Kamis, 20 April 2017

Dari Seberang Jalan

Setelah sekian lama, aku melihatnya lagi. Duduk di tempat yang sama setiap kali. Menunggu bus yang akan membawanya pergi berlari tiap matahari hampir membenamkan diri.

Gadis berkerudung merah di seberang jalan. Diam-diam mempesona tanpa menarik banyak perhatian. Aihh, bagaimana orang-orang bisa melewatkan salah satu keindahan sang makhluk Tuhan? Mungkin ketergesaan telah menimbun rasa keingintahuan mereka untuk sejenak berhenti dan memperhatikan.

Oh, tidak!

Aku baru menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda pada gadis berkerudung merah. Wajahnya seakan kehilangan senyum ceria yang sebelumnya senantiasa hadir dan rekah. Aduhai gadis berkerudung merah, apakah yang tengah membuatmu seakan tengah merana?

Duduk diam di salah satu sudut bangku tepi jalan, abai pada kehadiran orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Sedang aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Di tempatku berdiri, seberang jalan. Lalu ingatanku berlari beberapa waktu belakang saat mataku pertama kali menangkap sosokmu dalam sebuah pandang.

*

Langit telah lama mendung meski siaran prakira cuaca tidak juga membawa kabar tentang bila titik hujan datang. Alih-alih menunggu, orang-orang memilih membawa payung dan jas hujan. Para penjaja musiman menjamur di sepanjang mata memandang.

Seorang gadis muda berkerudung merah dengan ransel berwarna gelap dan terlihat berat, menyeret langkahnya ke salah satu bangku di tepi jalan. Menunggu dengan tatap penuh kekhawatiran antara jam pada pergelangan tangannya dan kedatangan bus dari ujung jalan.
Sudah lima belas menit lewat dan dia masih menunggu.

Kekhawatirannya belum juga selesai dijawab waktu. Gadis berkerudung merah memejamkan mata selemparan dadu hingga mataku melihat seorang pemuda keluar dari mobil berwarna kelabu. Dari seberang jalan kulihat gadis berkerudung merah berlalu.

*

Ratusan hari kunikmati sore dari seberang jalan menunggu gadis berkerudung merah. Ratusan kali kulihat dia berlalu bersama seorang pemuda yang membawa roda empat dengan gagah. Dan ratusan malamku dipenuhi oleh bayangan akan senyumnya yang tengah rekah.

Aku tak pernah peduli dengan kenyataan telah menjadi makhluk terbodoh di muka bumi yang hanya mampu memupuk asa di dalam sunyi. Aku tak peduli dengan malam yang setiap kali menjadi lebih sepi hanya untuk bisa menikmati senyum gadis berkerudung merah sekali lagi. Aku akan senantiasa setia menunggu disini.

Sepuluh menit berlalu, gadis berkerudung merah menundukkan wajah. Lalu kulihat, air mata telah membuat ujung kerudungnya basah. Gadis berkerudung merah tengah merasa hatinya yang berdarah. Dari seberang jalan, gejolak di dadaku telah memenuhi setiap aliran darah.

*

Matahari berlari lebih cepat, menyisakan langit kelabu gelap. Udara terasa berat dan pengap. Kelopak bunga jatuh sembarang di tepi jalan beraspal pekat. Di ujung lidah, ribuan kata diam tersendat.
Kulihat wajahnya memerah untuk kali pertama. Pemuda yang membawa roda empat dengan gagah membuat gadis berkerudung merah merasa terluka. Mereka diam disana beberapa lama sampai kulihat pemuda itu memilih pergi dari hadapan gadis pemilik senyum serekah bunga.

Gadis berkerudung merah terduduk di salah satu bangku tepi jalan lagi. Membiarkan waktu membawa malam jauh melarut pergi. Saat itu aku sadar bahwa hari-hari gadis berkerudung merah tak akan terasa sama lagi.

*

Aku tidak tahan lagi untuk tetap menahan diri dan memperhatikannya dari seberang sini. Inginnya aku berlari menuju dia yang tengah dirundung sepi dan membagi dukanya yang menggores-gores hati.

Bus yang biasa ditumpanginya terlihat datang. Gadis berkerudung merah berdiri dari bangku di tepi jalan. Kakinya melangkah pelan.

"Tidaaaaaaaaaaaaakkk!"

Jeritanku hanyut terbawa angin. Tak ada seorang pun terpilih mendengar jerit di tengah hening.

Brak!

Orang-orang lari dan berkerumun di tepi jalan. Memandang seorang gadis dengan mata terpejam. Merah membasah, gadis berkerudung merah memilih pulang.

- Aku, sang penerang jalan.

WRITING IS HEALING (Bag 1)

Ada beberapa poin yang menjadi titik berat tiap kali mentoring, yaitu:

1. EBI, DIKSI
Penggunaan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) dihukumi wajib. Ga ada toleransi. Kenapa? Typo (kesalahan) pada tulisan yang dilakukan secara sengaja dan berulang akan membuat pembaca kelelahan, yang kemudian malah menjauhkannya dari poin-poin yang ingin disampaikan oleh penulis. Hal ini berkaitan pula dengan pemilihan diksi. Peletakan diksi yang tidak sesuai bisa membuat inti tulisan tidak tersampaikan.

2. Ide cerita
Orisinalitas cerita menjadi tuntutan tak terelakan bagi setiap penulis. Sering kali kita mendapati kisah bertema senja, kopi, hujan, dan kafe. Sayangnya, 80% ide penulis datang dari pengalaman diri sehingga tema-tema tersebut hampir tidak bisa dipungkiri. Berita terbaiknya adalah bahwa setiap penulis memiliki gaya penyampaian yang berbeda. Kembali pada poin pertama, pemilihan diksi bisa menjadi sebuah senjata.

3. Logika
Se-fantasi apapun sebuah cerita, logika tetap harus ada. Kenapa? Tentu saja karena ini berkaitan dengan inti yang ingin disampaikan oleh penulis. Ya, misalnya Anda menulis tentang dunia peri, tentu mereka minimal harus bisa terbang, bukan ngesot.

4. Tanda baca
Intinya hanya ada dua: latihan dan lanjutkan!

(bersambung)

Senin, 06 Februari 2017

Menggugat Sang Raja

Langit sedang gaduh. Para penghuni ribut dan saling tuduh. Lirikan curiga pekat memenuhi udara. Catatan takdir Tuhan bocor kemana-mana. Entah siapa awalnya dan bagaimana akhirnya catatan itu akhirnya terbaca oleh para penghuni langit.

Mereka berjumlah ribuan. Berjalan dalam kelompok-kelompok besar menuju ke satu arah. Rumah Sang Maha. Pembicaraan mereka penuh kata dalam nada lebih tinggi dari biasa. Wajah mereka merah, tidak terima dengan apa yang telah mereka baca. Pikir mereka Tuhan pasti sudah melakukan kesalahan.

Sepuluh orang prajurit dengan baju berwarna perak maju menghadang kerumunan di depan Gerbang Utama. Seorang dari mereka mengambil dua langkah lebih maju.

“Berhenti!” gertak seorang penjaga.

"Biarkan kami lewat. Kami harus menemui Raja.” ujar sebuah suara dari tengah kerumunan.

“Dia sedang sibuk. Pergilah. Akan ada saat dimana kalian akan menemuiNya.” jawab sang penjaga.

"Tidak! Kami harus menemuiNya sekarang. Bagaimana bisa Dia membiarkan kami terlahir menjadi binatang melata di bumiNya nanti? Lebih baik kami tetap tinggal disini.” sebuah suara dari sisi kiri kerumunan menjawab kalimat sang penjaga.

“Biarkan kami lewat. Kami perlu mendengar penjelasan tentang takdir yang Dia buat. Ini hidup kami!” ujar suara lainnya.

“Dia Raja kalian! Dia berhak melakukan segalanya.” hardik sang penjaga lagi.

“Gugat.. Gugat.. Gugat..”

Entah dari mana asalnya, kemuruman itu kini berseru dalam sebuah irama.

Para penjaga menahan sekuat tenaga agar Gerbang Utama tidak terbuka. Kerumunan datang semakin banyak. Jumlah mereka jelas tidak seimbang. Para penjaga saling pandang. Mereka benar-benar butuh bantuan sekarang.

***

Ratusan malaikat melesat terbang. Rentang sayap mereka membelah udara, menyenandungkan nada serupa siulan. Kepala-kepala dalam kerumunan menengadah. Mata mereka membelalak melihat ratusan malaikat terbang menukik ke arah mereka. Kerumunan itu membelah diri. Lari.

Ratusan suara sapuan udara saat para malaikat menjejak membuat kerumunan berjengit. Sebagian mereka saling peluk dan merapatkan diri. Sedang sebagian lainnya melindungi telinga mereka dari hantaman udara yang membuat telinga sakit dan berdenging.

Seorang malaikat paling tinggi maju menghadapi kerumunan. Sayapnya berkilau serupa warna pelangi saat tersentuh cahaya matahari. Kulitnya kemerahan dengan raut wajah tenang dan sorot mata yang teduh. Menatap setiap wajah dalam kerumunan.

"Siapa yang bertanggung jawab?” suaranya membelah udara.

Jeda.

“Sang Raja tidak pernah salah. Tidak pantas kalian berbantah!” suaranya menggema menghentikan kasak kusuk di ujung sana.

Kata-kata bungkam di ujung lidah. Gerakan mata berdiam diri dan memilih sembunyi. Sang malaikat maju selangkah lagi. Mengedarkan pandangan ke setiap sisi.

Sebuah gerakan kecil muncul di tengah kerumunan. Sang malaikat menundukkan pandangannya. Seorang anak kecil dengan jubah berwarna kuning emas keluar dengan langkah pelan. Matanya memandang sang malaikat dengan tatapan yang dalam. Sang malaikat tersenyum kepada anak kecil itu.

“Ada yang ingin kau katakan, Nak?” ujar Sang Malaikat seraya membungkukkan badan.

Kerumunan menjatuhkan pandang ke arah depan. Menunggu dalam balut penasaran.

"Aku akan menjadi manusia yang paling hebat sekaligus dibenci di muka bumi. Aku akan mati bersama ribuan prajurit setia saat berlari mengejar musuh. Kami terjebak dalam sapuan ombak di Laut Merah. Kisahku akan dikenang oleh anak cucu manusia. Mengapa Sang Raja memilihku? Mengapa?”


-Bogor, 5 Februari 2017

Senin, 02 Januari 2017

Wisata Museum (Bag 2)

Perjalanan liburan saya di Kota Tua Jakarta berlanjut pada hari berikutnya, Sabtu, 24 Desember 2016. Tujuan selanjutnya adalah Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) dan Museum Wayang.

Awalnya ada beberapa anggota FLP Bogor yang berniat ikut pada perjalanan saya kali ini. Namun karena ada agenda dadakan yang tidak bisa ditinggalkan, niat mereka pun akhirnya dibatalkan. Kecuali Mba Rima, salah satu anggota Pramuda FLP Bogor angkatan sembilan. Saya juga mengajak kakak perempuan dan Affan, putranya yang masih berusia empat tahun.

Saya tiba di Stasiun Jakarta Kota pukul 10.30. Cukup telat dari rencana semula karena pergantian rel saat memasuki Stasiun Jakarta Kota. Affan sudah memperlihatkan wajah bosan saat saya sampai hahha

Karena sebelumnya saya telah mendapat informasi bahwa Rima juga akan telat, jadi saya memutuskan untuk langsung menuju museum.

Museum Sejarah Jakarta kami pilih sebagai penjelajahan pertama. Dahulu gedung ini digunakan sebagai Balai Kota masa kolonial dengan nama Stadhuis. Dengan tiket Rp 5.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.000 untuk anak/pelajar, kami pun masuk. Museum Sejarah Jakarta menyimpan berbagai koleksi alat komunikasi, alat hitung, furnitur, perlengkapan sehari-hari sejak jaman pra sejarah sampai kemerdekaan Indonesia dengan jumlah mencapai 23.500 buah.









Di belakang museum terdapat ruangan bekas penjara dan sumur yang sudah tidak digunakan lagi.

Kami hampir selesai menyusuri setiap sudut museum ketika sebuah pesan dari Mba Rima yang mengabarkan kedatangannya tiba. Jadi kami pun keluar dari museum untuk menemuinya dan melanjutkan perjalanan. Mba Rima mengajak serta keponakannya, Najwa, yang baru berusia enam tahun.

Karena Affan terus merengek untuk naik delman, jadi kami pun memutuskan untuk naik delman sebelum melanjutkan perjalanan. Lalu masalah baru pun muncul. Najwa ga mau naik delman hahha

Awalnya Mba Rima mengatakan akan menunggu saya berkeliling naik delman disalah satu sudut teras museum. Tapi karena kakak saya tidak mau meninggalkan Mba Rima dan Najwa, akhirnya kami semia pun memutuskan untuk membujuk Najwa. Setelah dijanjikan akan dibelikan boneka, Najwa akhirnya mau diajak naik delman. Pyuhh..

Dengan tarif Rp 50.000 kami sudah dapat menikmati sensasi eksotis naik delman dengan rute memutari komplek Kota Tua Jakarta. Bunyi suara sepatu kuda, sejuknya angin sepoi dan nyanyian Naik Kuda dari Affan yang gak merdu membawa perasaan bahagia yang sulit untuk diungkapkan.

Selesai berkeliling dengan delman dan membeli mainan, perjalanan dilanjutkan menuju Museum Wayang. Tiket masuk museum ini juga terbilang murah meski saya lupa berapa pastinya.

Sebelumnya Museum Wayang digunakan sebagai Gereja Belanda dengan nama De Hollandsche Kerk. Museum ini memiliki berbagai koleksi wayang lokal dan mancanegara. Yang menarik, museum ini juga menyimpan batu nisan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen.

Museum ini juga menyajikan cerita epik pewayangan Ramayana, wayang cerita anak Si Unyil sampai cara pembuatan wayang kulit yang ternyata luar biasa rumit.

Di museum ini kita bisa melihat bahwa hasil pahatan, motif ukiran dan warna pada wayang kulit dan topeng masing-masing daerah dan negara ternyata sangat berbeda.











Di salah satu sudut Kota Tua, terdapat semacam lokasi bagi para seniman karakter seperti None Belanda, tentara dan meriam, bajak laut, W.R. Supratman, Pangeran Belanda, Wali Songo terbang dan lain-lain. Kita bisa mengambil pose foto yang unik bersama mereka.





Perjalanan kami ditutup dengan menyantap semangkuk bakso seharga Rp 20.000 yang ga sempet saya foto. Dan perjalanan liburan saya masih berlanjut *_^

Sabtu, 31 Desember 2016

Liburan: Wisata Museum (Bag 1)

Di penghujung tahun 2016, saya kembali mendapatkan kesempatan liburan panjang yang dimulai tertanggal 23 Desember 2016 sampai 02 Januari 2017. Hanya berdiam diri di rumah tentu bukan sebuah pilihan yang menyenangkan, bukan? Jadi saya pun mulai menyusun agenda liburan. Yeiy!!

Hari pertama libur, saya memutuskan untuk memutuskan mengunjungi daerah wisata Kota Tua. Tujuannya tentu saja museum. Kebetulan ada beberapa museum yang sejak lama memang ingin saya datangi.


Museum Seni Rupa dan Keramik

Bertempat di Jalan Pos Kota No. 2, dahulu gedung ini digunakan sebagai Dewan Kehakiman Hindia Belanda dengan nama Palais Van Justitie. Dengan tiket masuk seharga Rp 5.000 saya dipersilahkan berkeliling area ini.

Museum ini mengoleksi macam-macam jenis gerabah sejak Kerajaan Majapahit dan lukisan dari beberapa maestro besar seperti Affandi dan Antonio Blanco.

Ada perasaan unik yang menyusup pelan saat saya menengok beberapa koleksi lukisan secara lebih detail. Semacam rasa 'penuh' yang menggairahkan. Entahlah.

Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan. Maafkan jika hasil gambar kurang baik, soalnya saya memang amatiran soal dunia fotografi haha











Kondisi museum cukup baik meski tidak dalam kondisi maksimal. Terdapat proyek renovasi di beberapa tempat walaupun tidak berdampak apa-apa selain ditutupnya beberapa lokasi museum.


Museum Bank Indonesia

Perjalanan kemudian saya lanjutkan karena rasa penasaran saya tentang sejarah hadirnya uang. Langkah kaki saya dituntun mengunjungi sebuah gedung yang bertempat di Jalan Pintu Besar Utara No. 3 yang dahulu digunakan sebagai Bank Sentral Hindia Belanda ini.

Memasuki gedung, kita disambut oleh 12 ruang kecil bersekat berukuran 1m x 1m yang dahulu diperuntukkan sebagai ruang kasir saat melakukan transaksi keuangan. Transaksi keuangan dilakukan berlapis untuk menghindari kecurangan yang mungkin dapat dilakukan oleh kasir.

Semakin dalam, kita di ajak menyusuri jejak awal perdagangan di Indonesia serta negara-negara yang berhubungan dengannya. Perjalanan pelaut-pelaut hebat demi menemukan negara penghasil rempah yang sudah terkenal di berbagai penjuru dunia hingga peperangan yang kemudian muncul karenanya.

Mata saya kemudian sempat mengerut heran saat menemukan ruang mata uang. Bayangkan, pada jaman dahulu secarik kain tenun selebar dua tangan orang dewasa pernah menjadi salah satu alat tukar di Indonesia! Bukan sembarang kain memang, namun hanya kain yang ditenun oleh seorang putri raja. Nilai dari secarik kain tenun tersebut setara dengan harga sebutir telur ayam. Luar biasa bukan sejarah kita?

Tidak seperti sekarang, para masa kerajaan mata uang di Indonesia berbeda pada tiap daerah. Di Aceh misalnya, karakter mata uang dipengaruhi oleh budaya Arab. Sedangkan di pulau Jawa, karakter mata uang dipengaruhi oleh budaya Belanda.

Ada juga mata uang yang ternyata terbuat emas murni 24 karat berdiameter sekitar 6-8mm. Sayang saya tidak menemukan penjelasan mengenai besaran nilainya.

Oiya, saya tidak sempat mengambil foto dikarenakan kamera ponsel saya tidak dapat menghasilkan gambar dengan kualitas maksimal di ruangan yang minim cahaya.

Satu-satunya foto yang saya ambil di museum hanya gambar ini..



Ketauan matre ya? Hahah

Perjalanan liburan saya belum usai. Sampai berjumpa di bagian selanjutnya ^_*

Sabtu, 12 November 2016

Resensi : Author Anonymous (2014)



          Diceritakan sebuah kelompok penulis dengan motto ‘semua untuk satu’ yang ingin mencapai kesuksesan bersama seperti salah seorang anggota grup, Hannah (Kaley Cuoco) melalui film dokumenter. Disutradarai oleh Ellie Kanner dan skenario oleh David Congalton membawa film ini ke dalam genre komedi.

Dikisahkan Alan Mooney (Dylan Walsh) demi impian sang istri, Colette Mooney (Teri Polo) yang terobsesi untuk menjadi penulis, mengajak Hannah, William Bruce (Jonathan Bennet) , Henry Obert (Chris Klein) dan John K. Butzin (Dennis Farina) untuk membentuk kelompok penulis. Dua tiga kali dalam seminggu, mereka bertemu untuk mendiskusikan hasil tulisan mereka.

Seiring berjalannya waktu dan munculnya konflik diantara mereka membuat situasi menjadi tegang yang pada akhirnya membuat Alan memutuskan untuk membubarkan kelompok mereka. Dimulai dengan terciumnya hubungan spesial antara Colette dan William oleh Alan, gesekan antara Henry dan Hannah meski pada awalnya Henry sempat memendam perasaan pada Hannah serta kekerasan kepala John yang tidak mau mendengar saran orang lain. Pada akhirnya takdir telah menentukan untuk memilih mereka.

Salah satu film komedi yang penuh dengan kalimat dan emosi dalam menyampaikan cerita. Alur bergerak cepat, kalimat-kalimat dilontarkan seperti peluru senapan mesin. Sedetik saja menguap, anda akan kehilangan sepuluh kalimat.

Saat Aku Memilih Diam

Diam adalah DOA yang kuucap TANPA kata-kata..