaman dahulu secarik kain tenun selebar dua tangan orang dewasa pernah menjadi salah satu alat tukar di Indonesia! Bukan sembarang kain memang, namun hanya kain yang ditenun oleh seorang putri raja. Nilai dari secarik kain tenun tersebut setara dengan harga sebutir telur ayam. Luar biasa bukan sejarah kita?

Tidak seperti sekarang, para masa kerajaan mata uang di Indonesia berbeda pada tiap daerah. Di Aceh misalnya, karakter mata uang dipengaruhi oleh budaya Arab. Sedangkan di pulau Jawa, karakter mata uang dipengaruhi oleh budaya Belanda.

Ada juga mata uang yang ternyata terbuat emas murni 24 karat berdiameter sekitar 6-8mm. Sayang saya tidak menemukan penjelasan mengenai besaran nilainya.

Oiya, saya tidak sempat mengambil foto dikarenakan kamera ponsel saya tidak dapat menghasilkan gambar dengan kualitas maksimal di ruangan yang minim cahaya.

Satu-satunya foto yang saya ambil di museum hanya gambar ini..



Ketauan matre ya? Hahah

Perjalanan liburan saya belum usai. Sampai berjumpa di bagian selanjutnya ^_*

Sabtu, 12 November 2016

Resensi : Author Anonymous (2014)



          Diceritakan sebuah kelompok penulis dengan motto ‘semua untuk satu’ yang ingin mencapai kesuksesan bersama seperti salah seorang anggota grup, Hannah (Kaley Cuoco) melalui film dokumenter. Disutradarai oleh Ellie Kanner dan skenario oleh David Congalton membawa film ini ke dalam genre komedi.

Dikisahkan Alan Mooney (Dylan Walsh) demi impian sang istri, Colette Mooney (Teri Polo) yang terobsesi untuk menjadi penulis, mengajak Hannah, William Bruce (Jonathan Bennet) , Henry Obert (Chris Klein) dan John K. Butzin (Dennis Farina) untuk membentuk kelompok penulis. Dua tiga kali dalam seminggu, mereka bertemu untuk mendiskusikan hasil tulisan mereka.

Seiring berjalannya waktu dan munculnya konflik diantara mereka membuat situasi menjadi tegang yang pada akhirnya membuat Alan memutuskan untuk membubarkan kelompok mereka. Dimulai dengan terciumnya hubungan spesial antara Colette dan William oleh Alan, gesekan antara Henry dan Hannah meski pada awalnya Henry sempat memendam perasaan pada Hannah serta kekerasan kepala John yang tidak mau mendengar saran orang lain. Pada akhirnya takdir telah menentukan untuk memilih mereka.

Salah satu film komedi yang penuh dengan kalimat dan emosi dalam menyampaikan cerita. Alur bergerak cepat, kalimat-kalimat dilontarkan seperti peluru senapan mesin. Sedetik saja menguap, anda akan kehilangan sepuluh kalimat.

Saat Aku Memilih Diam

Diam adalah DOA yang kuucap TANPA kata-kata..

Kelas FLP Bogor : Menulis Resensi Film


              Minggu (5/11) menjadi pertemuan terakhir dari rangkaian Kelas Pramuda Forum Lingkar Pena (FLP) angkatan sembilan dan bertempat di Common Class S2 Agribisnis ITB Dramaga, Bogor.
           
             Kelas dibuka sekitar pukul sembilan dengan diskusi yang dipimpin oleh Novita Sari dengan pokok bahasan mengenai genre penulisan yang akan ditekuni oleh anggota pramuda selanjutnya. Beberapa anggota pramuda mengakui kesulitan berada di genre cerpen-novel dan lebih memilih jalur esai dan artikel, hal ini seperti diungkap oleh Arinda.

            “Saya lebih memilih artikel tapi ingin mencoba menulis cerpen juga.” ungkap Hernoer pada salah satu kesempatan tanya jawab.

             Sekitar pukul sepuluh, nara sumber yang akan mengisi kelas review film akhirnya tiba. Sekar adalah anggota FLP cabang Bogor angkatan tiga, dan saat ini menekuni profesi sebagai ghost writer.

            Sekar mengambil film Authors Anonymous (2014) sebagai bahan pertemuan pagi itu. Menurutnya, Authors Anonymous adalah film yang memiliki cerita yang paling dekat dengan kehidupan seorang penulis. Dimana ada penulis tua dengan sifat keras kepala, penulis yang selalu beruntung, penulis yang memiliki banyak ide namun tidak pernah berhasil menyelesaikan sebuah karya atau penulis yang hanya bisa mengkritik orang lain tanpa ada karya nyata yang dihasilkan.

            “Review film yang penting jangan spoiler. Inti ceritanya saja.” ujar Sekar pada salah satu sesi tanya jawab. Menurutnya, banyak orang yang salah dalam menulis resensi sebuah film dimana mereka menuturkan jalan cerita film dari awal hingga akhir.

            Di akhir pertemuan, Sekar menugaskan peserta untuk menulis resensi film Author Anonymous. (Endah)

Jumat, 04 November 2016

Kelas Forum Lingkar Pena Bogor: Media Online


               Minggu (30/10) Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Bogor menggelar kelas Pramuda angkatan sembilan dengan tema Media Online. Bertempat di salah satu Common Class Room S2 Agribisnis IPB Dramaga, Bogor. Kelas diisi langsung oleh Syaiful Hadi yang juga merupakan Ketua FLP cabang Bogor mulai pukul 08.30-12.00 WIB.

             Di awal pertemuan Syaiful menjelaskan bahwa ada tiga tipe naskah yang akan diterima oleh penerbit. Naskah bagus dari orang ternama, naskah biasa dari orang ternama dan naskah yang sangat bagus dari orang biasa. Namun jika ada kondisi dimana naskah yang sangat bagus dari orang biasa dan naskah biasa dari orang ternama, kemungkinan besar penerbit akan memilih naskah biasa dari orang ternama. Hal ini dikarenakan penerbit butuh kepastian bahwa buku yang mereka terbitkan akan laris di pasaran.

            Dijelaskan lebih lanjut oleh Syaiful, seorang penulis dapat memanfaatkan media online sebagai sarana mempromosikan diri. Salah satu caranya adalah dengan mendokumentasikan kegiatan apapun yang dilakukan. Syaiful juga merekomendasikan kompasiana sebagai wadah latihan bagi penulis pemula karena dianggap cukup efektif sebagai media promosi. Yang perlu diingat oleh penulis adalah kompasiana tidak memperbolehkan artikel yang diambil dari media lain, sehingga penulis harus mencantumkan sumber tulisan apabila artikel yang sama juga dipublikasikan di media lain.

Selain itu seorang penulis juga harus konsisten dalam memilih nama di laman media sosialnya. Ada baiknya, seorang penulis mempunyai fan page sebagai sarana untuk memperkenalkan diri. Ini dikarenakan fan page tidak memiliki batasan dalam jumlah pertemanan.

            Empat puluh menit terakhir, Syaiful memberi tugas kepada peserta pramuda untuk membuat akun kompasiana dan quote melalui canva.com meski yang tidak dapat diselesaikan dengan baik karena terkendala oleh sinyal jaringan yang bermasalah. (Endah)

Kamis, 27 Oktober 2016

Puisi Aku


Aku tengah membaca puisi
Tentang ombak yang bergulir di bawah kaki
Tentang gunung yang tak lagi terlihat tinggi
Tentang angin yang melabuhkan sampan ke tepi

Aku tengah membaca puisi
Di bawah langit dengan kelip bintang yang menari
Tentang jejak yang pernah tertinggal di hati
Tentang masa depan kini kita jalani

Aku tengah membaca puisi
Tentang Tuhan yang menciptakan dunia berotasi
Tentang semesta yang tiada bertepi
Kemarilah dan kita dengarkan lagi

Aku tengah membaca puisi..


---
Mendung, Oktober 2016